Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Prosesi Demi Prosesi


__ADS_3

Di venue pelaminan itu dengan Gunung Merapi sebagai latarnya, tampak Pandu begitu lega dan bahagia karena bisa mempersunting Ervita. Wanita kini yang duduk bersanding dengannya, adalah wanita yang sudah dia cintai sekian lama. Pandu pikir perasaannya kala itu hanya sekadar suka dan simpati. Akan tetapi, Pandu salah. Sebab, sekian hari yang berlalu, Pandu merasa ingin melindungi Ervita dan Indira. 


Pria itu tersenyum dan menatapa sekilas Ervita yang duduk malu-malu di sampingnya. "Kamu cantik, Vi ...."


Mendengar pujian yang disampaikan dengan lirih oleh pemuda yang kini sudah menjadi suaminya, bisa-bisa membuat blush on di pipi Ervita naik beberapa tingkat kecerahan. Masih sama, Ervita hanya tersenyum dan malu-malu bersanding dengan Pandu.


"Makasih Mas," jawabnya dengan lirih.


Sedikit obrolan yang syarat akan pujian Pandu lemparkan sebelum mulai prosesi resepsi mereka yang dilangsungkan saat itu juga. Tidak perlu berganti dengan busana yang lain, karena memang mereka memilih mengenakan warna putih saja di hari pernikahannya. Warna yang melambangkan kesucian dan ketulusan. Indira pun yang kini bersama Mei dan Tanto, juga mengenakan dress putih dan kombinasi batik. Gadis itu sesekali melambaikan tangannya kepada Ervita dan Pandu yang duduk di pelaminan.


Hingga akhirnya, pembawa acara akan memulai semua prosesi kala resepsi dengan mengenakan adat Jawa. Pandu diminta untuk turun dari pelaminan, lantas dia akan dipertemukan dengan Ervita. Ini dinamakan dengan prosesi temu atau panggih (Panggih dalam bahasa Indonesia berarti bertemu). Ada seorang tokoh masyarakat yang menyampaikan atur pambagya harja (pidato dalam acara pernikahan dalam bahasa Jawa yang disampaikan dalam bahasa Krama Inggil yang halus), dan Pandu diikuti dengan keluarga besar yang berdiri di depannya. 


Usai pidato selesai, Ervita pun dibantu untuk berdiri dan menyongsong pengantin prianya. Dari jarak sekian meter, kedua pengantin tampak saling melemparkan senyuman. Hingga akhirnya, ada penata rias dan acara yang memberikan daun sirih kepada mempelai. Ini dinamakan prosesi Balang Gantal. Gantal dibuat dengan daun sirih yang diisi dengan bunga pisang, kapur sirih, gambir dan tembakau hitam. Prosesi ini dilangsungkan dengan cara pengantin berdiri di arah berlawan dan saring melempar gantal. Ritual ini melambangkan kedua mempelai saling melempar kasih sayang.


Gantal yang dilempar Pandu dan Ervita sama-sama mengenai dada mereka. Dihiasi dengan senyuman di wajah mereka. Para tamu undangan yang hadir pun turut bersorak melihat pengantin yang tampak saling melemparkan senyuman satu sama lain.


Lantas kemudian, Ervita dibantu untuk berjalan kian mendekat kepada Pandu, dilanjutkan dengan prosesi Ngindak Endhog (menginjak telur dalam bahasa Indonesia). Prosesi ini memiliki arti pengharapan kedua pasangan baru untuk mendapatkan keturunan yang merupakan tanda cinta kasih. Selain itu ini juga dilambangkan sebagai kesetiaan istri kepada suaminya.


Pandu pun menginjak telor yang ditaruh di dalam plastik itu dan menginjaknya perlahan, hingga telor itu pecah. Lantas, Ervita mengguyurkan air dengan bunga untuk membasuh kaki sang suami, sebagai tanda pengabdian seorang istri kepada suaminya. 


Setelah prosesi injak telur selesai, pengantin akan melanjutkan dengan prosesi sindur. Kain sindur akan dibentakan kepada pengantin oleh Ibu Sri dan bersama-sama dituntun Bapak Agus berjalan menuju pelaminan. Hal ini adalah pengharapan agar pengantin baru ini siap menghadapi segala kesukaran dalam hidup.


Dengan mengapitkan tangannya di lengan Pandu, Ervita pun berjalan dengan mantap menuju ke pelaminan. 


"Pegangan Vi," goda Pandu kala itu.

__ADS_1


"Hmm, iya Mas," sahut Ervita dengan kembali menunduk dan menahan senyuman di wajahnya.


Setelahnya baru dilangsungkan proses adat kacar kucur, mempelai pria akan mengucurkan biji-bijian dan uang receh yang disimbolkan sebagai penghasilan. Ini menunjukkan pria bertanggung jawab untuk memberi nafkah kepada keluarganya.


"Semua yang aku miliki dari hasil bekerjaku akan kuberikan kepadamu," lirih Pandu kala itu.


Ervita yang menerimanya pun menganggukkan kepalanya, "Matur nuwun, Mas," jawabnya dengan menatap sang suami.


Tidak bisa dihiaskan lagi bagaimana khidmatnya prosesi demi prosesi yang begitu penuh makna dan filosofi bagi pasangan pengantin baru dalam memasuki kehidupan berumah tangga. 


Lantas dilanjutkan dengan prosesi Dulangan atau Suap-Suapan. Terlihat Pandu dan Ervita saling menyuapi satu sama lain.


"Sedikit saja," pinta Ervita dengan lirih.


Pandu yang mendengarkan ucapan Ervita itu pun menjawabnya dengan lirih pula, "Iya," balasnya.


Setelah semua prosesi selesai, dan tamu undangan yang penting sudah berfoto bersama, rupanya Indira pun berlari naik ke pelaminan. Ingin ikut serta dengan Ayah dan Bundanya di sana. 


Tidak merasa malu, Pandu justru mendudukkan Indira di tengah-tengah, di antara dia dan Ervita. Indi pun justru menaruh kepalanya di paha Pandu.


"Yayah Didi," ucapnya. 


"Iya, sekarang sudah resmi menjadi Ayahnya Indi. Indi suka?" tanya Pandu.


Indira pun menganggukkan kepalanya, "Cuka ... cuka," balasnya.

__ADS_1


Begitu juga Ervita, yang mengusapi kepala Indira itu. "Sekarang Indi sudah punya Ayah dan Bunda. Indi seneng gak?" tanyanya.


"Ya, ceneng ...."


Pandu pun tersenyum, "Ayah juga seneng," sahutnya dengan mengusapi Indira di sana.


Mungkin pemandangan seperti ini tampak tak lazim. Sebab, pasangan pengantin membawa seorang anak kecil ke pelaminan. Akan tetapi, Pandu dan Ervita sama-sama menikmatinya dan tidak merasa terbebani.


Terlebih di deretan tamu undangan, ada keluarga Firhan yang mengamati ketiganya dari jauh. Jika, Bu Yeni tampak biasa, tidak demikian dengan Pak Ervita yang menatap tajam dan juga tampak jengah di sana. Sementara Firhan sendiri tidak hadir, hanya orang tuanya saja yang hadir.


Hingga ketika tamu undangan memberikan salam dan doa restunya, Pandu dan Ervita berdiri, sementara Indi duduk di kursi pelaminan. Kadang tangan kecil Indi tampak menggandeng tangan Pandu di sana.


"Selamat berbahagia ...."


"Selamat menempuh hidup baru ...."


"Nderek bingah ...."


"Semoga Samawa selalu ...."


Ucapan yang tulus dan doa-doa mengalir dari tamu undangan. Bahkan Bu Yeni pun turut maju dan memberikan doa ucapannya. Perempuan paruh baya itu tampak menitikkan air matanya kala bersalaman dengan Ervita.


"Semoga selalu berbahagia ya Mbak Ervi ... maafkan keluarga kami," ucapnya.


Tidak hanya banyak kata, Ervi hanya memberikan anggukan kepala secara samar saja. Namun, terlihat Bapak Supri tidak memberikan salam kepada kedua mempelai yang berbahagia.

__ADS_1


Hingga akhirnya, tepat jam 15.00 seluruh akad dan resepsi pun telah usai. Pandu dan Ervita sama-sama duduk di pelaminan dan menghela nafas panjang. Sangat bersyukur akhirnya seluruh prosesi dan ritual pernikahan bisa mereka jalani dengan baik. Pernikahan yang mengusung tradisi karena mereka percaya ada nilai-nilai dan khazanah yang terselip dalam setiap prosesi pernikahan yang baru saja mereka jalani. 


__ADS_2