Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Ketika Usaha Seolah Tanpa Hasil


__ADS_3

Sementara itu di Solo ....


Pasangan Firhan dan Wati masih berusaha untuk mewujudkan impian mereka untuk bisa memiliki buah hati. Sayangnya, selama satu tahun berlalu, usaha keduanya masih belum menemui hasil. Ada waktu di mana mereka lelah, seakan ingin menyerah, tapi ada waktu juga berarti mereka harus kebih bersabar dan menantikan jawaban doa dari Allah.


"Lelah enggak, Yang ... mendampingi aku?" tanya Firhan sekarang ini kepada Wati.


Sekarang keduanya baru saja selesai pulang dari Rumah Sakit untuk melakukan terapi dan konsultasi. Masih ada obat yang harus diminum oleh Firhan. Sementara itu, jika untuk merokok, Firhan sudah benar-benar menghentikannya. Dia sudah tidak bersinggungan lagi dengan rokok. Walau dulu, awalnya sangat susah. Tak jarang Firhan merasa pusing, kepala sangat kencang, dan juga mulut yang terasa asam. Namun, berkat dukungan dari Wati juga akhirnya Firhan bisa benar-benar berhenti dengan kebiasaannya merokok.


Kali ini, Firhan bertanya kepada Wati apakah dia lelah mendampinginya. Sebab, selama satu tahun terakhir, usaha keduanya seolah tidak menunjukkan hasil. Firhan bertanya demikian karena memang Firhan tahu bahwa ada titik kelelahan sendiri-sendiri untuk setiap orang, dan kali ini Firhan menanyakan itu kepada Wati.


Wanita itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya perlahan. "Ada kalanya aku lelah, Mas. Namun, aku tahu ... usaha kita masih harus berjalan. Harus terus berlanjut. Terlebih kamu sudah bebas dari rokok selama satu tahun terakhir. Semoga, tidak lama lagi ya, Mas," balas Wati.


Firhan jika melihat dan merasakan kesabaran dan kelemah-lembutan Wati seperti ini membuatnya kadang rapuh. Dia kadang tidak tahu harus seperti apa berterima kasih kepada istrinya.


"Maaf ya, Yang ... rupanya usaha kita masih harus berlanjut. Sudah satu tahun, dan belum mendapatkan hasil," balas Firhan.


Bahkan sekarang Firhan begitu sering mengucapkan kata maaf. Dia sangat tahu bahwa kadang kata maaf pun tidak berarti. Dia tahu bahwa ada kerinduan di dalam hati Wati untuk bisa memiliki anak. Namun, bagaimana lagi jika memang belum ada jawaban dari Allah. Sebab, sejatinya anak adalah anugerah dari Allah. Jika memang belum diberi dan belum dipercaya, hanya bisa berikhtiar, berdoa, dan berusaha. Untuk Firhan, dia pun juga berusaha untuk sembuh.


"Tidak perlu meminta maaf, Mas. Kan dulu, kita sudah sama-sama berjanji untuk menjalani semuanya bersama-sama. Sembari terus berharap, semoga waktunya tidak lama lagi ya, Mas," balas Wati.

__ADS_1


"Amin semoga saja," balas Firhan.


Sungguh, di dalam hatinya Firhan sangat bersyukur. Wati sangat sabar kepadanya. Selain itu, Wati juga selalu mendukungnya dan mendampinginya tiap kali ke Rumah Sakit.


"Sembari berikhtiar, mau liburan berdua, Sayang?" ajak Firhan sekarang kepada istrinya.


Sapa tahu dengan mengajak Wati liburan bersama. Menikmati waktu dengan lebih intim sebagai suami dan istri. Semoga saja, kali ini usaha dan ikhtiar keduanya akan menghasilkan hal yang baik. Menikmati suasana baru. Sebab, selama ini juga Firhan jarang mengajak Wati untuk jalan-jalan bersama.


"Mau ke mana, Mas?" tanya Wati kemudian.


"Kamu ingin ke mana? Aku akan mewujudkannya untukmu. Wujud terima kasih karena kamu sudah begitu sabar kepadaku," ucap Firhan.


"Tentu aku akan merawat kamu, Yang," jawab Firhan dengan cepat.


"Makanya itu, Mas. Tidak perlu berterima kasih. Kan aku melakukan semuanya juga tulus untuk Mas Firhan. Selama ini Mas Firhan juga berubah banyak dan juga lebih sabar. Semoga saja, semua perubahan baik ini dilihat oleh Allah dan diganjar dengan kebaikan," balas Wati.


Firhan akhirnya menganggukkan kepalanya. Memang sekarang, keduanya sering kali membesarkan hatinya sendiri dan berharap semoga nanti semuanya akan baik adanya.


"Iya, Yang. Semoga saja."

__ADS_1


Wati meninggalkan Firhan sejenak, dia membuatkan minum untuk keduanya terlebih dahulu. Setelahnya, Wati kemudian membawakan minuman dingin untuk suaminya.


"Diminum dulu, Mas," ucapnya.


"Makasih, Yang," balas Firhan. Tangan pria itu terulur dan kemudian meraih minuman sirup dengan rasa cocopandan dan berwarna merah itu. Begitu manis. Mungkin kehadiran Wati di dalam hidupnya seperti ini, memberikan perisa manis. Jika tidak pernah bertemu Wati, Firhan benar-benar tidak tahu bagaimana hidupnya.


"Jadi, bagaimana Yang ... kamu ingin liburan kemana? Tiga hingga empat hari bisa," ucap Firhan kemudian.


"Harus Mas? Bisa cuti?" tanya Wati.


"Bisa, Sayang ... kan selama ini aku juga tidak pernah cuti. Meluangkan waktu untuk kita berdua tidak masalah," balas Firhan.


Wati tampak berpikir-pikir terlebih dulu, dan kemudian memberikan jawaban kepada suaminya. "Ke Malang yuk, Mas ... ke Batu," ajaknya.


Agaknya untuk refreshing dan relaksasi, mengunjungi tempat-tempat yang dingin rasanya lebih menyenangkan. Sembari memiliki harapan, siapa tahu nanti akan diberikan kemudahan untuk memiliki buah hati.


"Oke, boleh ... aku ajukan cuti dulu yah. Nikmati waktu berdua, Yang. Semoga hasilnya baik," balas Firhan.


Seandainya ini bisa menjadi ikhtiar, Firhan sangat berharap bahwa seusainya perjalan keduanya, Allah akan percayakan keturunan kepadanya dan Wati. Satu saja, yang akan bisa melengkapi kehidupan berumah tangganya.

__ADS_1


__ADS_2