
Firhan berterima kasih kepada Pandu, itu juga karena Pandu sudah baik kepadanya. Dengan semua dosa masa lalunya, dengan penolakan Indi, tapi Pandu bisa memberikan respons yang positif. Bahkan Firhan juga mendengarkan ketulusan dari setiap ucapan Pandu yang berharap nanti Indi bisa menerima dia. Walau itu tidak tahu waktunya akan tiba.
"Di Solo berapa lama?" tanya Firhan kemudian.
"Tidak lama, hari Minggu nanti sudah kembali ke Jogjakarta karena Indi masih harus sekolah. Jadi, prioritaskan yang sekolah juga," balas Pandu.
Firhan menganggukkan kepalanya. Rupanya keluarga Pandu hanya berakhir pekan saja di Solo, tidak begitu lama karena hari Senin nanti Indi masih harus masuk sekolah. Kemudian, Firhan berpamitan dengan Pandu.
"Ya, udah ... duluan yah. Makasih banyak," balasnya.
"Iya, Han ... sama-sama," jawab Pandu.
Usai itu, Firhan memilih pulang ke rumah Ibunya. Sebab, memang akhir pekan ini Firhan mengajak Wati untuk menginap di rumah orang tuanya. Dia begitu sampai di rumah ingin bercerita dengan Wati.
"Assalamualaikum," sapanya begitu memasuki rumah.
"Waalaikumsalam ... tumben lama, Mas ... tarawihnya?" tanya Wati kepada suaminya yang baru saja tiba dari masjid.
__ADS_1
Jika dibandingkan dengan waktu Tarawih sebelumnya, kali ini memang lebih lama. Sampai tadi di rumah, Wati juga bertanya-tanya kenapa suaminya itu lama. Biasanya, tidak akan begitu lama.
"Iya, Sayang ... aku tadi usai tarawih bertemu dengan Pandu. Jadi, aku berbicara terlebih dahulu dengan Pandu," jawab Firhan dengan jujur.
Wati yang mendengarkan cerita dari suaminya pun menganggukkan kepalanya. Dia bisa menerima alasan dari suaminya. Mungkin juga hanya sekadar menyapa, toh sekarang keduanya sudah memaafkan. Berharap di dalam hati sudah tidak ada dendam.
"Tidak marah kan Sayang?" tanya Firhan sekarang kepada Wati.
"Enggak, Mas. Selama kamu jujur, aku tidak akan marah. Tumben, setelah sekian lama baru keluarga Mas Pandu main ke Solo. Usai peristiwa waktu itu," balas Wati.
Tentu Wati masih ingat ketika suaminya bercerita menghentikan mobilnya Firhan dan memberikan sebuah gelang untuk Indi. Kala itu, suaminya pulang ke rumah dengan pedih hati. Itu terjadi karena Indi yang menolaknya dan justru menangis. Indi sudah memilih bahwa sosok ayahnya adalah Pandu dan bukan dirinya.
"Berapa usianya Indi sih, Mas?" tanya Wati kepada suaminya.
"Sebentar lagi lima tahun. Sudah TK A ... waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin aku menolak-nolak dia. Tidak mau bertanggung jawab, sekarang dia sudah sekolah," cerita Firhan.
Jika kembali mengingat peristiwa lalu, Firhan merasa terluka dan kecewa. Namun, semuanya sudah terlanjut terjadi. Tidak bisa diulang dan diperbaiki. Selain itu, juga mereka sudah menemukan pasangan sendiri-sendiri dan kebahagiaan sendiri-sendiri. Sehingga, semuanya juga sia-sia belaka.
__ADS_1
"Ya, sabar ya Mas ... masih pengen ketemu Indi yah?" tanya Wati kemudian.
Firhan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya, masih pengen ... tidak mengharap lebih. Aku tahu dia sudah memiliki dan memilih Pandu sebagai ayahnya. Aku hanya ingin tahu, bahwa aku juga ayahnya. Itu saja, tidak lebih," balas Firhan.
"Sabar, Mas ... kemauan anak apa juga tidak bisa dipaksakan. Indi juga pasti sudah terlanjur tahunya ayahnya adalah Mas Pandu. Nanti, semoga Allah berikan jalan ya, Mas," balas Wati.
"Iya, Sayang ... makasih banyak yah. Aku bahkan bisa bercerita aibku dulu kepada kamu. Aku dulu yang mengelak dan menolak, sekarang justru aku sendiri yang merasa sakitnya ditolak oleh darah dagingku. Maafkan aku, Sayang," ucap Firhan.
Firhan juga sadar bahwa hanya dengan Wati saja dia bisa menceritakan aibnya. Menceritakan keresahannya menjadi seorang ayah yang ditolak oleh putrinya sendiri. Sungguh, Firhan baru merasakan pedihnya sekarang.
"Pasti dimaafkan, Mas Firhan. Semua orang memiliki masa lalu kan? Allah saja Maha pemaaf, apalagi kita hamba-Nya. Ya, harus meneledani Allah. Mau memaafkan sesama," balas Wati.
"Terima kasih banyak, Sayang ... Ramadhan ini juga istimewa untukku. Mendampingi kamu dan menyambut bayi kita nanti. Terima kasih kamu sudah membuatku menjadi sosok yang lebih baik. Terima kasih, Sayangku," ucap Firhan.
Itu adalah ungkapan hati yang tulus dari Firhan. Dia merasakan sendiri Ramadhan ini sudah berhasil menjadi sosok yang lebih baik. Bukan lagi Firhan yang keras kepala dan juga menyalahkan orang lain. Namun, Firhan yang sekarang adalah sosok yang bisa menerima dan mengakui salahnya. Bisa berdamai dengan masa lalunya. Semua itu tak luput dari Wati, sang istri selalu mendampinginya dan seolah menuntunnya untuk berjalan di jalan yang benar.
"Semua perubahan itu dari Allah semata, Mas," balas Wati.
__ADS_1
"Benar, Allah yang mengubah hati manusia. Namun, kamu turut memberitahu dan menunjukkan apa yang benar untukku. Terima kasih banyak, Sayang. Tanpa kamu, aku masih menjadi Firhan yang dulu, penuh dosa. Hidayah Ramadhan untukku dan juga keluarga kita," ucap Firhan.
Usai itu Firhan memeluk Wati. Begitu sayang dia kepada istrinya. Jika bukan Wati yang mendampinginya, belum tentu juga jika wanita yang lain yang mendampinginya bisa menerima aib dan masa lalunya. Untuk itu, Firhan merasa sekarang adalah hidayah Ramadhan untuknya.