
"Iya, Indi adalah anakku, anak kita," jawab Pandu dengan yakin.
Apa yang menjadi jawaban Pandu seolah membungkam semua pertanyaan yang mungkin saja akan diajukan oleh saudara dan kerabat lainnya. Di satu sisi, Ervita pun tertegun ketika Pandu menganggap Indira sebagai anaknya sendiri. Benih yang bukan dari benihnya, tetapi justru disayang oleh Pandu. Rasanya hati Ervita menjadi menghangat karena Pandu juga sempat bercerita bahwa dia menyayangi Indira sejak masih berada di dalam kandungannya.
"Tambah lagi anaknya, banyak anak banyak rezeki," ucap Saudara yang lain.
Pandu pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Amin doakan saja," balasnya dengan santun.
Begitu arisan keluarga usai, Pandu pun turut membantu untuk membersihkan rumah. Melipat kembali seluruh tikar, bahkan Pandu juga tidak segan untuk mengumpulkan sisa-sisa makanan dan memasukkannya ke dalam plastik.
"Mas Pandu, biar aku saja yang membuang sampahnya," ucap Tanto yang segan dengan Kakak Iparnya itu.
"Tidak apa-apa, kamu bersihkan yang lain saja," balas Pandu kemudian.
"Sudah kok Mas, yang lain sudah dibersihkan. Nanti biar aku yang buang sumpahnya Mas," ucap Tanto lagi.
"Alah, biasa aja. Aku yang membuang sampahnya juga tidak apa-apa. Jangan dibeda-bedakan. Aku juga menantu di sini," balas Pandu dengan santai.
"Ya, cuma kan Mas Pandu …."
Ucapan Tanto tertahan, karena menurutnya Kakak Iparnya itu dari kalangan berada. Sementara membuang dan membersihkan sampah seperti ini adalah pekerjaan yang tidak layak dikerjakan oleh mereka dari kalangan berada.
"Aku sama seperti kamu kok, Om Tanto," balas Pandu kemudian. Pandu sengaja memanggilnya Om karena untuk membahasakan Indira supaya bisa turut memanggil Om juga.
Di sini juga terlihat bahwa Pandu tidak ingin dibeda-bedakan. Derajat manusia sejatinya semuanya sama di hadapan Allah, tetapi manusia sendiri yang sudah membeda-bedakan sesaamanya. Tanto pun tersenyum melihat Kakak Iparnya itu, banyak hal tak terkira yang dilakukan Pandu hari itu.
__ADS_1
“Mas Pandu terbiasa dengan pekerjaan kotor begini yah?” tanya Tanto.
“Lumayan Om … cuma sering juga kalau di rumah membuang sampah ke depan,” balasnya.
“Bukan pembantu yang bersih-bersih dan membuang sampah tow Mas?” tanya Tanto lagi.
“Kadang-kadang aku yang bersih-bersih kok, Om,” balas Pandu.
Memang begitulah Pandu di rumah. Ada kalanya juga Pandu yang terlibat untuk bersih-bersih. Walau sebenarnya tidak pernah baginya untuk membuang sampah makanan. Akan tetapi, beberapa sampah lainnya dia terbiasa membuangnya. Sekarang di rumah dengan Ervita, Pandu juga yang rajin untuk membuang sampah ke tempat sampah di depan rumahnya setiap harinya.
Akhirnya acara bersih-bersih itu sudah selesai, dan akhirnya mereka pun bersantai sejenak. Beristirahat dan rumah juga dalam keadaan bersih.
“Nanti tidur di sini yah,” ucap Pak Agus kepada Ervita dan Pandu.
“Nggih Pak,” balas Pandu dengan menganggukkan kepalanya.
Ketika sore hari tiba, Ervita sudah memandikan Indira terlebih dahulu. Kemudian, dia menyuruh suaminya itu untuk mandi juga. “Mas Pandu, mandi dulu Mas,” ucapnya dengan sopan untuk menyuruh suaminya itu mandi.
“Iya Nda,” balas Pandu.
“Ini pakaian gantinya ya Mas Pandu … untung tadi kepikiran membawa pakaian ganti. Maaf ya Mas, di sini kamar mandinya hanya memakai gayung, tidak seperti di rumah kamu,” balas Ervita.
“Tidak masalah Nda … esensi dari kamar mandi kan yang penting ada airnya. Ya sudah, aku mandi dulu yah,” balasnya dengan bergegas di dalam kamar mandi.
Hingga akhirnya, malam tiba dan Indira sudah tertidur di dalam kamarnya Ervita, kini Ervita, Pandu, dan Bapak Ibu, mengobrol di ruang tamu.
__ADS_1
“Ada kabar kurang baik, Vi,” ucap Bu Sri kepada anaknya itu.
“Kabar apa Bu?” balas Ervita dengan menatap wajah Ibunya.
“Hmm, itu … Firhan gak jadi menikah dengan calon istrinya, Tiana. Di malam modedareni, malahan semua seserahan di kembalikan dan juga Pak Supri terkena stroke ringan. Kasihan, Vi … kalau pagi itu Pak Supri dijemur di depan rumah, bagian wajah yang kiri yang kena,” cerita Bu Sri kepada Ervita.
Ervita dan Pandu yang mendengarkannya pun juga kaget. Sebab, malam Midodareni itu biasanya keluarga sudah bersiap untuk menyambut akad di esok harinya. Namun, jika sampai dibatalkan dan juga sampai mengembalikan semua seserahan, sudah pasti ada masalah yang penting.
“Semoga cepat sembuh, Bu … Pak Suprinya,” balas Ervita.
“Iya, kasihan … harus terapi katanya. Kan kemarin dari warga di sini dimintai dana sosial dan mengunjungi Pak Supri,” balas Bu Sri.
“Ceritanya hampir mirip kamu, Vi … Firhan mengajak pacarnya ke Tawang Mangu dan meminta hubungan terlebih dahulu, tapi pacarnya tidak mau. Akhirnya putus itu. Ya, jadinya benar orang berkata ‘Sapa Salah Seleh.’
Siapa orang salah ya akan kalah. Semua hanya menunggu waktu. Hanya saja, Bapak itu kok ya salute sama pacarnya yang berani menolak dan juga berani untuk membatalkan pernikahan padahal tinggal menunggu akad keesokan harinya," balas Pak Agus sekarang ini.
Ervita pun tersenyum tipis di sana, "Memang kala itu, Ervi juga salah, Pak ... maafkan Ervi yang tidak bisa menjaga diri," balasnya.
Terdengar penyesalan yang dalam dari setiap kata-kata yang Ervita ungkapkan. Pandu yang duduk di samping Ervita pun langsung menggenggam tangan istrinya itu. Toh, semua adalah kesalahan di masa lalu. Ervita juga sudah membayar mahal untuk semua kesalahannya.
"Tidak apa-apa, Vi ... semua juga sudah menjadi masa lalu. Firhan ya kasihan, sekarang kelihatan lebih kurus. Cuma ya mungkin semua karma juga, Vi ... walau manusia tidak mengharap, tetapi Tuhan kan maha adil," balas Bu Sri lagi.
"Hmm, iya Bu ... ya jangan tertawa untuk penderitaan orang lain. Justru didoakan biar segera tobat dan mendapatkan ridho untuk berjalan di jalan yang benar," balas Ervita.
Sungguh, sekalipun itu adalah karma, tetapi Ervita tidak ingin menertawakan semuanya itu. Biarkan apa yang terjadi menjadi pelajaran bagi Firhan dan juga pria itu bisa mendapatkan ridho untuk melakukan apa yang benar, tidak melakukan kesalahan yang sama.
__ADS_1
Kali ini Pandu merasa kagum dengan istrinya itu. Di mata Pandu, apa yang dilakukan Ervita sudah benar. Membalas kejahatan dengan kejahatan tidak benar, menertawakan penderitaan orang lain pun juga tidak benar, yang benar adalah mendoakan supaya orang tersebut bisa segera tobat. Lebih baik memasrahkan semua kepada sang Pencipta, sebab Dia memiliki takaran tersendiri untuk semua yang sudah dilakukan manusia entah itu baik dan juga buruknya.