Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Terusik


__ADS_3

Ketika Pandu mengulurkan tangannya dan hendak mengajak Ervita untuk berkeliling ke tempat lainnya. Rupanya Lina sendiri masih berusaha untuk menghentikan Pandu di sana. Dia seakan tidak rela jika Pandu pergi begitu saja dari hadapannya.


"Pandu, kamu tidak boleh pergi seperti ini, Ndu ... kamu tidak tahu petaka di kaki Gunung Andong itu terjadi karena aku menunggumu. Semalaman aku menunggu kamu, untuk bisa memiliki waktu berdua denganmu. Namun, yang terjadi ... justru Roni yang keluar dari tenda dan bukan kamu. Dia yang menenangkan aku dan akhirnya kesalahan itu terjadi. Kamu tidak tahu sakitnya hatiku, kedinginannya aku menunggu kamu selama berjam-jam. Kamu pria yang tidak peka dengan perasaan wanita. Bahkan setelahnya, di saat aku berusaha bertemu dan meminta maaf, kamu tidak menghiraukanku, Ndu ... sekarang untuk wanita seperti dia, kamu berubah, kamu tidak seperti Pandu yang dulu. Padahal kami sama-sama kotor, bahkan dia memiliki anak tanpa pernikahan," ucap Lina.


Di mata Lina, sikap Pandu masuk dalam kategori tidak peka kepadanya. Bahkan sekarang Lina berusaha untuk membandingkan bahwa dia dan Ervita sama-sama kotor. Di mata Lina, Ervita justru lebih kotor karena dia memiliki anak dari hubungan satu malam, sementara dirinya tidak.


"Tidak usah membandingkan kamu dengan dirinya. Intinya aku tidak mau, Lina. Sudah cukup," balas Pandu lagi.


"Tidak Ndu, ini tidak adil. Kamu bisa menerima dia, tapi dulu kamu tidak bisa menerimaku," balas Lina.


Ervita yang semula diam, akhirnya berbicara kepada Lina yang ada di hadapannya. "Maaf Mbak Lina, lupakan semua masa lalu. Toh, sekarang Mas Pandu sudah menikah. Jangan berusaha untuk merebut suami orang, Mbak Lina. Semuanya sudah usai." Ervita mengatakan itu dengan tegas, lantas dia melirik kepada suaminya, "Ayo, kita pergi Mas," ajaknya.


Namun, lagi-lagi Lina menahan Pandu di sana. "Kamu tidak adil, Ndu ... kamu melihatku seperti wanita yang tidak benar. Namun, kamu menikahi wanita yang juga tidak benar."


Kali ini apa yang dikatakan Lina benar-benar membuat Pandu terusik di sana. Pandu sampai menghela nafas dan kemudian menoleh untuk melihat Lina di sana, "Sudah cukup, Lina ... jangan sampai aku membuka kartu kamu di sini," ucap Pandu.


"Buka saja, Ndu ... kamu cuma tahu noda dan celaku bersama Roni kan?"


Pandu kemudian menggelengkan kepalanya perlahan, "Tidak. Aku tahu semuanya, Lina. Aku tahu dan dengar bagaimana selama ini kamu berbicara yang tidak-tidak tentangku bahwa aku pria yang tidak normal dan berkedok memiliki pacar padahal aku sama sekali tidak menyentuhnya. Aku juga tahu, apa yang terjadi di Kost-nya Anton, Lina ... yang kamu lakukan dengan Anton di dalam kost, aku juga tahu. Jadi, sudahlah Lina. Jangan buat aku membuka semua corengmu," ucap Pandu.


Ketika Pandu mengatakan semuanya itu, Lina mematung. Dia tidak menyangka bahwa Pandu ternyata mengetahui semua tentangnya. Lina tidak berkutik sekarang. Tidak mengira bahwa Pandu yang selama ini cuek, rupanya bisa tahu semuanya. Sekarang, Lina hanya bisa menatap punggung Pandu yang berlalu pergi dengan menggandeng Indi dan Ervita.

__ADS_1


Sementara Ervita melirik sekilas kepada suaminya. Dia menerka, apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Memang, saat Lina membandingnya dirinya sendiri dengan Ervi, kala itu Ervita juga merasa bahwa posisi mereka sama. Bahkan Ervita merasa dirinya lebih kotor, karena ada Indi yang menjadi anak yang lahir tanpa nasab ayah kandungnya.


"Mau kemana lagi Didi?" tanya Pandu kepada putrinya itu.


"Pulang aja Yayah ... Didi mau main di rumahnya Eyang lihat Parkit boleh?" tanyanya.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Boleh ... dijemput Ayah sore yah?"


"Ya Yayah ... mau main sama Kakung dan Eyang Uthi," balasnya.


Memilih untuk keluar, Pandu akhirnya membawa istri dan anaknya untuk pulang ke rumah. Ervita lebih banyak diam sekarang, Pandu tahu. Oleh karena itu, ketika Indi memilih ke rumah orang tuanya, bisa Pandu gunakan untuk menenangkan istrinya itu.


Berkendara hampir satu jam, dan sekarang Pandu sudah sampai di rumah orang tuanya. Dia menitipkan Indi dan akan menjemputnya sore nanti. Tidak lupa Pandu juga menyampaikan bahwa Indi ingin melihat Parkit milik Kakungnya. Setelahnya, pria itu mengajak Ervita untuk pulang ke rumahnya.


Ervita memiliki kebiasaan sendiri, ketika dirinya merasa pusing. Maka dia akan menyeduh teh hangat dengan aroma melati untuk bisa menenangkan pikirannya yang sedang rumit. Setelahnya, Ervita memilih untuk duduk di ruang tamu sembari mendengarkan air mancur kecil yang ada di luar rumahnya. Gemericik air yang bisa menjadi relaksasi untuk dirinya.


Dalam diamnya, Ervita berpikir apakah berarti selama ini suaminya itu tahu banyak tentang Lina. Namun, sejauh ini yang diceritakan oleh Pandu hanya sebatas tragedi di kaki Gunung Andong saja. Tidak pernah menceritakan hal yang lainnya. Hingga akhirnya, Pandu keluar dari kamar dan kemudian duduk di samping istrinya itu.


"Aku cariin di kamar loh, Nda," ucapnya.


"Aku duduk di sini Mas," balas Ervita dengan menundukkan wajahnya. Ada keengganan untuk menatap wajah suaminya itu.

__ADS_1


"Kenapa? Pasti marah dan sebel karena yang tadi yah?" tanya Pandu. Terkaannya sekarang sudah pasti istrinya itu merasa badmood dan juga kesal. Terlebih istrinya sedang hamil, sudah pasti Ervita juga merasa lebih kesal.


Ervita memilih diam. Jujur saja, bertemu dengan Lina membuatnya hilang mood. Liburan yang awalnya indah dan seru, berakhir dengan bertemu sosok wanita dari masa lalu suaminya. Hanya saja, sebenarnya bagaimana Pandu dulu sampai begitu banyak orang meragukan kenormalannya. Ervita memejamkan matanya sejenak, dan juga memilih menyeruput kembali tehnya.


"Sini, bicara sama aku ... jangan diam kayak gitu terus," ucap Pandu dengan menggeser duduknya dan lebih dekat dengan Ervita.


"Enggak ... aku pusing," sahut Ervita.


Pandu akhirnya memilih diam. Dia sudah berusaha membuka pembicaraan dan juga mengajak Ervita bicara. Akan tetapi, istrinya itu memilih diam dan mengaku pusing. Pandu tahu bumbu dalam rumah tangga itu beraneka rasa. Hanya saja, dia tidak suka jika Ervita diam seperti ini.


"Jangan diam, Nda ... aku lebih tersiksa jika kamu diam," ucap Pandu dengan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Itulah Pandu, jika orang yang dia sayangi mendiamkannya, dia yang akan merasa tersiksa. Walau sebenarnya selama ini Pandu juga tipe yang sama, dia marah lebih baik diam dan mendinginkan hati dan pikirannya terlebih dahulu.


"Semua orang boleh diam kalau mereka kesal, tapi kamu jangan, Nda ... aku tidak bisa," ucapnya lagi.


Ervita pun akhirnya menaruh cangkir teh di atas meja, dan kemudian barulah berbicara kepada Pandu di sana. "Aku sebel," ucapnya.


"Iya, aku tahu ... karena Lina kan?" balasnya.


"Salah satunya ... kenapa kamu tidak cerita semuanya Mas? Masih banyak kan terjadi tidak hanya di Gunung Andong itu. Yang dikatakan Lina benar yah, kami berdua sama-sama kotor. Aku lebih kotor, karena aku miliki Indi yang akan terus mengingatkanku pada kotornya diriku di masa lalu. Dia buah hatiku, tapi sekarang pengingat yang paling menyakitkan bahwa di masa lalu, aku pernah jatuh," ucap Ervita.


Pandu menggelengkan kepalanya perlahan, "Tidak Nda ... kamu lebih mulia. Kamu salah, mengakui salahmu, dan mempertahankan buah hatinya. Namun, tidak dengan Lina."

__ADS_1


Ervita menghela nafas di sana, "Aku terusik Mas ... sebenarnya seberapa banyak yang kamu tahu tentang Lina? Kenapa tadi kamu berbicara begitu di sana," balas Ervita lagi.


Usai mengatakan itu, cukup lama keduanya diam. Tidak bermaksud tidak sopan. Ervita memilih beringsut dan dia duduk di tepian sofa. Dia memilih beringsut dan diam. Entahlah, perasaannya sangat tidak enak sekarang. Terlebih dengan fakta usai bertemu Lina, membuat mood ibu hamil itu menjadi berantakan.


__ADS_2