Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Seistimewa Jogjakarta


__ADS_3

Mei agaknya begitu kagum karena kakak iparnya tampak begitu sayang banget dan juga perhatian dengan Kakaknya. Sungguh, Mei merasakan bahwa kakaknya memang layak dan pantas mendapatkan semua itu dari Pandu. Terlepas dari kesalahan yang pernah dilakukan oleh Ervita, sebenarnya Ervita adalah wanita yang baik, murid yang berprestasi, dan juga selalu sopan dan baik dengan orang lain.


"Kamu beruntung banget, Mbak … lepas dari singa, kamu bukan masuk ke kandang buaya. Melainkan memasuki lembah berbunga. Aku bisa merasakan bahwa Mas Pandu benar-benar baik dan perhatian sama kamu," ucap Mei lagi.


"Ya semoga Mas Pandu tidak akan pernah berubah kepadaku," balas Ervita dengan melirik suaminya yang mengambilkan aneka makanan di angkringan itu untuknya.


“Pasti Mbak … sudah kelihatan banget kok kalau Mas Pandu itu tidak akan pernah berubah. Aku sangat senang. Terlepas dari kesalahan dulu, tapi Tuhan gantikan semuanya bahkan dengan yang lebih indah. Jadi inget orang zaman dulu berkata, apa memang untuk bahagia, orang harus menderita terlebih dahulu. Semoga langgeng sama Mas Pandu,” ucap Mei dengan panjang lebar.


Ervita pun menganggukkan kepalanya, “Iya, makasih yah … kamu juga sama Tanto, yang rukun. Saling mengisi satu sama lain. Semoga langgeng terus,” balas Ervita.


“Amin mbak,” jawab Mei yang juga mengaminkan harapan dan doa dari kakaknya itu.


Hingga akhirnya, Pandu dan Tanto datang dengan masing-masing dua piring yang berisi Nasi Kucing dan aneka gorengan serta tusukan Sate. Mereka bergabung dengan para istri dan mempersilakan istrinya untuk makan terlebih dahulu.


"Makan dulu Nda," ucap Pandu dengan mengambil satu piringan dari kayu dan menaruh dua bungkus Nasi Kucing di atas, kemudian menyerahkannya kepada Ervita.


"Makasih Mas ... kamu duluan saja yang makan," balas Ervita.


"Iya, aku nanti gampang ... ayo Mei ... Om Tanto, makan gak usah sungkan. Kalau kurang ambil lagi saja," balas Pandu.


Tanto pun tampak menganggukkan kepalanya, "Iya Mas ... ini saja sudah banyak banget kok," balasnya.


"Kalau pengen yang lain, bilang saja. Tidak apa-apa kok." Pandu masih mengatakan jika adik-adiknya itu menginginkan yang lain tidak masalah. Mumpung adiknya ke Jogja, dia bisa membelikan sekadar makanan untuk Mei dan Tanto.

__ADS_1


"Gampang Mas Pandu ... ini tadi sudah Sampeyan (bahasa Jawa Krama madya untuk kata ganti kamu, bagi orang yang tua dan dihormati) belikan banyak, Mas," balas Tanto.


"Gak apa-apa, kan kalian ke Jogja juga tidak setiap hari," balas Pandu.


Mei tampak menganggukkan kepalanya kemudian, "Karena tidak setiap hari ke Jogja, makanya rasanya Jogja ini istimewa," balasnya.


Semua yang ada di sana pun tertawa. Sebenarnya kota Jogjakarta sendiri memiliki tagline Jogja Istimewa yang resmi menjadi citizen branding. Kota dengan budaya Jawa yang masih dijaga, masyarakat yang ramah dan santun kepada yang lain, pariwisata alam dan budaya yang dijaga dan dilestarikan, pendidikan yang maju dan berkembang memang menjadi Jogja Istimewa.


"Wah, kayak dirimu, Nda ... seistimewa Jogjakarta," balas Pandu.


Ervita tampak tersipu malu mendengarkan gombalan dari suaminya itu, sementara Mei dan Tanto pun tertawa. Rupanya jika dengan orang yang dekat, suami Kakaknya itu adalah tipe-tipe suami bucin. Padahal jika belum kenal, Pandu itu orangnya tenang dan dewasa.


"Apa sih Mas ... malu yow," balas Ervita dengan menupuk kaki suaminya itu.


Pandu yang ditanyai pun hanya bisa menganggukkan kepalanya perlahan, "Demi Dinda, aku bucin maksimal. Gak apa-apa, To ... bucin sama istri sendiri. Cuma kan penempatannya harus pas, ada waktunya serius, ada waktunya bucin. Tidak apa-apa," balas Pandu kemudian.


"Kupikir Mas Pandu itu diam dan tenang gitu," balas Tanto lagi.


"Kalau sama Ervita, aku gak bisa diem kok. Pengennya ngajakin dia ngobrol terus. Percaya deh sama aku, sediem-diemnya suami karena dia sudah sama istrinya, apa saja bisa menjadi bahan obrolan berdua. Begitu juga, suami kalau sudah sama anaknya, bakalan lebih ceriwis. Lagu anak-anak yang dulu kita mikirnya, ah, sudah lewat zamannya. Begitu punya anak, pria itu bakalan nyanyiin lagu anak-anak lagu," balas Pandu yang membagikan pengalamannya sendiri.


"Mas Pandu juga begitu tow?" tanya Mei kemudian.


"Iya, kalau sudah di rumah pengennya ngobrol gitu ... sambil ngeteh atau pillow talk sama Dinda. Terus kalau sudah sama Indi ya dengerin ceritanya, nemenin main boneka, dan nyanyi lagu kesukaannya. Ya, memang seharusnya seperti itu. Pria kan tidak hanya menjadi pria, tetapi ketika sudah beristri perannya akan menjadi suami, ketika sudah punya anak perannya akan menjadi ayah. Jadinya seimbang," balas Pandu.

__ADS_1


Tanto kemudian menganggukkan kepalanya perlahan, "Benar Mas ... aku ya walau tidak sempurna, kadang sampai rumah sudah capek karena seharian bekerja, tetap menyempatkan waktu untuk ngobrol ya istilahnya quality time dengan Mei," balasnya.


"Iya sih Mas ... setidaknya kan dengan pasangan itu tidak hanya dekat secara fisik, tetapi juga dekat secara hati. Walau obrolannya hanya hal-hal sehari-hari saja," ucap Mei di sana.


Ervita yang sejak tadi mendengarkan pun akhirnya juga turut berbicara, "Setidaknya itu kan membangun komunikasi yang baik dengan pasangan. Dengannya yang kita akan menghabiskan waktu sepanjang usia kan, mungkin merasa ada titik di mana merasa marah, jengah, atau bahagia. Bisa juga komunikasi itu menjadi macet, tetapi harus berusaha untuk membangun komunikasi. Kalau sudah punya anak itu, komunikasinya juga harus tiga arah. Komunikasi istri ke suami, komunikasi suami ke istri, dan ketiga komunikasi orang tua ke anak. Kami berusaha melakukannya," jelas Ervita kemudian.


"Pinter Mbak ... aku jadi kangen dulu di rumah sering ngobrol-ngobrol gini sama Mbak Ervi di rumah. Bisa banyak pengetahuannya dan banyak yang dibagikan," balas Mei yang mendadak kangen dengan waktu-waktu mengobrol dulu di rumah.


"Sering main ke Jogja, biar bisa ngobrol barengan," balas Ervita.


"Ya, kalau bisa Mbak ... ini kan juga ngidam pengen main ke Jogja, dan sekarang sudah kesampaian makan di Angkringan di Malioboro. Sudah seneng banget Mbak," balas Mei.


"Sehat-sehat ya Ibu dan bayinya. Kapan-kapan main ke Jogja lagi. Banyak tempat yang bisa didatangi nanti," balas Ervita.


"Siap Mbak ... nanti lain waktu main ke Jogja. Jogja yang istimewa," balas Tanto.


Pandu pun menganggukkan kepalanya dan kemudian melirik Ervita yang duduk di sampingnya, "Jogja aja istimewa, Nda ... apalagi cintaku ke kamu, lebih istimewa pastinya."


Ervita sampai malu rasanya mendengar gombalan dari suaminya itu. Pun dengan Mei dan Tanto yang justru tertawa-tawa melihat tingkah kakak iparnya yang sedang bucin. Sampai malu rasanya.


"Balas Mbak," balas Mei.


Ervita menggelengkan kepalanya, kemudian melirik suaminya itu. "Mas, kalau nasi goreng ditambah telor namanya kan spesial. Kalau kamu di hati, tidak perlu tambahan apa pun, kamu itu sudah istimewa."

__ADS_1


Pandu tertawa di sana, wajahnya memerah. Tidak mengira bahwa istrinya bisa mengucapkan gombalan receh seperti itu. Namun, memang itulah komunikasi dalam pernikahan. Kadang sekadar gombalan receh saja rasanya sudah bisa membuat hati menjadi begitu berbunga-bunga.


__ADS_2