
Ketika seorang pria berpacaran dengan wanita dengan berusaha untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang melanggar norma, kadang kala kenormalannya sebagai seorang pria justru diragukan. Pun demikian dengan Pandu yang justru diragukan karena selama pacaran dia enggan menyentuh Lina. Terlebih melihat bahwa Lina begitu cantik dan memiliki tubuh yang proporsional, menjadi incaran kaum adam di kampus dulu.
Ketika Lina begitu mendamba akan Pandu, yang terjadi justru sifat Pandu yang dingin. Pria yang memiliki prinsip tidak akan coba-coba dalam berpacaran itu tetap memegang teguh prinsipnya untuk tidak melanggar batas dan hanya istrinya saja yang akan dia sentuh.
Menanggapi pertanyaan Roni, Pandu kembali memilih untuk diam dan kemudian melirik kepada Ervita yang duduk di sampingnya. Hingga akhirnya Pandu kembali berbicara.
"Normal atau tidak, itu tidak ada hubungannya. Pria yang bisa menjaga kehormatan seorang wanita itu yang normal dan jantan," balasnya.
Roni menundukkan wajahnya, seakan dia tertampar dengan ucapan Pandu barusan bahwa dirinya tidak bisa menjaga kehormatan wanita dan juga berakhir dalam cinta satu malam dengan pacar sahabatnya dulu.
"Sudah, tidak usah mengungkit masa lalu ... intinya Lina bagiku sudah selesai. Tutup buku. Sekarang aku sudah beristri, sebaiknya lanjutkan hidup masing-masing," tegas Pandu.
Setelahnya Pandu menggenggam erat tangan Ervita di sana, "Nda, yuk kita pulang," ajaknya.
"Iya Mas," balas Ervita dengan singkat.
Tanpa pamit keduanya memilih untuk pergi. Roni pun menatap tangan Pandu dan Ervita yang saling bertaut. Dalam pengamatannya, Pandu sudah berubah. Benar, dengan wanita yang halal baginya Pandu terlihat begitu mencintainya dan juga menggandeng tangan istrinya dengan mesra.
"Kamu dengar semua tadi kan, pria yang tidak menyentuh pacarnya justru dianggap tidak normal," gumam Pandu dengan menghela nafas.
Ervita hanya menunduk, dia juga merasa malu. Sebab, pacarannya dulu juga tidak benar. Sementara, suaminya dengan prinsipnya yang mulia, seakan membuat Ervita bisa bercermin bahwa dirinya pun sangat tidak sempurna.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan sudah benar Mas ... justru aku ini yang banyak salah sewaktu pacaran," balas Ervita.
"Bukan maksudku mengatakan itu untukmu, Nda ... maaf," balas Pandu yang merasa tidak enak hati sekarang.
Pandu dengan prinsipnya dulu yang luar biasa, sekarang Ervita adalah lawan katanya, masa lalu yang benar-benar buruk dan juga banyak kekhilafan di masa lalu. Namun, justru Pandu mau meminang wanita yang memiliki banyak kesalahan seperti Ervita.
Keduanya sama-sama larut dalam pikirannya sendiri, hingga sekarang mereka sudah tiba di hotel, dan Pandu segera memeluk istrinya itu. "Kenapa jadi diem? Biasanya kalau sama aku, kamu banyak bicara. Aku ada salah ya Nda?" tanya Pandu.
Ervita menggelengkan kepalanya secara samar, "Tidak ... aku yang salah malahan. Untuk pria sebaik kamu, rasanya aku tidak ada apa-apanya. Aku banyak salah. Seharusnya kamu bisa dapat yang lebih sempurna, Mas," ucap Ervita.
"Satu-satunya yang sepadan untuk aku, cuma kamu, Dinda ... Pandu hanya untuk Ervita, dan begitu pula sebaiknya. Merasa insecure yah? Padahal aku juga bukan baik-baik kok Nda ... kalau sama kamu, aku nakal loh," ucap Pandu yang berusaha untuk mencairkan suasana.
Pandu kemudian mengajak Ervita untuk duduk di sofa yang ada di kamarnya, dan kemudian menggenggam tangan istrinya di sana. "Kamu yakin aja Nda ... aku memang tidak sempurna, bersama kamu bahkan aku menjadi pria gila yang selalu ingin menyentuh kamu, Nda. Kamu justru yang sempurna untuk aku. Wanita tangguh yang selalu bangkit walau sudah kehabisan daya. Aku bukan wanita hebat di sampingku, Nda," balasnya.
Ya, Ervita terbersit dengan pikirannya sendiri. Usai mendengar cerita Roni bahwa Lina menunggu dan ingin tidur dengan Pandu, mungkinkah Pandu akan menerimanya? Dan, menemani Lina semalaman di dalam tenda. Dalam benak Ervita, itu sekadar tidur atau tidur dalam artian yang berbeda.
"Aku tidak mau, Nda ... pegang tangan dia saja jarang banget. Terus tidur, udaranya dingin pasti itu bukan sekadar tidur, Nda ... aku yakin itu adalah tidur secara arti yang lain. Apa benar wanita mendamba seperti itu? Sek-s pranikah itu lazim dilakukan pasangan zaman sekarang, Nda. Makanya harus membatasi diri dan mengontrol perilaku kita. Ini masalah moral, Nda. Aku tidak akan mengiyakannya," balas Pandu dengan tegas.
Pandu membelai sisi wajah Ervita, membawa wajah itu untuk berhadap-hadapan dengannya, "Bersama kamu pun, sebesar apa pun perasaanku untuk kamu, aku tidak menyentuh kamu sebelum akad terucap. Semoga saja, perbuatan baik yang aku lakukan sekarang Indi dan anak-anak kita akan menuai kebaikan," balas Pandu.
Ervita menitikkan air matanya. Benar kata pepatah apa yang kita tabur, akan kita tuai. Tak jarang apa yang dilakukan orang tua hasilnya pun akan dituai oleh anak-anak. Yang Pandu harapkan dengan dia menjaga hidupnya dengan baik, semoga di masa depan Indi dan adik-adiknya nanti akan mendapatkan hal yang baik, buah yang baik di masa depan.
__ADS_1
"Makasih Mas," balas Ervita.
"Sama-sama Dinda ... sudah jangan bicara what if lagi ... intinya Pandu cuma untuk Ervita. Aku cuma pengen hidup sama kamu aja, Nda ... yang tahu gilanya aku, dan bagaimana aku perkasa cukup kamu. Biarlah dunia dan orang-orang menganggapku tidak normal asalkan bagimu aku normal," balas Pandu.
Ervita pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Aku saksinya, kamu luar biasa Mas ... penghuni tetap Swargaloka," balas Ervita.
Pandu pun terkekeh geli dan merangkul bahu Ervita di sana, "Itu kamu tahu ... jadi aku jantan enggak?" tanya Pandu.
"Hmm, iya," balas Ervita.
"Makin terbukti kalau nanti ada Pandu atau Ervita junior di dalam perut kamu, Nda ... kapan ya kira-kira Tuhan akan anugerahkan berkah momongan untuk kita?" tanya Pandu dengan menghela nafas.
"Sabar ... waktu-Nya selalu indah. Berdoa, sabar, dan berusaha. Kalau terlalu ngebet juga tidak baik, Mas ... biarkan saja kalau Mei dan Mbak Pertiwi duluan. Nanti kita akan menyusul," balas Ervita.
"Iya, Nda ... tenang saja. Justru seperti tidak dikejar target yah," balas Pandu.
"Iya Mas ... enggak terasa yah, besok malam kita sudah kembali ke Jogjakarta. Kangen Indi," ucap Ervita.
"Iya, kangen Indi dan kangen ngobrol sama kamu di Pendopo. Pacaran malam di depan rumah," balas Pandu.
Pandu kemudian menelisipkan untaian rambut Ervita ke belakang telinganya, dan kemudian menggigit kecil telinga istrinya, "Manfaatkan waktu sebelum besok pulang yuk, Nda ...."
__ADS_1
Astaga suaminya itu sudah memberikan kode keras. Ervita hanya mengedikkan bahunya dan melirik Pandu yang sudah memberikan kode untuk membawanya kembali terbang menuju Swargaloka.