
Tidak terasa, hari ini adalah hari yang penting untuk Pandu dan Ervita. Peringatan hari pernikahan mereka berdua yang ketiga. Tidak terasa, sudah tiga tahun lamanya keduanya membina rumah tangga. Bermula dari hubungan seorang pekerja dengan anak juragan batik, hingga akhirnya keduanya saling dekat dan juga bisa begitu kompak dalam membina kehidupan berumah tangga.
Sore hari ini, ketika Pandu pulang dari kantornya. Dengan sengaja, dia membawakan setangkai mawar merah untuk Ervita. Memang hanya setangkai. Tidak seperti para CEO yang memberikan buket bunga. Yang penting adalah ketulusan hatinya.
"Happy Wedding Anniversary, Nda ... Wilujeng Ambangun Bebrayan," ucap Pandu. Ya, Ambangun Bebrayan adalah ungkapan untuk membina rumah tangga. Sudah tiga tahun dilewati bersama. Ada begitu banyak kisah, baik itu suka dan duka. Namun, keduanya selalu berusaha untuk bisa melakukan kerja sama yang baik baik sebagai pasangan suami istri dan sebagai Ayah dan Bunda untuk Indi dan Irene.
"Makasih Yayah," balas Ervita.
Dibawakan sekuntum mawar merah saja, Ervita sudah begitu senang. Terharu juga karena suaminya mengingat tanggal penting untuk keduanya. Tanggal di mana keduanya menikah.
"Bunga mawar merah itu tanda cinta ya Mas?" tanya Ervita dengan menitikkan air matanya.
"Ah, itu kan lagu dangdut, Nda ... bunga mawar merah satu tanda cinta yang berarti bahwa kau cinta padaku," balas Pandu seolah menyanyikan part dari lagu dangdut itu.
Sontak saja, Ervita menjadi terkekeh geli karenanya. Rupanya, suaminya itu tahu dengan apa yang sekarang ada di dalam pikirannya. Mendengarkan itu Ervita tertawa hingga memegangi perutnya, seolah terguncang dengan balasan Pandu tadi.
"Kok kamu tahu juga sih, Mas ... kirain kamu gak tahu, dan tahunya hanya Yen Ing Tawang Ana Lintang saja," balas Ervita.
Pandu terkekeh perlahan. "Aku tahu dong, Dinda ... khazanah musikku itu banyak tahu. Semua genre lagu, juga aku tahu," balas Pandu.
__ADS_1
Setelahnya, Pandu pamit untuk mandi terlebih dahulu. Sementara Ervita menyimpan bunga mawar merah dari suaminya di kamar, setelahnya dia segera menuju ke dapur, membuatkan minuman untuk suaminya. Ervita, mungkin karena fokus dengan Indi dan Irene sampai lupa dengan hari peringatan pernikahan mereka. Namun, sembari mengaduk Teh hangat itu, Ervita tersenyum sendiri.
"Aku belum tua, sudah banyak lupanya. Justru tidak bisa memberikan hadiah untuk Mas Pandu," gumamnya seorang diri.
Ya, Ervita sendiri memang lupa. Apakah itu karena dia yang hanya memikirkan anak-anak saja. Bahkan dia tidak sempat memberikan hadiah untuk suaminya. Padahal, dia juga ingin memberikan hadiah untuk suaminya. Hingga, akhirnya Pandu sudah selesai mandi, dia menyusul Ervita ke dapur.
"Minumnya, Mas," ucap Ervita dengan menyodorkan secangkir teh hangat.
"Makasih, Nda," balas Pandu.
Setelahnya, keduanya menikmati sore bersama. Sembari mengenang bagaimana jalinan kisah kasih dulu.
"Dulu, perjuangan untuk mendapatkan kamu itu begitu berat, Nda. Aku tahu dengan keresahanmu. Mungkin ada trauma dan tidak percaya lagi dengan seorang pria. Akan tetapi, aku akhirnya berhasil untuk meminang kamu," balas Pandu.
Ervita begitu memahami, pria yang katanya memiliki hak untuk memilih, tentu akan berpikir dua kali ketika memilih wanita sepertinya. Janda bukan, tapi memiliki anak tanpa pernikahan. Akan tetapi, Pandu melawan semua batas dan menajtuhkan hatinya kepada Ervita. Lebih dari itu, Ervita juga memiliki keluarga mertua yang sangat baik. Diterima, diperlakukan, dan disayangi seperti anak sendiri. Bagi Ervita adalah anugerah yang luar biasa untuknya.
"Sudah tiga tahun bersama, dianugerahi anak-anak yang lucu-lucu. Tinggal membesarkan mereka berdua ya, Dinda," balas Pandu.
"Yakin, Mas Pandu tidak ingin menambah momongan?" tanya Ervita.
__ADS_1
"Enggak aja deh ... dua aja cukup. Indi dan Irene. Kasihan kamu juga, Dinda. Walau kamu ya masih muda. Masih kepala dua, tapi aku kasihan melihat kamu bersalin seperti itu," balas Pandu.
Seolah pria itu memiliki trauma tersendiri mendampingi Ervita melahirkan. Semua itu, juga karena Pandu melihat sendri bagaimana bayi Irene keluar dari jalan lahirnya. Sehingga, bagi Pandu itu sangat menyakitkan. Ervita juga kelihatan begitu sakit.
"Deal yah ... gak boleh nabur benih lagi," balas Ervita.
"Eh, gimana itu maksudnya ... produksi sudah tutup, tapi prosesnya jalan terus, Nda. Mana aku sudah puasa lama juga. Empat bulan loh, Nda," balas Pandu.
Ya, sekarang Irene sendiri sudah berusia 4 bulan. Selama ini juga, Pandu belum meminta jatah batin kepada Ervita. Walau Ervita pernah menawarkan dengan cara yang lain, tapi Pandu memilih menunggu saja. Agaknya trauma kala mendampingi istri melahirkan itu tidak bisa hilang begitu saja.
"Kalau gitu, aku pasang kontrasepsi kayak Mbak Pertiwi ya, Mas," ucap Ervita sekarang.
"Boleh, Dinda ... mau pasanga di mana? Nanti aku yang anterin. Jangan sendirian."
"Di Rumah Sakit yang melahirkan Irene saja, Mas. Kan bisa itu, sudah kenal sama Dokternya juga," balas Ervita.
Memang kadang untuk pemasangan kontrasepsi yang terbilang sensitif, para wanita lebih memilih kepada petugas medis yang sudah dikenal. Dulu, Ervita merasa nyaman kala bersalin dengan Dokter Arsy. Nanti lebih baik memasang kontrasepsi dengan Dokter Arsy juga.
"Mas, ini kan hari ulang tahun pernikahan kita yang ketiga dan aku belum memberikan hadiah apa pun untuk kamu. Jadi, untuk hadiahnya kamu mau apa?" tanya Ervita sekarang.
__ADS_1
"Nanti malam saja, Dinda ... buka puasa bersama yah. Kita ke Swargaloka bersama yah," pinta Pandu.
Sekarang Ervita terkekeh geli, Rupanya selang empat bulan berlalu, baru sekarang suaminya meminta pemenuhan batin. Untuk itu, Ervita juga tidak akan menolak. Akan bersedia untuk suaminya.