Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Janur Kuning yang Mengering


__ADS_3

Tiana sudah sampai pada keputusannya bahwa dia memilih untuk membatalkan pernikahannya dengan Firhan. Rasa dibohongi dan juga masa lalu Firhan tidak bisa Tiana terima, situasi itu diperkeruh dengan tindakan dua pekan lalu di mana Firhan berusaha untuk merenggut mahkota. Rasanya memang benar yang Rudy ceritakan bahwa Firhan adalah pria yang penuh hasrat. Sempar terbersit dalam hati Tiana bahwa dirinya hanya akan dijadikan sebagai pelampiasan hasrat saja.


Firhan pun pulang dari rumah Tiana dengan perasaan yang kecewa, marah, dan sekaligus malu. Kali ini Firhan tidak pulang ke rumah, melainkan langsung ke Rumah Sakit. Sebab, Bapaknya masih berada di Rumah Sakit. Sekadar melajukan sepeda motor saja rasanya pikiran Firhan sudah begitu berat, begitu pening sekarang. Ini adalah penghinaan yang sangat besar untuk Firhan dan juga untuk keluarganya.


"Gimana Han?" tanya Bu Yeni begitu melihat kedatangan anaknya itu.


Namun, sebagai seorang Ibu pun, Bu Yeni menerka bahwa hasil yang dibawa Firhan sekarang bukan hasil yang baik terlihat dari wajah Firhan yang lesu dan juga dari gestur tubuh anaknya itu.


"Firhan datang dengan tangan kosong, Bu," ucapnya dengan duduk di ruang tunggu pasien dan mengusap wajahnya dengan begitu kasar.


Bu Yeni pun menunduk lesu. Malam ini benar-benar malam penuh bencana untuk keluarganya. Seserahan dan mas kawin yang dikembalikan, dan juga pernikahan yang dibatalkan, ditambah dengan suaminya yang terkena serangan stroke. Tidak ada hari yang lebih sedih dan begitu berat selain hari ini.


"Ya sudah, Han ... berarti kita memang harus menanggung semua ini," ucap Bu Yeni.


"Maafkan Firhan, Bu ... hanya semua ini karena Ervita," ucap Firhan kemudian.


Bu Yeni pun melirik kepada anaknya itu, kenapa nama Ervita dibawa-bawa sekarang. Apa hubungannya Ervita dengan batalnya pernikahannya?


"Ada apa dengan Ervita?" tanya Bu Yeni kemudian.


"Tiana tahu mengenai masa lalu Firhan dengan Ervita dulu. Tiana menduga anak kecil yang digendong Ervita adalah anaknya Firhan, tapi tidak mungkin hanya sekali berhubungan dan terus hamil," balas Firhan.


"Dari mana dia tahu?" tanya Bu Yeni kemudian.

__ADS_1


"Dari Rudy, Bu ...."


"Berarti itu bukan salahnya Ervita ... justru Ervita juga yang menjadi korban dari tindakan kamu," balas Bu Yeni.


Bu Yeni tidak seperti Pak Supri yang menilai bahwa Firhan tidak bersalah. Bu Yeni menganggap bahwa Ervita di dalam kasus ini adalah korban. Lagipula, penderitaan yang dialami Ervita juga begitu pelik. Bu Yeni sangat tahu bagaimana rasanya jauh dari rumah dalam keadaan hamil, bahkan ketika melahirkan pun tidak akan sosok suami yang menemaninya. Hanya saja, di dalam hatinya sekarang Bu Yeni merasa bahwa Ervita sudah menemukan pendamping hidup yang sepadan dan seimbang. Pandu Hadinata adalah sosok yang lengkap dan sempurna untuk mendampingi Ervita.


"Ibu kok malahan membela Vita, sih," balas Firhan.


"Jangan hanya mencari pembenaran diri kamu sendiri. Akan tetapi, sikapi apa yang sudah kamu lakukan. Baiklah, apa pun yang terjadi, kita akan menanggungnya. Biarlah malu dan tercorengnya nama keluarga kita akan kita rasakan bersama," balas Bu Yeni.


Firhan menghela nafas kasar sekarang ini. Hingga akhirnya, Firhan bertanya kepada Ibunya. "Bapak bagaimana Bu?" tanyanya.


"Masih di IGD. Kita belum boleh diperbolehkan untuk masuk," balasnya.


Akhirnya Bu Yeni mengikuti saran dari anaknya itu. Bu Yeni memilih pulang dan menyelesaikan urusan di rumah. Bu Yeni meminta maaf kepada tetangga bahwa acara pernikahan esok hari telah dibatalkan. Walau malu, tetapi tetap saja Bu Yeni harus menghadapinya. Ya, Bu Yeni meminta maaf seorang diri, suaminya yang dirawat di Rumah Sakit dan Firhan yang menjaga Bapaknya.


"Yuh, yang sabar ya Bu Yeni ...."


"Turut sepenanggungan ... semoga Mas Firhan dapat jodoh yang lebih baik."


"Yang sabar ya Bu ...."


Banyak warga yang datang dan memberikan dukungan secara moral untuk Bu Yeni. Tidak mudah meminta maaf dan mengakui malunya, tetapi tidak ada yang bisa diharapkan dari pesta pernikahan ini. Semuanya sudah hancur.

__ADS_1


***


Keesokan harinya ....


Di kediaman Tiana, wanita itu melihat para tetangga yang akhirnya membongkar tenda berwarna putih yang dipasang di depan rumah. Juga dengan janur kuning yang dipasang sebagai tanda upacara pernikahan juga dilepas, Tiana mengambil satu janur kuning yang layu di sana. Gadis itu meneteskan air matanya lagi.


"Harusnya hari ini akan menjadi hari bahagia di mana aku dan kamu akan bersatu untuk selamatnya. Hari ini akan terikrar akad yang akan menyatukan dua pribadi menjadi satu dalam ikatan yang bernama perkawinan. Akan tetapi, dua pekan yang lalu aku merasa mulai ragu dengan kamu. Selama ini cintamu itu benar-benar cinta atau hanya sekadar naf-su? Hatiku kian sakit ketika Rudy menceritakan semuanya dan mengatakan bahwa Ervita memiliki anak denganmu. Maaf, aku tidak bisa menerima semuanya itu. Perasaanku kepadamu sudah seperti janur kuning yang layu ini."


Banyak kegundahan di dalam hati Tiana. Tidak jadinya pesta hari ini juga akan menjadi buah bibir di hadapan para tetangga. Akan tetapi, biarlah tetangga yang menggunjingkannya, untuk urusan jodoh yang setia, Tiana lebih baik gagal sekarang.


"Kenapa di situ, Tiana?" tanya Ibunya kepada anaknya itu.


"Melihat janur ini saja Bu," balasnya.


Bu Hartanto pun menepuk bahu putrinya itu, "Yang kuat kan semua ini sudah menjadi keputusanmu sendiri. Memang berat. Akan tetapi, mau bagaimana lagi. Jika memang begini jalannya, maka kita harus menjalaninya," balas Tiana.


"Maafkan Tiana ya Bu ... Tiana sudah membuat malu Bapak dan Ibu," balasnya.


Terlihat wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa. Semoga Firhan sadar dengan perbuatannya dan juga bisa berbuat ke arah yang lebih baik lagi," balas Ibunya.


"Iya Bu," balas Tiana.


Walau mungkin tidak mungkin seorang Firhan akan semudah itu menyadari kesalahannya. Terlihat jelas bahwa semalam saja, Firhan justru menuduh Ervita yang bukan-bukan. Semoga memang Firhan akan menemukan kebenaran dan hidup di dalam jalan kebenaran usai semuanya ini terjadi.

__ADS_1


__ADS_2