
Usai saling bercengkrama dengan hangat, akhirnya keduanya memilih kembali mandi dan kali ini keduanya menuju ke restoran untuk sarapan. Pandu dan Ervita sama-sama membutuhkan amunisi untuk mengisi perutnya. Terlebih ketika keduanya telah menikmati pagi yang begitu menggelora.
Begitu di restoran untuk makan, Pandu pun mengambilkan begitu banyak makanan untuk istrinya. Ya, Ervita tinggal duduk manis di meja makan, dan Pandu yang bergerilya mengambil menu sarapan pagi itu. Ada Omelette, Roti Bakar, Bubur Ayam, Salad, dan berbagai makanan nyaris memenuhi meja makan Pandu dan Ervita.
“Banyak banget sih ambilnya Mas?” tanya Ervita dengan memperhatikan semua yang diambil suaminya itu.
“Iya, aku sangat lapar, Nda … sejak semalam dan tadi pagi. Aku membutuhkan amunisi,” balasnya dengan begitu lahap memakan sarapan dengan aneka hidangan dari hotel yang mereka tempati.
“Kamu makan juga yang lahap, biar kenyang … siapa tahu nanti siang, aku mau lagi,” ucap Pandu.
Mendengar apa yang disampaikan oleh suaminya membuat Ervita terbatuk-batuk di sana.
"Uhuk!"
Pandu pun segera mengambilkan air putih dan kemudian tersenyum menatap istrinya itu, "Kaget? Sudah, makan dulu ... makan dengan tenang," balasnya.
Ervita pun menghela nafas dan menutup mulutnya. "Kalau di tempat umum gini jangan berbicara yang aneh-aneh dong ... malu," balasnya.
"Iya-iya Sayang ... maaf yah. Aku terlalu bersemangat. Barusan dikirimin foto nih sama Ibuk, Indi hari ini ikut Eyang Uthi ke Pasar Beringharjo. Lucu banget ya, Nda," ucap Pandu dengan menunjukkan foto Indi yang mengikuti Eyangnya ke kios batik mereka.
"Jadi kangen Didi ... anaknya Yayah," balas Ervita.
"Kangen ya enggak apa-apa. Cuma kita memanfaatkan waktu berdua saja, Nda ... hanya empat hari saja. Toh selama ini, juga kita tidak menjalani bulan madu. Sudah tiga bulan sejak kita menikah," balas Pandu.
Apa yang dikatakan oleh Pandu memang adalah sebuah fakta bahwa sejak mereka menikah, tidak pernah mereka menjalani perjalanan bulan madu. Bagi Pandu menikmati waktu bersama tidak ada salahnya, lagipula Indi juga berada dalam pengasuhan Eyangnya sendiri.
__ADS_1
"Besok atau kapan ke Mall beliin boneka yang Indi mau ya Mas ... biar dia tidak kecewa," balas Ervita.
"Tentu, Nda ... aku masih ingat bahwa putriku itu meminta Rainbow Dash kepada Ayahnya," balas Pandu.
Ervita tersenyum di sana, baginya Pandu selalu menjadi sosok Ayah yang keren bagi Indi. Ada hubungan yang manis antara Pandu dan Indi, walau sebenarnya Pandu hanyalah Ayah Sambung untuk putrinya itu. Namun, kedekatan keduanya selalu saja membuat hati Ervita merasa begitu hangat.
"Terima kasih sudah menyayangi Indi," balas Ervita.
Pandu menganggukkan kepalanya perlahan, "Sama-sama. Ingat, jangan ragukan kasih sayangku kepadanya dan juga kepadamu. Bahkan untuk Indi, aku siap berkorban apa pun," balasnya.
Ervita sangat percaya bahwa Pandu adalah sosok yang siap berkorban untuk Indi. Kasih sayang yang begitu besar yang Pandu tunjukkan kepada putrinya itu. Alasan inilah yang membuat Ervita menerima pinangan Pandu.
"Aku percaya ... uhm, Mas ... ngomong-ngomong roti bakar punya kamu itu kelihatan enak. Aku nyoba sedikit boleh?" tanya Ervita yang tampak menginginkan roti bakar yang sekarang sedang digigit oleh suaminya itu.
"Roti bakar dan Nasi Gorengnya sedikit ya Mas," balas Ervita.
Hanya selang beberapa menit, Pandu sudah kembali dengan membawakan Roti bakar dengan selai stroberi dan sepiring nasi goreng lengkap dengan aneka lauk di sana.
"Silakan, Dinda ... makan yang banyak."
"Makasih Yayah," balas Ervita dengan tertawa.
Diperhatikan dan dilayani seperti ini bukan hanya Ervita, semua wanita pun akan begitu senang karenanya. Bukti nyata bahwa suaminya begitu perhatian dan juga mencintai istrinya. Sebab, cinta itu bisa direfleksikan dalam tindakan sehari-hari. Bukan hanya sekadar diucapkan, tetapi juga diwujud nyatakan.
Lebih dari setengah jam mereka menikmati waktu sarapan, dan kemudian Pandu dan Ervita kembali ke dalam kamarnya. Pria itu merapikan kembali pakaian yang dia kenakan dan memakai sepatunya. Tidak lupa dengan ransel yang berisi materi presentasinya hari ini.
__ADS_1
"Aku berangkat dulu ya, Dinda ... doakan hari ini lancar dan konsep yang aku ajukan akan diterima," pamitnya dengan mengecup kening Ervita.
"Pasti Mas ... aku doakan lancar dan ini kiranya menjadi pintu berkah untuk kamu," balasnya.
Pandu tersenyum di sana, "Bukan hanya untuk aku, tetapi untuk kita. Aku, kamu, Indi, dan mungkin saja untuk calon bayi nanti," balasnya.
Ervita pun menganggukkan kepalanya perlahan. Kemudian dia mengantar Pandu sampai ke depan pintu kamarnya, tidak lupa melambaikan tangannya ketika suaminya itu hendak membahas hal terkait dengan pekerjaannya sebagai desainer interior.
Selama Pandu bekerja, Ervita kali ini memilih menaiki ranjang. Dia menelpon mertuanya dan menanyakan apakah Indi rewel semalam, apakah Indi mencarinya, dan berbagai pertanyaan yang memang harus ditanyakan Ervita kepada ibu mertuanya.
"Sudah Vi ... pokoknya Indi aman. Kamu dan Pandu sehat-sehat di sana. Kerja keras boleh, penting tetap jaga kesehatan," pesan dari Bu Tari kala masih melakukan panggilan telepon dengan Ervita.
"Iya Bu ... doakan sepulang dari Surabaya, Ervi dan Mas Pandu segera mendapatkan berkah momongan ya Bu," balasnya.
"Pasti, Vi ... nih Indi mau ngomong sebentar sama Bundanya," ucap Bu Tari yang menyerahkan teleponnya kepada Indi.
"Nda ... kalau ulang ngan lupa bonekanya, dan adik bayi," ucapnya dengan begitu lucu.
Ervita yang semula mellow karena merasa Indi akan rewel, justru bisa-bisanya berpesan sesuatu yang begitu lucu, hingga Ervita tersenyum di sana.
"Iya Sayang ... nanti Bunda dan Ayah belikan Rainbow Dash yah. Indi jangan rewel, biar Eyang tidak sedih," balas Ervita.
"Ndak Nda ... Didi baik," balasnya.
Sungguh hari ini Ervita sangat bersyukur karena bisa melakukan telepon dengan Ibu mertuanya dan juga mendengar bahwa Indi tidak rewel. Seolah-olah Ervita pun merasa bahwa anaknya itu begitu kooperatif dengan memberikan waktu bagi Ayah dan Bunda kejar tayang untuk mendapatkan buah hati.
__ADS_1