Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Gunjingan Tetangga


__ADS_3

Sementara itu di kota Solo, rupanya ketiadaan Ervita cukup menjadi pergunjingan tetangga sekitar. Beberapa tetangga yang rumahnya di sekitaran dengan rumah orang tua Ervita tampak beberapa kali menanyakan keberadaan Ervita.


"Ervi kok lama enggak kelihatan sih Bu?"


"Kelihatannya aku udah lama ya Bu Sri enggak ketemu dengan Ervita?"


Bahkan terang-terangan ada yang menyebar berita bahwa Ervita memang tidak ada di rumah karena hamil di luar nikah. Putus kuliah, dan juga tidak ada yang menikahinya.


Sungguh, di beberapa daerah masih menganggap bahwa hamil di luar nikah adalah aib, perbuatan tabu, oleh karena itu terkadang mereka yang hamil di luar nikah menjadi pergunjingan para tetangga. Bahkan ketika Bu Sri berbelanja sayur di pagi hari, beberapa orang juga saling sindiri.


"Kelihatannya di kampung kita ada yang hamil di luar nikah, kasihan anaknya cantik dan pinter, cuma tidak jelas kelakuannya. Cantik cuma wajahnya, pinter cuma wajahnya, cuma kok ya hamil duluan. Udah gitu pacarnya tidak mau tanggung jawab," ucap seorang ibu-ibu.


Rupanya ucapan itu ditanggapi juga oleh orang yang lain, "Sekarang cantik dan pinter itu bukan jaminan. Apa artinya memiliki wajah cantik dan pinter, cuma pada akhirnya mencoreng nama orang tua. Terus kalau tidak mau tanggung jawab, anaknya menjadi anak haram dong," balas seorang yang lain.


Mendengar beberapa tetangga yang saling sindir sering kali membuat Bu Sri harus menebalkan telinganya. Selama tidak menyebut nama Ervita secara langsung memang Bu Sri akan membiarkan saja semua sindiran itu. Toh, bagaimana lagi saat ini memang cobaan sedang menimpa keluarganya. Cela yang tidak bisa dihapus.


"Enggak belanja Bu? Beli tahu dan tempe," ucap Pak Agus kepada istrinya.


"Nanti agak siangan dikit aja Pak ... kalau pagi banyak Ibu-Ibu yang terkumpul. Banyak menyindir Ibu soal Ervita," ceritanya.


"Hidup bertetangga memang begini, Bu ... salah dan benar itu adalah hal yang selalu dilihat oleh orang lain. Berusaha untuk hidup benar dicari kesalahan, cuma kalau hidup banyak salah juga akan dicela. Tidak apa-apa, biarkan saja," balas Pak Agus.


"Kenapa yang digunjingkan anak kita saja ya Pak? Apakah tidak ada yang menggunjingkan Firhan? Padahal kan semuanya ini juga kesalahan mereka berdua, tidak bisa ditimpakan kepada satu orang saja," balasnya.

__ADS_1


Memang demikianlah citra yang terbentuk di masyarakat, bahkan ketika terdapat wanita yang hamil di luar nikah. Cela sepenuhnya akan ditimpakan kepada sang wanita. Padahal perbuatan dosa itu dilakukan oleh dua orang. Jika si pria kadang kala bisa lepas dari cela dan juga aib, tetapi pihak wanita begitu banyak yang menggunjingkannya bahkan menghakimi bahwa anaknya adalah anak haram.


"Tadi, Ibu itu dengar katanya anaknya akan menjadi anak haram. Ya Allah, apakah yang benar seperti itu ya Pak? Lebih kasihan jika nanti anaknya Ervita itu perempuan. Lebih besar beban yang ditanggungnya," ucap Bu Sri yang sudah berkaca-kaca di sana.


Bagaimana pun hati seorang Ibu tidak tega mendengar banyaknya gunjingan yang datang dan mencela nama Ervita. Bahkan label yang disematkan sebagai anak haram itu sungguh membuat Ibu Sri merasa begitu pedih.


Anak haram sendiri sering digunakan untuk seseorang anak yang lahir dari hasil hubungan di luar nikah. Istilah ini adalah tindak labeling yang berdampak negatif pada anak dan bisa masuk dalam kategori kekerasan verbal.


"Di dalam agama kita, Islam tidak ada istilah anak haram, Bu. Kalau pun ada istilah haram itu pekerjaan atau tindakan yang dilakukan sang Ibu. Anak yang lahir dari hasil zina pun terlahir bersih tanpa dosa, hanya saja yang berdosa adalah ibunya karena telah berbuat zina," balas Pak Agus.


Bu Sri tampak menghela nafas dan memijit pelipisnya yang terasa begitu pening di sana. Kemudian, Bu Sri menatap kepada suaminya. "Pak, kita cari Ervita yuk Pak ... sudah dua minggu Ervita pergi dari rumah. Bagaimana pun dia anak kita. Di manakah dia sekarang, bagaimana dia tinggal, makannya, bahkan bisakah memeriksakan anaknya. Kasihan Pak," ucap Bu Sri.


Kali ini Bu Sri mencoba untuk mengambil hati suaminya. Siapa tahu bahwa amarah di hati suaminya sudah reda. Sehingga mereka bisa mencari keberadaan Ervita dan juga membawa anaknya itu untuk pulang ke rumah. Bagaimana pun yang terjadi, tidak akan bisa menghapus hubungan antara orang tua dan anak. Bukan hanya karena hubungan darah yang dikatanya lebih kental daripada air. Akan tetapi, hubungan orang tua dan anak ditentukan oleh Tuhan sendiri sejak kedua kala.


***


Sementara itu di Kios Batik ....


Ervita masih bersemangat untuk menawarkan batik-batik itu kepada pengunjung yang mengunjungi Pasar Beringharjo. Walau hamil, dan kadang begitu lelah, Ervita tetap bersemangat untuk bekerja.


"Monggo Pinarak (Mari silakan - dalam bahasa Jawa) batiknya ...."


"Kemeja batik, celana, atau dasternya silakan ...."

__ADS_1


Berkat promosi verbal yang hanya menggunakan mulut, untung saja selalu ada pembeli yang datang dan akhirnya berbelanja di kios batik Hadinata. Hingga menjelang jam 15.00 tampak Pandu yang saat itu menjadi kali pertamanya membantu Ervita untuk bekerja di kios Batik.


"Ada yang bisa dibantu, Ervita?" tanya Pandu begitu pemuda itu datang ke kios batik milik orang tuanya.


"Mas ... iya, ada ... minta tolong diambilin kemeja batik motif Mega Mendung ini di rak atas Mas. Ibunya meminta motif Mega Mendung yang size-nya XL," ucap Ervita.


Tanpa banyak bicara, Pandu segera mengambil kursi kayu dan menaiki kursi itu, melihat batik motif Mega Mendung dengan size XL seperti yang dicari pembeli itu.


"Ditunggu sebentar nggih Bu ... sama apa lagi tambahannya?" tawar Ervita lagi kepada pelanggan itu.


"Kemeja anak usia lima tahun apa ada sih Mbak? Soalnya setiap hari Kamis, anak saya yang TK itu disuruh memakai batik," tanya si pembeli.


"Ada Bu ... mari silakan dilihat dulu. Ini beberapa kemeja untuk anak usia lima tahun biasanya memakai size M, Bu. Warnanya juga banyak dari yang warna Sogan (warna cokelat khas Batik Solo) sampai warna yang terang," jelas Ervita.


Si pembeli itu pun tersenyum di sana, "Mbaknya masih muda sampai hafal ya motif-motif batik. Jadi seneng belanja di sini. Ya, yang ini Mbak ... yang Sogan saja biar bisa dipakai buat sekolah nanti."


Tidak berselang lama, Pandu pun sudah turun dan memberikan beberapa kemeja size XL kepada Ervita.


"Ini, Ervi ...."


Ervita pun menganggukkan kepalanya, "Makasih Mas," balasnya.


Kemudian Ervita menunjukkan kemeja itu kepada pembeli. Akhirnya pembeli itu membeli sampai 4 pcs kemeja dari kios batik Hadinata.

__ADS_1


"Alhamdulillah ... semoga hari ini larisnya banyak," ucap Ervita dalam hati begitu bisa menjual berbagai kemeja batik siang itu.


__ADS_2