Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Acara Empat Bulanan di Solo


__ADS_3

Usai melakukan pemeriksaan dan tiba di rumah, Ervita mendapatkan telepon dari Ibunya. Untuk itu, Ervita pun meminta izin kepada suaminya untuk bisa menerima telepon terlebih dahulu. Sementara Pandu menidurkan Indi terlebih dahulu di kamarnya.


“Halo … malam Ibu,” sapa Ervita kepada Ibu melalui panggilan video kala itu.


"Ya, halo Vi ... bagaimana kabarnya?" tanya Bu Sri kepada putrinya itu.


"Baik Bu ... ini tadi, Ervi habis periksa kehamilan ditemenin Mas Pandu," jawabnya.


Berbicara mengenai kehamilan, Bu Sri pun berniat untuk menyelenggarakan kajian empat bulanan untuk Ervita. Walau sedikit terlambat, tetapi tidak ada salahnya untuk melakukan kajian untuk putri sulungnya.


"Akhir pekan nanti bisa ke Solo enggak Vi?" tanya Bu Sri kepada putrinya itu.


"Ada apa Bu?" tanya Ervita untuk menanyakan apa yang terjadi, sehingga ibunya memintanya untuk bisa datang ke Solo.


"Begini, Vi ... Bapak dan Ibu ingin mengadakan kajian empat bulanan untuk kamu dan bayinya. Kan dulu, waktu Indi, tidak ada doa dan kajian. Sekarang, Bapak dan Ibu ingin membuat kajian dan sekaligus bancakan," balas Bu Sri.


Ya, bagi masyarakat Jawa khususnya mereka yang tinggal di Solo dan Jogjakarta, ketika seorang wanita hamil berusia 4 dan 7 bulan akan dibuatkan Bancakan. Bancakan sendiri berarti selamatan atau kenduri. Biasanya akan disediakan berbagai hidangan untuk merayakan selamatan. Sementara untuk ibu hamil, biasanya akan dibuatkan nasi putih lengkap dengan urap sayur, telur rebus, dan beberapa buat. Bagi masyarakat Jawa, tradisi bancakan adalah wujud syukur manusia kepada Tuhan untuk anugerahnya.


"Sebentar ya Bu ... Ervi tanya Mas Pandu dulu," balasnya.


Terlihat Ervita bertanya kepada suaminya dan juga menyampaikan keinginan dari orang tuanya. Hingga akhirnya justru Bu Sri yang kini berbicara langsung dengan Pandu, menantunya.


"Mas Pandu," sapa Bu Sri melalui panggilan telepon itu.

__ADS_1


"Nggih, Ibu ... ada apa?" tanya Pandu.


"Begini Mas Pandu, Bapak dan Ibu ingin membuat pengajian dan bancakan untuk Ervi dan bayinya. Nanti sabtu, bisa enggak Mas Pandu dan Ervi datang ke Solo. Sederhana saja kok Mas Pandu. Kan nanti 4 bulanan di Solo, kalau Bapak dan Ibunya Mas Pandu ingin melakukan Mitoni atau upacara Tujuh Bulanan bisa di Jogja," jelas Bu Sri.


Pandu mendengarkan baik-baik penjelasan dari mertuanya itu, kemudian menganggukkan kepalanya perlahan, "Nggih Ibu, bisa ... nanti Sabtu pagi kami berangkat ke Solo. Perlu dibawakan apa dari Jogja, Bu?"


"Tidak usah membawa apa-apa, Mas Pandu ... kalian bisa datang, sudah senang," balas Bu Sri lagi.


Ya, yang disampaikan oleh Bu Sri benar. Jika, upacara empat bulanan bisa dilakukan di Solo, sementara upacara Mitoni nanti bisa dilakukan di Jogjakarta.


"Sabtu nanti pulang ke Solo ya Nda," ucap Pandu kemudian kepada istrinya.


"Iya Mas ... jadi mau yah, upacara empat bulanan itu?" tanya Ervita lagi.


***


Ketika Akhir Pekan Tiba ....


Pagi-pagi, Pandu dan keluarganya berangkat dari Jogja menuju ke Solo. Bukan hanya Pandu, Ervita, dan Indi. Akan tetapi, Bapak Hadinata dan Ibu Tari turut datang pula ke Solo. Tujuannya menjalin silaturahmi dengan keluarga besan dan juga turut hadir memberikan doa untuk Ervita dan bayinya. Lantaran dari Jogja cukup pagi, kurang lebih jam 09.00, mereka sudah sampai di Solo.


Pihak keluarga Hadinata pun datang tidak dengan tangan kosong, tetapi datang membawa beras, gula pasir, Teh, dan berbagai panganan khas Jogja. Inilah arti 'nyengkuyung', di mana pihak keluarga untuk andil dan mengambil bagian dalam upacara empat bulanan ini.


"Kula nuwun," sapa Pak Hadinata dan Bu Tari dalam bahasa Jawa.

__ADS_1


"Monggo ...."


Keluarga Ervita itu begitu senang karena sekarang mereka bisa bertemu dengan besan mereka. Dikunjungi besan jauh-jauh dari Jogjakarta membuat mereka begitu senang. Para tetangga pun bisa melihat bahwa keluarga besan begitu santun dan turut nyengkuyung acara hari ini.


"Malahan merepotkan loh, Bu," ucap Bu Sri yang merasa sungkan juga.


"Tidak apa-apa, Bu ... tidak seberapa. Ini nanti empat bulanan di Solo, Mitoni di Jogja nggih Bu," balas Pak Hadinata yang sudah berencana untuk melakukan upacara tujuh bulanan di Jogja nanti.


"Nggih, bisa Pak," balas Bu Sri dan Pak Agus bersamaan.


Mereka beramah tamah, hingga kurang lebih menjelang jam 15.00 dilakukan pengajian bersama yang dihadiri tetangga dekat dan juga dilakukan Bancakan untuk anak-anak dengan membagikan nasi putih hangat, urap sayuran, dan telur rebus yang disajikan di pincuk atau daun pisang yang ditata untuk bisa menahan semua makanan.


Tampak seluruh keluarga dan Pandu mengujian pengajian dengan khusyuk. Pandu pun berharap bahwa Ervita bisa sehat, janin yang ada di dalam rahimnya juga bisa selalu sehat. Pun, doa-doa yang dilantunkan adalah untuk keselamatan ibu dan bayi yang dikandungnya.


"Sehat dan selamat ya Vi ... kali ini Bapak dan Ibu bisa menebus kesalahan kami dulu. Maafkan kami yang dulu tidak sempat melakukan pengajian dan bancakan untuk Indi," ucap Bu Sri yang merasa bersalah karena tidak bisa melakukan upacara empat bulanan sewaktu Ervi mengandung Indi dulu.


"Tidak apa-apa Bu ... toh, Indi juga tumbuh sehat, dan optimal. Tidak apa-apa," balas Ervi.


"Dijaga baik-baik ya Mas Pandu," ucap Pak Agus kemudian kepada menantunya itu.


"Nggih Pak, pasti Pandu akan selalu menjaga Ervi," balasnya.


Sebagai orang tua kali ini Pak Agus dan Bu Sri juga merasa lega karena Ervita hamil ada suaminya. Berbeda sekali dengan dulu, ketika Ervita justru menanggung aib. Hamil tanpa suami. Sekarang, ada Pandu yang ada dan akan selalu menjaga Ervita.

__ADS_1


__ADS_2