pancasona

pancasona
Part 10 Zaki


__ADS_3

Kubuatkan Wira roti bakar untuk sarapan, sementara menunggu dia mandi.


Ceklek! Pintu kamar mandi dibuka. menampilkan pria tampan nan mistrius yang sudh menjadi kekasihku itu.


"Pagi, sayang," sapanya sambil mencium pucuk kepalaku.


"Pagi," sahutku masih sibuk dengan sarapan yang hendak kubuat.


"Oh iya, nanti jadi kan lihat rekaman CCTV?" tanyaku.


"Iya, jadi. Aku udah kabarin Pak Sentot, kalo kita mau lihat CCTV. Mending pagi aja, Nay, sebelum kelas dimulai," saran Wira sambil duduk di kursi depanku.


"Oke."


Walau dalam hati rasanya aku sudah mendapat satu nama yang kucurigai, namun aku tetap harus melihat dengan mataku sendiri.


Apakah benar dia yang melakukannya?


Selesai sarapan, kami lalu berangkat menuju kampus. Sebelumnya aku sudah janji bertemu Rani di depan ruangan CCTV.


Setelah Wira parkir, kami berjalan ke ruang CCTV itu. Wira menggandeng tanganku erat, tanpa memedulikan pandangan orang-orang terhadap kami.


Dari kejauhan, aku melihat Rani sedang berdiri dengan Dewa di sampingnya. Semoga, Wira dan Dewa tidak akan berkelahi nanti. Aku agak cemas.


"Nay," sapa Rani.


"Sorry, lama ya?" kataku lalu memeluk Rani.


"Baru aja, kok," jawab Rani.


"Ya udah, masuk yuk," ajak Wira.


Sampai di dalam kami bertemu Pak Sentot, kepala keamanan kampus. Sepertinya, Wira sudah kenal baik dengan beliau.


"Sebentar ya. Saya cek dulu," kata Pak Sentot lalu mengutak-atik komputer di depannya.


Kami melihat dengan seksama. Saat kejadian itu, kami melihat seorang pria dengan pakaian serba hitam, topi hitam dan kacamata hitam masuk kelasku dengan mengendap-endap. Ia meletakan surat itu di mejaku. Saat kuamati lebih jelas, aku kaget.


Sampai-sampai, aku menekan dadaku karena tiba-tiba ada rasa nyeri di dadaku yg teramat sangat. Pandangan mataku memburam.


"Nay, Nay... Nayla!" teriak Rani.


Wira memegangku lalu membopongku keluar. Rani dan Dewa mengikuti kami.


Wira membawaku ke taman dekat kelasku. Lalu, duduk di kursi yang ada di bawah pohon.

__ADS_1


Pikiranku masih menerawang. 'Ternyata benar dia. Mau apa dia kembali?'


"Nay, kamu gak apa-apa kan?" tanya Rani khawatir.


Aku diam saja, tak menjawabnya.


"Lebih baik, kalian balik kelas aja. Biar Nayla, aku yang urus," kata Wira.


"Ya udah, titip Nayla ya, Kak. Nay, aku balik kelas ya, kalo ada apa-apa, kamu kabarin aku." Lalu, dia mengecup keningku dan pergi dengan Dewa.


Wira menggenggam tanganku erat. Aku yakin, tanganku terasa dingin. Wira menggosok-gosokan tanganku agar lebih hangat. Lalu di letakan di pipinya, sesekali diciumnya tanganku sambil terus menatapku dalam.


"Dia siapa, Nay?" tanyanya setelah lama tak ada obrolan.


"Dia, Zaki. Aku sama Zaki dulu sahabat dari kecil. Kita akrab banget, dia baik banget sama aku. Sering nolongin aku kalo ada yang jahat sama aku. Kami terus tumbuh besar, dan persahabatan kami terus terjalin. Sampai-sampai tanpa sadar, aku jatuh cinta sama dia. Suatu hari, aku beraniin diri buat bilang kalo aku sayang sama dia melebihi sahabat. Tapi, sungguh di luar dugaan. Dia jadi kasar, dia marah-marah sama aku. Bahkan, dia bilang kalau dia nggak mau ketemu aku lagi. Dia berubah, entah kenapa. Sejak saat itu, dia menjaga jarak sama aku. Beberapa kali, aku lihat dia jalan sama cewek, dia sering banget gonta-ganti cewek. Dia benar-benar berubah. Terus, Mamahku cerita, kalau dia sering gonta-ganti cewek untuk dijadiin tumbal. Dia mempelajari ilmu hitam, tapi harus menyerahkan tumbal 3 bulan sekali, dan itu harus perawan. Zaki diusir dari rumahnya, karena takut memberikan dampak buruk ke yang lain, dan aku udah lama banget nggak ketemu sama dia. Nggak nyangka aja, dia tiba tiba-tiba muncul," kataku.


Wira dengan setia terus mendengarkan penuturanku.


"Kamu jangan takut. Aku nggak akan biarkan dia melukai kamu lagi," katanya.


Akhirnya, kami masuk ke kelas. Wira juga, karena selama satu semester ini, dia menjadi asdosku.


Saat di kelas, aku menjadi murung, tak seperti biasanya. Wira yang tahu perubahan sikapku hanya menatapku iba. Pelajaran kali ini, dibubarkan setengah jam sebelum waktunya.


"Oke, kita lanjutkan lagi besok ya. Saya ada urusan," kata Wira mengakhiri penjelasannya.


Aku masih duduk dan membereskan bukuku dengan pelan. Wira mendekat, lalu membantuku membereskan bukuku dan memasukan ke tasku. Dia lalu menggandengku keluar kelas menuju motornya. Aku hanya diam dan mengikuti saja apa yang akan dia lakukan.


Selama dalam perjalanan, aku hanya diam sambil menenggelamkan wajahku di punggungnya sambil memeluk Wira erat.


Lalu, kami sampai di rumah Wira.


"Kok ke sini?" tanyaku.


"Mulai hari ini, kamu tinggal sama aku, biar kamu aman. Aku yakin, Zaki pasti nyari kamu sampai kost," katanya dingin lalu menarikku masuk ke dalam.


Sampai di ruang tengah, Wira segera ke dapur membawakanku minuman.


Tok tok tok ...


Pintu rumah Wira diketuk, Wira keluar dan kudengar seperti ada orang ngobrol. Aku rebahkan badanku di sofa sambil kupejamkan mataku.


Rasanya lelah sekali.


Aku berharap, kalau aku sedang bermimpi dan akan terbangun dengan keadaan yang berbeda dari ini. Aku tak ingin Zaki kembali lagi ke dalam hidupku.

__ADS_1


Kurasakan tubuhku hangat. Ternyata, ada selimut yang menutupi badanku. Wira yang ada di depanku lalu mendekat dan jongkok di sampingku.


"Gimana? Udah enakan ?" tanyanya lembut.


Aku mengangguk dan mencoba untuk duduk. Wira tersenyum hangat.


Malam ini, Wira yang memasak. Ternyata dia jago juga, masakannya enak. Aku saja makan dengan lahapnya.


"Masakan kamu enak banget," kataku masih dengan mulut penuh makanan.


"Kamu mau aku masakin terus?" tanyanya.


"Mau," jawabku semangat.


Wira ketawa.


"Oh iya, Nay. Kamu jangan pergi-pergi tanpa aku, mulai hari ini," katanya serius.


"Kenapa?"


"Aku yakin, Zaki sedang mencari tumbal. Aku takut dia mengincar kamu," katanya membuatku melongo.


"Kok kamu bisa ngomong gitu?"


"Aku nyuruh orang buat nyari tahu siapa yang kirimin kamu surat, dan benar kata kamu. Dia Zaki, dia udah lama mempelajari ilmu hitam. Dia selalu membutuhkan tumbal agar dia kekal abadi, tak bisa mati," jelasnya.


"Ilmu apa itu? Ada ilmu begituan di jaman modern seperti ini?" tanyaku.


"Ya ada lah, Nay. Tapi, nggak semua ilmu kaya gitu pasti hitam. Ada juga yang putih, dengan melakukan tirakat, puasa berbulan-bulan dan hal lainnya ... mereka terus minta pada Tuhan, tidak harus bersekutu dengan jin untuk mendapat kekekalan hidup.”Jawaban wira sungguh panjang, seolah-olah dia sangat paham dengan hal ini.


"Kamu kok bisa tahu banyak?" tanyaku kepo.


Dia hanya tersenyum lalu mengacak-acak rambutku.


Hm, kebiasaan deh …


Prang!


Terdengar suara kaca jendela pecah. Wajah Wira seketika berubah. Dia beranjak menuju asal suara tadi.Karena makananku belum habis, aku meneruskan makan. Apa ada yang melempar kaca depan rumah Wira? Siapa?


Deg!


Zaki?


Entah kenapa aku merasa ini adalah perbuatan Zaki. Aku berhenti makan dan berniat untuk menyusul Wira ke depan.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba ada yang menutup mulut dan hidungku dengan sebuah sapu tangan yang baunya sungguh tidak enak. Seketika tubuhku lemas, lama-lama pandangan mataku mulai memburam. Kemudian, semua menjadi gelap.


__ADS_2