pancasona

pancasona
Episode 99 Teror Asrama


__ADS_3

Giska menjadi down. Ia terus ketakutan dan makin paranoid pada sekitarnya. Insiden kiriman burung gagak yang dimutilasi, membuat asrama menjadi tak terkendali. Desas-desus negatif terus terdengar dari mulut ke mulut, teror itu seakan menjadi momok yang amat begitu ditakuti seluruh penghuni asrama. Penjagaan makin diperketat, terutama di bangsal asrama kamar Giska. Polisi sudah datang dan mulai berpencar untuk menjaga tempat ini. Giska tidak diperbolehkan meninggalkan asrama oleh kepala sekolah. Karena ini sudah peraturan sekolah yang harus ditaati semua penghuninya.


Angel terus berada di samping Giska. Mencoba menenangkan gadis itu dengan segala cerita menyenangkan dan bodohnya. Angel memang terkenal sebagai pribadi yang menyenangkan. Itulah alasan mereka dekat. Tapi malam ini segala celotehan Angel tidak mempan bagi Giska. Tidak ada senyum atau tawa seperti biasanya. Sepertinya beban Giska malam ini cukup berat. Bahkan ini pertama kalinya Giska tanpa senyum. Ia berubah.


"Gis ... tidur aja, yuk," ajak Angel yang mulai menguap dan mengucek matanya karena lelah. Gadis yang ia ajak ngobrol malah diam dan acuh. "Hm. oke. Aku temenin begadang, tapi aku mau ke dapur dulu, bikin kopi. Ngantuk aku, bentar, ya." Ia segera berjalan keluar kamar. Dan hilang di balik pintu cokelat itu. Kini Giska sendirian. Ia berjalan ke dekat jendela yang letaknya di tengah, antara meja belajarnya dan meja belajar Angel.


Gadis itu menatap ke bawah, beberapa orang yang berpakaian seragam khas polisi menarik perhatiannya. Ia merasa aman, tapi sekaligus bimbang. Mengingat segala cerita tentang kematian 8 sahabatnya. Sebenarnya dia sedikit ragu kalau menganggap mereka sahabat. Karena saat itu mereka semua masih kecil, mereka pun dekat karena orang tua mereka yang merupakan sahabat. Padahal Giska tidak begitu suka dengan kelompok itu. Apa yang dilakukan teman-temannya selalu bertolak belakang dengan hati nuraninya, tetapi Giska tetap melakukan hal itu, karena rasa sungkan dan takut menjadi target bully mereka.


Giska membuka jendela kamarnya, setiap kamar memang dilengkapi balkon sempit yang hanya muat berdiri dua orang saja. Ia dan Angel kerap mengobrol sampai tengah malam di tempat ini setelah belajar. Giska membayangkan wajah Siska. Rasa bersalah kini menyelimutinya. Hal yang ingin dia lakukan sejak dulu adalah meminta maaf pada Siska. Tapi ia seolah tidak punya kesempatan lagi. Kabar kematian Siska membuat Giska makin depresi. Butuh waktu lama untuk mengembalikan kesehatan mentalnya. Hingga Angel hadir sebagai seorang sahabat.


Pintu kamar terdengar dibuka, tak lama ditutup pelan. Giska Bergeming dari tempatnya. Terus menatap lurus ke langit hitam yang dipenuhi titik-titik cahaya yang membuatnya amat betah memandang. "Sudah bikin kopinya? Tumben cepet banget, Ngel? Nggak antre, kah?" Dapur di jam ini memang menjadi salah satu tempat paling ramai. Ada sebuah tempat yang disediakan di tiap lantai untuk menonton Tv. Dan ini adalah weekend. Mereka akan memanfaatkan waktu libur untuk menonton beramai-ramai. Dan dapur akan ikut ramai karena mereka akan mondar-mandir untuk membuat kudapan atau minuman hangat yang menemani selama menonton film.


Tak ada sahutan dari Angel. Hal ini membuat Giska curiga. Ia menoleh ke dalam. Sepi. lalu mendadak lampu padam. Seluruh asrama gelap gulita. Giska panik. "Angel? Kamu di mana? Ngel? Jangan nakutin aku dong. Please. Aku takut," rengek gadis itu. Kini matanya mulai sembab. Perasaannya mulai tak nyaman. Terlebih setelah pintu dibuka tak ada sahutan dari Angel. Apakah Angel atau orang lain yang masuk?


Giska memutuskan tetap berada di balkon. Setidaknya keadaan di luar jauh lebih terang daripada di dalam kamar. Bulan purnama menampakkan dirinya, menjadi satu-satunya penerang di saat gelap menyelimuti pulau.


"Giska? Kamu di mana?" Suara Angel yang terdengar samar membuat Giska buru-buru membuka pintu balkon dan masuk ke dalam kamar. Ia memanggil sahabatnya berkali-kali, tapi aneh. Tidak ada sahutan lagi dari Angel.


Mata Giska silau karena pantulan sesuatu. Mungkin seperti lempengan besi atau kaca. Ia pikir ada spion mobil atau motor di bawah yang terkena pantulan cahaya bulan. Tapi itu sama sekali tidak masuk dalam logikanya. Langkah Giska terhenti saat mendengar langkah orang lain yang memang ada di dalam kamarnya. Pelan, tapi pasti. Ia rasakan ada bayangan hitam yang kini mendekatinya. Giska mundur-mundur sampai tubuhnya sudah terpojok. Seseorang kini berjalan menuju ke arahnya membawa sebilah pisau. Anehnya ia tidak mampu berteriak atau menjerit untuk meminta pertolongan. Padahal banyak orang yang ada di bawah sana. Dan tentu kawan-kawannya juga ada di kamar mereka masing-masing, Bahkan suara beberapa orang terdengar riuh di ruang tv lantai ini. Tubuh Giska mendadak lemah. Seolah yang ada di hadapannya adalah malaikat pencabut nyawayang sudah lama menunggu waktu untuk menjemputnya. Giska pasrah.


Orang itu, memakai penutup kepala dengan pakaian serba hitam. Benar-benar mirip tokoh pembunuh dalam film yang tidak ingin dikenali oleh korbannya. "Kamu siapa?" tanya Giska dengan kalimat retorik yang menjadi bahan tawa orang di depanya. Suaranya?! Giska terkejut mendengar suara tawa yang ia dengar justru berasal dari seorang wanita. Bukan lelaki seperti pelaku pembunuhan 8 orang sebelumnya.


"Giska ... Giska. Lama kita nggak ketemu, ya?" tanya wanita itu. Tidak begitu jelas karena mulutnya yang tertutup kain membuat ucapannya terdengar samar. Tapi jelas, dia adalah seorang wanita. Satu nama terlintas di kepalanya. "Siska?" tanya Giska ragu.


"Waw, kamu bisa mengenaliku hanya sekali bertemu? Hebat sekali." Siska mendekat, dan terus mendekat hingga jarak mereka hanya tinggal dua langkah kaki saja. Gelap. Masih gelap di dalam sini. Jantung Giska makin berdetak cepat, tak beraturan. Sepertinya tebakannya tepat. Karena perempuan di depannya seolah meng-iya-kan pertanyaannya barusan.


"Siska ... kamu masih hidup?" tanya Giska dengan nada bergetar. Tubuhnya menggigil sempurna. Bahkan lebih kencang daripada saat ia demam beberapa bulan lalu. Keringat dingin bercucuran dari dahinya. Bahkan seluruh tubuhnya mandi keringat.


"Tentu saja! Kamu nggak senang, ya, tau kalau aku masih bernafas sampai sekarang? Kamu juga mengharapkan aku mati seperti teman-teman kamu? Begitu?"


"Enggak! Bukan begitu, Siska. Justru aku pengen ketemu kamu. Aku ... Aku mau minta maaf."


"Apa kamu bilang? Minta maaf setelah 7 tahun berlalu? Ah, itu omong kosong rasanya, Gis."


"Enggak. Bukan begitu. Aku menyesal, Sis. Harusnya saat itu aku mengaku, tapi mereka ngancam aku. Aku nggak bisa apa-apa. Maaf. Siska. Aku minta maaf. Kamu tau? Kalau selama ini aku terus dihantui rasa bersalah? Tapi aku nggak tau harus berbuat apa. Sekarang ... kalau kamu mau bunuh aku ... aku ikhlas." Giska merentangkan kedua tangannya ke samping. Memberi lampu hijau pada Siska untuk menuntaskan dendamnya.


Dahi Siska yang masih terlihat karena tidak tertutup apa pun, berkerut. "Kamu pemberani sekali, Gis? Kamu nggak penasaran gimana wajah aku sekarang?"


Giska ikut mengerutkan kening mendengar pertanyaan Siska. Ia merasa apa yang dikatakan Siska ada benarnya juga. Bagaimana wajah Siska sekarang? Apakah sama seperti dulu? Atau ....


Siska membuka penutup wajahnya, posisi mereka yang dekat jendela membuat sinar bulan mampu masuk ke dalam dan membuat wajah itu terlihat jelas walau sekitar mereka gelap. Giska melotot. Mulutnya menganga melihat wajah Siska yang ada di hadapannya. Tak lama ia menggeleng sambil menutup mulutnya. Pipinya kini banjir karena air mata yang turun deras dari kedua bola mata hassel.

__ADS_1


"Angel?!" pekik Giska seolah tak percaya pada apa yang ia lihat. Senyum smirk Angel terlihat mengerikan di posisi ini.


"Hai Giska. Kamu kaget?"


"Ba ... bagaimana bisa kamu ... kamu, Siska?"


"Yah, aku Siska."


Ingatan Giska kembali mundur ke beberapa tahun lalu. Saat pertama kali ia dan Angel bertemu. Tahun ajaran baru. Sama-sama menjadi siswi baru di asrama ini.


"Hai, kenalin, aku Angel Fransiska." Kalimat itu adalah hal pertama yang Giska dengar keluar dari mulut Angel. Angel Fransiska. Fransiska?! Dan saat ini, ia baru sadar kalau nama mereka mirip.


"Setahun lalu aku dibaptis, Gis. Jadi namaku baru. Mama bilang aku harus menjalani kehidupan baru sebagai Angel." Kembali kalimat Angel yang tidak pernah terlintas sama sekali dalam pikirannya adalah sebuah tabir rahasia yang kini bagai duri dalam hati Giska. Sering kali Angel menunjukkan jati dirinya sebagai Siska. Tapi Giska sama sekali tidak menyadarinya.


"Ini buat kamu," kata Angel 3 bulan setelah mereka menjadi teman satu kamar. Sebuah kotak perhiasan dengan jepit rambut bermotif hello kitty menjadi hadiah pertama dari Angel untuk Giska. Bahkan kini mereka memakai jepit rambut yang sama.


Giska mengambil jepit rambut yang masih ia pakai, dan menatapnya pilu. Ia ingat kalau Siska sangat menyukai semua hal tentang hello kitty, Yah, Giska baru ingat sekarang. Netranya liar menatap sisi kamar milik Angel. Sprei, selimut, sarung bantal, korden, tas, bahkan semua hal yang Angel miliki selalu memakai tokoh kartun itu. Tubuh Giska luruh ke lantai. Ia merutuki kebodohannya karena tidak menyadari kalau sahabatnya yang ia percaya selama ini justru orang yang pernah akan ia bunuh. Dan kini keadaan berbalik. Angel yang ingin membunuhnya.


"Bunuh aku, Ngel. Silakan. Aku ikhlas. Tapi ... bunuh aku sebagai Siska. Jangan Angel. Aku akan sangat menderita jika mati ditangan sahabatku sendiri. Tolong jangan bunuh aku sebagai Angel. Karena Angel buatku bukan hanya sahabat, dia lebih dari itu. Dia sudah aku anggap saudaraku sendiri. Aku menyayangi Angel melebihi diriku sendiri. Aku rela melakukan apa saja buat Angel. Aku rela bertukar hukuman dengan Angel. Karena ... Angel juga akan melakukan hal yang sama. Kamu ingat, Ngel? Saat kamu dihukum Pak Hadi karena ketahuan menyimpan rokok di saku seragam?"


Angel alias Siska kembali mengingat saat itu. Hari di mana Giska yang mengaku pada Pak Hadi kalau rokok itu adalah miliknya, bukan milik Angel. Dan akhirnya Giska dihukum membersihkan seluruh toilet asrama wanita. Tapi hukuman itu mereka jalankan berdua. Tanpa rasa sedih atau lelah. Justru mereka berdua sangat bahagia. Terlepas dari pelajaran kelas sayang memusingkan kepala.


Angel mematung. Hatinya seolah teriris sembilu mendengar kalimat itu terucap dari mulut Giska. Jauh di lubuk hatinya, Angel juga sudah nyaman berteman dengan Giska. Ia tidak pernah main-main pada semua perhatiannya ke Giska. Angel benar-benar menyayangi Giska. Giska juga satu-satunya sahabat yang ia punya. Takdir bagai mempermainkan mereka. Tapi takdir pula yang mempertemukan mereka. Entah menjadi kawan atau lawan. Entah akan terus hidup atau mati bersama.


Pisau di tangan Angel terjatuh. Ia kalah pada rasa sayangnya pada Giska. Ia dilema. Apakah harus meneruskan tujuannya atau mengakhiri dendam ini sekarang juga? Netra mereka bertemu, dengan bulir air mata yang benar-benar tulus. Sorot mata Angel mereda. Ia langsung berhambur memeluk tubuh Giska hingga keduanya sama-sama terjatuh ke lantai. Tangis yang tergugu terdengar sampai keluar kamar. "Maafin aku, Siska. Aku nggak bermaksud melakukan semua itu. Aku tau itu salah," kata Giska menatap Siska yang kini mengusap lelehan air mata dari pipi Giska. Siska menggeleng. Ia mendesis lalu kembali memeluk Giska makin erat. "Sshh. Sudah, Gis. Kita lupain itu, ya. Kamu adalah sahabat terbaik yang aku punya. Maaf aku sempat ingin bunuh kamu. Sama seperti ke 8 orang temanmu itu."


Dalam pelukan Angel, Giska melotot saat kalimat itu terucap dari Angel. Ia sadar, kalau bagaimana pun juga, Angel telah membunuh teman-temannya. Secara langsung maupun tidak langsung.


Lampu kembali menyala. Keadaan terang lagi, dan Andrew menerobos masuk kamar Giska. Ia heran melihat dua gadis itu saling berpelukan sambil menangis. "Kalian baik-baik saja?"


Giska dan Angel menoleh ke pintu, ada sedikit ketegangan di wajah keduanya. Giska lalu meraih pisau yang tergeletak di sampingnya dan berusaha menyembunyikan benda itu agar tidak dilihat Andrew.


"Kami baik-baik aja, Pak. Cuma kaget saja tadi. Panik soalnya asrama jarang ada pemadaman listrik," jawab Giska, berusaha setenang mungkin. Angel yang menyadari sikap Giska ikut menutupi tangan Giska agar tidak terlihat Andrew.


"Ya sudah. Mendingan kalian tidur saja sekarang. Ini sudah hampir tengah malam. Biar kami yang berjaga di luar." Pintu ditutup dengan tatapan Andrew yang terlihat aneh, menatap mereka curiga.


"Baik, Pak," kata mereka bersamaan.


Malam ini berakhir damai. Tidak ada darah yang mengalir, baik dari Giska maupun Angel. Atau orang lain. Mereka beristirahat dalam damai. Sekalipun keadaan kembali stabil, Andrew masih terus menjaga Giska dengan menempatkan beberapa polisi di sekitar asrama.


                                                               _____

__ADS_1


Sudah seminggu berlalu. Ujian tengah semeter yang mereka jalani pun selesai sudah. Beberapa penghuni asrama memutuskan kembali ke rumah karena mereka mendapat libur 3 hari. Tapi Angel dan Giska lebih suka ada di asrama. Orang tua keduanya yang memang super sibuk tidak mungkin ada d rumah. Jadi untuk apa mereka pulang. Lebih baik tetap ada di asrama bersama beberapa teman yang juga memutuskan tidak pulang dengan alasan mereka masing-masing.


Gawai milik Angel bergetar. Sebuah pesan singkat membuat Angel gusar. "Ck. Ngapain sih?"


Giska yang sedang membaca novel sambil tengkurap di ranjangnya kemudian menoleh. "Kenapa, Ngel?" Ia sadar kalau sahabatnya pasti sedang kesal.


"Ini, aku disuruh pulang. Apa coba? Males banget."


"Eh nggak boleh begitu. Masa kamu ke keluarga kamu begitu. Gih, siap-siap pulang. Paling kamu cuma sehari di sana, nanti langsung balik lagi, kan?" tanya Giska yang sangat paham pada Angel. Ia tau kalau Angel tidak nyaman jika harus terlalu lama tinggal di rumahnya sendiri. Tapi bagaimana pun juga, mereka tetap keluarga Angel.


Giska membantu Angel berkemas. Walau hanya dua potong baju saja yang dibawa, tapi Giska sangat teliti, karena Angel pelupa. "Ini kan obat kamu nggak kebawa? Nanti kalau sesak nafas di jalan bagaimana coba?" tutur Giska menyodorkan inhaler pada Angel. Angel menerimanya dengan senyum yang lebar. "Makasih sayaaang."


"Ih, sayang. Geli dengernya," sahut Giska. Keduanya pun sama-sama tertawa setelahnya.


"Hati-hati, Ngel. Jangan lama-lama di rumah. Aku takut sendirian." Giska melepas kepergian Angel dengan kalimat yang membuat Angel ngilu. Seseorang yang ingin ia bunuh kini justru sangat ingin ia lindungi. "Lebay, deh, Gis. Bentar doang juga aku pulang. Jangan kangen. Dan jangan kamu acak-acak foto-foto Siwon-ku, ya."


"Astaga. Mana mungkin aku ambil. Makan itu Siwon-mu," cetus Giska meledek.


"Bye." Tangan kanan Angel melambai, senyumnya berat meninggalkan Giska di asrama seorang diri. Tapi ia harus pulang.


Angel mulai duduk di perahu yang membawanya kembali ke kota. Salah satu alasan Angel malas sepulang adalah perjalanan yang cukup menyita waktu. Karena  ia harus naik pesawat untuk sampai rumahnya. Kini ia sedang ada di bandara. Menunggu keberangkatannya yang hanya tinggal beberapa menit lagi. Sambil menunggu, Angel berselancar di media sosialnya. Melihat postingan ibunya yang sedang ada di luar negeri dan ayahnya yang sedang ada di kapal pesiar. Ia tak mengerti kenapa justru ia disuruh pulang kalau ternyata di rumahnya tidak ada orang. Angel memutuskan menghubungi kedua orang tuanya.


"Apa? Mama sama Papa nggak suruh aku pulang?" Tubuh Angel seketika lemah. Ia segera meraih tas yang tergeletak di lantai dan membawanya berlari keluar bandara. Tak peduli lagi teriakan orang tuanya di telepon genggam yang masih ia biarkan menyala. Angel berlari dan memutuskan menghentikan taksi yang baru saja akan pergi dari parkiran bandara. Satu yang pasti, ia harus segera kembali ke asrama.


Ia sangat cepat hingga kini sudah duduk manis di atas perahu yang membawanya kembali ke pulau. Bahkan sang empunya perahu bertanya-tanya kenapa Angel kembali lagi, padahal baru beberapa jam lalu ia naik perahu yang sama dan berbincang dengan nahkoda perahu bahwa ia kan menghabiskan liburan di rumah.


Kaki jenjangnya kini melangkah turun dari perahu. Tak peduli sepatunya yang basah karena air laut di bawahnya, karena perahu yang sebenarnya belum berhenti sempurna. Angel sangat terburu-buru hingga tak memerdulikan hal itu. Baginya untuk segera sampai ke asrama adalah hal yang terus ada di pikirannya kini.


Bangunan yang menjulang itu sudah nampak di depan mata Angel. Ia meneruskan berlari dan sedikit panik saat melihat banyak polisi mengerumuni gedung asrama putri. Pikirannya kalut dan memikirkan hal yang paling buruk. Sesuatu yang terus ada di pikirannya atas keselamatan Giska. Kakinya sampai pada lantai koridor tempatnya menginap. Semua orang berkerumun, bahkan ia dapat melihat kalau kini pintu kamarnya di beri garis polisi. Air matanya menggenang. dan tumpah begitu saja. Hanya ada satu nama di pikirannya. Giska.


Saat Angel mulai mendekat, barisan teman-temannya menguar, memberi jalan dirinya agar lebih mudah sampai ke kamarnya. "Yang sabar, Ngel." Kalimat barusan terucap dari Lidya, tetangga kamar mereka berdua. Tangis Angel kini makin dalam, hingga sampai di kamarnya, Angel langsung luruh, saat melihat tubuh Giska menggantung di bawah pintu koridor kamarnya. Ia menutup mulutnya dan menggeleng cepat. Beberapa polisi yang ada di lokasi kejadian turut iba melihat tangis Angel  yang kini menggugu. Angel berteriak memanggil nama Giska. Giska ... tewas.


Semua orang mengira Giska bunuh diri, tapi hanya Angel yang tau kalau Giska dibunuh. Dengan terisak, Angel bangkit dan meninggalkan kamar itu. Mengabaikan panggilan rekannya yang mengkhawatirkan dirinya. Kematian Giska adalah pukulan berat bagi Angel, yang notaben nya sahabat terdekat Giska. Ia melakukan panggilan ke sebuah nomor.


"Kenapa?" tanya Angel dengan penuh amarah.


"Dia patut mati, Sis. Kamu lupa bagaimana mereka membuatmu hampir gila, hah?"


"Aku bilang, lepaskan Giska! Kenapa kamu membunuhnya! Sebenarnya ini bukan pertempuranku, kan?! Tapi pertempuranmu! Kau jahat! Kau lihat saja, akan kubongkar identitasmu. Aku pastikan polisi akan menghukummu sangat berat! Kalaupun mereka tidak bisa menangkapmu, maka aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!" jerit Angel dengan penuh amarah.


Angel melempar telepon genggamnya hingga hancur berserakan. Ia menjerit karena rasa sedih dan kesal yang menjadi satu. "Kubunuh kau, manusia iblis!" jerit Angel. Tapi ia lantas terdiam saat melihat sebuah titik merah ada di dadanya. Angel melihat ke arah gedung asrama laki-laki, yang letaknya cukup jauh dari pandangannya. "Dasar iblis!" ucapnya. Bertepatan dengan itu, ia roboh ke belakang dengan darah mengucur perlahan keluar dari dadanya yang berlubang. Siska ... tewas.

__ADS_1


__ADS_2