
Asap hitam terlihat di depan kap mobilnya. Mesin mobilnya rusak dan mulai mengeluarkan bau gosong yang entah berasal dari bagian mana. Yudis mulai batuk-batuk hingga membuatnya kembali kepada kesadaran yang sempat hilang beberapa saat lalu. Ia melihat ke samping, Vin masih ada di tempatnya dan tidak sadarkan diri. Yudis menjulurkan tangannya memeriksa napas Vin. Ia langsung bernafas lega saat mengetahui pemuda itu masih bernafas.
Yudis langsung menyapu pandang ke segala arah. Ia memeriksa sekitar sekaligus penasaran terhadap sinar merah apa yang tadi mengganggu perjalanannya. Semua terjadi begitu cepat dan tidak dapat diprediksi. Yang jelas ia merasa itu bukan pertanda baik. Yudis berusaha membangunkan Vin, tapi pemuda itu tidak bergerak juga. Akhirnya ia mengambil ponsel yang sempat terjatuh di bawah akibat kecelakaan tadi. Dia berusaha menghubungi Rendra, tapi ponselnya sendiri tidak dapat menangkap signal sejauh ini. Yudis pun berteriak frustrasi. Ia lalu membuka pintu mobilnya yang awalnya terasa cukup berat. Ada sedikit penyok di daun pintu itu. Ia bahkan lupa telah menabrak apa saja tadi.
Suasana hutan terasa sunyi. Bahkan bunyi binatang malam tidak terdengar sejauh ini. Yudis mulai bersiaga, atas serangan apa pun dan dari siapa pun. Instingnya bekerja. Menjadi pemburu selama puluhan tahun tak lantas menjadikan dirinya orang yang tidak peka atas situasi mengerikan seperti sekarang. Karena tanpa ia tau, ada sepasang mata merah sedang memperhatikannya dari arah sudut gelap tak jauh dari mobil mereka. Ia menyeringai saat melihat Yudis gugup. Yudis berjalan ke bagasi mobilnya dan mengambil senjata yang biasa ia simpan di sana. Senjata api ia keluarkan dan mengisinya dengan amunisi khusus. Ia tau kalau apa yang akan dihadapi bukanlah manusia. Hanya saja ia belum tau pasti apakah itu iblis, vampire, werewolf atau bahkan makhluk lain yang belum dapat ia prediksi lagi.
Yudis terpaku, saat mendengar suara berisik ranting pohon terinjak ada di sekitarnya. Ia melirik ke samping kanan dan kiri. Ia lantas segera menoleh ke belakang dan ternyata kini baru sadar telah terkepung. Sekumpulan orang ada di sekitarnya, semua memiliki mata hitam, dan hanya satu orang yang memiliki mata merah. Yudis yakin ia pemimpinnya, sekaligus sinar yang ia lihat tadi dan membuat mobilnya terperosok ke tempat ini.
"Mau apa kalian?!" tanya Yudis sambil menodongkan senapan ke arah mereka. Tentu mereka malah menertawakan reaksinya. Karena bagaimana pun juga, selain kalah jumlah, Yudis sudah dipastikan tidak bisa melawan satu pun dari mereka dengan senjata itu. amunisinya tidak bisa sembarangan membunuh iblis. Apalagi untuk yang bermata merah itu.
"Aku yakin kau tau, apa mau kami."
"Omong kosong macam apa ini? Aku bahkan tidak mengenal kalian!"
"Tetapi aku mengenalmu, Pak Tua. Namamu sudah banyak kudengar selama ini. Kau yang telah membunuh beberapa anak buahku, ya? Jadi kau pasti mengetahui tentang rencana kedatanganku, bukan?" tanya pria bermata merah itu. Yudis diam sejenak, ia terlihat berpikir sambil mengingat apa yang telah terlewat darinya. "Kau lupa? Bukan, kah, kau yang telah mengirim anak buahku ke neraka barusan?"
"Raven?" tanya Yudis pelan.
"Yah, dia adalah kepercayaanku dan tangan kananku di dunia. Dia yang kutugaskan mencari keberadaan Nephilim. Kau juga sudah merenggut salah satu Nephilim itu dariku, bukan?"
Tiba-tiba ingatan Yudis kembali. IA teringat sebuah wajah yang sangat ia kenal dulu. Wajah yang sebenarnya sangat ia kenal dan dekat dengannya. Tapi momen itu telah membuat hidupnya berantakan. Amelia. Seorang gadis yang sebenarnya adalah putrinya, yang juga merupakan ras Nephilim. Menjadi pemburu membuat Yudis harus pergi ke tempat satu ke tempat lainnya. Sebelum dia mengenal istrinya yang sekarang, dia pernah menjalin hubungan dengan malaikat yang sedang ada di bumi. Mereka akhirnya memiliki seorang putri yang bernama Amelia.
Yudis membunuh Amelia dengan tangannya sendiri. Karena putrinya itu adalah salah satu ras Nephilim yang sedang diincar para iblis kala itu. Istrinya terbunuh. Malaikat pun bisa mati, karena iblis ini memang terbilang kuat di kalangannya. Sejak saat itu, ingatan Yudis hilang sebagian, ia melupakan semua kehidupannya saat bersama Amelia dan ibunya. Hingga akhirnya ia bertemu Sarah, istrinya sekarang.
"Kau ... Amon?!" tukas Yudis sambil menatap benci pada pria di hadapannya itu. Pria yang ditanya kemudian tertawa dan membuat emosi Yudis naik. Ia memang masih menaruh dendam pada iblis yang satu ini. Amon yang telah merusak kehidupannya, merenggut semua orang yang ia sayangi, dan membuatnya terpaksa membunuh putrinya sendiri.
"Akhirnya kau ingat juga, Pak Tua? Baguslah. Jadi sekarang kau tau, kan, alasanku datang lagi ke tempat menyebalkan ini?" tanya Amon sambil menatap jijik sekitarnya. Ia seolah menganggap dunia ini bukanlah tempat yang menyenangkan.
"Yah, tentu aku ingat semua. Semua yang berkaitan denganmu memang tidak menyenangkan, dasar Iblis!" umpatnya dengan tatapan penuh kebencian. Amon kembali tertawa karena berhasil memancing emosi Yudistira. Musuh bebuyutannya dulu.
"Ah, ya, untuk informasi saja, kalau Raven bukan hanya satu-satunya kepercayaanku. Jadi walau kau membunuh atau mengirimnya kembali ke neraka sekalipun, aku tidak keberatan. Pengikutku semakin banyak dari hari ke hari. Dan aku juga memiliki orang kepercayaan yang bisa kuandalkan di sini," cetusnya dengan menunjuk tanah yang ia pijak. Yudis menyipitkan matanya dan mulai mencerna kalimat Amon barusan.
"Tidak peduli seberapa banyak pengikutmu. Aku akan membunuh mereka satu persatu!"
"Wow, keinginan yang kuat, ya. Tapi apakah sekuat tenagamu sekarang?"
"Jangan banyak omong!" Ia lantas melempar sebuah pisau yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya tadi. Seharusnya langsung tepat mengenai sasaran. Tapi tangan Amon jauh lebih cepat menangkap benda itu. Ia menyeringai, dan langsung melempar pisau itu ke tubuh Yudis. Perutnya tertancap dalam. Ia menahan rasa sakit itu sambil memegang benda mengkilap yang menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Amon berjalan mendekat, ia tersenyum penuh kemenangan. "Asal kau tau, kali ini aku akan lebih mudah mengambil dia, karena kini dia sudah masuk ke dalam perangkapku!" bisiknya, lalu segera pergi.
Hening. Semua makhluk jelmaan iblis itu sudah lenyap hanya dalam hitungan detik. Meninggalkan dirinya yang terkapar tak berdaya menahan luka di perutnya. Juga ada Vin yang entah bagaimana lagi kondisinya. Yang jelas dua orang itu butuh dokter sekarang. Penglihatan Yudis mulai memburam, napasnya mulai sesak dan pendek. Tubuhnya mulai beringsut dan luruh ke tanah.
_____________
"Satu lagi, sus! Tolong, dia di mobil!" tunjuk Rendra sambil memapah Yudis menuju sebuah bed yang disediakan di pintu masuk IGD. Vin masih tertinggal di dalam mobil. Ia tidak mungkin bisa membawa kedua orang itu bersamaan. Keduanya sama-sama dalam kondisi yang parah. Dan butuh segera ditangani.
Rendra terus mengikuti ke mana dua orang ini di bawa. Ia sangat cemas. Bahkan kini ia tidak bisa menenangkan dirinya sendiri. Hingga akhirnya seseorang menepuk bahunya, dan membuta Rendra menoleh dengan tampang kaget. "Hei, tenang. Kenapa?!" tanya Abi saat melihat Rendra berada di depan IGD. Rendra menunjuk ke ruangan itu sambil berusaha tenang.
"Vin! Sama Pak Yudistira!" katanya tanpa melanjutkan penjelasan apa pun lagi.
"Mereka kenapa, Ren?" tanya Abi mulai cemas, apalagi melihat ekspresi Rendra yang tidak setenang biasanya.
"Gue nggak tau. Tadi gue susulin mereka karena Pak Yudis telepon gue soal Vin. Pas di jalan dia dicegat sama komplotan iblis itu. Tapi gue udah suruh Pak Yudis pergi duluan, karena kondisi Vin yang parah. Ternyata pas gue mau ke sini, nggak sengaja gue lihat ada asap hitam di tengah hutan sana. Perasaan gue nggak enak, Bi. Gue samperin ke sana, dan ternyata ... mereka." Rendra menarik napas dalam-dalam, sambil menahan air mata. Apa yang Rendra lihat dengan kondisi dua pria itu memang membuatnya terkejut dan tidak bisa membendung perasaan sedih ini. Bagaimana pun ia takut jika terjadi hal buruk pada mereka berdua. Karena Vin dan Yudis sudah menjadi bagian dari hidupnya sekarang. Mereka adalah salah satu dari sekian banyak orang baik yang bisa ia percayai. Dan juga mereka orang-orang yang mengetahui siapa sebenarnya dirinya yang asli. Jati diri yang berusaha ia sembunyikan dari kebanyakan manusia di bumi.
"Mereka udah parah banget, Bi. Pak Yudis ditusuk, entah sama siapa. Vin ... Vin punya luka di perutnya, mungkin dia dapat pas kerasukan kemarin, karena ada perban yang menempel di badannya." Rendra terus mondar mandir sambil memukul-mukul dagunya dengan kepalan tangannya sendiri.
Abi menatap nanar ke ruangan yang dikelilingi kaca tebal itu. Ia juga merasakan apa yang Rendra rasakan, semua terjadi beruntun dan mereka belum sepenuhnya paham terhadap situasi ini. Siapa yang mereka lawan, dan apa yang harus mereka lakukan. Semua masih terasa abu-abu. Hanya satu yang mereka tau, kalau kini yang mereka hadapi adalah iblis.
"Eh, Allea gimana? Terus Ellea di mana?" tanya Rendra tiba-tiba.
"Allea masih belum sadar. Ellea masih nunggu Allea di kamar." Abi duduk di kursi samping Rendra. Dua pria ini sama-sama diliputi kebingungan.
"Sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi, ya, Ren? Kenapa sekarang tiba-tiba masalah ini datang ke kita. Kita bahkan nggak tau, kita harus berbuat apa. Cuma ada informasi yang masih samar. Ellea cuma sering berkomunikasi sama Elisabeth di dalam mimpi. Bahkan gue aja belum pernah ketemu atau denger suara perempuan itu. Gue masih ragu, kalau Elisabeth itu beneran ada. Gue takut kalau Ellea cuma halusinasi."
"Gue rasa Ellea ngga halusinasi, Bro. Mungkin elu nggak percaya sama malaikat yang turun ke bumi. Tapi gue percaya. Jangankan malaikat, iblis yang turun ke bumi aja banyak gue temui dulu. Mereka banyak yang saling bunuh. Demi sebuah tujuan. "
"Jadi bener, kalau Ellea memang harus menutup portal iblis itu? Dan dia sekarang sedang diperebutkan sama iblis dan malaikat?"
"Yah, kemungkinan itu memang ada. Jadi sekarang, kita harus lebih waspada. Karena nyawa Ellea dalam bahaya. Gue yakin, orang yang menyerang Pak Yudis dan Vin adalah salah satu iblis ini. Semua orang yang berhubungan dengan Ellea bakal celaka. Begitulah iblis akan mendekati targetnya. Menyakiti orang-orang terdekatnya satu persatu, sampai akhirnya Ellea sendiri menyerah."
Pintu IGD dibuka. Rendra dan Abi yang awalnya sedang membahas masalah ini lantas beranjak dan mendekati dokter yang menangani Vin dan Yudis. "Gimana, Dok?"
Pria dengan kacamata dan masker di mulutnya diam sejenak. Ia lantas membuka masker dan menarik napas berat. "Kondisi mereka cukup parah. Sampai sekarang mereka masih koma, seluruh luka di sekujur tubuh mereka cukup parah. Tinggal menunggu keajaiban saja. Semoga mereka berdua bisa bertahan. " Ia lantas pergi sambil menepuk bahu dua pria itu. Rendra dan Abi sama-sama tidak bisa berkata apa pun juga. Mereka masih terkejut dengan penjelasan dokter. Satu yang mereka tangkap dengan pasti, bahwa tidak ada harapan pasti akan kesembuhan dua orang pria di dalam sana. Allea keguguran dan sekarang masih belum sadar, sementara nyawa Vin sendiri ada di ujung tanduk. Hanya ada Rendra di sisi Abi sekarang. Seseorang yang bisa ia andalkan di saat situasi pelik seperti ini.
"Bi, mendingan elu balik ke ruangan Allea, biar gue yang di sini. Jangan sampai mereka sendirian di saat situasi seperti sekarang. Apalagi elu tau gimana posisi Ellea sekarang. Dia target utama. Elu harus jagain dia, apa pun yang terjadi," kata Rendra menatap Abi penuh harap. Abi menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk. "Titip Vin sama Pak Yudis."
Rendra mengangguk. Abi kemudian beranjak dan berniat kembali ke ruang rawat inap Allea, tapi baru beberapa langkah, ia kembali berbalik, "Ren ... Thanks udah nemenin gue. Gue nggak tau gimana jadinya kalau nggak ada elu di sini."
Rendra menarik kedua sudut bibirnya. Mendengar kalimat tulus dari Abi, seolah memberikan semangat baru dalam batinnya. "Santai aja, Dude. Gue yakin elu juga bakal ngelakuin hal yang sama kalau posisi kita dibalik," katanya. Abi mengangguk, sependapat. Lalu kembali berjalan meninggalkan Rendra di koridor rumah sakit ini. Ia memang harus kembali ke Ellea.
Malam semakin larut. Suasana rumah sakit perlahan mulai sepi. Suhu ruangan terasa berbeda. Dingin dan membuat bulu kuduknya berdiri. Abi berkali-kali menoleh ke sekitarnya. Tapi tidak ada yang aneh sejauh ini. Ia makin mempercepat langkahnya, perasaannya berubah tidak enak. Padahal ruangan Allea hanya sekitar 100 meter lagi.
Kamar Edelweis 666
Ia memegang handle pintu, sebelum masuk Abi sempatkan menoleh ke kanan dan kiri. Begitu ia menundukkan kepala, Abi merasa aneh dengan sinar putih yang berasal dari dalam kamar. Dengan cepat ia membuka pintu dan mendapati Ellea sedang bersama seorang wanita yang bercahaya terang. "Ellea?!" panggil Abi. Kedua wanita itu menoleh. Tangan wanita itu berada di kepala Ellea, Ellea terlihat pucat dengan tatapan kosong. Dan dalam sekejap mereka berdua menguar ke udara, berganti cahaya putih yang membuat Abi langsung berlari hendak menangkapnya. "Ellea!!" jeritnya, tangkapannya menghilang saat berusaha ia gapai. Perlahan cahaya dan asap putih itu mulai memudar ke segala arah. Menuju ventilasi jendela di samping kamar ini.
__ADS_1
Hening.
"Ellea!" jerit Abi lagi. Ia panik. Ellea benar-benar menghilang bersama wanita tadi. Abi mendekat ke jendela, dan mencari asap putih yang membawa gadis itu. Tapi semua terlambat, hanya kegelapan di sana yang terlihat. "Ellea!" raung Abi lagi.
Ia menjambak rambutnya sendiri. Kesal dan bingung bercampur menjadi satu. Abi tidak tau ke mana Ellea, dan dengan siapa ia pergi. "Elisabeth?!"
Apakah itu Elisabeth yang sering Ellea sebut selama ini? Tetapi Abi merasa ada yang tidak beres dengan kejadian tadi. Ia lantas pergi keluar ruangan itu. Tetapi sebelum pergi, Abi sempatkan menoleh ke Allea. Ia masih baik-baik saja, jadi Abi tidak perlu mengkhawatirkan Allea. Justru Ellea yang sedang berada dalam bahaya. Itu yang ada di pikirannya sekarang. Abi kembali mencari Rendra. Tentu pemuda itu masih berada di tempatnya tadi. Masih duduk sambil diam menatap ruangan di depannya. Rendra menoleh saat mendengar langkah berisik dari arah sampingnya. Dan kembali terkejut saat melihat kedatangan Abi yang terlihat panik. Padahal belum ada setengah jam dia pergi tadi.
"Loh, Bi? Kenapa?" Rendra beranjak karena melihat ekpresi bingung terpancar di wajah temannya itu. Abi belum langsung menjawab. Ia berdiri di depan Rendra sambil menunjuk ke ruangan Allea.
"Tenangin diri dulu. Tarik napas, Bi. Baru cerita," tukas Rendra. Abimanyu menurut, dan saat dirinya sudah lebih tenang, ia mulai bercerita tentang hilangnya Ellea secara tiba-tiba. Rendra sama terkejutnya seperti Abimanyu. Keduanya kini benar-benar bingung, tidak ada petunjuk apa pun ke mana perginya Ellea. Dan siapa yang membawa Ellea juga, mereka tidak tau.
"Apa dia Elisabeth?" tanya Rendra yang sepemikiran dengan Abi.
"Yah, gue juga mengira itu Elisabeth. Karena selama beberapa bulan terakhir, cuma nama itu aja yang disebut Ellea. Tapi ada yang aneh, Ren."
"Apa?"
"Gue nggak tau, tapi tatapan wanita itu. Aneh. Dia seperti ... like a demon!" bisik Abi.
"What?! Yang bener lu, Bi."
"Iya. Gue yakin, dia aneh."
"Apa mungkin dia memang iblis yang menyamar? Karena selama ini, Ellea itu kalau ketemu Elisabeth, cuma dalam mimpi, kan? Seolah hanya ada di dalam dunia yang ia ciptakan sendiri. Jadi ada alasan tertentu kenapa Elisabeth nggak muncul dan menunjukkan dirinya ke kita."
"Dan kenapa dia muncul itu hal aneh? Karena kebiasaan itu bertolak belakang sama kebiasaan dia selama ini? Gitu maksud elu?"
"Yah, tepat sekali. Tapi ini cuma praduga aja. "
"Gue nggak peduli siapa perempuan itu, Ren. Pertanyaannya gimana cara nyari Ellea?!" Rendra mengangguk, sependapat dengan Abi.
"Gila. Posisi kita benar-benar bagai orang buta, Bi. Kita berdua ini nggak tau apa-apa tentang masalah ini. Nggak ada yang bisa kita mintai tolong atau bahkan penjelasan. Boro-boro petunjuk!" geram Rendra. Abi menarik napas dalam-dalam. Ia memandang ke ruangan IGD, tempat Yudis dan Vin di rawat.
"Gue tau! Ada satu cara!" tukas Abimanyu dengan mata berbinar.
"Apa?"
"Kita tanyai salah satu dari mereka? Gimana?"
"Mereka? Maksud lu?"
"Iblis!"
"Hah? Caranya?" tanya Rendra. Abi hanya menyeringai. Dan Rendra langsung paham maksud dari perkataan pria di depannya itu.
"Memangnya ada cara lain lagi?"
"Gila! Kita ini belum pernah ngelakuin ini, Bi. Seumur-umur gue jadi werewolf, nggak pernah ngelakuin ini. Bahkan caranya pun gue nggak tau!" tolak Rendra.
"Kita cari tau, Ren. Gue yakin Pak Yudis punya buku tentang ritual pemanggilan iblis dan semacamnya, kan?"
"..."
"Kita ke rumahnya buat nyari apa pun itu, yang berguna buat berhubungan sama 'mereka'. Gimana? "
"...."
"Kalau elu nggak mau, biar gue aja. Elu jagain aja mereka di sini," kata Abi lalu melangkahkan kakinya menjauhi Rendra yang masih bengong.
"Heh! Gue diem bukan berarti gue bilang nggak mau, ya!" ucapnya sinis, lalu mengikuti Abi keluar dari rumah sakit ini.
_____________
Mereka mulai mengendarai mobil menuju kediaman Yudistira. Malam makin larut, keadaan di luar sudah semakin sepi. Tubuh yang lelah seolah tidak terasa lagi. Hanya satu yang ada di pikiran Abi, mencari Ellea. Sementara Rendra, tetap harus bersama pemuda ini. Sekuat apa pun Abi, ia tetap tidak mungkin melakukan semuanya seorang diri. Sementara itu, Vin, Allea, dan Yudis yang kini masih terbaring di rumah sakit, mereka tinggalkan. Karena mereka yakin kalau para iblis ini hanya mengincar Ellea saja. Lagi pula kondisi mereka bertiga kini masih tak sadarkan diri. Abi dan Rendra pun sudah berpesan pada perawat di sana, untuk menjaga tiga pasien itu dengan baik.
Mereka sudah sampai di kediaman Yudistira. Pintu yang terbuka lebar membuat mereka sedikit heran. Tapi maklum adanya. Mereka tau kalau Yudis menerima tamu yang memang dirasuki iblis sebelum dirinya terbaring di rumah sakit sekarang. Yah, Vin.
"Gue cari di bawah, elu di atas!" perintah Abi. di lantai bawah dan atas memang ada beberapa rak buku yang mungkin bisa menjadi petunjuk apa yang sedang mereka cari. Buku mereka lempar asal. Bukan waktunya berbenah, tapi waktunya membuat berantakan. Asal apa yang mereka cari cepat ditemukan, urusan rumah Yudis yang makin kacau bukanlah prioritas.
"Bi! Ketemu!" kata Rendra sambil menunjukkan sebuah buku tinggi-tinggi.
Kini dua pemuda itu sudah duduk di lantai. Dengan sebuah gambar bintang besar dan mereka duduk di tengahnya. Ada secawan darah segar yang mereka ambil dari ayam milik Yudistira. Ini merupakan syarat ritual malam ini. Darah adalah komponen penting dalam ritual. Entah darah hewan, atau pun ... Manusia. Lilin dipasang memutari bintang dengan membentuk lingkaran sempurna.
Abi mulai membaca mantra yang ada di dalam buku itu.
"Per Adonai Eloim, Adonai Yeshova, Adonai Soboch, Matraton He Agla Adonai Mashon, verbut pushonikum, mysterium Salamander, sonventus sulkhorum, anthra gnomounom Gomorum gomorum , Eve Zarianatmik, Veni, Veni, Veni."
Keduanya sama-sama memejamkan mata setelah mantra dibaca, tapi keadaan yang hening membuat keduanya bingung. Tidak ada perubahan apa pun di sekitar mereka.
"Kok nggak bisa, ya?" tanya Abimanyu sambil memperhatikan sekitarnya.
"Bi? Apa ada yang salah atau terlewat?"
__ADS_1
"Nggak tau. Coba baca lagi bukunya," suruh Abi yang sudah mulai kesal. Rendra lalu menarik buku di depan Abi dan mulai membaca perlahan informasi tersebut.
"Eum, ada satu yang salah," kata Rendra sambil menatap pemuda di depannya ragu.
"Apa?"
"Darahnya."
"Kenapa memangnya?"
"Di sini tertulis, darah manusia. Bukan ayam!" tunjuk Rendra.
"Sial!" umpat Abi lalu beranjak ke dapur dan mengambil cawan lain yang masih bersih. Ia kembali duduk bersama Rendra lagi. "Jadi darah siapa sekarang?" tanyanya.
"Elu lah!"
"Kenapa harus gue? Kan bisa darah kita berdua?!" kata Abi tidak terima.
"Hey, lupa? Gue ini bukan manusia?" Kalimat Rendra barusan membuat Abi mendengus sebal. Dan ia baru menyadari, kalau dirinya memang manusia dan Rendra adalah makhluk jadi-jadian. Darahnya tentu tidak berguna, karena dia pun tak ubahnya seperti iblis yang akan mereka panggil sekarang.
Ritual dimulai lagi. Semua dilakukan sama persis seperti tadi. Mantra dibaca, dan tak lama kemudian embusan angin mulai masuk ke dalam rumah. Nyala api lilin mulai tak menentu karena angin kencang ini. Dan tak lama kemudian, asap hitam muncul dan perlahan berubah menjadi sesosok tubuh manusia utuh dengan kedua bola mata yang hitam legam.
"Cih, apa-apaan ini?! Seorang manusia dan seekor serigala busuk memanggilku? Ada urusan apa kalian?" tanyanya sinis.
"Siapa kamu?" tanya Abi lantang.
"Kau tak tau siapa yang kau panggil, anak muda? Lucu sekali!" gumamnya. Ia berjalan memutari tempat ini sambil menikmati pemandangan rumah Yudis. Perhatian nya langsung tertuju pada mangkuk di tengah lantai. "Owh, itu untukku, kan?" tunjuknya ke cairan kental berwarna merah itu. Abi dan Rendra hanya saling tatap tak menjawab apa pun.
Pria itu mendekat dan mengambil cawan tadi. Abi yang awalnya hendak menahannya, malah dihentikan oleh Rendra. Rendra menggeleng agar Abi kembali diam.
"Kau tau tentang Nephilim?" tanya Rendra tanpa basa basi. Ia mengerutkan dahi, sambil menampilkan smirk di wajahnya. Tapi cawan darah Abi tersebut tetap ia ambil dan dihirup aromanya. Ia berdecak seolah apa yang ada di depannya adalah santapan lezat.
"Tentu saja. Kenapa?"
"Apa yang kalian inginkan dari Nephilim?!" tanya Abi. Saat iblis itu hendak meminum darah tersebut, ia langsung berhenti sambil menatap langit-langit. "Tunggu sebentar! Kenapa kalian penasaran dengan Nephilim?" Ia lantas menatap dua pemuda itu lekat-lekat secara bergantian. "Oh, rupanya kalian teman salah satu Nephilim?" tanyanya yang mulai mengerti arah pembicaraan ini.
"Yah, cepat jawab pertanyaan tadi!" Paksa Abi.
"Hei. Aku ini tamu, jadi biarkan aku minum dulu!" elaknya dan kini mulai meneguk sedikit demi sedikit darah Abimanyu. Abi menatapnya muak dan jijik, sementara Rendra membuang muka ke arah lain. Bagaimana pun juga, sisi werewolf masih ada di dalam dirinya, dan darah ... Bukanlah hal yang ingin ia lihat terlalu lama.
"Jadi kalian ingin tau tentang Nephilim? Eum, eum, ah ... Rupanya mereka sudah berhasil mengambilnya, ya?"
"..."
"Ah, sudahlah. Semua terlambat. Kalian tidak akan bisa menemukan dia!"
"Apa maksudmu! Katakan saja, di mana mereka menyembunyikan Ellea!" desak Abi.
"Semua iblis akan berada di titik nol pusat bumi. Di sana kami semua berkumpul. Dan pesta akan digelar sebentar lagi rupanya."
"Apa maksudmu?"
"Nephilim? Amon sudah mendapatkannya, bukan? Tentu itu bagus!"
"Karena portal gaib akan ditutup. Jadi kalian khawatir terhadap Nephilim, begitu?"
"Tunggu! Apa maksudmu tentang portal itu?"
"..."
"Sepertinya kalian salah sangka."
"Maksudmu?"
"Portal gaib itu sudah terbuka."
"Dan Nephilim harus menutupnya, kan?"
"Ckckck. Salah. Justru dengan adanya Nephilim portal itu terbuka. Portal itu tidak bisa ditutup. Sampai kiamat tiba. Kalian ini bukan manusia beriman, ya? Atau Tuhan kalian tidak membahas hal ini dalam kitab suci?"
"Portal itu tidak bisa ditutup?"
"Ya benar," jelasnya singkat sambil menikmati suguhan persembahan dari Abimanyu.
"Lalu kenapa kalian menangkap Nephilim?"
"Tentu saja untuk persembahan Amon. Raja neraka."
"..."
"Kalian tidak tau, ya? Kalau darah Nephilim itu ... Ugh!" Ia tersedak sambil menekan dadanya. Wajahnya pucat dan perlahan berubah biru. Ia menatap cawan yang sedang ia nikmati. "Apa ini?" tanyanya seperti kehabisan udara.
Tentu dua pemuda itu tidak tau apa maksudnya dan kenapa dia seperti tersiksa. Wajahnya mirip orang keracunan. Anehnya baik Abi mau pun Rendra tidak memberikan apa pun di dalam cawan itu. Karena semua murni darah Abimanyu.
__ADS_1
"Kalian meracuniku!" tuduhnya, cawan jatuh dan darah yang tersisa mulai tumpah di lantai. Aliran darahnya seperti menyala, ia makin pucat dengan tubuh perlahan biru sepenuhnya.
"Darah ini ... Kau! Siapa kau sebenarnya!" tunjuk nya kepada Abimanyu.