pancasona

pancasona
part 102 kebakaran


__ADS_3

Abimanyu sampai di rumahnya. Ia sedikit terkejut melihat mobil Rizal parkir di halaman rumahnya. Keadaan rumahnya masih terang, karena lampu ruang tengah masih menyala. Suara beberapa orang terdengar samar, tapi mampu membuat riuh sekitarnya. Jarang sekali ia mendengar suara ramai seperti sekarang. Dan biasanya dua pamannya sudah terlelap di kamar masing-masing. Langkahnya sedikit tergesa-gesa karena tamu yang ada di rumahnya dan informasi yang baru saja ia dapatkan.


Semua netra menatap ke Abimanyu yang baru saja datang. "Bi? Kenapa?" tanya Adi yang melihat gurat cemas di wajah ponakannya. Ia tak langsung menjawab, menghempaskan tubuh lelahnya di sofa samping Adi. Gio segera ke dapur untuk mengambilkan segelas air. "Ini minum dulu," kata Gio, menyodorkan gelas kristal yang mereka beli di sebuah swalayan dengan potongan harga 50%. "Makasih."


"Kenapa? Muka ditekuk begitu. Abi ketemu setan mana lagi lu?" tanya Gio, lagi.


Abimanyu menoleh ke Gio. Ia meletakan gelas setelah menghabiskannya hingga tandas. Kehadiran Nabila dan Rizal seolah tak tampak baginya. Walau ia tau dua orang itu ada di sana, duduk, mengamati dirinya sejak ia masuk ke rumah. Abi menutup wajahnya, menyenderkan tubuhnya di punggung sofa. Ia menarik napas dalam-dalam. "Paman ingat, foto-foto target yang kita temukan di kolam renang waktu itu?" tanya Abi setelah dirinya sudah mulai bisa tenang.


"Iya. Inget. Kenapa?"


"Foto ke 11. Aku tau siapa dia."


"Siapa?" tanya Gio dan Adi bersamaan.


"Maya."


"Maya? Yang bener ah. Jangan salah menyimpulkan gitu, Bi. Ada bukti apa kamu bisa sampai ngomong gini?"


"Paman Adi, aku liat gantungan kunci yang beberapa kali ada di mayat korban pembunuhan itu. Maya punya gantungan kunci itu."


"Bi, mungkin cuma kebetulan saja. Masa cuma karena gantungan kunci kamu bisa berpikir begitu. Kurang kuat alasan lu ah," sambar Gio menanggapi.


"Tapi, aku punya foto versi lain dari foto di kolam renang itu, dan itu jelas wajah Maya pas kecil."


"Mana?"


Abimanyu merogoh kantung jaketnya. Mengeluarkan dua lembar foto, dan meletakkan nya di meja. "Ini foto versi pembunuh itu. Dan ini foto versi sebenarnya." Dua foto ia letakan berdekatan. Yang satu foto Maya dari belakang, yang satu lagi foto Maya dari depan. Pakaiannya, background tempatnya, semua sama. Hanya dua foto yang diambil dari dua sudut yang berbeda.


"Gila! Beneran. Ini Maya!" pekik Gio yang sependapat dengan Abimanyu. Wajah Maya yang memang tak banyak berubah semakin meyakinkan mereka kalau foto ke 11 memang benar Maya. "Elu bilang ke Ridwan?"


Abimanyu mengangguk pelan. Ia menjambak rambutnya sendiri. Frustasi. "Kalian ngapain masih di sini?" tanya Abimanyu tanpa melihat dua orang di depannya. Ia yakin kalau Nabila dan Rizal pasti punya alasan belum juga pergi dari desa ini, padahal ini sudah tengah malam.


"Eum, gini ... Kami berpendapat, kalau Hara, Siska, Riki dan Bisma memang diatur oleh seseorang. Mereka ini hanya boneka yang memainkan peran mereka. Otak dari pembunuhan ini adalah 1 orang. Eum, bukan pembunuhan kemarin-kemarin saja, tapi juga pembunuhan 7 dan 20 tahun lalu."


"Apa?! Maksud kalian pembunuh 20 tahun lalu itu masih hidup?"


"Iya. David, Bi. Dia orangnya!"


"David? Pemilik rumah sakit jiwa Santo Yoseph?"


"Patrick David."


"Dia orang tua. Bahkan sudah renta, masih saja macam-macam. Bahkan kalau pun gue tendang, Mati dia pasti," kata Gio sinis.


"Tapi dia pinter. Bahkan dengan kemampuan fisiknya yang terbatas, dia masih bia membunuh orang. Jangan disepelekan," kata Rizal serius.


"Ya sudah, kita istirahat saja. Kalian bagaimana? Mau pulang atau nginap di sini?" tanya Adi memberikan pilihan. Menatap dua orang di depan mereka yang sedang bimbang.


"Nginep sini saja. Udah malam," sahut Abimanyu, beranjak dan berjalan ke atas, kamarnya. Meninggalkan 4 orang yang masih terpaku di bawah sana.


"Iya, bener itu. Masih ada kamar kosong kok. Tidur sini dulu saja. Besok baru balik," tutur Adi, menyusul naik ke atas, kamarnya sendiri.


______


Suara berisik terdengar di kamar Abimanyu. Seseorang melempar jendela kamarnya dengan batu. Tidak hanya sekali tapi berkali-kali. Tidurnya yang baru beberapa jam terusik. Suara berisik itu masih samar terdengar di telinga Abimanyu. Ia masih berpikir, apa yang ia dengar hanya ada di alam mimpi yang sedang ia alami sekarang. Hingga tiba-tiba suara dentuman keras membangunkan seluruh penghuni rumah. Mereka serempak menyingkap korden di jendela kamar masing-masing. Melihat sumber suara keras tadi. Luapan api terlihat di bawah. Mereka berlari ke bawah dan mendapati Gio sedang berusaha memadamkan api yang berkobar di ruang tengah.


"Gi?! Kok bisa kebakaran gini?" tanya Adi yang ikut mengambil korden lalu membasahinya dengan air. Ia terus melakukan itu ke setiap titik api yang sudah melebar. Semua orang melakukan hal yang sama. Abi dan Rizal mengambil selang air dan mulai menyiram kobaran api itu. Nabila menghubungi polisi untuk meminta bantuan.


"Nggak tau. Tadi kan gue tidur di sofa, tiba-tiba saja ada api. Kaget gue. Tapi ada suara mobil deh rasanya."


"Mobil?" tanya Adi yang bingung atas pernyataan Gio. Mereka berdiskusi dalam suasana genting seperti ini. Di tengah kobaran api, keringat dan memacu waktu. Jika mereka kalah, maka rumah ini akan habis dilalap api. Rumah satu-satunya peninggalan orang tua Abi. Segala kenangan dan barang berharga ada di sini. Abi tanpa banyak suara terus berusaha memadamkan api ini.

__ADS_1


"Api!" jerit Nabila yang melihat ke lantai atas. Entah dari mana datangnya, lantai dua juga mulai dilalap api. Rumah ini yang terbuat dari kayu memang sangat memudahkan rumah ini terbakar. Jika bantuan tidak datang, maka hanya beberapa jam saja, pasti bangunan ini akan habis.


Benar saja, Kini mereka sudah kelelahan mengambil air untuk memadamkan api yang terus membesar. Asap mulai membuat udara di sekitar mereka menipis. Beberapa sudah mulai batuk-batuk.


"Percuma. Kita nggak bisa memadamkan api ini. Bi! kita keluar sekarang!" kata Adi, melempar jendela dengan kursi meja makan. Jalan keluar mereka sudah tertutup api, sehingga mereka harus membuat jalan keluar lain. Adi keluar lebih dulu. Melihat hal itu Rizal lantas menarik Nabila yang sudah kesulitan bernafas. Sementara Gio berteriak memanggil Abimanyu yang masih bersikeras memadamkan api.


"Bi! Kita keluar!" Gio berteriak berkali-kali pada pemuda itu. Seolah perkataan Gio tidak ia dengar, Abi terus mencoba mengambil air dengan nafas yang sudah mulai pendek. Paham dengan apa yang Abi rasakan, Gio lantas menarik tangan Abimanyu. "Keluar sekarang, Abimanyu Maheswara!" jerit Gio.


"Nggak! Aku nggak akan biarkan rumahku hancur, Paman. Paman saja yang keluar." Suara Abi sama tingginya dengan Gio. Ia sudah penuh emosi.


"Kamu bisa mati di sini!"


"Biar, Paman. Biar."


"Jangan Gila, Bi! Kalau kamu mati, siapa yang akan membalas perbuatan orang itu?" tanya Gio dengan tangan menunjuk ke arah sampingnya. Entah di mana yang ia maksudkan. Tapi yang jelas, ia tau kalau ada orang yang sengaja membakar rumah ini. "Kamu harus tetap hidup, dan menyeret orang itu ke jurang neraka. Makanya sekarang kita keluar."


Abimanyu mulai dapat berpikir jernih, walau ia masih bimbang. Ia menatap sekitarnya. Rumahnya yang mulai habis dilalap api, gosong dan tidak layak lagi ia sebut rumah. Abi menatap Gio, nanar. lalu mengangguk. Mereka berdua segera keluar dari rumah itu. menghindari puing-puing yang mulai jatuh.


Gio langsung berguling di atas tanah karena tubuhnya terkena api cukup banyak, membakar sebagian besar pakaiannya. Kulit wajah, dan tangan Abimanyu juga melepuh karena terpapar panas yang lama, ia juga sempat menahan puing yang jatuh ke atas tubuhnya saat berusaha keluar dari rumah tadi. Abi meringis kesakitan. Nabila yang melihat luka-luka itu lantas mengambil kotak P3K dari mobil Rizal.


"Mau apa?" tanya Abi yang melihat Nabila cemas dengan sebuah kotak putih ditangannya.


"Ngobatin itu. Nanti infeksi, Bi. Astaga. Mukamu."


"Nggak usah." Ia beranjak menjauhi rumahnya.


"Loh, kulitmu terbakar. Abimanyu!" jerit Nabila dengan penuh emosi. Ia khawatir dan iba melihat kondisi Abimanyu yang mengenaskan. Baru kali ini ia melihat Abimanyu dengan keadaan buruk. Matanya tak memancarkan lagi tatapan tajam penuh misteri dan ketegasan, melainkan kesedihan dan luka. Ia yakin, Abimanyu sangat menyayangi rumahnya, bukan rumahnya yang menjadi alasannya, tapi semua kenangan di rumah itu. "Tetap harus diobati, Bi. Nanti makin parah!" Kata Nabila bersikeras. Adi menghentikan Nabila yang sejak tadi mengikuti Abi. Adi menggeleng. "Tapi, kan?"


"Dia nggak apa-apa, Bil. Percaya sama gue."


Mereka kini menatap jejak mobil yang tertinggal di sekitar rumah. Jejak mobil yang bukan mobil Abi maupun Rizal. "Siapa kira-kira?" tanya Gio pada Rizal yang juga sedang mengamati permukaan tanah itu.


"Gue yakin elu punya pikiran sama seperti gue," kata Rizal dengan smirk penuh arti.


"Siapa lagi? Gue yakin David tau kalau kita tau identitas dia sebenarnya."


"Jadi karena alasan itu dia mau bakar kita hidup-hidup?"


"Entahlah ini rencana pembunuhan atau sekedar peringatan. Karena kalau David mau membunuh orang, nggak akan pakai cara ini."


"Dia sengaja memancing emosi kita," sahut Abimanyu. Ia menatap pergelangan tangannya yang melepuh. Nabila ikut melihat luka bakar itu, tapi perlahan luka itu memudar dan hilang.


"Loh! Kok bisa?!" pekik Nabila yang terkejut melihat keanehan dalam diri Abimanyu.


"Gue bilang juga apa, dia nggak apa-apa. Bahkan Abi ini nggak akan mati dengan mudah. Salah si David membuat Abi menjadi musuhnya. Belum tau saja kita siapa," ujar Adi, bangga.


"Kalian siapa?" tanya Rizal serius. Melihat kesembuhan luka Abimanyu yang begitu cepat, adalah hal yang aneh dan patut dipertanyakan.


"Ceritanya panjang," jawab Abimanyu menanggapi tatapan Rizal.


_________


Mereka duduk di kursi cafe Pancasona dengan penampilan berantakan. Sekujur tubuh penuh jelaga, pakaian kotor bau sangit dan compang camping. Bau gosong tercium saat di dekat mereka. Tubuh mereka teramat lelah. Masih tidak menyangka kalau kejadian tadi menimpa mereka. Hal yang tidak pernah terpikir sebelumnya. Dan, hal yang mereka sepelekan justru berdampak hampir merenggut nyawa mereka. David tidak bisa dianggap remeh.


Sinar mentari belum sepenuhnya nampak. Suasana masih gelap. Mereka bahkan belum terpejam sejak kejadian pembakaran itu. Beberapa mobil polisi mulai datang. Sebagian menuju rumah Abimanyu dengan mobil pemadam kebakaran mengiringinya. Walau mereka yakin kalau rumah itu sudah rata dengan tanah.


Cafe ditutup hari ini dan untuk beberapa waktu yang belum bisa ditentukan. Sementara waktu cafe ini akan menjadi tempat tinggal mereka bertiga.


"Kalian balik aja sekarang," suruh Abimanyu tanpa melihat ke orang yang dimaksud. Ia masih terpukul dan bersedih atas musibah yang baru saja menimpanya. Sementara Nabila justru menatap Abi iba. Ia juga masih penasaran atas keanehan Abi. Dalam benaknya Nabila terus berasumsi, apakah Abimanyu memang memiliki kemampuan menyembuhkan diri. Waw. DAEBAK!


"Zal, kamu pulang saja. Aku di sini dulu," sahut Nabila menanggapi perkataan Abi.

__ADS_1


"Loh kenapa? Bukannya kamu sudah harus balik sekarang, Bil? Pak Ibrahim sudah tarik kamu pulang. Tugas kamu selesai."


"Belum. Masalah ini belum selesai. Justru akar dari permasalahan ini baru terbuka sekarang. Kalau aku balik, pasti bakal ada kejadian lain. Lagi pula aku harus melindungi Maya. Dia target selanjutnya."


"Tapi, Bil ...."


"Zal, I'm oke."


Rizal dan Nabila saling berpandangan. Apa yang dikatakan Nabila memang benar. Ia ditarik dari tugasnya karena permasalahan ini sudah mencapai titik temu. Hara sebagai tersangka terakhir, kini sedang ditangani Andrew, dan pasti akan memberikan hasil yang baik. Mereka yakin Andrew pasti bisa menangkap Hara. Walau Andrew pernah dikeluarkan dari pekerjaannya, tapi sebenarnya dia adalah seorang anggota polisi yang berbakat di masanya. Tapi kematian putrinya menjadi awal dia jatuh. Kehilangan orang yang disayang memang akan merubah kehidupan bagi mereka yang ditinggalkan.


"Rasanya aneh, kalau David melakukan hal itu seorang diri. Sehebat apa pun dia sebagai pembunuh dulu, kini dia cuma seorang tua renta. Bahkan jalan saja dia harus dibantu tongkat, mustahil dia bisa membakar rumah semalam," ujar Abimanyu mencoba mencari jawaban atas musibah yang menimpa mereka semalam.


"Jadi bukan dia?"


"Yaa memang bukan dia yang melakukannya. David punya banyak kaki tangan, kan?"


"Dan kita yang harus cari kaki tangannya sekarang."


"Zal, lu bisa cari data pengurus rumah sakit dan panti asuhan David?" tanya Abimanyu, serius.


Rizal menatapnya sebentar lalu mengangguk. Bagaimana pun juga, dia adalah seorang anggota kepolisian juga. Dan apa yang mereka alami adalah tindakan kriminal. Dan pelaku harus segera ditangkap.


Rizal mulai mencari data yang dibutuhkan. Sementara Gio dan Adi kembali ke rumah untuk mencari bukti atau apa saja yang mungkin ditinggalkan pelaku pembakaran. Gio masih penasaran dengan jejak mobil yang ditinggalkan pelaku di halaman rumah.


"Gue ke rumah Maya dulu," kata Nabila yang sudah berganti pakaian dengan yang lebih layak. Beruntung tas miliknya aman di dalam mobil.


"Gue ikut. Sekalian pinjem baju Ridwan. Elu juga, Zal. Kita pergi bareng. Jangan terpisah. Bahaya. Kita nggak tau apa yang sedang direncanakan David lagi untuk mencelakai kita."


"Yah, dia nggak akan berhenti. Yuk, kita jalan," ajak Rizal.


Cafe Pancasona dikunci. Mereka mulai masuk mobil dan menuju rumah Ridwan.


________


Beberapa kali mobil pemadam kebakaran dan mobil polisi berseliweran. Entah apa yang mereka lakukan, tiga orang yang ada di dalam mobil tidak terlalu menghiraukannya.


Mereka sampai di rumah Ridwan. Seluruh penghuni rumah terkejut melihat kedatangan Abimanyu yang terlihat kacau.


"Astaga, Bang Abi. Ada apa?" tanya Ridwan setengah menjerit lalu berlari mendekat. Ia terus menatap Abimanyu dari atas sampai bawah.


"Pinjem baju. Sama buat Rizal nih, ada?" tanya Abi ceplas ceplos.


"Oh. Ada. Ayo masuk," ajak Ridwan bingung. Ia menatap Nabila yang berpenampilan paling bersih diantara dua pria di sampingnya.


Abi dan Rizal membersihkan diri terlebih dahulu. "Bil, itu data orang yang kerja di rumah sakit sama panti, kamu cek. Siapa tau kenal nama nama nya," ujar Rizal yang kini sudah hilang, masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dapur. Kamar mandi di rumah ini ada dua bilik. Jadi mereka berdua tidak perlu mengantre lagi.


Ibu Ridwan membuatkan masakan untuk mereka bertiga. Ia cemas dan khawatir melihat keadaan Abimanyu yang berantakan.


Nabila mulai membaca tiap nama yang terpampang di layar monitor. Meneliti satu demi satu dengan teliti. Walau awalnya ia meruntuk karen daftar ini sangat panjang untuk dibaca.


Ridwan duduk di samping Nabila dan ikut menatap layar di depannya. Ia masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Baik Abi, Nabila dan Rizal belum menjelaskan apa pun perihal kejadian ini.


"Loh, ini mereka kan pegawai cafe yang baru?" tunjuk Ridwan ke sebuah nama yang ia kenal. Nabila mendengar hal itu lantas mulai tertarik. "Siapa, Wan?"


"Mahesa. Mahesa Irawan. Bener. Itu. Memangnya ada apa, Mba?"


"Gini, cari lagi nama lain yang kamu kenal." tanpa menjawab rasa penasaran Ridwan, justru Nabila menambah penasaran dengan memberikan perintah seperti itu. Ridwan mulai menatap nama lain yang familiar di ingatannya.


"Yudistira, sama Rama juga ada?!" pekik Ridwan seolah tidak percaya.


"Siapa mereka?"

__ADS_1


"Kan tadi aku bilang mereka pegawai cafe yang baru."


"Jadi ... Mereka kaki tangan David?" ujar Abimanyu yang baru saja keluar dari kamar mandi.


__ADS_2