
Riri hanya menatap kedua orang tuanya yang sudah terjun bebas ke bawah jurang. Dia juga menangis tersedu-sedu. Mengingat kalau apa yang dilakukannya, yang telah membuat kedua orang tuanya benar-benar meninggal. Bagi Riri dia lebih baik tidak bertemu orang tuanya dengan wujud yang menyeramkan seperti sekarang. Daripada dia harus melihat kedua orang tuanya yang sudah tidak menjadi diri mereka sendiri. Mereka bukanlah manusia. Mungkin sebutan mayat hidup adalah hal yang tepat. Dan setelah kejadian itu, Riri sudah tidak pernah lagi melihat kedua orang tuanya muncul. Setiap hari dia selalu datang ke rumah. Untuk memastikan kalau orangtuanya tidak pernah kembali lagi. Sepi. Tapi dia justru lega. Walau setelahnya Riri makin kesepian Dan makin merasa sendirian hidup di dunia ini.
Mereka semua makin mempercepat langkah. Sampai akhirnya mereka pun akhirnya berlari lebih kencang. Gerombolan warga desa yang kini berubah menjadi mayat hidup sudah nampak di belakang mereka. Mereka tidak menyangka kalau keberadaan mereka cepat terdeteksi.
"Ri? Masih lama?" tanya Dana.
"Enggak! Ujung sana, kita bisa segera keluar dari hutan ini," tunjuk Riri ke arah depan mereka.
Mendengar kata-kata Riri tadi membuat mereka makin semangat. Mereka ingin segera sampai ke ujung jalan yang Riri maksudkan. Tiba-tiba sebuah anak panah melesat. Tapi untungnya tidak mengenai salah satu dari mereka. Melihat ada anak panah yang menancap di pohon depan mereka, membuat mereka semua menoleh ke belakang.
"Siapa itu? Manusia?"
"Iya! manusia! Tapi kok kita dipanah!"
"Itu Pak Jaka!" seru Riri yang tampak ketakutan.
"Serius? itu Jaka?"
"Iya, Kak!"
"Buruan larinya!"
"Tapi kok nggak asing dia, ya?"
"Ah, buruan jangan pakai banyak mikir!"
Kini beberapa anak panah kembali melesat. Mereka pun akhirnya mendapatkan satu tugas tambahan. Yaitu menghindari anak panah yang sedang diluncurkan oleh Jaka. Mereka semua tidak menyangka jika pria yang bernama Jaka akan muncul disaat seperti sekarang. Saat mereka hendak kabur, dan berharap tidak menemukan hambatan apapun. Mayat hidup yang sedang mengejar mereka tidak memiliki pikiran. Jadi gerombolan Dana bisa membodohi mereka dengan bersembunyi di atas pohon atau di semak-semak. Tapi dengan kemunculan Jaka membuat rencana itu menjadi buyar. Tentu saja mereka tahu, kalau Jaka tidak mudah untuk dibodohi. Sehingga Jalan satu-satunya hanyalah menghindari Jaka, dan pergi lebih cepat dari rencana awal.
"Aduh!" jerit Hana sambil memegang lengan kirinya. Rupanya dia terkena salah satu anak panah yang dilesatkan oleh Jaka. Tapi dia masih sanggup berlari dengan kecepatan yang stabil. Hanya saja dia terus memegangi lengan kirinya yang terluka dengan anak panah yang masih menancap di sana.
"Han! Kamu nggak apa-apa?" tanya Rea cemas karena saat ini dia berlari di depan Hana. Mungkin jika tubuh Hana tidak berada di belakang Rea, maka pasti Rea yang terluka.
" aku nggak papa kok. Fokus aja sama jalanan di depan kamu. Jangan sampai jatuh!"
Tidak ada lagi obrolan di antara mereka. Walau sesekali Rea terus menoleh ke belakang. Tentu saja dia sangat mencemaskan kondisi Hana. Bagaimanapun terkena anak panah seperti itu pasti rasanya sakit sekali.
Akhirnya mereka pun mulai melihat pepohonan yang jarang di sekitar. Dan kini mereka sudah benar-benar keluar dari hutan tersebut. Mereka kini sampai di sebuah padang rumput yang luas. Sinar bulan yang ada di sekitar, membuat mereka semua bisa melihat jalanan di depan dengan lebih jelas. Kini tidak ada lagi pepohonan yang bisa menutupi mereka dari serangan anak panah Jaka. Hingga satu persatu dari mereka pun mulai sedikit terluka. Ada yang hanya tergores karena anak panah tersebut yang melesat melewati tubuh mereka, Ada pula yang juga terkena anak panah hingga membuatnya menjerit kesakitan.
"Bertahan semua!" jerit Dana yang berada paling depan, bersama dengan Riri. Mereka sudah berada setengah jalan di padang rumput yang luas itu. Lesatan anak panah juga sudah tidak ada. Saya menoleh ke belakang. Dan hanya melihat Jaka berlari mengejar mereka. Tidak ada lagi warga desa mayat hidup. Mereka semua seolah-olah lenyap begitu saja saat mereka tiba di Sabana itu.
" cuma ada Jaka!" jerit Rea memberikan informasi. Hal Itu membuat mereka semua menoleh ke belakang dan memeriksa apa yang dikatakan Rea.
"Ke mana warga desa yang lain?"
__ADS_1
"Iya, mereka semua hilang!"
" apa tertinggal di hutan tadi? Seperti Fauzan mungkin?"
" bisa saja. Setidaknya musuh kita hanya satu sekarang. Walau dia lebih cerdas dari mayat hidup tadi!" Dana melirik ke belakang dan menatap Jaka dengan tatapan benci.
Tiba-tiba dia berhenti berlari. Sontak semua teman-temannya pun ikut berhenti walau ragu. "Kenapa, Dan?"
"Kok berhenti, Dan?"
" sekarang dia sendirian, mending kita lawan dia aja!" kata Dana serius." jangan ngaco deh. Mendingan kita lari aja!" kata Rea sambil berdiri di hadapan Dana.
" Sampai kapan kita terus menghindari dia? Kita capek, Re! Aku yakin kamu juga capek kan? Jadi nggak ada salahnya kalau aku coba untuk melawan dia sekarang. Dan kalian semua, segera pergi dari sini! Selamatkan diri kalian dulu. Biar aku yang menghalangi dia!"
"Dan! enggak! Lebih baik kita semua pergi dari sini, atau kita semua tinggal di sini. Kita ini satu tim, jadi kita datang sama-sama dan pulang sama-sama. Nggak boleh saling meninggalkan ataupun berkorban sendirian!"
" Rea bener. Kalau memang lo berencana buat ngelawan dia, Kita Lawan dia sama-sama!" cetus Blendoz yang siap sedia bagai panglima perang Dana.
"Kalian menjauh!" suruh Hana ke para wanita.
Hana yang masih merasa kesakitan ditarik oleh Rea mundur. "Kenapa sih? Aku baik baik aja!" sanggah Hana.
" kamu terluka. Jadi harus segera diobati. Kalau nggak nanti infeksi!"
" gimana, Re? Kamu butuh sesuatu?" tanya Leni.
" kalian punya perban?"
" ada."
" air juga ya!"
"Siap!"
Para gadis seakan-akan sedang melakukan operasi untuk seorang pasien. Rea memang bukan mahasiswi Jurusan Kedokteran, begitupun dengan yang lainnya. Hanya saja Rea mengerti dan paham mengenai pertolongan pertama pada luka tusuk seperti apa yang terjadi pada Hana.
Dia mengamati dengan seksama luka dan anak panah tersebut. " untung nggak terlalu dalam!" ujar Rea yakin.
Hana hanya melirik ke arah lukanya. Dia sedang menahan rasa sakit dengan sekuat tenaga.
"Han, tahan ya. Aku mau cabut anak panah ini dulu. Setelah ini baru kita obati luka kamu. Untung anak panah ini nggak menancap terlalu dalam. Jadi kemungkinan nggak akan ada pendarahan hebat. Kita harus segera melepaskan ini dari badan kamu. Kalau enggak lukanya akan terlalu lama dan bisa lebih parah nanti," jelas Rea.
" Ya udah terserah kamu Re. Yang penting cepetan diobati. Sakit!" kata Hana yang sudah mulai lemas.
__ADS_1
"Oke. Siap ya."
Dengan cekatan Rea melepaskan anak panah tersebut dari lengan Hana.
Ciri khas luka tusuk ini adalah luka relatif lebih dalam dibandingkan dengan lebarnya, hal ini yang menyebabkan luka tusuk perlu mendapatkan pertolongan segera. Luka jenis ini juga sangat berbahaya karena dapat melibatkan alat-alat dalam tubuh, seperti bila terjadi luka tusuk di dada kemungkinan dapat terjadi kerusakan pada paru-paru, jantung, atau organ dalam lainnya. Untungnya Hana mengalami luka tusuk di bagian lengan yang jauh dari jantung.
"Duh, Tapi kok aku jadi ragu buat cabut anak panah ini?" kata Rea sambil memperhatikan benda tersebut.
"loh gimana sih, Re! terus mau kamu gimana? aku udah siap loh ini!"
"Takut bahaya, Han. Harus dicabut sama dokter."
"Terus gimana nih?" tanya Hana panik karena melihat lukanya mulai banyak mengeluarkan darah.
Memang mencabut benda yang menusuk bagian tubuh seseorang bukan lah langkah yang telat. Kecuali seorang dokter. Karena jika sampai nekat mencabut benda itu, justru akan memperparah pendarahan yang terjadi.
Rea mulai menenangkan Hana. Dibantu teman teman yang lain. Mereka memberikan nasehat pada Hana kalau semua akan baik-baik saja. Namun Hana yang memiliki pemikiran realistis tentu tidak mempan dengan nasehat tersebut.
Jika mendapati orang dengan luka tusuk, maka posisikan tubuh mereka dengan benar dan nyaman. Ada sebagian yang merasa baik baik saja, tapi beberapa justru merasa pusing setelahnya. Jika rasa pusing datang itu karena tubuh masih syok akibat luka tusuk. Cara yang tepat adalah menaikkan kaki mereka. Hal ini dimaksudkan agar darah terus mengalir ke jantung.
"Pusing nggak?"
"Enggak. Sakit, Re. Ini nya sakit. Enggak pusing!" ujar Hana mulai merajuk layaknya anak kecil.
"Oke. Cuma ini, ya." Rea menunjuk luka Hana. Dia lantas menekan kedua sisi luka dengan tangannya.
Menekan kedua sisi objek luka dengan tangan adalah tahap penting. Jika pendarahan bisa dikontrol atau dikurangi dengan cara ini, pertahankan tekanannya selama 10 menit agar pembekuan darah terjadi sehingga pendarahan bisa dihentikan.
Ketika pendarahan sudah bisa dikontrol, langsung tutupi luka tusuk dengan handuk atau kain. Akan tetapi, jika luka tusuk masih mengeluarkan darah dan menembus handuk atau kain, tambahkan lagi benda lain untuk menghentikan pendarahannya.
Jika darah masih menembus, ada baiknya cari opsi lain untuk menghentikan pendarahan. Jangan pernah mengambil inisiatif untuk melepas kain atau handuk yang berfungsi sebagai penahan darah. Prosedur tersebut hanya boleh dilakukan oleh dokter yang menangani korban di rumah sakit
Ketika pendarahan sudah bisa dikontrol, langsung tutupi luka tusuk dengan handuk atau kain. Akan tetapi, jika luka tusuk masih mengeluarkan darah dan menembus handuk atau kain, tambahkan lagi benda lain untuk menghentikan pendarahannya.
Jika darah masih menembus, ada baiknya cari opsi lain untuk menghentikan pendarahan. Jangan pernah mengambil inisiatif untuk melepas kain atau handuk yang berfungsi sebagai penahan darah. Prosedur tersebut hanya boleh dilakukan oleh dokter yang menangani korban di rumah sakit.
Rea akhirnya berhasil memberikan pertolongan pertama pada luka Hana. Dia memang tidak melepaskan anak panah di tubuh Hana, hanya mematahkan ujung panjang anak panah itu dan meninggalkan bagian yang tidak terlalu panjang, agar pergerakan Hana tidak mengalami kesulitan. Tanpa mereka sadari, Apri yang sejak tadi diam mengamati mulai merasakan pusing. Dia akhirnya tumbang tak sadarkan diri.
"Apri!" jerit mereka bersamaan.
"Astaga! Apri kena panah juga!" kata Diah yang sedang menahan tubuh Apri.
Tidak ada yang menyadari kalau Apri juga menjadi korban dari Jaka. Bahkan Apri sendiri juga tidak menyadari hal itu. Karena kini di punggung Apri tertancap sebuah anak panah yang sama seperti Hana. Bedanya Hana terlihat baik-baik saja, seakan luka itu hanya luka goresan yang tidak penting. Tapi Apri justru berbanding terbalik dari Hana. Dia memang tidak merasakan kalau anak panah itu yang menancap di tubuhnya. Apri hanya menganggap jika rasa nyeri di punggungnya itu adalah luka tergores ranting pohon yang tadi dilewati saat berada di hutan.
__ADS_1