pancasona

pancasona
23. 30 tahun kemudian...


__ADS_3

Apa lo bilang?" tanya Haga dengan tubuh yang kini terjatuh ke tanah. Harapannya sudah sirna. Upayanya untuk menyelamatkan Amanda pupus sudah. Karena Manda kini telah pergi untuk selamanya. Manda telah tiada. Dia mengorbankan dirinya agar Amon kembali masuk ke penjara abadinya.


Suasana hening. Sumur yang menjadi saksi perjuangan mereka kini tertutup dengan batu yang entah muncul dari mana. Haga mendekat dan berusaha mencari celah untuk membuka benda itu. Dia panik sambil menangis memanggil nama Amanda.


Sementara Habibi terduduk lesu begitu saja. Tenaganya masih ada tapi keyakinannya yang sudah pudar. Dia tahu kalau untuk menyelamatkan Amanda kembali akan sangat sulit, bahkan mustahil.


Habibi membiarkan Haga menangis beberapa saat. Hutan tersebut tidak lagi mengerikan seperti sebelumnya. Seolah olah para setan dan iblis sudah lenyap seperti Amon yang kembali ke penjara abadinya. Beberapa menit berlalu, Haga sudah mulai tenang. Sekalipun dia menangis, tapi sudah tidak disertai jeritan. Haga mulai lelah, juga putus asa. Habibi lantas bangkit dan berjalan dengan tertatih ke arah Haga yang sedang duduk bersandar di belakang sumur tersebut.


Haga menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut. Habibi ikut jongkok di depan Haga, menepuk bahu pemuda itu untuk menguatkannya. "Manda, Bib! Manda! Percuma kita ke sini, kalau kita nggak berhasil bawa Manda pulang."


"...." Habibi diam, menarik nafas dalam. Menyetujui kalimat Haga tapi tidak dia akui di hadapan pemuda itu.


"Terus kita harus gimana sekarang! Apa nggak ada cara lain untuk bisa membuka pintu sialan ini!" Omel Haga sambil memukul batu berbentuk lingkaran itu. Haga menatap sumur tersebut, dan masih saja diam. Dia bingung apa yang harus dikatakan pada Haga agar pemuda itu mengerti situasi yang sedang mereka hadapi sekarang.


"Nggak bisa, Ga. Pintu itu nggak akan bisa terbuka lagi. Untuk gue atau pun lo. Kita nggak akan bisa membukanya. Pintu itu sudah tersegel agar apa yang ada di dalam nggak akan bisa keluar, begitupula sebaliknya. Sekalipun kita bisa membukanya, gue ragu kalau hasilnya akan baik. Tubuh Manda sudah dikuasai Amon. Apalagi gue lihat, jiwa Manda asli sudah mulai pudar. Sulit untuk mengembalikan jiwa Manda kembali ke dalam tubuhnya. Gue yakin, Manda juga ngerti situasinya. Makanya dia berkorban seperti itu. Karena Amon harus kembali ke dalam penjara abadinya, maka Manda mengambil jalan itu."


"Enggak! Ini nggak adil! Kenapa Manda yang harus berkorban! Kenapa harus dia? Dia harus terbelenggu selamanya bersama Amon? Begitu, kan?"


Habibi kembali diam, hanya menatap Haga yang mulai emosi lagi. Dia menunjuk sumur itu dan sedang meminta penjelasan Habibi untuk hal yang tidak masuk logikanya.


"Ga ... Gue cuma bisa bilang, ini sudah takdir. Jiwa suci Manda yang bisa menjadi jalan Amon keluar, dan akhirnya jiwa itu pula yang membuat iblis itu kembali masuk ke dalam sana. Memang berat, tapi memang inilah jalan takdirnya. Kita harus ikhlas. Gue yakin, Allah nggak akan membiarkan Manda hidup di dalam tempat terkutuk itu bersama iblis laknat itu."


"Jadi ... Ke mana Manda? Ke mana dia?"


"Gue yakin, dia ditempatkan di tempat yang indah dan layak di sisi-NYA. Apalagi setelah semua pengorbanan Manda selama ini. Allah lebih menyayangi dia ketimbang kita, Ga. Lo harus ikhlas. Biar Manda bahagia di sana."


"Lo yakin sama omongan lo, Bib? Apa lo bisa menjamin kalau Manda nggak akan bersama Amon di sana? Gila! Kasihan dia! Kalau sampai dia menghabiskan seluruh hidupnya tinggal bersama iblis itu!"


Habibi diam. Dia mendongak ke atas. Menatap langit yang perlahan mulai memancarkan sebuah sinar terang. Titik sinar terang itu awalnya kecil. Tapi lama kelamaan menjadi sebuah lingkaran yang menembus ke sumur di dekat mereka. "Ga ... Lo lihat itu nggak?" tanya Habibi menunjuk ke sinar tersebut.


Haga menoleh dan melotot karena dia melihat hal yang sama seperti Habibi. Dari dalam pintu batu yang menutup sumur, muncul sosok yang mereka kenal. Dia memakai sayap putih layaknya bidadari, dengan mahkota di kepalanya.


"Manda??!" pekik Haga dan Habibi bersamaan.


Manda keluar dari sumur tersebut dengan penampilan yang lain. Sosok Manda bercahaya. Dia tersenyum menatap Haga dan Habibi. "Kalian nggak usah khawatir. Aku baik baik saja. Maaf, kalau aku nggak akan bisa kembali lagi. Waktuku di dunia ini sudah habis. Aku pergi dulu. Jaga diri kalian baik baik. Dan Haga ... Maafkan aku. Aku harus pergi lagi meninggalkan kamu. Kamu harus melanjutkan hidupmu. Jaga Hasya baik baik. Jadilah ayah yang baik untuknya. Bib ... Terima kasih untuk semuanya. Kamu adalah sahabat terbaik ku. Selamat tinggal. Kelak ... Jika diberi kesempatan, aku akan kembali lagi, dengan sosok yang lain. Selamat tinggal."


Jiwa Manda lantas terus naik ke atas. Mengikuti sinar cahaya itu berasal. Haga dan Habibi bahkan tidak sanggup berkata - kata. Tapi saat Manda sudah menghilang, Haga baru sadar, dan menjerit memanggil nama wanita itu. Haga menangis sambil bersujud di atas tanah lembab di depannya. Dia memukul mukul tanah itu seraya memanggil Manda. Kali ini Habibi justru membiarkannya. Karena dia juga ingin melakukan hal yang sama. Hati Habibi sakit, melihat Manda benar benar pergi. Tapi Habibi tersenyum sambil menatap langit. "Semoga kamu bahagia di sana, Man."


****


30 tahun berlalu.


"Re ... Kamu bawa minum lagi nggak? Aku minta dong," kata Apri dengan tampang memelas.


"Ada. Nih," ujar Rea yang segera meraih botol minum yang ada di samping tas keril nya.


"Dan, istirahat dulu deh. Kasihan Apri nih, kecapekan." Diah yang ikut menatap Apri hanya bisa melihatnya iba. Mereka bersepuluh memang sudah kelelahan. Perjalanan menuju pos selanjutnya cukup terjal dan berliku. Tapi sudah dua jam lamanya, mereka belum juga menemukan pos kelima.


"Oke deh. Kita istirahat dulu," kata Dana memberikan instruksi. Dana adalah ketua tim yang ditunjuk oleh pembina. Jadi dia yang bertanggung jawab dan yang bertugas memimpin barisan.


Satu regu terdiri dari 10 orang. Mereka bersepuluh adalah mahasiswa baru di sebuah universitas swasta di Ibukota. Sebagai awalan menyambut mahasiswa baru, kampus mengadakan kegiatan camping dan outing class di sebuah hutan di wilayah Kalimantan. Kegiatan itu bertema Educational camp.

__ADS_1


Educational camp  adalah program pendidikan dengan melibatkan pengalaman berbasis alam dan petualangan (adventure learning base) untuk anak-anak dan remaja. Aktivitas Educamp meliputi kegiatan berkemah, journey dan petualangan, pendidikan ekosistem kawasan hutan dan sungai, serta permainan-permainan edukasi untuk membangun karakter individu, kepemimpinan, kerjasama tim dan kemandirian.


Program educational camp merupakan pembelajaran yang diselenggarakan di luar ruangan, dengan melibatkan pengalaman berbasis alam. Para peserta akan berpartisipasi dalam berbagai tantangan petualangan seperti hiking, treking hutan, telusur sungai, wisata air terjun, pengamatan biodiversitas kawasan serta permainan-permainan edukatif dan rekreatif.


Sebuah rangkaian kegiatan yang dimulai dengan orientasi kawasan dan berakhir dengan menanam pohon sebagai simbol bukti bakti pada lingkungan, merupakan alur program educamp yang berpijak pada model pembelajaran “adventure-based learning” di mana aktivitas fisik, olah emosi dan pikir hampir mendominasi setiap sesi pada alur kegiatan. Pembina memilih hutan Kalimantan karena ingin mengenalkan suasana hutan yang sebenarnya pada para peserta. Seluruh peserta berjumlah 200 orang. Terbagi dalam beberapa jurusan. Tiap jurusan akan dibagi menjadi tiga sampai 4 kelompok.


Mereka duduk di atas batang pohon atau bebatuan yang ada di sekitar. Beberapa mulai mengeluarkan amunisinya. Dari air mineral ataupun makanan kecil. Peluh membanjiri wajah mereka. Walau suasana hutan cukup rindang, tapi dengan beban berat di punggung, serta perjalanan yang jauh tentu membuat mereka kelelahan. Apalagi tidak semua orang adalah regu pencinta alam, yang memiliki fisik yang siap untuk perjalanan menaiki gunung atau menjelajah hutan.


"Apa kita nyasar, ya?" tanya Leni sambil mengibas-kibaskan topi di depan wajahnya.


"Jangan jangan iya! Masa kita belum sampai sampai sih! Kata senior jarak ke pos selanjutnya nggak lebih dari satu jam. Kita udah berapa jam coba?" sahut Ita sependapat.


"Memangnya ke arah mana sih, Dan?" Rea ikut penasaran. Karena pernyataan kawan kawannya bisa saja benar.


Dana membuka Peta yang memang diberikan senior sebagai petunjuk jalan. Ada sekitar lima pos, dan mereka sudah mendatangi empat pos lainnya. Kini hanya tinggal pos terakhir saja. Tapi mereka justru tidak kunjung sampai.


"Harusnya ke sini. Lihat kompasnya bener, kan? Utara?" tanya Dana sambil menunjukkan kompas pada Rea. Mereka berdiskusi sambil memperhatikan peta yang dibawa Dana.


"Bener sih. Tapi kok belum sampai juga. Bukannya pos terakhir itu adalah tanda kita selesai, ya? Jadi pasti ramai orang, kan? Senior juga kelompok lain yang sudah sampai lebih dulu?"


"Iyalah. Tapi sejak tadi ... Kita nggak lihat ada satupun anggota kelompok lain, kan? Atau aku yang nggak lihat mereka?" Dana menatap Rea, dan gadis berambut panjang itu hanya menaikkan kedua bahunya ke atas.


"Yang jelas cuma kita anggota yang terlihat."


"Gimana? Kita harus ke arah mana?"


"Nyasar kan?" tanya Hana dan Hani, selaku saudara kembar yang tidak identik. Sehingga mereka dapat dengan mudah di kenali.


"Mana udah sore lagi, Dan. Apa nggak sebaiknya kita bikin tenda aja? Lo lihat deh yang lain, mereka udah kecapekan. Gue rasa mereka nggak akan bisa melanjutkan perjalanan lagi," tunjuk Hani.


Dana, Rea, dan Hana menatap teman teman yang lain. Lalu Blendoz yang nama aslinya Redha, mendekat. "Si Apri mau pingsan tuh. Mukanya udah pucat banget. Mendingan kita istirahat dulu deh. Gue nggak bakal mau gendong dia."


"Iya, Dan. Mungkin kita kuat jalan lagi, tapi belum tentu mereka bisa. Dan kita juga nggak mungkin tinggalin mereka di sini, kan?" tanya Hana.


"Hm, ya sudah. Kita dirikan tenda aja. Sambil nunggu siapa tahu ada tim lain yang lewat nanti."


"Setuju!" Blendoz kembali ke tim yang lain, dan memberikan instruksi dari Dana. Alhasil mereka tampak riang saat menggelar tenda yang sengaja dipersiapkan sejak awal kegiatan. Mereka memang bukan regu pencinta alam. Dan acara ini salah satu kegiatan yang paling ditunggu, karena cita cita sederhana akan dapat terwujud. Yaitu mendirikan tenda di tengah hutan.


Ada dua tenda besar yang mereka dirikan. Satu tenda untuk laki-laki, dan tenda satunya untuk perempuan. Mereka sengaja membawa tenda yang ukurannya cukup besar dan muat untuk mereka semua. Perbekalan serta peralatan mereka cukup lengkap. Karena mereka tidak main main dengan kegiatan ini. Apalagi dengan latar belakang hutan kalimantan yang cukup rimbun, membuat mereka harus bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi nanti.


Dalam tim itu hanya para pria saja yang merupakan regu pencinta alam. Kebetulan mereka semua berasal dari sekolah yang sama. Sementara para wanita hanya suka ikut-ikutan saja jika ada kegiatan camping. Dana mendirikan tenda dibantu Fauzan. Sementara Blendoz dan Hani membantu tenda para wanita. Kerja sama yang cukup baik, dan tugas Hana mencari kayu bakar.


Hari beranjak petang. Hutan itu sudah mulai tampak gelap. Bahkan sudah berkilo meter jauhnya, mereka seakan berjalan di tempat yang sama. Tidak bisa melihat langit dari tempat mereka berada sekarang. Suasana yang lembab, membuat hawa sekitar menjadi lebih dingin. Sehingga mereka butuh api untuk menghangatkan tubuh. Juga untuk memasak nanti.


"Ndoz! Ini nanti roboh nggak? Kuat, kan?" tanya Diah, sambil memeriksa tenda yang akan mereka tempati.


"Beuh, ya jelas kuat! Kecuali ada banteng nyeruduk, baru hancur!"


"Ih. Di sini ada banteng?" tanya Apri dengan tampang polosnya.


"Ya bisa jadi. Kan nanya hutan belantara. Ada banteng, urusan, macan, ular, singa, gajah ...."

__ADS_1


"Hust! Ngawur! Nggak ada, Pri! Bohong."


"Eh, nggak percaya. Tapi ...." Diah langsung mengikut Blendoz agar segera tutup mulut. Karena di antara mereka semua hanya Apri lah yang penakut.


"Ndoz! Bantuin Hana aja yuk, api nya nggak nyala- nyala tuh!" tunjuk Diah, lalu menarik tangan pemuda bertubuh tambun itu ke tengah. Hana masih sibuk menyiapkan api unggun. Tapi sejak tadi dia tampak selalu gagal membuat api menyala.


"Gimana, Han? Nggak bisa?" tanya Diah.


"Susah! Basah semua ini daun sama batangnya! Hutannya tertutup banget. Sampai sampai matahari nggak bisa masuk ke sini!" Hana menyerocos kesal.


"Coba cari daun kering lain. Kita berpencar aja!" kata Blendoz.


Mereka semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Mencari kayu bakar adalah salah satu pekerjaan yang sulit, sehingga semua orang harus terlibat. Tapi mengingat Apri sedang kelelahan, maka dia harus beristirahat di dalam tenda, di temani Ita. Ita tidak hanya diam begitu saja, dia mulai mencari jaringan internet yang sangat dibutuhkan sekarang. Tapi berkali kali dia mengangkat ponselnya ke atas, sinyal di ponsel tetap tanda silang.


"Oh, sial!"


"Gimana? Ngga bisa, Ta?"


"Enggak! Kita benar benar terjebak di sini!"


"Duh, gimana dong ini. Kalau kita nggak bisa pulang gimana? Mamaaa ... Papa ...." Apri mulai merengek, dan membuat Ita melotot sambil memukul keningnya sendiri.


"Eh, Pri! Jangan putus asa gitu dong. Tunggu aja, paling nanti ada tim lain yang lewat, jadi kita bisa sama sama pergi, balik ke pos. Udah ah, jangan khawatir gitu."


Ita berusaha menenangkan Apri. Kebetulan mereka memang bertetangga sehingga komunikasi di antara mereka dekat dan akrab.


Rea mencari kayu kering di antara batang pohon besar di sekitar. Dia terus menunduk, mencari di tiap celah rerumputan. Rea berhasil menemukan lima ranting pohon yang sudah kering. Dia terus mencari dengan teliti. Hingga akhirnya dia sampai di sebuah batu berbentuk bundar.


Rea menatap benda itu dengan tatapan bingung. Dia bahkan diam beberapa saat hingga akhirnya Dana tiba tiba muncul dan mengejutkannya.


"Astaga, Dan! Kaget tahu!" omel Rea.


"Hehe. Maaf. Lagian, kamu ngelamun. Lihat apa sih?" tanya Dana ikut menatap ke arah yang Rea tatap tadi.


"Itu, kok mirip sumur, ya?"


"Mana? Oh iya! Coba aku lihat!" Dana berjalan dengan semangat ke batu besar itu. Rea yang awalnya ragu dan ingin mencegah Dana, akhirnya hanya bisa mengekor padanya.


Batu besar itu tertutupi rumput liar. Tapi sebagian terlihat jelas, dan siapa pun yang melihatnya tentu tahu, kalau benda itu memang sumur besar.


"Sepertinya ini memang sumur, ya?" tanya Rea sambil berjalan mengitarinya. Memegang benda itu sambil memperhatikan sekitar.


"Re? Kamu pernah ke sini?" tanya Dana. Rea yang berdiri dua meter dari Dana lantas menatap pria itu heran.


"Ke sini? Aku? Enggak."


"Yang bener?" tanya Dana agak tidak percaya.


"Iya bener. Ini kedatangan pertamaku ke tanah Borneo. Memangnya kenapa?"


"Ini bukannya nama kamu, ya?" tanya Dana sambil menunjuk salah satu sudut. Rea penasaran lalu mendekat. Dia membaca tulisan dengan dua kata itu. Sebuah nama yang terukir di sana.

__ADS_1


"Amanda Rea."


__ADS_2