pancasona

pancasona
Part 56 Abimanyu Maheswara


__ADS_3

Sejauh mata memandang hanya ada hamparan pasir putih yang melebar. Membuat mereka bagai permadani alam yang memikat mata banyak orang.


Diantara luasnya pasir pantai, hanya ada seorang pria duduk seorang diri. Menekuk kedua kaki hingga membuat lutut menjadi sandaran tumpuan kedua tangannya. Matanya lurus ke depan, tapi pikirannya terus menerawang. Mengingat kembali memori bersama kedua orang tuanya tersayang. Ia adalah Abimanyu.


Arya dan Nayla sudah meninggal sekitar 3 tahun lalu. Mereka mengalami kecelakaan saat mengendarai mobil selepas pulang dari cafe milik mereka. Vonis dokter mengatakan Arya dan Nayla mengalami serangan jantung akibat benturan keras.


Abimanyu hidup sebatang kara. Sesekali Gio, sahabat Nayla sering datang berkunjung. Mereka cukup dekat, bahkan sejak Abi masih kecil. Gio bahkan sudah mengajari Abi menembak sejak Abi berumur 12 tahun. Kini Abi sudah dewasa. Ia tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat dan mandiri. Semua berkat didikan Arya, seolah-olah sudah memiliki firasat kalau umurnya tidak akan lama. Abi bahkan memiliki watak seperti Arya. Dingin dan cuek. Tapi berhati lembut seperti Nayla. Perpaduan yang sangat apik. Dan dialah pewaris kedua orang tuanya. Dari sinilah kisahnya bermula.


_____


Abi sudah mengunci rumahnya. Duduk di teras, kembali menatap bangunan yang sudah sejak kecil menjadi tempat yang ia sebut "rumah". Namun sejak kematian kedua orang tuanya, Abi merasakan kekosongan di dalam bangunan itu. Ia selalu rindu masakan Nayla, dan teringat obrolan santai nya dengan Arya di ruang tv. Membahas semua kegiatan mereka selama seharian. Kini, ia tidak lagi menemukan hal itu di dalam sana.


Mobil jemputan sudah datang. Gio muncul dengan kaca mata hitam bertenger di hidung.


"Bi? Sudah siap?" jeritnya masih setia di dalam mobil, hanya mengeluarkan kepala dari jendela.


Abi menoleh. Menarik nafas dalam. Beranjak dan menenteng tas yang berisi beberapa potong pakaiannya. Baru beberapa langkah ia meninggalkan teras, Abi kembali berhenti. Menoleh sekali lagi. Berat. Tapi ia juga tidak bisa terus menerus ada di sana. Hidupnya harus berjalan. Setiap ada di sana, ia selalu merasa hidupnya berhenti. Karena kenangan akan kebersamaan bersama orang tuanya akan terus berputar bagai piringan hitam milik ayahnya. Tentunya rasa sedih akan ia rasakan tiap detiknya. Bahkan tiap barang dan sudut rumah ini sudah menyatu bersama mereka bertiga. Dan kini hanya ada Abi seorang.


"Abi pergi, Pa, Ma. Doakan Abi. Suatu saat nanti Abi pasti pulang," gumam pria tinggi berlesung pipi itu, menatap rumah yang ia anggap masih berpenghuni.


Jarak desa tempat Abi tinggal memang cukup jauh dari kota yang akan ia tuju bersama Gio. Rimbunan hutan mulai nampak sepanjang mata memandang. Sunyi, gelap, menyejukkan. Bahkan Abi bisa menghirup aroma pohon pinus saat membuka jendela sampingnya.


"Siap?" tanya Gio, melirik sekilas ke arah pemuda yang sudah ia anggap anaknya sendiri.


Abi tampak acuh. Tak menoleh pada Gio yang sengaja membuka percakapan karena suasana agak kaku sejak mereka pergi. Gio sadar bahwa Abi sangat mencintai tanah kelahirannya. Nyaman hanya dengan duduk di teras rumahnya atau diantara butiran pasir pantai yang bagai halaman rumahnya sendiri. Rumah mereka yang letaknya di pinggir pantai membuat Abi sangat menyatu dengan laut. Abi merupakan penyelam ulung di desanya.


"Paman ... apakah di sana saya masih bisa melihat laut?"


Gio tak langsung menjawab. Ia mencari kalimat yang paling tepat untuk jawaban ini. Abi memang sangat menyukai laut.


"Tentu saja. Kamu tidak tau saja, kalau di sana ada pantai. Yah, walau tidak seindah pantai di desa ini."


Abi mengangguk. Dengan tetap menikmati suasana di luar jendela.


Jauh dalam pikiran Gio, ia mengingat satu-satunya pantai di kota. Dengan suasana ramai, penuh sesak dan sampah yang hampir ada di sepanjang garis pantai. Buatnya asal bisa membawa Abi pergi dari rumah saja sudah cukup bagus. Gio pasti bisa menemukan hal menarik lain untuk Abi nanti.


"Nanti kamu tinggal di apartment punya Wisnu. Tempat itu sudah lama ia tinggalkan. Setelah menikah mereka pindah ke luar negri. Itu sebabnya Wisnu menyuruhku membawamu ke kota. Agar bisa bekerja menjadi barista di cafe miliknya. Kamu harus mentraktirku makan siang, Abi. Aku yang merekomendasikan kamu karena kopi buatanmu sangat enak, bahkan yang paling enak yang pernah kurasakan," tutur Gio antusias.


"Tapi, Paman ...," tukas Abi, ragu. Ada sedikit pikiran sungkan saat mendengar ia akan tinggal di apartment milik Wisnu.


"Wisnu sudah bertitah seperti itu. Jadi kau diam saja! Bahkan kalaupun kamu tidak tinggal di apartment Wisnu, aku akan membelikan apartment untukmu. Kau tau bukan, uang pamanmu ini sangat banyak."


Abi berdecit. Ia paham betul bagaimana watak pamannya yang satu ini. Bahkan saat orang tuanya masih hidup, Nayla sangat cerewet jika Gio tengah berkunjung ke rumah mereka. Gio sangat besar mulut dan menyebalkan. Tapi dia sahabat orang tuanya yang paling dekat dengannya.


_____


Bangunan bertingkat mulai mendominasi pandangan Abi. Ia berdecak dalam hati. Kagum dan terpukau. Karena ini adalah pertama kalinya Abimanyu menginjakkan kaki ke kota. Sejak ia kecil belum pernah sekalipun datang ke kota. Arya selalu melarang jika Abi memaksa ingin datang ke kota. Padahal Arya sering bolak-balik datang ke kota untuk urusan cafe atau ... yang lain. Sekalipun teror black demon sudah berakhir, Arya tetap sering mengunjungi kawan-kawannya di kota. Adi, Dewa, Elang, maupun Reza. Tapi tiap Abi meminta ingin ikut ke kota Arya selalu melarang. "Di sana berbahaya." Hanya kalimat itu yang terucap dari mulut Arya.


Tapi kini, Abi justru akan tinggal di sana.

__ADS_1


"Sampai," kata Gio, membuyarkan lamunan Abi. Abi mengedarkan pandangan ke sekitar. Sebuah basement yang sedikit gelap dengan barisan mobil di beberapa sudutnya.


"Kita di mana, Paman?"


"Apartment. Taruh dulu barang-barangmu. Baru kita pergi ke cafe."


Gio keluar mobil diikuti Abi. Hanya ada sebuah tas besar milik Abi saja yang ia bawa. Abi sengaja hanya membawa beberapa potong pakaian yang ia suka, sisanya ia tinggal di rumah.


Gio memimpin berjalan lebih dulu. Masuk ke pintu yang ada di sudut basement yang akan mengarah ke apartment ini. Pintu lift terbuka. Keluar beberapa orang dari dalamnya. Mereka sepertinya penghuni apartment yang akan melakukan aktifitas masing-masing.


Saat Abi hendak masuk ke dalam lift, ia berhenti. Indera penciumannya terganggu karena aroma anyir yang sekelebat lewat barusan. Ia sontak menoleh ke kerumunan orang tadi. Yang mulai menghilang di basement dan pasti menuju mobil masing-masing.


"Aneh," gumam Abi.


"Hey, anak muda. Tidak mau masuk? Atau kau ingin menjajal naik ke kamarmu dengan tangga? Sepertinya itu bukan ide bagus karena letak kamarmu ada di lantai 35," jelas Gio yang bersiap menekan tombol lift.


Abi yang sudah kembali ke kesadarannya lantas masuk. Pikirannya masih menerawang. Bau anyir yang ia cium tadi sungguh aneh. Benar-benar khas darah segar. Tapi orang-orang tadi tidak ada yang terluka sepertinya. Begitulah perdebatan antara pikiran dan hati Abi. Yang membuat sikapnya menjadi mudah ditebak oleh Gio.


"Kenapa?"


"Egh, tidak apa-apa, paman," jawab Abi gugup.


"Dengar anak muda. Jangan pernah membohongiku. Aku hidup lebih lama daripada kau. Apalagi ini kota. Tempatku hidup. Jadi beritau aku apa pun yang mengganjal di pikiranmu. Mengerti?"


"Baik, Paman."


"Bukan hal serius, Paman. Hanya saja agak aneh," kata Abi yang akhirnya angkat bicara.


"Maksudmu?"


"Saat orang-orang tadi keluar dari dalam lift, aku mencium bau anyir darah segar. Agak aneh saja. Karena sekilas kulihat tadi tidak ada dari mereka yang terluka. Apakah paman melihat mereka ada yang terluka tadi?"


Gio langsung mengerutkan kening. "Bau anyir?"


Pertanyaan tadi mendapat anggukan cepat dari Abi. Di saat bersamaan pintu lift terbuka. Beberapa orang di luar yang hendak masuk ke dalam lift membuat Abi dan Gio segera keluar. Mereka telah sampai di lantai 35.


Gio berhenti di sebuah kamar 3300. Menekan kode keamanan pintu hingga terdengar bunyi pintu terbuka. "Masuk."


Kamar ini cukup besar. Bahkan hampir sama besarnya dengan rumah Abi. Perabotannya mahal dan mewah. Ruang santai dilengkapi tv layar datar menempel di dinding tengah ruangan. Ada sofa panjang di depannya serta karpet bulu yang terlihat lembut. Berbelok ke kiri ada dapur. Lemari pendingin yang masih penuh dengan bahan makanan. Gio membukanya dan mengambil sekaleng bir dari dalam sana. "Wisnu sangat pengertian," gumam Gio dengan smrik khasnya. Ia menoleh pada pemuda yang sejak tadi sibuk memperhatikan tiap ruangan.


"Bi. Itu kamar kamu," tunjuk Gio ke sebuah ruangan yang tertutup di ujung sana. Abi menoleh lalu mengangguk. Ia segera menenteng tas hitam miliknya dan segera memasuki ruangan yang akan menjadi kamarnya.


"Bi! Aku pergi ke kamarku, ya. Ada di sebelah. Kamar 3302. Kalau ada sesuatu kamu ke sana saja. Dan satu lagi, anggap saja rumah sendiri. Wisnu tidak akan kembali ke tempat ini. Percayalah." Gio segera pergi dari kamar Abi dan kembali ke kamarnya.


Sunyi.


Abi meletakan tas di lantai. Duduk di pinggir ranjang besar yang ada di tengah ruangan. Ada sebuah komputer di sudut kamar.  Ia memperhatikan tiap detil kamar yang dulu adalah milik Wisnu. Ada satu hal yang ia temukan sejak masuk ke tempat ini. Kamera CCTV. Di tiap sudut ruangan ada kamera CCTV. Bahkan di depan pintu masuk.


Abi tertarik dengan hal ini. Ia memang paham betul bagaimana masa lalu kedua orang tuanya beserta Gio dan yang lainnya. Komputer dinyalakan. Ia juga mahir mengaplikasikan komputer seperti ayahnya. Ia segera masuk ke folder rekaman milik Wisnu. Banyak rekaman dari handycam tentang segala aktifitas Nayla dan Wisnu. Bahkan sebuah kenangan saat Arya melamar Nayla juga ada di sana.

__ADS_1


Abi menarik kedua sudut bibirnya. Barisan gigi putih nampak di balik bibir tipisnya. Ia tidak sadar kalau sedang tersenyum walau matanya juga berkaca-kaca. Setidaknya ia masih bisa melihat wajah kedua orang tuanya. Senyum ibunya dan wajah rupawan sang Ayah.


Abi melihat ke folder lainnya. Ia sadar kalau kamera di atasnya masih bekerja. Selama berjam-jam Abi asyik melihat berbagai rekaman. Rekaman dahulu dan kini beralih ke rekaman yang ada di apartment baru-baru ini.


Pikiran Abi masih terganggu pada ingatannya tadi. Perasaannya tak nyaman jika mengingat hal itu.


Sampai dia di sebuah rekaman terakhir. Seseorang berdiri di depan pintu kamarnya. Mencurigakan. Ia memakai pakaian hitam dengan masker di wajah. Mengendap-endap dan berhasil masuk dengan kode keamanan secara mudah. Pria yang juga memakai topi hitam itu terlihat berjalan santai. Masuk ke dalam bahkan sempat mengambil sekaleng bir dari dalam lemari pendingin. Hanya saja wajahnya tidak mampu terlihat jelas dari komputer. Yang pasti dia bukan Gio. Karena perawakan Gio yang tinggi besar, tidak sinkron dengan tubuh pria itu. Ia memiliki tubuh kurus dan tinggi. Rambutnya blonde. Pria itu seperti tengah mencari sesuatu. Setiap sudut ruangan tak luput dari pandangannya. Hingga saat ia ada di dalam kamar ini, kepalanya mendongak ke atas. Menatap kamera CCTV yang masih kokoh menempel di sana. Ia menaikan sedikit topi dan mengerdipkan sebelah matanya. Lalu pergi.


Itu adalah rekaman terakhir di dalam komputer ini. Kejadian itu terjadi kemarin. Abi segera keluar dari kamar menuju kamar Gio.


"Kenapa sih? Aku bahkan baru ingin memejamkan mata. Kau mengganggu saja!" gerutu Gio yang tetap menurut saja ditarik oleh Abi, kembali ke kamar Wisnu.


"Dia siapa, paman?" tunjuk Gio pada rekaman terakhir yang ia putar ulang.


Gio diam lalu duduk di kursi depan komputer dan mulai tertarik dengan hal ini.


"Siapa dia? Aneh. Apakah ... black demon? Ah, tidak mungkin," gumam Gio yang segera menjambak rambutnya sendiri.


"Apa yang dia cari di sini, paman?"


Gio menatap pemuda di depannya. Menggeleng dan segera meraih gawai dari dalam saku celananya.


"Lang!" Gio pergi keluar dan terlibat obrolan serius. Sementara Abi masih diam di tempatnya berdiri. Ia sadari kalau situasi sekarang cukup genting. Melihat pamannya yang gusar dan menyebut black demon. Musuh bebuyutan ayah dan ibunya.


"Apakah black demon masih ada?" Pertanyaan itu ia lontarkan dari mulutnya sendiri dan hanya pikirannya yang menebak dan berdiskusi di dalam kepalanya.


Gio muncul dengan tampang serius. "Ayok kita pergi!"


"Ke mana?"


"Rumah Elang!"


___


Mobil melesat cepat. Menembus jalanan yang sedang diguyur hujan. Gio lebih banyak diam. Berbeda dengan perjalanan tadi pagi. Sementara Abimanyu tetap menikmati pemandangan di sampingnya. Ia terperanjat ketika melihat di antara kerumunan manusia yang ada di zebra cross. Hampir ada 10 orang yang sedang memegang payung masing-masing, bersiap akan menyebrang. Tepat saat mobil mereka berhenti di lampu merah. Orang-orang itu mulai menyebrang dengan langkah yang cepat. Tapi satu orang di antara mereka membuat mata Abi membulat sempurna.


'Apa itu?' gumamnya dalam hati. Ia segera menatap Gio yang sepertinya tidak menyadari apa yang Abi lihat.


"Paman, itu ...," tunjuk Abi pada sosok yang ia lihat.


Gio menoleh dengan wajah kebingungan. "Apa?"


"Itu!" tunjuk Abi dengan tangan gemetar.


"Kenapa? Kamu belum pernah melihat sekelompok manusia kehujanan di tengah jalan? Apa yang salah?"


Akhirnya Abi terdiam. Itu berarti Gio tidak melihat apa yang Abi lihat. Sosok itu mengerikan. Memiliki wajah mirip ****** dengan gigi taring yang besar dan berlumuran liur. Kaki dan tangannya berruas jari 6. Berselaput mirip katak. Tubuhnya sedikit melengkung ke depan. Kepalanya memiliki tanduk dengan bulu di hampir semua bagian tubuhnya.


'Makhluk apa tadi?'

__ADS_1


__ADS_2