pancasona

pancasona
Part 114 Girl friend demigod?


__ADS_3

"Waw, malam yang panjang, ya?" tanya Ronal dengan tetap mengemudi makin cepat.


"Ron?"tanya Abi yang menatapnya nanar. Pria di sampingnya, adalah pria pertama selain Vin yang Abi ajak bicara di sini.


"Hai, Bi? Kamu baik-baik saja, kan?"


"Ron? Kamu bisa berbahasa Indonesia?" tanya Abi, bingung. Menahan sakit yang ada di punggungnya juga.


Ronal tersenyum. "Iya. Kejutan."


Mereka sampai di sebuah rumah yang jauh dari kota. Sepanjang jalan tadi hanya ada beberapa rumah yang mereka lihat. "Ayok. Kita masuk dulu," ajak Ronal yang kini mematikan mesin mobilnya dan berjalan menuju sebuah rumah di depan mereka. Rumah Ronald.


"Kalian mau minum apa?" tanya Ronald. Tapi dengan cepat, Abi langsung mendorong tubuh Ronal hingga menabrak tembok belakangnya. Abo terlihat marah sekali. Karena ia merasa ditipu oleh pemuda ini."Hei, kita bisa bicarakan baik-baik, kan?" tanya Ronal dengan mencoba tidak melawan Abimanyu. Vin dan Allea membantu melerai dua pria itu.


"All, sebaiknya kamu obati dulu lukanya. Untung lukanya nggak dalam," kata Ronal seolah tau kedalaman peluru yang menembus punggung Abimanyu. Allea mengambil kotak obat yang ada di kotak P3K dekat bufet TV. "Buka dulu bajumu, Bi. Biar aku bersihkan dulu lukanya."


Abi menurut, membuka kemejanya yang sebenarnya sudah tidak layak dipakai karena compang-camping. Allea ke belakang mengambil air untuk membersihkan luka Abi. Dan memang benar, peluru yang bersarang dipunggung Abi tidak terlalu dalam menembus kulit Abimanyu. TApi tetap saja, rasa sakitnya sungguh tidak bisa ditahan. Peluru berhasil dikeluarkan. Luka Abi mulai dijahit. Allea cukup hebat dalam menjahit.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, Ron?!" paksa Abi.


Ronal mengambil minuman dari lemari pendingin, meneguknya lalu duduk di salah satu kursi di aman mereka sudah menempatkan diri di kursi masing-masing.


"Sebenernya aku ini keturunan Turki Indonesia. Mamaku orang Jakarta. Dan gue nggak berniat bohongin lu, Bi. Gue nggak tau elu pihak siapa. Jadi gue waspada."


"...."


"Awal mula kita ketemu, saat kamu ke coffe shopku, itu bukan pertama kalinya ada orang menanyakan perempuan ini,'" tunjuk Ronal ke Allea. "Mereka semua preman. Tanpa memberi nama, cuma foto wanita ini."

__ADS_1


"Terus?"


"Sampai saat beberapa hari lalu, aku lihat dia di seret beberapa orang. masuk ke mobil."


"..."


"Anehnya. Malamnya aku lihat dia lagi muncul dengan kondisi baik-baik saja. Aku penasaran. Jadi aku cari tau soal dia. Lewat salah satu temenku. Dia langganan kopi di coffe shopku. Dia juga salah satu geng dari 18th Street gang. Kalian tau, kan, banyak gengster di San Paz.'


"...."


"Dia bilang cewek ini, lagi di cari orang-orangnya Asia boyz sama Wah Ching. Tapi aku nggak tau apa alasannya. Ya, kupikir masalah antar gengster seperti biasanya. Just it."


"Teman lu bisa cari tau, nggak, kalau dia sudah ditemukan dua mafia itu?" Vin menunjuk Allea.


"Lama dia nggak ada kabar. Tapi besok aku coba cari tau. Malam ini kalian tidur aja di sini. Apalagi kau, Abi, harus banyak istirahat. Lukamu harus segera pulih."


Malam ini merupakan malam yang panjang dengan hari yang cukup berat bagi mereka bertiga. Tubuh mereka sudah lelah. Terlebih Abimanyu juga mendapat luka di punggungnya. Allea masuk ke salah satu kamar kosong yang tadi ditunjuk Ronal. Sementara Vin dan Abi lebih memilih tidur di sofa ruang tamu. Mereka merasa belum begitu yakin jika keadaan benar-benar aman. Entah bagaimana caranya, orang-orang itu tetap mampu menemukan dirinya. Entah dari Wah Ching atau Asia Boys. Dan sampai sekarang mereka belum mengerti ada masalah apa, dan apa yang sudah Allea atau Ellea lakukan, hingga kini menjadi buronan.


Abi sendiri belum yakin, siapa gadis yang sejak seharian ini ia lindungi. Tubuhnya lelah. Punggungnya sudah baik-baik saja. Allea dan Ronal belum tau kemampuan Abimanyu. Sekarang ia mampu tidur nyaman walau dengan posisi terlentang seperti sekarang.


"Vin?"


"Hm?" gumam Vin dengan tubuh membelakangi Abimanyu.


"Kalau dia bukan Ellea, bagaimana?"


"Ya, sikat saja, Bi. MIrip, kan?" tanya Vin lalu membalikkan tubuhnya, menatap sahabatnya yang kini menatapnya kesal.

__ADS_1


"Cucian kali, disikat."


"Hahaha. Ya, kalau dia buka Ellea, ya kita tetap harus cari Ellea, kan? Itu, kan, yang lu mau. Itu niat elu jauh-jauh ke sini. Nganter nyawa, demi Ellea."


"Berisik lu"


"...." Hanya terdengar suara tawa Vin yang tertahan.


"Eh, Vin, Elu sama Lian, bagaimana? gue pikir dulu lanjut."


Vin langsung menoleh dan duduk di sofa. 'Heh! maksud lu apaan bawa-bawa Lian?"


Abi tidak menjawab, kini ia yang tidur membelakangi Vin yang masih meminta penjelasan. Kepala Abi ia tutup dengan selimut, berusaha terlelap karena tubuh yang lelah, dan mempersiapkan hari esok untuk nvari di mana Ellea berada. Vin benar, Abi jauh-jauh datang ke Venesia karena Ellea. Ia mengorbankan segalanya untuk bisa datang ke sini.


Bukan cinta namanya, kalau nggak ada satu hal pun yang dikorbankan dan diperuangkan. Cinta butuh diperjuangkan. Mulai dari berjuang menemukannya, sejauh apa pun itu. bahkan selelah apa pun dirinya hingga terkadang ia ingin menyerah saja.


"Ellea, jangan takut, ya. Aku akan datang, Ell. Walaupun kamu ada di belahan bumi mana pun, aku akan tetap mencari kamu. Meski jarak memisahkan kita dulu, perasaanku tetap sama, Ell. Hanya kamu, yang aku sayang." gumam Abi dalam lubuk hatinya.


Kata salah satu penulis terkenal, Kalau memang terlihat rumit, lupakanlah. Itu jelas bukan cinta sejati kita. Karena cInta sejati selalu sederhana. pengorbanan yang sederhana, kesetiaan yang tak menuntut apa pun, dan keindahan yang apa adanya.


Yah, Ellea memang layak diperjuangkan.


_______


Di sudut lain kota Venesia. Seorang gadis terikat di kaki dan tangannya. mulutnya disumpal kain yang terlihat kotor karena debu. Ia tengah membuka ikatan tangannya dengan mengoreskan kain pengikat tangannya ke sebuah batu yang ia temukan tadi. Sekitarnya gelap, hanya cahaya bulan yang ada di jendela dengan jeruji besi yang juga ada di sekitarnya. Sendiri. Dalam kegelapan, dengan beberapa luka di beberapa bagian tubuhnya. Namun ia terus bergerak, ingin segera melepaskan diri dari tempat terkutuk ini. Piring makanan yang disiapkan untuknya tidak ia sentuh sedikitpun. Lagipula ia tidak kana bisa makan dengan kondisi terikat seperti sekarang. Ia berteriak. Hingga membangunkan seorang penjaga yang menguap karena baru saja bangun dari tidurnya.


Gadis itu ingin makan, dan pria tadi diminta untuk mendekatkan piring tadi. Ia membuka pintu dan mendorong piring itu mendekat. Tapi sekejap saja, tangannya yang sejak tadi terikat, kini terlepas. Ia menendang bagian tengah ************ pria itu, hingga ia tersungkur sambil mengerang kesakitan. kesempatan emas ini tak ia sia-siakan. Ia segera keluar mencari jalan keluar agar dirinya segera terbebas. KAkinya sedikit pincang, karena rasa akit di sebelah kakinya. Hingga ia menemukan sebuahh pintu yang tidak dijaga. Ia segera keluar. dengan langkah terseok, ia mengendap endap mencari jalan keluar lain, lalu ia terjatuh di sebuah tempat. Seorang wanita dengan berbagai acecoris mengulurakan tangan padanya. Ia menatap gadis itu terus dengan tatapan tak percaya. "You are his girlfriend, Demigod?"

__ADS_1


"Who? Demigod?"


__ADS_2