
Abraham Alexi Bonar. Adalah seorang duta besar Indonesia yang bertempat di Roma, Italia. Memiliki tubuh tinggi, besar, dengan logat suara khas Batak. Pria itu berumur 45 tahun memiliki istri dan seorang putri yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Bonar juga termasuk kalangan borjuis. Dia bukan dari keluarga konglomerat, tapi dari keluarga sederhana. Setelah lulus sarjana, lantas mengadu nasib di ibukota. Mulai masuk bekerja di pemerintahan, dan dengan segala kemampuannya Bonar mampu menjadi duta besar Indonesia untuk Italia. Ia memboyong istri dan anaknya tinggal di San Marco. Kehidupannya bahagia dan serba berkecukupan. Gajinya yang besar sebenarnya mampu mencukupi kehidupannya dan keluarganya di sana. Tapi sifat tamak yang ada di dalam dirinya, membuat ia sering melakukan penggelapan uang. Sehingga kekayaannya kini melonjak pesat. Istrinya menjadi kaum sosialita, pergi dan berkumpul dengan wanita-wanita berkelas. Bahkan sering mengadakan arisan yang tak tanggung-tanggung. Pemuda dengan umur di bawah mereka menjadi hadiah dalam arisan ini.
Anaknya juga terjebak pergaulan bebas. Menjadi anak gadis yang bengal, yang sering tidur dengan banyak teman pria, bahkan kerap melakukan pesta narkoba. Sementara Bonar hidup seenaknya. Sering pulang pagi dengan kondisi mabuk berat. Ia termasuk suami yang setia, hanya saja tidak tahan dengan godaan judi. Bonar termasuk beruntung perihal berjudi. Ia sering menang. Berbeda dengan istrinya yang justru sering berganti-ganti pria di luar sana, tanpa diketahui Bonar.
Malam itu, Bonar pulang dengan sempoyongan. Ia sedang kalah berjudi. Dan ini adalah hal yang sangat jarang terjadi. Karena kekalahan itu, maka ia memilih untuk mabuk sampai hampir pagi. Dalam perjalanan, ia mendapat panggilan telepon dari Nicholas. Mereka memang selalu menjadwalkan untuk acara khusus mereka, adventure game, yang akan digelar lusa. Nicholas merasa bangga karena sudah mendapatkan dua target buruan yang akan mereka gunakan untuk acara itu. Yah, Allea dan Ellea tentunya.
"Yah, aku belum mendapat korban untuk lusa. Nanti akan aku pikirkan," tegas Bonar sambil menyetir mobil menuju rumahnya.
"Jangan terlalu lama. Kau tidak ingin memburu lagi? Ayolah!" goda Nicholas.
"Diam kamu, Nic! Tenang saja. Nanti juga aku akan mendapatkan korban itu. Tunggu saja!"
"Yah, baiklah. Aku tunggu."
Telepon dimatikan. Hal itu membuat Bonar sedikit kesal. Ia melajukan mobilnya dengan cepat agar sampai rumah dengan segera. Sampai di sebuah rumah megah, Bonar segera masuk. Ia melempar kunci mobil ke seorang pria yang memang bekerja menjadi keamanan di rumahnya. Kebiasaannya memang selalu seperti ini. Sikapnya menunjukkan tidak sopanan pada orang yang dianggap tidak se-level dengannya. Sampai di dalam rumah, ada seorang gadis remaja yang menyambutnya. Bonar memincingkan mata, merasa asing dengan wajah di depannya. "Kau siapa?"
Belum sempat ia menjawab, seseorang keluar dari dalam dengan tergopoh-gopoh. Ia adalah asistent rumah tangga yang bekerja untuk keluarga Bonar. Mereka sengaja memperkerjakan orang pribumi.
"Maaf tuan. Ini Rindi anak saya."
'Kok bisa di sini?" tanya Bonar heran.
'Iya, dia kerja jadi pembantu di sekitar lingkungan ini. Besok dia baru pertama kali bekerja, Tuan. Saya sudah minta izin nyonya. Katanya Rindi boleh menginap semalam di sini."
Bonar diam, menatap anak perempuan itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Senyumnya menyeringai menyimpan sesuatu dalam pikirannya. "Y a sudah," kata Bonar, lalu berjalan ke lantai dua kamarnya. Ia mendapati kamarnya masih gelap, itu berarti istrinya belum pulang. Bonar mendengus kasar, namun saat hendak berjalan ke kamar mandi, ia melihat ada sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Itu adalah istrinya yang pulang di antar seorang pria. Mereka terlihat dekat dengan saling melakukan pelukan dan cium sebelum mereka berpisah. Bonar menarik nafas dalam-dalam. Memejamkan mata, untuk meredam emosinya. Ia memang sering memergoki istrinya diantar berbagai pria yang berbeda-beda. Bonar tau bagaimana kelakuan istrinya di luar sana. Hanya saja ia terus menutup mulut dan beranggapan tidak terjadi apa-apa. Ia tidak ingin image-nya sebagai duta besar turun hanya karena skandal sang istri. Walau dalam hati, ia ingin segera membunuh wanita itu dengan tangannya sendiri.
Pesan masuk dari dalam ponselnya. Kali ini dari Vabian, salah satu anggota kartel yang memiliki sebuah perusahaan terkenal di Omaho. Ia memberi kabar kalau ia sudah tiba di Italia. Karena acara pertemuan rutin mereka akan diselenggarakan di Italia. Nicholas pun kini sudah terbang ke Italia bersama dua sanderanya. [Tenang saja, aku sudah mendapatkan korban buruan untuk besok] kata Bonar, bangga. Ia teringat Rindi, anak dari pembantunya. Tentu ibu dan anak itu akan ia bawa serta. Rasanya ia ingin berganti asisten rumah tangga. Mungkin yang lebih muda, agar Bonar bisa membalas perbuatan istrinya.
___________
Ini adalah weekend. Hari libur yang paling mereka tunggu. Nicholas sudah sampai di sebuah Vila sebagai tempat biasa mereka menggelar pertemuan rutin. Ia juga sudah membawa dua sanderanya yang masih diikat dan ditutupi kepalanya. Mereka di masukkan ke sebuah ruangan bersama targer buruan yang lainnya. Sementara Nicholas duduk di teras Vila bersama Benzos dan Vabian. Mereka bertiga sedang menunggu Joanna dan Bonar datang.
"Kau sudah menghubungi Joanna?" tanya Nicholas pad amereka berdua.
"Ya, sudah."
"Apa katanya?"
__ADS_1
"Dia bilang akan datang terlambat, dan meminta kita memulai lebih dulu."
"Aneh, tidak biasanya dia tidak tepat waktu. Apalagi untuk acara kita, bukan?"
"Sepertinya hubungannya dengan Mathias sedang memburuk. Aku dengan istri Mathias mendatangi Joanna saat peresmian panti asuhannya yang baru!"
"Benar, kah? Apakah mereka bertengkar?"
"Oh ayolah, mereka bukan gadis SMU yang berebut pacar. "
"Tapi apa kalian tau kalau Adelia itu wanita yang berbahaya? "
"Istri Mathias? Ah itu tidak mungkin!"
"Entahlah, aku hanya pernah mendengar dari beberapa teman," ujar Nicholas. "Jika memang benar demikian, pasti Joanna sudah mati sekarang. Hahaha." Mereka bertiga tertawa lepas. Ini merupakan hari yang mereka tunggu-tunggu.
Di rumah Bonar. Ia baru terbangun saat suara alarm ponsel mengejutkannya. Kepalanya masih berdenyut karena terlalu banyak minum semalam. Ia melihat kalau di kasur sampingnya, sang istri tidak ada di sana. Pasti sudah pergi sejak pagi, gumamnya. Bonar berjalan keluar dari kamarnya. Ia menuju dapur karena perutnya terasa lapar. Matanya yang memang menggunakan kaca mata tebal kini ia biarkan terbebas dari cermin tebal itu. Ia memutuskan keluar kamar tanpa kaca mata. Ia kemudian teringat pada acara hari ini. Ini adalah saatnya ia bertemu dengan rekan-rekannya. Dan, kini tujuannya bukan lagi makanan. Tapi dua wanita yang ada di rumahnya. Rindi dan Mirna. Bonar mengucek matanya, ia masih menguap karena kurang tidur semalam. Dari arah dapur Bonar mendengar suara berisik. Ia yakin kalau Rindi dan Mirna pasti sedang memasak di dapur. Ini adalah kesempatannya untuk membawa dua wanita itu pergi dari rumah dan menemui rekan-rekannya.
Bonar mengambil tas plastik. Ia mendekat ke dapur, di sana ada seorang wanita yang terlihat samar di matanya. Tapi ia yakin kalau itu adalah Mirna, pembantunya. Bonar berjalan dengan perlahan dan mengendap-endap mendekat ke targetnya. Saat wanita itu lengah, Bonar memasukkan kepala Mirna ke dalam kantung plastik yang ia bawa. Mulutnya ia bekap hingga tidak mampu lagi berteriak atau bahkan bernafas. Bonar memegangnya kuat-kuat. Hingga perlahan tubuh wanita dalam dekapannya melemas. "Wanita kurang ajar. Bisa-bisanya dia memakai parfum istriku!" umpat Bonar.
Bonar lantas menyeret wanita itu keluar rumah masuk ke bagasi mobilnya. Satu pekerjaannya selesai, tinggal satu pekerjaan lagi. Rindi, anak dari Mirna yang tadi sedang ada di kamar mandi. Bonar mengambil kantung plastik lain. Pandangannya masih buram, tapi ia mampu melihat dengan jelas seorang gadis yang sedang memasak di dapurnya. Bonar mendekatinya perlahan, lalu saat sudah dekat, ia lantas memasukkan kepala Rindi ke dalam kantung plastik itu. Sama seperti apa yang dilakukannya ke sang ibunda, Bonar membuat dua ibu dan anaknya itu pingsan sebentar karena kehabisan udara.
"Adelia ... istri Mathias?"
"Iya Adelia yang mana lagi, bodoh!" umpat Nicholas.
Keempat buruan itu kini sudah ada di halaman depan. Mereka dibiarkan tanpa alas kaki. Mulut mereka disumpal kain sehingga tidak bisa lagi berkata atau berteriak. Kedua tangannya juga diikat. Kepala mereka ditutup kain hitam. "Baiklah, ayo bertaruh. Siapa yang berburu paling banyak kali ini!" tantang Bonar. Ia sudah menyiapkan senjata api kebanggaannya. Dan siap berburu.
"Siapa takut!" sahut Vabian.
Austin yang memandang kegiatan ini dari jauh, hanya memandang aneh pada keempat korban di sana. Ia merasa aneh dan merasa ada yang tidak beres pada acara kali ini.
"Kami akan berikan kalian kesempatan pergi. Dalam hitungan 1 sampai 5. Silakan pergi sejauh mungkin!" teriak Nicholas sebagai pemimpin acara. Mereka berempat yang awalnya ragu untuk pergi, lantas panik saat Bonar melepaskan tembakan ke arah langit. Empat wanita itu berlari. Sekali pun mata mereka ditutup kain, tapi sedikit demi sedikit mereka mampu melihat ke arah jalan. Tapi tidak untuk satu wanita dengan gaun hitam renda yang terlihat anggun di depan mereka.
"Hey, kenapa diam saja?! Kau mau mati di sini?!" teriak Nicholas. Wanita itu justru hendak membuka penutup kepalanya dengan mendekat ke 4 orang di belakangnya. Ini hal yang aneh. "Hei, kalian kejar saja yang lainnya, biar perempuan ini bagianku!" kata Benzos.
Saat semua orang sudah pergi berburu, Benzos mendekat dan meletakkan ujung senapan pada pelipis wanita di depannya. Wanita itu menggeleng cepat, seolah tau kalau sebentar lagi nyawanya akan melayang. Benzos merasa aneh dengan keadaan ini. Ia hendak melepas penutup kepala wanita itu. Tapi suara letusan senjata pertama terdengar. Diikuti suara jeritan seorang wanita. Benzos tersenyum. Saat ia hendak membuka penutup kepala itu, Benzos melihat titik merah perlahan naik ke kepala wanita di depannya. Benzos panik. Ia melihat ke sekitar. Hal itu membuat Austin heran lalu mendekatinya. "Ada apa, Tuan?" tanya Austin.
__ADS_1
"Penembak runduk!" terka Benzos. Belum sempat mereka berdua menghindar, suara ledakan terdengar dan sontak wanita di depannya ini tersungkur dengan darah yang mengalir di pelipis kepalanya. "Sembunyi!" suruh Austin, berusaha melindungi Benzos. Mereka waspada pada semua pergerakan aneh di sekitar.
"Di mana dia?" tanya Benzos, liar mencari keberadaan penembak yang sudah membunuh buruannya.
"Sepertinya dari atas pohon sana, Tuan!" tunjuk Austin yakin. Ia memang melihat kilauan sahaya dari arah itu sebelum wanita itu tertembak. "Tapi ia sudah pergi!" kata Austin lagi.
"Ah sial. Buruanku malah mati duluan!" cetus Vabian. Austin tidak berekasi apa pun, ia justru mendekat ke mayat wanita itu. Ia penasaran siapa yang sudah tewas di depannya ini. Saat penutup kepalanya dibuka, betapa terkejutnya mereka berdua setelah melihat Joanna yang tewas di sana.
"Jo!" jerit Vabian sambil mengangkat tubuh wanita itu. "Kenapa kau di sini, Jo!" jeritnya lagi. Austin mulai curiga kalau wanita lain pasti bukan korban yang sebenarnya.
Dor!
Dor!
Dua letusan tembakan terdengar nyaring dari tempat mereka berdiri. Dan tak lama suara jeritan Bonar terdengar melengking. Ia menjerit meneriakkan nama istri dan putrinya. Dua wanita yang ia bawa tadi memang bukan Rindi dan Mirna, melainkan istri dan putri kandungnya sendiri. Dan dua wanita itu terbunuh oleh tangan Bonar sendiri. Sungguh ironis. Tapi jauh dalam lubuk hatinya yang terdalam, Bonar senang karena menyingkirkan dua wanita pembuat onar dalam hidupnya.
Ponsel Vabian bergetar, dan menampilkan nama Nicholas di sana.
"Kenapa?" tanya Vabian sambil berdiri dan mencari sosok Nicholas di antara rerumputan yang rimbun di dalam hutan sana.
"Aku minta maaf."
'Apa maksudmu?!"
"Wanita yang kuburu adalah Natalie, kekasihmu!"
Tubuh Benzos melemah. Ia baru sadar kalau mereka sekarang sedang dijebak. Target yang seharusnya mereka buru telah ditukar oleh orang-orang terdekat mereka dan orang yang mereka sayangi. Ia menjerit, frustasi. "Kuhabisi kalian!" teriakkannya menggema di sepanjang utan belantara ini.
Sementara di suatu titik sudut, beberapa orang itu merayakan kemenangan mereka. Abimanyu, Vin, Elang. telah berhasil membawa kabur Ellea dan Allea.
"Gi! Ayok balik!" suruh Elang yang berbicara dengan microfon di telinganya.
"Oke, siap! Kita pulang!" kata Gio di seberang sana. Ia memandu jalan agar mereka semua tidak tersesat dan pulang dengan selamat. Ellea kini sudah berada di pelukan Abimanyu. Ia memakai jaket Abimanyu karena pakaiannya yang cukup mengenaskan. "Kita pulang, ya?"
Sementara Vin kini juga menenangkan Allea. Pemuda itu terus memegang tangan Gadis itu. Tubuh Allea yang bergetar, membuat Vin segera memeluknya. Entah karena kedinginan atau ketakutan. Yang pasti keduanya kini selamat.
"Om, kenapa kita nggak bunuh saja mereka langsung?" tanya Vin pada Elang yang fokus menyetir.
__ADS_1
"Belum saatnya."