pancasona

pancasona
40. kisah sumur tua


__ADS_3

"Oh, jadi kalian, ya? Anak kuliah yang tersesat dah sempat hilang berhari-hari di sini?"


"Jadi bapak juga tahu tentang berita itu?" tanya Diah penasaran.


"Ya jelas tahu, Mba. Karena semua hal yang terjadi di sini, pasti akan segera sampai di telinga kami. Warga desa terdekat. Kalian justru bisa ditemukan karena bantuan dari salah satu tetua desa kami. Oh, ya, perkenalkan nama Saya, Wiryo."


"Oh, Pak Wiryo. Kami dari jakarta, nama saya Leni, ini Rea, Diah, Ita, Apri, Hana, Hani kembaran nya, lalu Dana, Blendoz."


Wiryo hanya menatap mereka satu persatu sambil mengangguk angguk.


"Maksud Bapak. tetua desa? Yang benar? Kami malah tidak pernah mendengar hal itu sebelumnya. Kami pikir tim penyelamat yang telah berhasil menemukan kami kemarin," ujar Ita yang ikut dalam diskusi tersebut.


Mendengar tentang tetua desa yang disebutkan tadi, memang membuat mereka menjadi tertarik untuk mengetahui cerita lengkapnya.


"Yah, itu benar. Jadi sehari setelah kalian dinyatakan hilang, salah satu teman kalian datang ke desa kami dan memberitahukan kalau ada anggota kalian yang hilang di hutan. Padahal semua tempat sudah disusuri, tapi kalian tidak juga bisa ditemukan. Akhirnya tetua desa kami pun turun tangan, dan membantu untuk membuka portal gaib yang telah menutupi jalan ke tempat kalian berada."


"Portal gaib?"


"Iya, di hutan ini ada portal gaib yang memang kerap membuat orang orang seperti kalian tersesat.


Sudah banyak kasus orang hilang di tempat ini. Kalian beruntung. Karena kalian berhasil diselamatkan. Banyak orang lain yang tidak ditemukan lagi sampai sekarang.


"Wah, itu menyeramkan sekali. Memangnya kenapa bisa seperti itu, Pak? Maksudnya jika kami semua terjebak dalam portal gaib, apakah alasannya?"


Pria paruh baya itu menarik nafas panjang. Dia terlihat menatap ke atas, sambil mencoba mengingat sesuatu yang memang sebuah kejadian yang tidak mudah untuk dilupakan. "Kejadian ini sudah lama sekali. Saat itu saya ingat kalau umur saya masih delapan tahun. Karena saya baru saja ulang tahun kala itu. Desa kami memang memiliki sebuah tradisi yang sudah ada sejak nenek moyang."


Semua orang kini duduk, diam, menyimak apa yang sedang dikatakan oleh pria tersebut. Dia lantas menceritakan mengenai kejadian yang pernah terjadi di desanya dulu saat dia masih kecil. 


Flashback


Desa Tabuk Hulu, merupakan salah satu pedesaan di daerah pelosok Kalimantan. Sebuah Desa yang tidak terlalu luas, namun memiliki pemandangan alam yang indah. Topografi tempat ini masih di dominasi oleh hutan pinus, dan damar. Ada juga aliran sungai yang menjadi salah satu sumber pengairan di desa tersebut. Bahkan beberapa penduduk masih kerap menjadikan sungai sebagai tempat mandi, dan mencuci pakaian. Untungnya dengan perkembangan kehidupan yang sudah maju, mereka tidak lagi menjadikan sungai sebagai sarana tempat buang air besar. Karena setiap rumah sudah memiliki fasilitas toilet atau WC pribadi. Atau jika ada warga yang belum memiliki kamar mandi sendiri, maka mereka akan memakai fasilitas kolam ikan milik warga yang di atasnya digunakan untuk buang hajat. Di beberapa sudut desa banyak tersebar kolam ikan, dan memang salah satu sumber mata pencaharian mereka adalah berternak ikan, selain bertani.


Kebanyakan rumah-rumah di desa ini masih terbilang semi permanen, yakni terbuat dari kayu dan bambu. Jarang ditemukan bangunan yang terbuat dari tembok utuh seperti yang biasa ditemui di perkotaan. Tetapi bukan nya tidak ada rumah yang sudah memakai dinding tembok, karena ada beberapa keluarga yang memiliki rumah permanen dengan lantai yang sudah di keramik. Itu pun karena anak-anak mereka merantau ke kota besar, bahkan tak jarang ke negeri seberang.


Jalanan belum di aspal. Lampu jalan pun berderet rapi di tiap sudut desa, dan biasanya memakai bohlam yang nyala terangnya berwarna kuning. Redup, tapi setidaknya ini lebih baik dari pada tidak ada penerangan sama sekali. Seperti beberapa puluh tahun yang lalu. Bahkan sebelum ada lampu jalan, warga desa memakai obor sebagai sumber cahaya tiap malam.


Pukul 19.00 jalanan desa sudah cukup sunyi, walau masih ada kegiatan warga yang membuat desa ini terasa hidup. Hanya saja sebagian besar penduduk, lebih suka berdiam diri di rumah saat malam tiba. Mereka lelah, karena aktifitas yang telah dilakukan selama satu hari penuh. Di ladang, sawah, mengurus ternak juga kolam ikan. Kebanyakan penduduk lebih suka menjual hasil ladang dan ternak untuk mendapatkan uang.


Tanah yang subur membuat desa ini memiliki stok sayur mayur serta buah-buahan melimpah. Aroma bekas kayu bakar yang biasanya dipakai memasak di tungku, mulai tercium khas. Lasmi baru saja pulang dari pengajian yang setiap tiga kali dalam satu minggu diadakan. Dia seorang anak gadis yang baru berumur 8 tahun. Orang tuanya memiliki ladang sayuran yang membuatnya harus mandiri bahkan hal yang mengharuskannya pergi ke mana - mana seorang diri. Untungnya Lasmi termasuk anak pemberani yang selalu berangkat dan pulang mengaji sendirian. Awalnya dia bersama teman temannya berangkat dan pulang sendirian. Tapi sayangnya rumah Lasmi berada agak jauh dari rumah teman temannya yang lain, dan kini dia berjalan seorang diri.


Suara jangkrik dan hewan malam terdengar mengiringi langkahnya. Lasmi masih berjalan dengan santai dan riang, sambil mengumandangkan sholawatan yang baru saja ia pelajari di Mushola tadi. Tangannya menjulur ke tanaman hias yang menjadi pagar dari rumah - rumah warga di sekitarnya. Ada beberapa bunga yang tumbuh di pinggir jalan dan terlihat cantik pada malam hari, apalagi bunga Wijaya kusuma memang akan tumbuh di malam hari.


Langkah kaki Lasmi terdengar menggema di sepanjang jalan, hanya dia seorang yang sedang berada di jalur selatan desa tersebut. Hal itu membuat seorang Ibu paruh baya yang baru saja hendak naik ke ranjangnya, mengintip dari jendela kamar. Ia kembali menutup jendela dan melanjutkan niatannya untuk tidur. Kini Lasmi kembali seorang diri, perjalanan ke rumahnya tinggal sebentar lagi. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti karena melihat sebuah penampakan yang tidak biasa di ujung jalan di depannya. Lebih tepatnya di depan rumah kosong milik seseorang yang sudah lama tiada.


Lasmi langsung berhenti, dia melotot sambil terus menggenggam erat buku Iqra yang ada di tangan nya. Kini ia justru berpikir untuk mundur dan kembali ke mushola tadi, saat sosok di depan sana mulai bergerak maju, namun hanya tubuhnya yang maju ke depan 45 derajat, kakinya seolah terpaku di tempat. Tapi melihat hal itu malah membuat Lasmi panik. Dia menjerit sambil berteriak menyebut pocong pada sosok yang ia lihat di depan.

__ADS_1


Pocong adalah sejenis hantu yang berwujud guling. Di Malaysia, hantu semacam ini dikenal pula sebagai hantu bungkus. Pocong juga dikenal sebagai hantu kafan. Pocong adalah hantu yang konon merupakan arwah orang mati yang terperangkap dalam kafan mereka.


Menurut mitos yang beredar, jiwa orang yang sudah meninggal akan tinggal di bumi selama 40 hari setelah kematian. Jika ikatan kain kafan tidak dilepaskan setelah 40 hari, tubuh dikatakan melompat keluar dari kubur untuk memperingatkan orang-orang bahwa jiwa mereka perlu dilepaskan. Setelah ikatan dilepaskan, jiwa akan benar-benar meninggalkan Bumi. Sosok yang dikenal dengan nama pocong itu memang memiliki ciri khas yang sudah dikenal di masyarakat pada umumnya.


Wujud pocong memiliki wajah gosong dengan mata merah menyala. Versi lain menyatakan, pocong berwajah "rata" dan memiliki lubang mata berongga atau tertutup kapas dengan wajah putih pucat. Mereka yang percaya akan adanya hantu ini beranggapan, pocong merupakan bentuk "protes" dari si mati yang terlupa dibuka ikatan kafannya sebelum kuburnya ditutup. Meskipun di film-film pocong sering digambarkan bergerak melompat-lompat, mitos tentang pocong malah menyatakan pocong bergerak melayang-layang. Hal ini bisa dimaklumi, sebab di film-film pemeran pocong tidak bisa menggerakkan kakinya sehingga berjalannya harus melompat-lompat. Keadaan ini pula yang menimbulkan suatu pernyataan yang biasa dipakai untuk membedakan pocong asli dan pocong palsu di masyarakat:


Kepercayaan akan adanya hantu pocong hanya berkembang di Indonesia, terutama di Jawa dan Sumatra. Walaupun penggambarannya mengikuti tradisi muslim, umat beragama lain pun ternyata dapat mengakui eksistensi hantu ini.


Di berbagai daerah di Indonesia sendiri ada beberapa versi pocong yang terbentuk dari kepercayaan-kepercayaan dalam kehidupan sosial masyarakat. Salah satunya adalah yang pocong plastik[1] yang konon pernah menggegerkan warga Jakarta. Cerita tentang pocong plastik ini muncul dari kisah seorang wanita hamil yang dibunuh pacarnya. Ketika sedang diotopsi dirumah sakit, mayat wanita itu terus mengucurkan darah, sehingga pihak rumah sakit memutuskan untuk membungkusnya dengan plastik. Warga percaya bahwa kemunculan pocong ini karena arwah dari wanita itu ingin dibukakan ikatan plastik pada jasadnya.


Lain cerita di daerah Sidoarjo, Jawa Timur. Ada versi penggambaran pocong dengan menaiki delman. Penduduk Sidoarjo menyebutnya sebagai "andong pocong". Kisah yang disebut-sebut dengan cerita misteri hantu pocong andong ini sempat menggegerkan warga daerah Sidoarjo pada tahun 2007 - 2008. Hantu pocong ini telah menghantui warga Sidoarjo hampir setiap malam dengan suara khas gemerincing delman dan suara ketukan pintu dimalam hari. Menurut warga setempat, asal usul hantu pocong ini adalah karena kematian dua pengantin baru yang tidak direstui dan mengalami kecelakaan saat menaiki delman. Ada pula yang mempercayai bahwa hantu ini merupakan perwujudan ilmu gaib. Lalu pocong apa dan siapa yang Lasmi temui?


Lasmi berteriak histeris, ia jatuh dan duduk di tanah begitu saja. Masih setia menggenggam buku Iqra dengan harapan bisa menangkal makhluk itu menjauh dan pergi dari hadapannya.


Makhluk itu bergerak sangat cepat, dengan zig zag dan tak tentu arah. Sehingga Lasmi tidak bisa memprediksikan ke arah mana makhluk itu berada selanjutnya. Dia terkejut saat sosok pocong sudah berdiri tepat di hadapannya. Tubuh berbalut kain kafan itu terlihat sangat tinggi dari jarak sedekat ini. Lasmi melongo dengan tubuh bergetar. Dari jarak sedekat itu, anak kecil yang masih polos tersebut, dapat melihat wajah mengerikan yang hanya ia lihat di TV selama ini. Wajah hitam yang ada di depannya, membuat kedua bola mata Lasmi melotot, ia terkejut bercampur takut. Apalagi kulit wajahnya tidak hanya hitam legam, karena ternyata keriput seperti bekas luka bakar yang belum sepenuhnya kering. Kedua bola mata sosok di depannya, berlubang. Tidak ada bola mata apa pun di dalamnya. Hanya memberikan sensasi kosong dan gelap. Saking gelapnya, Lasmi bahkan tidak bisa melihat isi kepala makhluk itu yang seharusnya bisa dilihatnya dari luar.


Makhluk itu terus mendekatkan wajahnya. Memunculkan bau busuk yang menyengat. Lasmi bahkan sampai batuk karena menahan bau busuk dari wajahnya itu. Perlahan sosok yang kini wajahnya sudah berada hanya beberapa sentimeter dari nya, mulai menyeringai. Membuat ekspresi mengerikan bagi Lasmi, hingga tangisnya mulai pecah begitu saja. Suara Lasmi teredam oleh keadaan. Lingkungan di sekitarnya yang memang sepi, membuat anak perempuan tersebut tidak bisa berbuat apa pun. Anehnya lagi suaranya seperti tercekat. Dia berusaha menjerit sekuat tenaga, tapi tidak ada suara apa pun yang keluar dari mulutnya.


Hingga akhirnya Lasmi yang tidak kuat menahan ketakutan jatuh pingsan tak sadarkan diri di tanah yang untungnya tidak basah atau becek. Puas melihat korbannya tak berdaya, sosok tersebut menegakkan tubuhnya. Hendak mencari target selanjutnya yang ingin dia teror juga. Setidaknya dia harus memilih target yang usianya lebih tua, bukan anak kecil seperti Lasmi. Karena yang muncul hanya seorang anak kecil, maka dia memulai aksinya dengan bermain bersama anak tersebut.


Tukin, seorang pemuda berumur 25 tahun, terperanjat begitu melihat sosok pocong berada di dekat halaman rumahnya. Dia yang baru saja pulang dari acara kenduri di desa sebelah, ikut tersentak kaget. Ia pun menjerit, meneriakkan sebutan sosok tersebut. "Pocong!"


Sosok yang sedang menjadi pusat perhatian Tukin, lalu menoleh, dan kembali menunjukkan ekspresi menakutkan seperti yang telah dilakukannya pada Lasmi. Kali ini, targetnya jauh lebih kuat dari anak gadis yang sudah terkapar di tanah dekat pagar halaman rumah Tukin.


Tukin kembali menjerit, dan berteriak hal yang sama. Satu kata penuh makna, dan membuat beberapa rumah di sekitarnya mulai berisik. Lampu lampu yang awalnya padam, mulai dinyalakan. Walau nyala terangnya redup, tapi mampu membuat kondisi di tiap ruangan sedikit terang. Beberapa jendela terbuka, pemilik rumah melongok keluar, dan ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi sebelum memutuskan keluar rumah. Mereka yang masih setengah sadar karena baru saja terlelap, lantas mengucek mata ingin memastikan penglihatan yang mulai kembali sepenuhnya.


Pak Karso mengikuti arah tangan Tukin, lalu sontak dia malah menutup jendela ruang tamu, dan beristigfar terus menerus. Lampu ia padamkan, dan membuat rumah itu gelap lagi seperti beberapa saat lalu.


Tukin yang panik karena merasa ditinggalkan begitu saja, lantas kembali menjerit dengan kata yang berbeda. "Tolong! Ada pocong! Tolong!" Tukin terus menjerit sambil tengak tengok ke sekitar.


Hal ini menimbulkan kehebohan lain, dan para tetangga yang ada di sekitar akhirnya muncul dari rumah masing masing. Mereka ikut terkejut dan panik. Lucunya sebagai makhluk halus, pocong yang muncul kali ini justru terlihat ingin eksis di depan warga desa. Saat ketahuan oleh banyak orang pun, dia tetap berdiri di tempatnya seperti ingin disaksikan lebih lama oleh mereka.


Warga pun mulai heboh, mereka sibuk berdiskusi dan bertanya tanya, tentang makhluk itu. Sampai akhirnya mereka mulai mengambil garam kasar dari dapur. Beberapa orang mengatakan jika bahan dapur yang satu itu memang dipercaya dapat mengusir makhluk halus yang ada di sekitar kita.


Garam kasar menjadi salah satu bahan yang tak disukai hantu. Beberapa orang mengatakan makhluk halus tak akan bisa mengejar jika orang menaburkan garam kasar.


Garam kasar berbeda dengan garam dapur karena bentuknya berbulir besar dan mirip kristal. Garam ini banyak dijual di pasar tradisional.


Selain ditaburkan, garam kasar juga bisa dibakar untuk mengusir hantu. Letupan garam yang terbakar, kabarnya akan membuat mata hantu menjadi perih. Belum juga pergi dari hadapan mereka, kini warga mencoba cara lain.


Tapi tiba tiba sosok tersebut melayang ke udara, dan melesat cepat hingga membuat warga terperanjat dan menganga. Mereka masih berisik dan membahas bagaimana takutnya perasaan mereka melihat penampakan pocong yang baru pertama kali terjadi desa tersebut. Sampai akhirnya Tukin melihat Lasmi yang masih tergeletak begitu saja, tak mendapat perhatian dari warga lain.


"Hey, itu ada anak kecil! Tolong!" kata Tukin lalu berlari ke arah Lasmi dan mengangkat tubuh mungil itu.


Warga berbondong bondong datang, dan melihat anak siapa yang telah diganggu makhluk tadi. Karena mereka merasa anak anak mereka berada di rumah dan sedang tidur.

__ADS_1


"Walah! Ini sih anaknya Nardi!" pekik salah satu warga.


"Nardinya Tuti? Oalah, kasihan sekali anak ini!"


"Cepat! Bawa anak ini pulang ke rumahnya!"


Tukin membopong tubuh Lasmi yang lemah itu dan berlari kecil agar lekas sampai ke rumah Nardi.


Sebagian warga ikut mengantar Lasmi pulang, sebagian lainnya justru tetap berada di sana, dan membahas sosok yang meresahkan mereka tadi.


"Kok wajahnya nggak asing, ya? Kalian lihat tidak tadi?" tanya Wirya, pada teman sejawatnya yang masih bergerombol di dekat sosok tadi berdiri. Tempat itu memang meninggalkan jejak gosong di bagian bawahnya.


"Iya. Mirip siapa, ya?"


"Tunggu! Bukannya itu mirip sama ... Sama ...." Rasno melirik ke sebuah rumah yang terletak di ujung. Rumah kosong itu sudah 20 tahun tidak ditempati dan hanya meninggalkan puing puing bekas dibakar. Di depan halaman rumah itu juga dipasang palang bambu yang membuat orang akan sulit masuk ke dalam halaman rumah tersebut.


Mereka ikut menoleh, dan seketika mata mereka melotot. Seolah sependapat dengan kata kata Rasno tadi.


"Bener juga, ya! Kenapa wajahnya mirip Karta? Sukarta?!"


Sukarta. Pria yang dikenal sebagai dukun, sekaligus penjahat yang kerap membuat resah desa, diarak oleh warga karena kejahatannya. Dia di pasung, selama 2 minggu, lalu diikat di pasak kayu yang tinggi agar tubuhnya tidak menginjak tanah, dan di bakar hidup-hidup agar tidak bisa hidup lagi. Dia memiliki ilmu yg cukup hebat. Rawarontek. Karta kembali bangkit dan meneror warga untuk balas dendam.


"Jadi begitulah ceritanya. Desa kami diteror oleh pocong dari dukun yang bernama Sukarta. Lalu setelah beberapa bulan berlalu, datang seseorang. Kita bisa sebut dia seperti kyai atau ustaz. Kyai ini berasal dari tempat yang cukup jauh, yang tiba tiba datang ke desa kami karena panggilan hati kalau menurut saya."


"Maksud bapak panggilan hati, apa, ya?" tanya Diah bingung.


"Maksud saya, dia seolah tahu, kalau ada teror yang ada di desa kami. Nama Kyai itu adalah Noor. Kami dulu memanggil beliau Kyai Noor. Penampilannya seperti orang biasa. Tidak memakai pakaian khas Kyai yang biasa kita lihat sekarang ini. Bahkan kalau misal orang yang tidak tahu siapa dia, tidak akan menyangka kalah beliau adalah Kyai."


Wiryo menarik nafas dalam-dalam. Dia mengambil rokok kretek dari saku kemeja lusuhnya. Lalu menyulut rokok itu hingga muncul asap tebal yang mengepul.


"Kyai Noor tinggal di desa kami dan akhirnya teror pocong Karta berakhir. Kyai Noor menangkap Karta lalu membawanya ke hutan ini. Mungkin kalian pernah melihat sumur tua di tengah hutan, dan di situlah Karta di kuburkan."


"Jadi sumur itu ... Tempat di kuburkan nya Karta, pocong yang meneror desa? Tapi, Pak, kenapa harus dimasukkan ke dalam sumur?" tanya Dana penasaran.


"Jadi menurut cerita dari Kyai Noor, sumur itu adalah tempat yang mampu memenjarakan makhluk halus sekelas iblis sekalipun. Jadi Karta tidak akan pernah bisa keluar lagi. Hanya saja ... Ada hal aneh," ujar Wiryo.


"Hal aneh apa, Pak?"


"Desa kami ... Sedang ada teror pocong lagi."


"Hah! Loh, kok bisa, Pak! Katanya kalau masuk ke sumur itu, nggak akan bisa keluar! Bahkan sekelas iblis sekalipun?" tanya Hana terkejut. Teman temannya yang lain pun sama terkejutnya.


"Kata Kyai Noor dulu, jika sampai iblis yang di penjara di sumur itu bisa keluar, maka semua makhluk halus yang ada di sana pun juga akan pergi."


"Jadi ... Ada iblis di sumur tua itu?"

__ADS_1


"Yah, kalau saya tidak salah ingat, namanya Amon."


__ADS_2