
"Ayo, kita pergi sekarang!" ajak Dana.
Mereka berkemas dan segera bergegas meninggalkan tempat tersebut. Riri pun ikut serta pergi dari tempat tersebut. Selain sebagai penunjuk jalan karenanya dia yang paling hafal seluk beluk daerah tersebut, Riri juga akan ikut Mereka pergi ke kota. Tawaran dari Rea dan teman-temannya terdengar menyenangkan. Sekalipun dia pasti akan merindukan tanah kelahirannya, tapi masa depannya jauh lebih penting. Apalagi teror dari mayat hidup yang menghuni desanya kini lebih agresif dari sebelumnya.
Sebelum tragedi hari ini terjadi, semua yang dilakukan Riri sangat mulus. Keberadaannya di tengah-tengah mayat hidup tersebut tidak terdeteksi. Tapi setelah hari ini tentu saja keberadaan Riri sudah sangat membahayakan. Jika sampai Riri tidak ikut Mereka pergi meninggalkan tempat tersebut, bisa saja Riri akan menjadi korban selanjutnya. Mereka bergegas pergi. Pepohonan sekitar seolah olah sudah menyatu dengan diri Riri. Dia sangat hafal betul setiap tanaman di hutan tersebut. Hal itu memudahkan mereka untuk bisa pergi meninggalkan tempat terkutuk itu dengan cepat. Tidak ada lagi acara tersesat atau disesatkan. Hanya saja mereka mulai mendengar suara teriakan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari mereka. Sontak mereka semua menoleh. Rupanya rombongan warga desa yang kini menjadi mayat hidup, sudah mulai menyusul mereka.
Alhasil mereka makin mempercepat langkah. Beberapa dari mereka juga mulai panik. Terutama kaum hawa. Apri bahkan mulai menangis ketakutan sambil terus berlari. Riri yang berada di posisi paling depan, sesekali menoleh ke belakang. Sekalipun ini bukan pertama kalinya dia mendapat teror dari warga desa tersebut, tapi ketakutan Riri tidak pernah berubah. Bahkan kini bayangan masa lalu mulai terlintas di pikirannya.
Bayangan di saat kedua orang tuanya harus dia bunuh agar tidak terus-menerus menjadi seperti warga desa yang lain. Yah, Saat orang tuanya masih menjadi mayat hidup seperti warga desa yang lain, Riri masih kerap datang mengunjungi mereka secara diam-diam. Sekalipun saat siang hari mereka menjadi manusia seutuhnya, tapi Riri tidak pernah berani menampakan diri di hadapan mereka. Dia selalu menyelinap dan masuk ke dalam rumahnya untuk bisa melihat kedua orang tuanya. Riri hanya bisa mengintip dari Balik kamarnya. Setiap gerak-gerik orang tuanya hanya bisa dia pandangi dari kejauhan. Riri sangat rindu mereka. Dia bahkan sering menginap di rumahnya sendiri. Tapi tetap bersembunyi agar tidak diketahui keberadaannya. Hanya saja saat malam tiba, kedua orang tuanya berubah menjadi mengerikan. Selama beberapa hari berselang, Riri terus berada di rumahnya dan menyelinap pergi saat matahari hendak bergeser dari peraduannya.
Riri tidak tahan jika harus melihat kondisi orang tuanya yang berubah menjadi mengerikan. Dia pasti akan sedih dan menangis pada akhirnya. Sampai akhirnya suatu ketika, Riri sudah tidak tahan lagi menyaksikan orang tuanya berubah menjadi makhluk mengerikan. Dia pun memiliki rencana. Jalan satu-satunya hanya membunuh kedua orang tuanya lagi. Riri menganggap Jika dia terus-menerus membiarkan kedua orang tuanya menjadi makhluk yang demikian, maka sama saja Dia sedang menyiksa kedua orang tuanya. Riri ingin orang tuanya menjadi tenang dan beristirahat dalam damai. Maka dari itu dia berniat untuk membunuh kedua orang tuanya.
Sama seperti biasanya, warga desa akan melakukan aktivitas seperti biasa. Setiap pagi dan sore mereka akan bekerja. Entah berada di ladang ataupun membuat barang dan makanan untuk dijual. Semua memang tampak normal.
Hari itu Riri muncul di hadapan kedua orang tuanya yang sedang bekerja di ladang mereka. Kedua orang tuanya terlihat biasa saja. Mereka terkejut karena Riri tiba-tiba mendatangi mereka di kebun. Karena itu bukanlah kebiasaannya. Padahal mereka sudah lama tidak bertemu, kedua orang tuanya seakan-akan mempermasalahkan hal itu. Ingatan mereka memang kacau. Dan ini adalah satu-satunya kesempatan untuk memBunuh mereka. "Riri? Kenapa kamu di sini? Kamu nggak pergi ke sekolah?" tanya ibundanya yang kotor penuh Lumpur.
Mata Riri berkaca-kaca. Dia ragu untuk meneruskan rencananya, apalagi saat melihat tatapan mata ibunya yang teduh dan sama seperti ibu yang ia kenal dulu. Awalnya Riri berfikir untuk membiarkan saja semuanya terjadi. Dia bisa bertemu orang tuanya setiap hari. Dan saat malam hari dia bisa pergi dari desa dan kembali ke hutan untuk menghindari warga desa yang berubah menjadi mayat hidup.
__ADS_1
Riri sempat ragu dan ingin melakukan hal itu. Tanya saja bayangan Jaka langsung membuyarkan semua lamunannya. Sebuah kendali dari warga desa berada di tangan Jaka. Riri takut jika suatu saat nanti Jaka akan muncul secara tiba-tiba. Di saat Jaka muncul itulah, nyawa Riri akan hilang.
Maka dari itu Riri memutuskan untuk mengakhiri penderitaan orang tuanya. "Bu, ayo, pulang," ajak gadis kecil itu.
Wanita paruh baya tersebut pun menatap Riri heran. "Kamu kenapa? Sakit?"
Yah, Sepertinya sakit adalah ide yang bagus untuk membuat kedua orang tuanya menuruti permintaan Riri.
"Iya, Riri sakit. Kita pulang yuk. Bapak juga pulang," pinta Riri dengan sangat memelas.
" Hari ini saja libur ya. Riri pengen sama kalian berdua." Riri tampaknya tidak pantang menyerah untuk membuat kedua orang tuanya mengikuti kemauannya.
Setelah berpikir agak lama, akhirnya kedua orang tua Riri pun menuruti permintaan gadis tersebut. Mereka bertiga meninggalkan ladang begitu saja. Namun rupanya Riri tidak membawa mereka pulang ke desa.
"kita mau ke mana?" tanya sang ibu kebingungan.
" kita jalan-jalan dulu ya, Bu, Pak. Udah lama kita nggak jalan-jalan."
__ADS_1
Kedua orang tuanya pun tidak menaruh curiga sedikitpun. Bagi mereka momen yang tidak mereka habiskan bersama Riri beberapa hari yang lalu, tidak pernah ada. Mereka menganggap kalau selama ini mereka selalu bersama dengan Riri setiap saat. Otak mereka memang sudah kacau dan rusak. Semua karena kejadian yang telah membuat mereka tidak menjadi manusia seutuhnya.
Alhasil Riri berhasil membawa kedua orang tuanya ke sebuah bukit. Bukit tersebut memang terkenal Indah pemandangannya. Ada kawasan hutan liar di bawah mereka. Hanya saja jurang di bawah mereka itu kerap terdengar suara orang-orang yang meminta pertolongan. Menurut rumor yang beredar, jurang tersebut dulunya jadikan sebagai tempat untuk membuang mayat. Sehingga terdengar suara orang meminta tolong atau memanggil.
Angin berhembus cukup kencang di tempat tersebut. Riri mendekatkan ke jurang. Hal ini membuat kedua orangtuanya cemas dan ikut menyusul Putri semata wayang mereka
"jangan dekat dekat jurang, Nak. bahaya!"
"Aku baik-baik saja, Pak, Bu! kalian ke sini coba," ajak Riri sambil Melambaikan tangan ke orang tuanya.
Tanpa menaruh curiga sedikitpun, orang tua Riri pun mendekat. Mereka bertiga kini berdiri di bibir jurang. Riri menatap Ke depan dengan pemandangan yang sangat indah.
"Pak, Bu. Riri minta maaf. Kalau selama Riri menjadi anak bapak sama ibu, Riri belum bisa memberikan sesuatu yang berarti untuk kalian. Riri sangat rindu bapak dan ibu. Selama beberapa hari ini, Riri Senang bisa melihat Kalian terus. Tapi ... Hal itu tidak bisa bertahan lama. Riri Sudah tak sanggup lagi melihat kalian yang tiba-tiba berubah."Riri terus berjalan ke hadapan kedua orang tuanya. Posisi kedua wanita dan pria paruh baya itu, berada di pinggir jurang.
"Riri, sayang kalian. Maaf jika Riri melakukan hal ini."
tanpa berpikir panjang lagi Riri mendorong kedua orang tuanya untuk masuk ke dalam jurang
__ADS_1