
Gua di dalam laut. Sebuah tempat yang memang aneh tapi nyata. Di mana hal yang tidak mungkin, justru mungkin. Bahkan mereka juga tidak menyangka kalau menemukan tempat ini. Walau pada akhirnya, mereka juga bingung bagaimana keluar dari tempat ini. Untuk kembali menyelam dan naik ke permukaan itu membutuhkan oksigen yang cukup banyak. Sementara oksigen mereka sudah menipis. Tidak akan cukup untuk membawa mereka ke atas sana.
Gua ini tidak terlalu besar. Batuan kars atau biasa kita sebut batuan gamping yang membentuk gua ini, terasa lembab dan selalu basah. Padahal air laut hanya ada di bagian tengah yang tadi mereka lewati. Ada beberapa stalagtit yang terlihat menjulang dari atas turun ke bawah. Bentuknya terlihat cukup indah. Walau gua ini tidak besar, tapi cukup tinggi dengan beberapa stalagtit. Tak hanya stalagmit saja, ada stalagmit juga dan beberapa coloumn dan helectic.
"Baru pertama kali ini aku ke gua seperti ini," ujar Ellea menatap kagum ke atas dan sekitarnya. Abimanyu yang berdiri di sampingnya hanya diam sambil ikut menatap kagum ke sekitar mereka. Walau ini bukan pertama yang ia datangi, tapi ini gua pertama yang membuatnya berdecak kagum.
"Kenapa bisa ada gua di sini, ya?" tanya Abi yang tidak khusus ia tunjukan pada satu orang saja. Tetapi tentu pertanyaan itu memang yang ada di benak semua orang yang ada di tempat ini.
"Proses pembentukan gua itu nggak ada yang bisa prediksi kali, Bi. Namanya proses alamiah. Lagian ini gua yang terbentuk karena proses alam, bukan buatan manusia." Gio memang memiliki wawasan luas, bahkan hampir semua hal ia ketahui. Dan jika ada hal yang asing bagi dirinya, maka ia akan mencari penjelasan dan informasi yang tepat dan masuk akal.
"Memangnya ada gua buatan manusia?" tanya Nayla.
"Ya ada. Eh, tapi bukan gua sih istilahnya. Lebih disebut terowongan. Biasanya kan banyak itu di jaman penjajahan dulu, gua gua buatan manusia yang dipakai buat persembunyian."
"Dan pastinya gua buatan nggak ada itu semua," tunjuk Ellea ke stalagtit dan stalagmit yang sejak tadi membuatnya terpesona.
"Pertanyaannya, bagaimana kita mencari kunci itu. Rasanya nggak ada jalan keluar lagi dari tempat ini," tukas Arya menarik nafas dalam dalam.
"Dan kita nggak bisa keluar dari sini. Oksigen kita menipis," tegas Wira. "Coba kalau kekuatanku masih ada," runtuk Wira menahan amarah.
Arya lantas menepuk bahu sahabatnya itu, mencoba memberi ketenangan. "Aku yakin, kita bisa keluar dari tempat ini," kata Arya sambil melihat ke sekitar.
"Celah celah batu itu, mungkin mengarahkan kita ke suatu tempat. Kita telusuri saja semuanya," ajak Abimanyu.
Ide Abimanyu memang patut dicoba. Mereka mulai berpencar dan mencari ke setiap celah dan semua sudut gua. Beberapa celah memang cukup luas untuk dimasuki satu orang dewasa. Pakaian penyelam mereka, diletakkan begitu saja di atas batuan gamping. Sampai akhirnya salah satu dari mereka menjerit. "Celah ini sepertinya bisa kita lewati, mungkin ada jalan keluar di sana," tunjuk Nayla pada lubang sempit di depannya.
"Hei, di sini juga bisa aku lewati," kata Ellea berbinar.
"Bagaimana? Apa kita bagi kelompok lagi?" tanya Arya, meminta pendapat semua orang.
"Yah, mungkin kita harus bagi dua kelompok lagi. Tapi kalau sampai masuk ke celah itu dan kalian tidak menemukan apa pun, kembali!" kata Wira tegas. Semua orang mengangguk setuju. Mereka membagi dua kelompok dan mulai masuk ke dalam celah sempit itu.
Kubu Nayla tentu ada Arya, dan Wira. Sementara kubu Ellea ada Abi dan Gio. Celah tersebut sangat sempit, tapi untungnya tubuh mereka mampu melewatinya. Beberapa kali mereka merasakan tetesan air dari atas. Lorong yang mereka lewati juga licin karena terlalu sering dan juga lama terkena aliran air laut. Celah yang mereka masuki tidak hanya lurus ke dalam, tapi juga berkelok dan makin sempit. Terkadang saat masuk ke celah lain, ruangan setelahnya lenggang. Setidaknya tidak makin sempit tiap mereka masuk ke celah lain.
"Hei lihat ini!" tunjuk Nayla ke helectit yang berada di atas mereka. Ada sebuah benda yang terdapat di dalam helectit yang sangat familiar bagi mereka. Bentuknya sama seperti kunci yang sudah mereka temukan sebelumnya.
Di gua saat mereka masuk tadi, helectit memang tidak begitu banyak ada, tetapi rupanya makin ke dalam, justru banyak pesona keindahan yang diciptakan dari helectit. Ukuran helectit kecil dan tidak beraturan. Kadang-kadang bercabang dan melintir ke segala arah. Helectit terbentuk dari tetesan air yang mengalir melalui alur kecil sebagai akibat gaya kapiler. Pembentukan dekorasi itu menyalahi gaya gravitasi. Dan helectit yang ada di hadapan mereka berbentuk mirip batuan koral yang bercabang tak beraturan.
"Kita harus hancurkan helectitnya dulu, baru bisa ambil kuncinya!" ujar Wira bersemangat.
Arya mengikat telapak tangannya dengan kaus yang ia pakai. Dan terakhir dia meninjunya kuat kuat hingga serpihan helectit berhamburan jatuh ke bawah. Otomatis kunci yang ada di dalam helectit tadi ikut jatuh dan segera diambil oleh Nayla.
"Ye, aku dapat kuncinya!" seru Nayla dengan bersemangat. Ia lantas menjerit memberitahukan ke teman mereka yang ada di kelompok Ellea. Ia merasa kalau tindakannya akan cepat dan tepat agar teman temannya mendengar jeritannya.
Namun tiba tiba batu di sekitar mereka bergetar. Helectit yang lain kemudian berjatuhan. Mereka bertiga saling pandang. Arya menggandeng Nayla, dan berencana akan berbalik ke gua tadi. Tapi karena getaran itu kuat, pintu celah yang mereka lewati di belakang malah tertutup oleh runtuhan stalagtit di atas mereka. Sadar kalau keadaan tidak baik, Wira berteriak dan menyuruh dua orang itu berlari ke celah berikutnya. Mereka harus terus bergerak. Getaran tersebut lalu berhenti. Memang kejadian tadi hanya berlangsung sekitar 3 menit saja, namun berhasil membuat mereka hampir terkena serangan jantung.
Celah yang makin sempit membuat mereka bertiga kesulitan bergerak, sampai pada akhirnya mereka berhenti di sebuah lorong yang tertutup batu di depannya. Dan kini mereka bertiga terjebak di sana. Nayla duduk di bawah. Ia bahkan sudah tidak peduli lagi bajunya yang sudah basah, atau pun suhu tubuhnya yang terus turun. Sementara Wira dan Arya masih terus mencari jalan keluar lain di antara celah celah yang ada di sekitar mereka. Tinggi lorong ini kurang lebih 2 meter. Dan di sekitar mereka penuh dengan batuan, dan ada celah celah kecil.
"Apa kita akan mati?" tanya Nayla putus asa.
Kedua pria itu tentu menoleh ke arah gadis yang kini duduk terkulai lemas di bawah. Wira melirik ke Arya agar menenangkan kekasihnya itu. Arya lantas menempatkan diri duduk di samping Nayla, ia menarik tubuh Nayla ke samping agar mudah ia peluk. "Kita pasti akan dapat jalan keluar dari tempat ini. Kamu jangan khawatir, ya."
"Abi bagaimana, ya, di sana. Apa mereka baik baik saja?" tanya NAyla lagi. Hati kecilnya juga mengkhawatirkan keselamatan putra nya itu.
__ADS_1
Arya menggenggam tangan Nayla, "mereka pasti baik baik saja. Kamu tau kan gimana Abi?"
"Tapi kan kita nggak di atas tanah, Ya!"
"Hei, kalian dengar?" tanya Wira memotong obrolan keluarga itu. Mereka diam sambil berusaha menajamkan pendengaran masing masing.
Ada suara ketukan seperti langkah kaki yang terdengar dekat dengan mereka. Wira mencari di mana suara tersebut berasal.
"Kayaknya dari sini!" kata Arya yang kini sudah berdiri dan mendekatkan telinganya ke bebatuan di belakang mereka. Nayla yang seolah mendapat setitik harapan kembali bangkit. Mereka mengintip dari balik celah celah dinding.
"Hello!" jerit Nayla berharap agar suaranya di dengar.
"Eh itu ada bayangan!" tunjuk Wira semangat. Arya dan Nayla ikut Melongok dan mencari bayangan yang dimaksud.
"Tunggu! Yakin itu manusia?" tanya Nayla dengan sorot mata cemas.
"Jelas jelas ada bayangan tadi, Nay!" tegas Wira.
"Manusia atau makhluk bawah tanah, ya?" gumam Nayla berasumsi sendiri.
"Maksud kamu makhluk bawah tanah apa, Nay?" Arya menjadi penasaran.
"Ih, Arya! Kamu nggak tau kalau ada makhluk lain di bawah tanah yang mirip manusia, tapi ... Mereka juga makan manusia!" ujar Nayla.
"Kamu tu kebanyakan nonton film horor!" timpal Arya sambil mengelus pucuk kepala Nayla. Nayla lantas mengerucutkan bibirnya karena perkataannya tidak dihiraukan kedua pria tersebut.
"Tapi, Ya ...."
"Astaga!" jerit Arya saat kembali mengintip di lubang lainnya. Dia mundur dan menarik Nayla menjauh dari tembok batu.
"Itu!" tunjuk Arya ke lubang yang tadi ia intip. Ada sepasangan bola mata di balik dinding ini. Wira ikut melihat ke lubang tersebut dari kejauhan.
"Nayla!" panggil seorang pria di sana. Tentu hal ini membuat ketiga orang tersebut kebingungan.
"Kok dia bisa tau namaku?" gumam Nayla dengan pertanyaan yang wajar.
"Wira! Arya?! Kok kalian di situ?!" kembali pertanyaan dari manusia di balik tembok batu itu membuat mereka bertiga penasaran.
Arya mendekat selangkah sambil mencoba melihat pemilik sepasang bola mata itu. "Kamu siapa?"
"Ini aku! Dewa!" jelasnya lagi.
Nama ini sungguh familiar di telinga mereka. Nama salah satu sahabat seperjuangan mereka dulu.
"Yang bener?!" tanya Wira ikut mendekat.
"Iya, benar. Sekarang aku ini ikut kelompok pencinta alam. Dan sekarang memang lagi sering caving. Kalian sendiri ngapain di situ?" tanya Dewa.
"Wa, bisa nggak kamu mengeluarkan kami dari sini?"
"Tentu saja. Sebentar."
Beberapa bongkahan batu yang ada di antara Dewa dan mereka bertiga mulai dipindahkan. Lubang yang awalnya kecil, kini mulai terbuka lebar. Sampai akhirnya wajah Dewa benar benar jelas di mata mereka.
__ADS_1
Pertemuan yang tidak disengaja. Dan ini bagai reuni setelah sekian lama mereka tidak bertemu.
"Abi!" kata Nayla menunjuk ke belakang mereka.
"Masih ada lagi?" tanya Dea yang paham dengan isyarat sahabat istrinya itu. Nayla mengangguk. "Iya, ada Abi, Ellea dan Gio!"
"Gio juga di sini?!"
Nayla mengangguk semangat. Dewa menatap ke lorong di depannya. "Ya sudah kalian duluan naik ke atas. Biar aku yang cari mereka. Teman temanku ada di sekitar sini juga kok. Pasti mereka ketemu!" kata Dewa.
"Tunggu, Wa! Ke atas? Atas mana? Bukannya di sana laut?"
"Iya. Kalau kalian lewat jalur selatan itu, memang harus melewati laut, tapi kalau ke sini, kalian tinggal sebentar lagi kok ketemu permukaan."
Seseorang muncul dari celah lain dan memakai pakaian seperti Dewa. "Rik, tolong bawa teman temanku ke atas. Masih ada tiga orang lagi terjebak di sana," tunjuk Dewa ke arah celah yang tadi ia bongkar.
"Oke."
Tak membutuhkan waktu yang lama. Karena hanya beberapa belokan stalagtit, mereka kini sudah bisa menghirup udara segar di atas tanah. Dan anehnya, mereka tidak lagi ada di tengah laut. Atau blue hole yang tadi mereka datangi pertama kali.
"Memang semua gua di bawah saling terhubung. Mungkin kalian tadi lewat laut sana, ya?" tanya Riksan menunjuk ke tengah laut, di mana ada lingkaran besar dengan batu batu karang di sekitarnya. Mereka bertiga mengangguk pelan. Tatapan takjub dan heran masih mereka tunjukkan. Kini mereka justru ada di tepi pantai, dengan beberapa bongkahan batu karang besar di sekitarnya.
Dan rupanya karang itu, salah satu pintu untuk sampai ke gua yang ada di blue hole.
Satu persatu orang orang keluar dari gua karang. Dan ketiga orang yang radi ikut bersama perjalanan Nayla juga sudah selamat. Tentu ada Dewa juga di sana, dan beberapa orang teman teman Dewa.
Nayla memeluk ketiga orang itu dengan perasaan campur aduk. Rasanya lega, mengetahui mereka masih hidup. Setelah apa yang sudah mereka alami tadi.
"Hei, kalian ngapain sih di sana? Dan bukannya Arya sama Nayla ...."
"Kami hidup lagi. Ceritanya panjang, Wa," tutur Nayla.
"Oke, baiklah. Aku punya banyak waktu kebetulan."
"Rani di mana sekarang?" tanya Arya.
"Di rumah. Sekarang dia sibuk mengajar di taman kanak kanak. Sejak kami kehilangan anak kami, dia lebih fokus di sekolah. Dan aku ... Di sini," jelas Dewa dengan sorot mata pilu.
"Kami turut prihatin. Dulu kami juga dengar kabar Rani yang keguguran, dan anak kalian yang pertama meninggal. Tapi saat itu kami nggak bisa datang," jelas Nayla.
"Yah. Nggak apa apa, Nay. Santai aja. Eh jadi dia Abimanyu? Anak kalian?" tanya Dea menunjuk pemuda yang berada di belakang Arya.
"Banyak hal yang kamu nggak tau, Wa. Tapi jujur, aku rindu kamu," tukas Wira.
"Rindu apa nih? Rindu berkelahi jangan jangan," sindir Dewa sambil melebarkan senyumnya.
Mereka tertawa bersama. Nayla lantas mengeluarkan sebuah benda yang terasa dingin dari saku celananya. "Kunci nya sudah ketemu!"
Semua menoleh ke Nayla dan benda yang ia genggam.
"Kalian, ngapain nyari kunci itu?" tanya Dewa.
"Kamu tau tentang kunci ini?"
__ADS_1
"Yah, tentu. Karena Elang sejak 6 bulan lalu terus mengumpulkan kunci kunci dengan bentuk seperti ini," kata Dewa mengambil kunci di tangan Nayla
"Elang?!"