pancasona

pancasona
66. melakukan penyerangan


__ADS_3

Mereka masih belum bisa memilih diantara dua pilihan sulit itu. Antara Fauzan dan Apri tidak akan semudah itu mereka lepaskan. Sekalipun sikap Fauzan sudah sangat keterlaluan kepada mereka selama ini, tapi semua bisa diperbaiki.


" jadi Fauzan itu juga terkena pengaruh dari sesuatu yang jahat?" tanya Rea sambil menatap Raja.


"Yah, walau tidak sepenuhnya seperti itu. Maksud saya, Fauzan itu sudah memiliki dendam tersendiri kepada kalian. Entah karena alasan apa, dia sangat membenci kalian atau mungkin hanya salah satu atau beberapa dari kalian saja. Hal ini yang membuat iblis dengan mudahnya mempengaruhi Fauzan untuk melukai kalian. Dia memang tidak sedang kesurupan. Fauzan masih sadar dan tidak terpengaruh oleh roh jahat yang bersemayam di dalam tubuhnya. Tapi di pikirannya sudah terkontaminasi dengan kebencian dan juga dendam, sakit hati atau iri hati. pikiran buruk itulah yang membuat hatinya juga menjadi gelap. Sehingga dia sama sekali tidak bisa melihat sedikitpun kebaikan yang kalian punya. Yang ada di pikiran dan hatinya adalah rasa dendam dan ingin menuntut balas atas sakit hati yang telah Ia terima."


" lalu apa yang harus kami lakukan. Apa menurut kamu, Kami harus mengorbankan Fauzan saja, untuk bisa menyelamatkan Apri?" tanya Leni.


Raja diam, tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Baginya pertanyaan itu juga sangat sulit untuk dijawab.


" Saya tidak berani Memberikan komentar apapun. Mungkin sebaiknya kalian bahas dulu dengan teman-teman kalian yang lain. Siapa tahu mereka punya ide. Karena saya sendiri tidak berani memberikan pendapat. Ini menyangkut nyawa seseorang."


Perkataan Raja memang ada benarnya. Hal seperti ini tentu harus mereka bahas dengan teman-teman yang lain. Terutama dengan para pria, khususnya Dana.


" ya sudah. Sebaiknya kita kembali dulu ke rumah. Kita harus bahas ini sama yang lain. Aku sendiri juga nggak berani mengambil keputusan," sahut Rea.


"oke. Kita pulang dulu. Tapi ... Apa Apri bakal baik-baik aja?" tanya Diah menatap mereka semua yang ada di sekitarnya.


Telepon di tangannya berdering. Nama yang tertera di layar, menunjukkan kalau Apri yang menghubungi Diah. Diah menunjukkan ponselnya kepada mereka semua dan meminta pendapat.


" angkat saja," cetus Raja.


Rea, Leni, dan Ita juga mengangguk.


"Halo?" sahut Diah setelah menggeser tombol di layar ponselnya. Mode loud speaker dinyalakan, sehingga teman-temannya juga bisa mendengarkan percakapan tersebut.


" kalau kalian ingin berdiskusi dengan yang lain, silakan saja. Saya tidak akan melukai gadis ini. Tapi saya aja beri waktu satu jam saja. Jika dalam satu jam ke depan kalian tidak kembali membawa Fauzan, itu artinya gadis ini yang akan saya ambil!"


"Tapi kau harus janji ka ...."


Panggilan telepon diakhiri secara sepihak saat Diah ingin memberikan persyaratan lain. "Yah, dimatiin. Gimana dong ini. Nanti kalau Apri kenapa-napa gimana?" tanya Diah yang mulai cemas dan meragukan tentang keselamatan Apri.


"Tidak apa-apa. Saya yakin kalau iblis itu tidak akan ingkar janji. Jadi kita punya waktu satu jam dari sekarang. Sebaiknya kita bergegas kembali dan membahas masalah ini bersama yang lain."


Mereka pun lantas bergegas kembali ke rumah. Waktu yang diberikan tidak banyak, jadi mereka harus bergegas pulang dan kembali lagi ke hutan untuk membuat negosiasi lagi dengan sosok yang sedang merasuki tubuh Apri.


Ambulans sudah datang. Begitu mereka tiba di rumah, suasana sudah cukup ramai. Beberapa orang hilir mudik dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Orang-orang yang terluka mulai diobati dengan baik oleh petugas kesehatan yang datang.


"Loh kok kalian sudah balik? Gimana, ketemu nggak?" tanya Blendoz yang berada di teras rumah. Setelah diperban tangannya dia segera mengejar teman-temannya yang baru saja kembali.


"Ketemu. Tapi ribet!" bisik Diah.


"Hah? Ribet gimana?"


"Dana mana?" tanya Rea yang tidak menemukan keberadaan sosok pemimpin kelompok mereka.


"Ada kok. Lagi di belakang mungkin. Eh kenapa sih?" Blendoz yang merasa tidak sabar terus memberondong dengan banyak pertanyaan.


Begitu sampai di ruang tengah, Dana baru saja kembali dari arah dapur sambil memegang cangkir yang berisi teh hangat. Dia pun terkejut melihat teman-temannya sudah pulang dalam pencarian. "Loh, kalian udah pulang? Gimana? Udah ketemu belum?" Pertanyaannya sama seperti apa yang ditanyakan oleh Blendoz tadi. 


Tentu saja semua orang yang ada di ruangan itu bahkan yang ada di depan rumah penasaran dengan hasil yang didapatkan oleh mereka. Mereka semua pulang dengan wajah yang kebingungan dan tegang. Hal ini menunjukkan kalau belum ada kabar baik sejauh ini. Tapi melihat mereka yang terburu-buru masuk, membuat orang lain menjadi bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.


Pak Wiryo baru saja keluar dari sebuah kamar. Kamar tersebut adalah kamar yang didiami oleh Apri dan juga Ita.


"Bapak kenapa sudah jalan-jalan? Ke mana Radi?" tanya Raja sambil tengok-tengok sekitar dan ternyata tidak menemukan keberadaan adiknya.


" bapak baik-baik saja kok. Adikmu sedang pulang dulu untuk memberikan kabar kepada ibumu. Ibu pasti cemas di rumah menunggu kabar dari kita."


" Tapi sebaiknya Bapak jangan jalan-jalan dulu. Apa kata dokter? Apakah lukanya parah?" tanya Raja cemas. Dia lantas berjalan menghampiri ayahnya dan menuntun Pak Wiryo untuk kembali duduk di kursi meja ruang tamu.


" Bagaimana hasilnya? Gadis itu sedang kerasukan, bukan?" tanya Pak Wiryo dan membuat mereka semua terkejut.


" Bapak tahu dari mana?" tanya Diah.


" saya menemukan ada jejak-jejak makhluk jahat memasuki kamar teman kalian."


"Iya, Bapak benar. Kami sudah bertemu dengan gadis itu. Hanya saja ...." Raja tidak melanjutkan kalimatnya. Dia malah menoleh ke arah Rea yang sejak tadi diam tak bersuara.

__ADS_1


"Tadi kami sudah ketemu sama Apri," tukas Rea menatap teman temannya.


"Hah? serius! terus?" tanya Hani terkejut sekaligus penasaran.


" dia ada di hutan terlarang. Dan benar apa kata pak Wiryo, kalau Apri memang sedang kerasukan. Makhluk yang merasuki Apri memberikan pilihan sulit. Dia menyuruh kita untuk mengembalikan Fauzan dan menukarnya dengan Apri. Atau jika kita tidak menyetujui yang itu, maka dia akan mengambil Apri sebagai pengganti Fauzan. Kami bingung tidak tahu harus mengambil pilihan yang mana. Keduanya sama-sama berat. Walaupun Fauzan memang tidak kerasukan, tapi kita tidak mungkin meninggalkan dia di hutan terlarang bersama dengan makhluk-makhluk jadi itu kan? Kata Radja kita bisa saja menyelamatkan Fauzan karena belum terlambat untuk memperbaiki keadaan."


" dia minta persyaratan itu?" tanya Hana tampak tidak habis pikir.


" iya. Maka dari itu kami pulang dulu ke rumah untuk mendiskusikan hal ini sama kalian. Kami enggak bisa keputusan. Jadi gimana Menurut kalian, Apa yang harus kita lakukan? Dan Siapa yang harus kita pilih?"


Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Rea. Semua orang nampak diam seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat. Tentu saja mereka semua juga bingung untuk mengambil keputusan sulit ini. Sejahat apapun Fauzan, dia tetaplah manusia, dan dia adalah teman mereka.


"Ayo, kita harus segera memutuskan nya. Karena kita cuma dikasih waktu satu jam, dan ini sudah berjalan 30 menit," tutur Leni.


Mereka semua masih diam. Hanya saling menatap satu sama lain tanpa bersuara apapun. Tapi sekarang mereka belum bisa menentukan pilihan yang akan mereka ambil.


" bagaimana? Kalian Sudah menentukan pilihan?" tanya Pak Wiryo.


"Belum, pak. Jujur saja saya bingung apa yang harus kami lakukan sekarang. Kami terutama saya tidak bisa memilih salah satu dari mereka. Baik Fauzan maupun Apri sama-sama teman kami. Jadi kami tidak akan bisa meninggalkan salah satu dari mereka."


Pak Wiryo tampak memahami kondisi mereka. Dia mengangguk angguk seakan akan sudah mengerti apa yang mereka inginkan.


"Jadi kalian tidak bisa memilih siapa yang harus tinggal dan dikorbankan? Begitu?" tanya Pak Wiryo.


"Iya, Pak. Kami tidak bisa memilih siapa yang harus kami korbankan untuk makhluk keji hutan terlarang. Jadi apa yang harus kami lakukan?" tanya Dana.


"Ya sudah kalau begitu. Pertahankan teman teman kalian. Jangan biarkan makhluk itu mengambil teman teman kalian. Kalau perlu kalian harus melawan. Percayalah, derajat kita, manusia lebih tinggi daripada mereka."


"Lawan, Pak? Kami melawan mereka? Apakah bisa? Sementara kami dan mereka berbeda dunia. Kalau untuk menghadapi preman mungkin saya sanggup, tapi ... Mereka bahkan tidak bisa kami lihat. Bagaimana bisa kami melawan mereka?" tanya Hana.


"Doa. Kalian tidak percaya kekuatan doa?"


"Eum, bukan begitu, Pak. Tapi bagaimana caranya? Karena kami benar benar tidak paham mengenai hal hal gaib seperti ini. Bahkan seumur hidup saja, saya baru pernah bertemu keanehan seperti ini ya di sini," tambah Hani.


"Saya tanya dulu, apakah kalian mau melawan mereka?"


"Yang lain bagaimana? Kenapa hanya satu yang menjawab? Saya butuh semua orang turut andil dalam hal ini. Walau anak perempuan juga tetap bisa ikut melawan mereka." Pak Wiryo menatap para gadis yang sejak tadi bengong saja.


"Kami ... Kami juga pasti mau kok, Pak. Kami juga ikut," kata Rea mantap.


"Bagus. Jadi semuanya akan berjuang sama-sama demi terjaganya ikatan persahabatan kalian bukan?"


Mereka semua mengangguk yakin. " Baiklah kalau begitu. Jika kalian sudah yakin pada keputusan ini, maka malam ini juga kita akan lawan mereka," cetus Pak Wiryo.


"Tapi apa rencana yang akan kita lakukan nanti, pak? Kita harus merencanakan lebih dulu untuk melakukan penyerangan ke sana bukan?" tanya Dana.


"Yah, tentu saja. Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah berwudu. Siapapun yang beragama Islam silakan berwudhu lebih dahulu. Nanti kita berkumpul lagi di sini. Untuk warga yang lain. Apakah kalian juga ingin membantu?" tanya Pak Wiryo dengan menaikkan nada suaranya.


Orang-orang yang ada di sekitar mereka saling tengok ke teman yang ada di sampingnya. Mereka yang awalnya ragu untuk ikut dalam penyerangan ke hutan terlarang, akhirnya menyetujui dan bersedia untuk ikut bersama Pak Wiryo dan rombongan Dana.


Semua orang yang ada di tempat itu kebetulan beragama Islam. Jadi mereka semua berwudhu secara bergantian dan kembali berkumpul di ruang tengah. Setelah semuanya siap, Pak Wiryo mulai memberikan instruksi tentang langkah yang akan diambilnya nanti.


" lawan kita saat ini cukup tangguh. Tapi kalian tidak perlu takut. Karena ada Allah yang bersama kita. Yang perlu kita lakukan sekarang hanyalah berdoa, saat dalam perjalanan menuju ke hutan terlarang, maupun saat sudah sampai di tempat itu. Jangan pernah putus doa dan dzikir. Satu lagi. Kita harus membentuk Barisan dengan posisi setengah lingkaran. Namun saat sudah sampai di sana, kita harus membentuk lingkaran utuh dan membuat makhluk itu berada di tengah lingkaran. Setelah itu Raja akan maju untuk melawan makhluk tersebut. Bagaimana, Nak? Apakah kamu sanggup dan siap dengan tugas ini?"


" saya siap dan sanggup, Pak," sahut Raja tegas.


"Baguslah kalau begitu. Ya sudah ayo kita pergi ke sana sekarang juga."


Saat semua orang hendak pergi keluar rumah, Raja seolah olah teringat sesuatu dan berhenti berjalan lalu menoleh ke arah rumah tersebut.


"Kenapa?" tanya Dana yang berada tak jauh darinya.


"Fauzan ... apakah tidak apa-apa jika kita tinggalkan sendiri?" tanya Raja menatap Dana lalu menoleh ke arah ayahnya.


Namun belum sempat pertanyaan itu terjawab, Radi tiba-tiba muncul bersama 2 orang sahabatnya. Mereka bertiga sudah mengenakan peci dan juga membawa sarung. Kebiasaan anak muda di desa tersebut adalah mengaji di mushola sambil menunggu adzan subuh. Namun karena Kejadian ini mereka justru berlari menuju rumah homestay dan memeriksa perkembangannya.


"Nah, untung kamu datang!" tukas Pak Wiryo.

__ADS_1


" Eh, Memangnya kenapa Pak?" tanya Radi kebingungan. "Loh, Bapak sama Mas Raja mau pada ke mana?"


"Jadi gini, Di. Ceritanya panjang. Nanti Mas ceritakan setelah kami kembali. Tapi tugas kamu sekarang, adalah mengawasi Fauzan yang masih ada di kamar tengah. Jangan sampai dia keluar dari kamar Apapun Yang Terjadi. Kalian jangan lengah. Terus berdoa selagi Kami pergi. Paham?" tanya Raja.


"Paham, Mas. Baik, kami bertiga akan tetap ada di sini sambil menunggu kalian kembali."


" tapi kalian juga harus hati-hati. Jangan sampai terkecoh dengan apapun yang akan terjadi nanti. Kamu paham siapa yang kita hadapi sekarang bukan?"


"Radi paham, Mas."


"Bagus. Ya sudah. Kami pergi dulu. Jaga rumah baik-baik. Jangan putus dzikir dan doa!"


"Baik, Mas. Hati hati di jalan."


Rombongan pun berjalan menuju ke hutan terlarang. Sementara di rumah hanya tinggal Radi dan kedua temannya saja.


Perjalanan menuju ke hutan terlarang tidak terasa jauh dan melelahkan lagi. Padahal mereka semua hampir tidak tidur malam itu. Tapi seakan akan ada tenaga tambahan yang membuat mereka tidak merasakan lelah dan juga kantuk. Warga desa yang ikut dalam misi kali ini hampir berjumlah sekitar 10 orang. Mereka semua adalah orang-orang kepercayaan Pak Wiryo. Dan juga orang-orang yang kerap membantu dalam setiap kejadian yang ada di desa. Mereka semua juga terbiasa mengadakan pengajian bersama-sama. Pak Wiryo selain menjadi kepala desa, juga dianggap sebagai tetua desa, atau orang yang dituakan dan disegani di desa tersebut. Beliau juga sering membantu warga desa yang memiliki permasalahan spiritual. Bukan seperti seorang dukun yang ada di kota kota besar, mainkan pemuka agama, karena metode yang selalu dia pakai hanyalah bersumber dari Alquran.


Sepanjang jalan mereka tidak berhenti membaca doa dan berzikir. Suara mereka menggema ke penjuru tempat. Waktu yang diberikan oleh makhluk yang merasuki tubuh Apri hanya tersisa 10 menit saja. Kini mereka sudah mulai sampai, Dan makin dekat ke hutan terlarang. Telepon genggam Diah kembali berdering memecah kesunyian.


"Apri!" kata Diah sambil menunjukkan layar ponsel kepada semua orang di sekitar. Pak Wiryo mengangguk. Diah lantas menerima panggilan telepon itu.


"Ha-halo?"


" Kenapa kamu membawa semua orang itu ke sini?!" Suara Apri terdengar menggeram, dan bahkan menjadi lebih berat daripada sebelumnya.


"Berikan pada saya," pinta Pak Wiryo.


Benda pipih itu lantas diberikan ke Pak Wiryo. Mereka berhenti berjalan, dan ikut mendengarkan apa yang hendak dikatakan oleh makhluk jahat itu.


" Bukannya kamu sendiri yang meminta melakukan pertukaran?" tanya Pak Wiryo. .


"Hei ,Pak Tua! Kenapa kau selalu ikut campur? Aku tidak ingin diskusi denganmu. Syarat yang sudah aku ajukan hanya dua hal saja. Kalian hanya tinggal memilih salah satu diantara dua itu. Kenapa kalian justru membawa pasukan dan ingin mengeroyok?"


" Bagaimana bisa kau anggap ini mengeroyok? Bahkan apa yang kalian lakukan saya lebih keji daripada apa yang hendak kami lakukan!"


Pak Wiryo memberikan isyarat untuk melanjutkan perjalanan. Dia masih terhubung dengan sosok yang mendiami tubuh Apri.


"Diam kau, Pak Tua! seharusnya dulu kubunuh saja kau!"


"Heh! Sedikit saja Ayah ku terluka kau dan kau akan ku binasakan, hingga tidak akan lagi bisa berada di tanah kami lagi seperti sekarang!" ancam Raja serius. Wajahnya sudah menunjukkan rasa kekesalan sudah memuncak. Mereka mulai memasuki hutan terlarang. Kini mereka hanya tinggal mencari keberadaan Apri saja.


Saat mulai memasuki hutan terlarang Rea mendengar ada suara keributan yang berasal dari sebelah barat atau kiri posisinya berdiri. Dia berhenti berjalan lalu menoleh kearah tersebut.


"Kenapa?" tanya Raja yang melihat keanehan gadis itu.


"Kok itu kayak ada kerumunan seperti kita."


"Di mana? Kerumunan apa?"


"Itu! Seperti ada manusia yang melintas di hutan sebelah sana," tunjuk Rea.


"Biarkan saja. Mereka tidak akan berani memasuki tempat ini!" kata Raja lalu berjalan lebih dulu.


Pulau Kalimantan dikenal sebagai wilayah yang memiliki banyak hutan. Tidak hanya dikenal dengan eksotisme hutannya, tetapi di pulau ini pun memiliki beragam tempat wisata bernuansa angker. 


Salah satu mitos misteri di Kalimantan yang lumayan populer adalah mengenai adanya sebuah suku di daerah pedalaman yang sering melakukan ritual penumbalan manusia. Terlepas dari benar atau tidaknya mengenai info ini, yang jelas mitos ini mungkin bisa menjadi trending cerita horor soal ritual mistis.


Menurut kisah mitos yang berkembang, terdapat sebuah wilayah di pedalaman hutan Borneo yang dihuni oleh sekelompok suku misterius yang kerap kali melakukan ritual penumbalan manusia.


Para suku yang tak teridentifikasi tersebut dikatakan sering tertangkap memiliki penampilan serba hitam dengan warna alami dari alam dan selalu menyamar di antara sela-sela pepohonan yang tumbuh lebat di sana.


Menurut keterangan orang-orang, meyakini bahwa keberadaan suku tersebut bukanlah sebagai penjahat yang menyakiti manusia lain, melainkan penjaga keseimbangan hutan yang selalu bertugas sepanjang hari.


Akibat sulit diidentifikasinya mengenai keberadaan suku misterius tersebut, banyak yang mengaitkan bahwa sebenarnya mereka tak ada, dan selama ini yang selalu meneror di hutan itu adalah murni ulang tangan dari sebangsa dedemit hutan.


Mengenai kebenaran soal kisah ini, kembali lagi kepada individu masing-masing dan bisa menganggap bahwa setiap cerita rakyat adalah sebuah kekayaan alam yang perlu dijaga.

__ADS_1


__ADS_2