pancasona

pancasona
part 139 Allea cemburu


__ADS_3

"Kita mau ke mana?" tanya Ellea saat mobil ini melesat masuk ke sebuah halaman rumah yang cukup luas. Di depan gerbang rumah ada penjagaan ketat, selain 2 anjing Cane Corsi yang memiliki mimik muka sangat garang, ada beberapa penjaga bertubuh tegap dan besar berjaga di gerbang depan.


Setelah menyelamatkan dua gadis itu, mereka memutuskan pergi ke sebuah rumah kenalan mereka. Rumah besar dan mewah itu milik salah seorang yang mereka kenal. "Ini rumah Adelia, dia itu yang bantu kita culik Joanna," sahut Abimanyu.


Yah, Adelia yang terlanjur terlibat dalam konflik ini, memutuskan membantu mereka hingga selesai. Joanna disekap di rumah ini sebelum akhirnya ditukar dengan Ellea dan Allea. Wanita itu muncul dari balik pintu, menyambut para tamunya. Senyum merekah di wajahnya, melihat dua gadis yang sebenarnya tidak ia kenal akhirnya selamat, ditukar dengan nyawa musuh besarnya, yaitu Joanna.


"Welcome home," ucap Adelia menyambut mereka semua. Wanita itu segera memeluk Ellea dan Allea bergantian. Dua saudara kembar itu tampak kikuk karena tidak mengenal sebelumnya sosok wanita yang sangat ramah di depan mereka ini. "Aku Adelia, panggil saja Adel. Kalian baik-baik saja, kan?" tanyanya sambil menatap dua gadis situ dari ujung kepala sampai ujung rambut. Mereka otomatis mengangguk. "Yu, masuk!"


"Jadi wanita sundal itu sudah mati?" tanya Adelia, yang bermaksud menanyakan Joanna.


"Yah, mati. Diburu oleh kartelnya sendiri."


"Terus rencana kalian ke depan apa? 4 orang lainnya?"


"Dan satu lagi. Austin!" kata Abimanyu dengan tatapan dingin.


"Austin?" tanya Adelia.


"Yah, dia yang mengatur semua kegiatan kartel itu. Mulai dari menyiapkan senjata sampai targetnya. Dia juga yang sudah membunuh teman kami. Faizal!" ujar Vin sama bencinya jika nama itu disebutkan.


"Hei! Tenang. Gue ada ide. Kita nggak mungkin bergerak sendiri. Karena mereka juga punya banyak koneksi di mana-mana," kata Elang.


"Terus? Rencana paman apa sekarang?"


"Kita harus minta bantuan dan bekerja sama dengan gangster lain yang memang merasa pernah dirugikan oleh Austin."


"Sebentar, Austin itu pemimpin Asia boyz, kan?" tanya Adel.


Mereka serempak menoleh ke wanita itu dengan tatapan heran karena Adel bisa tau tentang gangster itu. "Kamu tau Asia Boyz?"


"Ya ... lumayan. Kenalanku banyak di luar sana, dan informasi juga banyak. Aku pernah dengar soal pertengkaran gangster di beberapa tempat. Setahuku, Asia boyz banyak tidak disukai gangster lainnya. Bahkan banyak dari mereka yang akan langsung saling pukul kalau ketemu di jalan."


"Kamu tau siapa saja musuh Asia Boyz?"


Adelia mengangguk yakin.


__________________


Bonar duduk di ruangan kerjanya, ia memutuskan kembali ke kantornya untuk menenangkan diri. Kematian istri dan anaknya yang begitu tiba-tiba membuat Bonar sedikit cemas. Bukan sedih karena kepergian mereka, tapi ia cemas akan kematiannya sendiri. Mereka tau kalau cucu Alan Cha sedang menuntut balas atas kematian kakek beserta keluarganya. Mereka juga yang telah berusaha membunuh dua saudara kembar itu. Dan Bonar juga tau, kalau cucu Alan Cha tidak bergerak sendiri. Di belakang saudara kembar itu ada beberapa orang yang cukup kuat dan tidak mudah dikalahkan. Dan sekarang mereka mulai bergerak, menghabisi kartel Ransford satu persatu.


Bonar membayangkan bagaimana kehidupannya berubah setelah datang ke negara ini. Istrinya yang dulu adalah orang yang paling perhatian dan mencintainya perlahan berubah, tidak lagi seperti istri yang dikenalnya dulu. Ia melihat istrinya meregang nyawa di tangannya sendiri, dan ia tidak bersedih ataupun merasa bersalah saat itu. Ia merasa wanita itu pantas mendapatkannya.


Hanya saja kini ia baru sadar, kalau hidupnya kosong. Tidak ada lagi alasan untuknya hidup. Rasa bersalah kini mulai menggerogoti hati dan pikirannya. Ia mulai merasa menjadi seorang pembunuh untuk keluarganya sendiri. Keluarganya hancur karena dirinya. Sejak awal dialah yang membuat istrinya berubah, ia juga yang membuat putrinya menjadi anak yang susah diatur dan sering melawan pada orang tuanya. Bonar membuka laci meja kerjanya. Di sana ada sebuah senapan yang memang sengaja ia simpan di sana. Di dalamnya sudah ada peluru. Bonar menangis, ia mengingat semua kenangannya dengan istri dan anaknya dulu. Hingga akhirnya ujung senapan ia letakkan di pelipisnya. Ledakan terjadi. Kepala Bonar tertembus peluru hingga darahnya muncrat mengotori dinding dan lemari yang ada di sampingnya.


Tak lama beberapa staf di kantornya mulai berhambur masuk ke ruangan Bonar. Mereka terkejut dengan kematian Bonar. Yah, tidak ada yang akan menyangka kalau Bonar bunuh diri di kantornya sendiri. Dan tidak ada yang tau apa alasan. Semua hanya diam dan menunggu polisi datang untuk mengurus mayat Bonar.


Telepon Elang berdering. "Ya?'


"...."


"Oke."


Mereka masih berkumpul bersama membahas rencana selanjutnya. Untuk sementara memang mereka akan menetap di Venesia, karena rencana mereka untuk menghancurkan kartel Ransford ini.


"Siapa?" tanya Gio pada Elang yang terlihat memiliki informasi lain dari sorot matanya sekarang.


"Bonar ... meninggal!" kata Elang dengan tatapan serius pada mereka semua.


"Hah?! Kok bisa?"


"Iya, bunuh diri!"


Elang kini tinggal di Italia, karena urusan bisnis yang cukup menguntungkan di tempat ini. Ia membawa Shanum dan putra mereka serta. Walau ia berada jauh dari teman-temannya seperti Gio maupun Abi, ia tetap memantau perkembangan mereka dari tempatnya. Elang memiliki banyak mata di mana-mana. Sehingga saat permasalahan ini muncul, ia sudah tau banyak mengenai akar dari siapa saja yang terlibat. Jadi bukan hal sulit baginya untuk dapat informasi mengenai Bonar, apalagi mereka berada sangat dekat. Satu kota dan orang-orang Elang juga cukup banyak di tempat ini.


"Berarti mereka sekarang tinggal bertiga? Nicholas, Benzos, dan Vabian?" tanya Abimanyu.


"Yah, dan ... biar aku mengurus Nicholas. Kapten Nicholas!" ujar Vin dengan tatapan dingin.


"Tunggu! Sebelum Nicholas kamu urus, lebih baik kalian buat mereka saling bertengkar," cetus Adelia.


"Benar! Vabian dan Nicholas. Itu ide yang bagus. Nicholas sudah membunuh pacar Vabian, bukan?" tanya Ellea memastikan.


"Pasti Vabian menaruh dendam ke Nicho, maksud kalian gitu, kan?" sahut Allea mengurutkan benang merah ini.


"Yah, coba aja kalau kamu ada ada di posisi dia. Aku yakin Vabian pasti marah ke Nicholas. Dan ini kesempatan kita!" cetus Adelia.


"Oh kalau itu, urusan gue!" kata Elang yakin. Ia segera mengambil telepon genggamnya kembali dan terlihat menghubungi seseorang.


______________


Ellea tengah membereskan tempat tidur yang akan ia pakai malam ini. Rumah milik Adelia sangat besar, dengan banyak kamar di dalamnya. Pintu kamarnya diketuk lalu seseorang muncul dari balik pintu. Abimanyu datang dengan segelas susu hangat. Ellea tersenyum lalu duduk di pinggir ranjang. "Buat aku?" tanyanya dengan menunjuk gelas susu yang dipegang Abimanyu dengan dagunya.

__ADS_1


Abi meletakkan gelas itu di meja nakas, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang yang baru saja di bereskan Ellea. "Biyu ... ih kok kamu tiduran di sini! Sana balik ke kamarmu!" usir Ellea dengan nada manja. Abimanyu tidak bergerak sama sekali, justru ia memejamkan mata lalu menarik tangan Ellea dan akhirnya mereka berdua tidur di atas ranjang yang sama.


Tangan Abi memeluk tubuh Ellea, namun gadis itu diam saja. Ia malah merapatkan tubuhnya dan kini mereka saling berpelukan satu sama lain. "Aku kangen," kata Ellea dalam pelukan pemuda itu.


"Hm. aku juga. Tapi aku lebih khawatir kalau kamu kenapa-napa. Maaf, ya, kalau aku nggak ada di saat kamu butuh aku kemarin. Pasti kamu melewati masa yang sulit kemarin."


"Nggak apa-apa, Biyu. Sesulit apa pun aku di luar sana, dan sejauh apa pun aku menghilang, aku yakin kamu pasti bakal cari aku, kan? Makanya aku nggak takut apa pun lagi sekarang.," tegas Ellea.


"Tapi kamu nggak apa-apa, kan? Mereka kasar sama kamu? Mereka pukul kamu nggak?" tanya Abimanyu sambil memeriksa tubuh Ellea.


"Hey, aku nggak apa-apa. Iya sempet ada perlakuan kasar. Tapi Allea yang nolongin aku. Justru dia yang malah lebam di bagian pipinya. Tapi nggak lama hilang lukanya. Allea sebenarnya jago bela diri, Bi. Cuma kemarin kami bener-bener nggak bisa lolos. Pintu selalu dikunci. Ada makanan pun itu mereka kasih lewat lubang di bawah pintu. Kayaknya tempat itu memang disiapkan buat menculik orang-orang yang akan mereka buru, deh."


"Hm, ya sudah. Yang penting kalian sekarang baik-baik saja. Dan, malam ini aku mau tidur di sini untuk memastikan kamu tetap baik-baik saja!"


"Kok begitu?"


"Aku kangen, Ell."


"Hm. iya aku juga sama. Ya sudah. Yuk kita tidur sekarang."


"Eh tapi susunya di minum dulu dong. Aku sudah bikinin spesial buat kamu loh."


"Siap, Bos."


___________


Di balkon lantai dua, Vin dan Adelia sedang duduk di sofa sambil memandang langit malam, dengan banyak bintang di sana. Ditemani secangkir kopi hangat buatan Adelia.


"Kalian pacaran?" tanya Adelia ke Vin.


Vin tak langsung menjawab, menatap cangkir kopi yang ada ditangannya sambil menarik sudut bibirnya. "Allea?"


"Iya, siapa lagi coba?"


"Yah, seperti itulah. Kami dekat."


"Sejak kapan kalian saling kenal?"


"Sejak masalah ini ada. Ellea dan Allea terpisah sejak kecil. Dan kamu tau, kan, kalau Abimanyu dan Ellea berpacaran. Jadi Abi datang ke sini buat cari Ellea. Kebetulan aku sedang cuti kemarin. Jadi aku bantu dia. Akhirnya yang kami temukan malah Allea."


"Tapi aku lihat kalian dekat. Kamu dan Allea?"


"Iya. Aku menyayanginya. Ini pertama kalinya setelah istriku meninggal. Allea adalah wanita yang bisa mengalihkan hatiku. Mungkin karena intensitas pertemuan kami yang cukup sering. Tapi ... dia memang gadis yang unik. Dan aku sayang sama dia."


"Kamu kenapa, Del?" Vin melihat mata Adel yang berkaca-kaca. Hal itu membuat Vin merasa bingung dan takut salah bicara tadi. Mungkin karena pernikahannya yang tidak berjalan mulus, maka ia merasa iri mendengar hubungannya dengan Allea. Itu yang terlintas di pikiran Vin.


"Allea beruntung, bisa dicintai laki-laki seperti kamu."


"Maksud kamu?"


"Nggak apa-apa," ujar Adel sambil menyapu sudut matanya dengan ujung jari. "Eum, akhirnya aku mengusir Mathias dari rumah," kata Adel dengan senyum getir.


"Waw, itu sebuah keberanian, Del. Aku pikir kamu bakal terus mempertahankan pernikahanmu sama Mathias?"


"Awalnya aku berfikir demikian. Tapi ada seseorang yang membuat aku sadar kalau aku adalah wanita bodoh. Karena selama ini diam saja, melihat suamiku selingkuh. Seharusnya aku bertindak sejak dulu, Vin."


'Terus aset kamu? Jatuh ke tangan Mathias?"


"Enggak! Aku berhasil menipu dia. Mathias aku buat menandatangani surat pembatalan perjanjian. Jadi setelah surat itu dia tanda tangani, aku langsung minta cerai dan usir dia pergi. Sekarang dia jadi gelandangan! Bagus aku nggak jeblosin dia ke penjara, iya, kan?"


"Iya. Kamu terlalu baik, Del. Mathias juga nggak pantas dapatin wanita sebaik kamu. Aku yakin kamu pasti bakal menemukan kebahagiaan lain. Jangan sedih, ya?" kata Vin, mengelus pipi Adel.


"Yah, semoga. Aku menyukai seseorang, tapi sayangnya dia sudah punya pasangan. Dan aku nggak mau merebut dia dari pasangannya. Karena aku tau bagaimana rasanya kalau orang yang kita cintai diambil wanita lain," kata Adel dengan tatapan sendu ke Vin.


"Eh udah malam, mendingan habisin kopinya terus tidur aja sana," suruh Vin yang merasa situasi sekarang tidak nyaman lagi. Vin merasa tatapan mata Adel berbeda. Tidak seperti biasanya saat menatapnya. "Aku balik ke kamar dulu, ya."


"Tunggu, Vin. Temenin aku dulu sebentar, boleh?' tanya Adel sedikit memohon. Vin yang awalnya ragu, lantas mengangguk pelan. Setidaknya hanya ini yang bisa ia lakukan untuk mengucapkan terima kasih pada Adel. Adel juga banyak membantu selama ini. Dan kini mereka juga tinggal di rumahnya.


Dibalik pintu, mereka berdua tidak sadar kalau ada seseorang yang sejak tadi ada di sana. Mendengarkan dan melihat semua yang dilakukan Vin dan Adel sambil menekan dadanya menahan rasa sakit. Yah, Allea.


Dia tidak bisa tidur dan memutuskan membuat secangkir teh tadi. Tapi saat akan kembali ke kamarnya, tanpa sengaja Allea melihat Adel yang membawa dua cangkir kopi ke atas. Dan rupanya kopi itu ia buat untuk Vin. Allea cemburu. Ia tau kalau Adel menyukai Vin. Dan jujur dalam lubuk hatinya, Allea juga menyayangi Vin. Hal yang membuat Allea sedih, adalah saat Adel bertanya tentang hubungannya dan Vin. Vin justru tidak mengatakan apa pun. Walau ia bilang kalau menyayangi Allea, tapi bagi Allea itu tidak cukup. Ia butuh komitmen. Komitmen adalah salah satu hal yang penting dalam sebuah hubungan tentunya. Sekalipun Vin tau perasaan Allea, begitu pula Allea yang tau kalau Vin menyayanginya, itu belum cukup bagi Allea. Bahkan tidak ada satu pun wanita yang suka digantungkan. Tidak ada komitmen, hanya menjalani hubungan itu seperti air mengalir. Karena jika sampai ada pihak ketiga, maka posisinya tidak akan kuat. Bisa saja Allea akan disingkirkan, dan Vin lebih memilih Adelia.


Allea memutuskan kembali ke kamarnya. Cangkir teh ia letakan begitu saja di meja tak jauh dari balkon. Ia sakit hati dan kecewa. Tapi ia sadar kalau dia bukan siapa-siapa. Gadis itu segera masuk ke dalam selimut dan tenggelam di dalamnya. Ia teringat ucapan Vin yang mengatakan kalau Vin menyukainya. Tapi Allea merasa tidak ada kalimat dari Vin yang menunjukkan kalau hubungan mereka kini sudah berlanjut ke jenjang lebih tinggi. Berpacaran misalnya. Yah, sepertinya acara penembakan memang penting jika keadaannya seperti ini.


Tok tok tok.


Bunyi suara pintu kamar Allea diketuk, membuat gadis itu segera menyapu air matanya. Ia diam saat suara Vin memanggil namanya. Allea berusaha menutupi air mata dan bahkan tubuhnya. Ia berpura-pura tidur agar Vin segera pergi dari pintu kamarnya. Rasanya ia sedang tidak ingin bertemu pria itu sekarang.


"All ... kamu sudah tidur?" teriaknya dari depan pintu kamarnya. Allea terus memejamkan mata. Tak lama kemudian, derit pintu terdengar. Allea tau kalau Vin kini mulai masuk ke dalam kamarnya. Langkah kaki terdengar mendekat ke ranjang Allea. Ia terus diam dan berusaha bersikap selayaknya orang yang sudah terlelap tidur.


"Kok lampunya nggak dimatiin, All," kata Vin berbicara sendiri. Vin lalu mematikan lampu kamar Allea lalu bergerak keluar kamar gadis itu. Saat Vin sudah ada di luar, belum sempat ia menutup pintu, Allea mendengar Adel memanggilnya lagi. "Vin, tolong dong pintu kamarku nggak bisa dibuka."

__ADS_1


"Oh oke."


Dan hal itu membuat hatinya makin nyeri.


____________________


Pagi merupakan awal hari yang baik bagi sebagian besar orang di rumah ini. Semua orang sudah duduk di kursi meja makan untuk sarapan. Elang sudah pulang ke rumahnya karena Shanum dan putranya menunggu di rumah. Hanya ada Abimanyu, Ellea, Allea, Vin, Gio, dan Adelia. Wajah Allea terlihat sembab. Rupanya ia menangis semalam dan itu dapat diliat dengan mudah oleh mereka.


Ellea sudah menanyakan perihal matanya yang sembab, tapi Allea selalu mangkir dan berkata kalau dirinya baik-baik saja. Allea masih terlalu malu untuk mengatakan perasaannya dan rasa cemburunya pada kedekatan Vin dan Adel. Sejak pagi Allea juga terlihat menghindari Vin, dan membuat pemuda itu kebingungan.


Selesai sarapan, para wanita menunggu di rumah sementara para pria harus pergi menyelesaikan urusan ini. Bertemu Austin terutama. Abimanyu mencium kening Ellea saat akan pergi. "Doain aku, ya, sayang. Kamu hati-hati di rumah. Tetap waspada walau di sini banyak penjaganya. Kalau ada hal yang membahayakan, pakai pistol yang ada di bawah ranjangmu. Oke?" tanya Abi sambil mengusap pipi Ellea lembut. Gadis itu hanya tersenyum sambil mengeratkan pelukkan ke Abimanyu.


"All ... kamu kenapa sih?" Suara Vin yang sedang gelisah mengejar Allea membuat Abi dan Ellea melepaskan pelukan mereka dan melihat ke arah Alea pergi.


"Mereka kenapa?" tanya Abi.


"Eum, mungkin ada salah paham. Allea nggak bilang apa-apa, tapi kalau aku lihat, kayaknya dia cemburu sama Adel," tebak Ellea.


"Hah? Masa sih? Kan Adel sama Vin nggak ada hubungan apa-apa?"


"Ih, kamu ini. Emanag nggak peka. Dingin dan nggak ngertiin perasaan orang!" ujar Ellea mencubit hidung Abimanyu, gemas.


"Loh aku salah? Bener, kan, kalau Vin sama Adel itu nggak ada hubungan apa-apa? Cuma sebatas kerja sama. Buktinya kamu nggak cemburu sama aku, kan?" Kalimat itu membuat Ellea tertawa.


"Biyu ... Biyu. Iya, aku memang nggak cemburu sama kamu dan Adel. Karena apa? Kalian nggak dekat, sama sekali. Tapi Vin? Kamu nggak sadar kalau Adel sama Vin dekat banget? Wajar aja kalau Allea cemburu."


"Oh gitu. Duh, aku nggak perhatiin sih selama ini. Memangnya begitu, ya? Terus bagaimana? Kamu nggak mau bantu mereka?"


"Biar aja. Mereka bisa kok selesaikan sendiri. Lagian ini urusan mereka, Biyu."


"Yah, mungkin sebagai saudara kembar Allea kamu mau marah ke Vin juga? Aku bantu, sayang. Yuk, kita omelin dia bareng-bareng."


"Idih, kamu malah seneng temenmu lagi pusing gitu. Kasihan Vin tau!"


"Biarin. Biar tau rasa!" umpat Abimanyu.


Vin terus mengejar Allea sampai di kamar gadis itu. Saat ia akan menutup pintu kamar, pemuda itu menahan pintu dan meminta penjelasan. "All, kamu kenapa? Aku ada salah? Please, jangan gini. Kasih tau aku, kalau aku salah. Di mana? kenapa?"


"Aku nggak apa-apa, cuma lagi nggak enak badan saja. Buruan gih kamu berangkat. Sudah siap, kan, semua?"


"Enggak! Kita perlu ngobrol. Buka dulu, ya, pintunya," bujuk Vin.


Akhirnya Allea membuka pintu kamarnya dan membiarkan Vin masuk ke dalam. Vin lalu menutup pintu kamar Allea dan mengikuti gadis itu yang kini berbaring di ranjang. Vin duduk di tepi kasur, dan terus menatap wanita itu.


"All ... kita bicara, ya. Aku ngerasa kamu marah sama aku. Tapi aku nggak tau salahku di mana? Please kasih tau, All."


Allea menarik nafas panjang, lalu duduk di ranjang. Ia menatap Vin yang sejak tadi kebingungan.


"Vin, kita ini belum ada komitmen apa pun, jadi kalau kamu mau dekat sama perempuan lain, aku nggak apa-apa kok. Kamu bebas."


"Maksud kamu?"


"Enggak apa-apa. Cuma kasih tau saja. Aku mau tidur. udah sana kamu keluar!"


"No! Bukan gini. Apa tadi kamu bilang? Kita nggak ada komitmen? Kata siapa? Jadi kamu selama ini nggak menganggap aku, All?"


Allea diam, bingung harus menjawab apa.


"Aku sayang kamu. Aku juga tau kalau kamu punya perasaan yang ssama. Dan kamu anggap kita nggak ada hubungan apa-apa. Terus dengan seenaknya kamu nyuruh aku deketin cewek lain? Kamu sudah gila? hah?' Vin mulai meninggikan nada bicaranya. Sementara Allea masih diam. "Memangnya perempuan yang mana? Aku deket sama perempuan mana lagi, All?"


Allea bangun dari kasur, dan berjalan keluar balkon kamar. Vin mengikutinya dan kini menarik tangan Allea agak kasar. "Jawab!"


"Adelia," kata Allea tanpa menatap wajah Vin, dan hanya mampu menunduk lemah.


"Hah?!"


"Semalem aku lihat kalian di balkon sana. Dan aku pikir kalian pasangan yang serasi. "


"Kok Adel sih? Allea, kamu sayang, kan sama aku?" tanya Vin.


"Iya, tapi Adel juga suka sama kamu Vin. Dan dia lebih pantes ..." Belum sempat kalimat Allea selesai, Vin langsung mencium bibirnya. Allea terpaku di tempatnya. Sementara Vin terus mencium bibir Allea makin dalam. Tangan kirinya menahan punggung Allea sementara tangan kanannya berada di pipi kanan Allea. Allea diam dan ragu untuk membalas ciuman Vin. Namun pada akhirnya mereka berdua hanyut dalam pergumulan itu. Sampai nafas Allea hampir habis, Vin baru melepaskannya. Ia menatap tajam mata Allea.


"Aku nggak peduli kalau Adel suka sama aku. Yang penting kamu. Dan kamu, jangan ngurusin perempuan lain di luar sana. Mungkin akan ada Adel Adel lain nanti dalam hubungan kita. Tapi kamu cukup rasain perasaan aku, All. Perasaan aku cuma buat kamu. Aku cuma sayang sama kamu! Bukan Adel. Ngerti?"


Allea mengangguk dengan menatap Vin.


"Dan kalau kamu anggap ini bukan komitment, sekarang aku mau minta secara resmi."


"...."


"Allea, aku sayang kamu. Kamu mau, kan, jadi pacar aku? Kita pacaran, kayak Abi sama Ellea?"

__ADS_1


Sontak Allea tertawa dan langsung mengangguk. Air matanya kini berubah menjadi air mata bahagia. Ia sudah lega, karena Vin kini benar-benar menjadi miliknya. Memang agak kolot, dia juga merasa seperti anak sekolah saja, mengharuskan komitment yang seperti ini. Tapi ia memang terkadang menjadi gadis yang kolot dan menyebalkan. Semoga Vin tahan, ya.


__ADS_2