
Mereka panik. Apalagi karena Apri tidak sadarkan diri. Teman-teman yang sedang melawan Jaka pun, menjadi tidak bisa fokus pada sosok di hadapan mereka.
"Kita harus segera pergi dari tempat ini, kalau nggak nyawa Apri dalam bahaya!" kata Rea panik.
Perkataan Rea memang benar, mereka harus segera pergi untuk mencari rumah sakit terdekat. Apri harus segera diselamatkan.
"Ya sudah, kita pergi duluan aja," cetus Hana.
"Tapi kita nggak mungkin meninggalkan yang lain!" sergah Ita.
"Iya sih, tapi nyawa Apri dalam bahaya! Kita harus segera cari dokter!"
Mereka sedang dilanda dilema. Apakah pergi lebih dulu dengan meninggalkan sebagian kawan-kawan merupakan langkah yang tepat atau tidak. Tapi melihat kondisi Apri yang mengenaskan, membuat mereka harus mengambil langkah untuk menyelamatkan nyawa Apri lebih dahulu.
Sebelum mereka pergi, mereka sempatkan menatap ke arah teman-teman yang kini masih sibuk menghadapi Jaka. Dilihat dari situasi dan kondisi di hadapan mereka, rasanya kedudukan masih imbang. Walau itu artinya kemampuan bela diri Jaka lebih unggul dari mereka semua. Tapi untungnya mereka bekerja sama, sehingga Jaka belum sepenuhnya menang dari pertarungan itu.
Dana yang menyadari kepergian teman-temannya hanya menatap mereka tanpa protes apa pun. Apalagi melihat Hana yang kini sedang membawa tubuh Apri yang tampak lemas tak berdaya, membuat Dana berpikir kalau kondisi Apri sedang gawat dan harus segera mendapatkan perawatan intensif. Sehingga Dana tidak mempermasalahkan saat teman-teman yang lain meninggalkan mereka yang masih sibuk bertarung dengan Jaka.
Dana, Hani, dan Blendoz belum menyerah. Apalagi mereka saat ini bersama-sama melawan Jaka. Sosok yang selama ini memang sangat ingin mereka cari untuk bisa membalaskan dendam atas apa yang Jaka perbuat pada warga desa, juga yang telah membuat Riri menjadi yatim piatu bahkan harus tinggal di hutan sendirian di umur yang masih sangat muda. Mereka kesal, dan ingin menangkap Jaka agar bisa dijebloskan ke penjara, agar tidak ada lagi korban lain yang akan bernasib sama seperti Desa Riri.
__ADS_1
"Ri, kita ke mana lagi?" tanya Rea yang ikut berlari dan terus berada di sisi Hana dan Apri. Tentu saja dia cemas dengan kondisi mereka berdua, karena Hana sendiri juga sedang terluka. Diah, Leni, dan Ita juga terus berada di sisi Apri dan Hana. Mereka pun cemas jika sampai Hana tiba-tiba jatuh dan membuat nyawa Apri dalam bahaya. Lengan kiri Hana masih terbalut perban, walau demikian mata anak panah masih menancap di sana, dan itu pasti sangat sakit rasanya. Membayangkan saja mereka sudah bergidik ngeri, apalagi jika sampai mengalaminya.
"Lurus aja, Kak. Nanti kita masuk hutan itu dan melewati sungai. Nggak jauh dari sungai itu kita bisa ketemu jalan raya." Riri terus memandu mereka agar bisa segera keluar dari tempat itu dengan aman dan cepat.
"Han, kamu gimana? Masih kuat nggak? Kalau nggak, kita gantian aja!" tandas Diah.
"Udah nggak apa-apa kok. Masih kuat." Peluh membanjiri wajah Hana. Tapi dia terlihat antusias dalam membawa Apri di punggungnya. Rasa kesetiakawanan di antara mereka memang sangat tinggi dan patut diacungi jempol.
Mereka kembali berlari dan kini mulai memasuki hutan lain. Menurut penjelasan Riri, ada beberapa hutan yang ada di wilayah tersebut. Dan semua hutan berbeda-beda kondisi dan keadaannya. Setiap hutan akan di natasi dengan sabana di sekitarnya, dan seakan akan itu perbatasan hutan satu dengan hutan lainnya.
"Ri, hutan ini aman, kan?" tanya Ita sambil memperhatikan sekitar. Semua pohon seakan - akan sama di mata nya. Maka dari itu dia tidak bisa membedakan hutan yang telah mereka datangi dan yang kini sedang mereka jajaki.
Penjelasan Riri membuat mereka langsung menatap sekitar. Mereka tampak cemas jika ada ular di sekitar mereka, yang tidak mereka sadari keberadaannya. Bagaimana pun juga, ular merupakan salah satu hewan berbahaya yang bisa mengancam nyawa mereka.
"Maksudnya nggak ada manusia psikopat sejenisnya gitu? Mungkin yang seperti Jaka tadi?"
"Manusia psikopat?" tanya Riri yang tampak tidak mengerti perkataan Ita.
"Udah, nggak usah dipikirin," sahut Leni yang melirik Ita sambil melotot.
__ADS_1
Mereka melanjutkan perjalanan Menyusuri hutan lain di wilayah tersebut. Menurut penjelasan Riri, mereka akan bertemu dengan aliran sungai, yang menandakan kalau tujuan mereka sudah dekat. Semangat makin menggebu dalam diri mereka. Bayangan bisa segera pulang adalah sesuatu yang sangat baik rindukan. Mereka sudah lelah. Sudah tidak ingin lagi tersesat di hutan mata pun bertemu dengan manusia psikopat, semua sudah cukup mereka terima. Walau banyak sekali pengalaman hidup yang mereka dapatkan di hutan tersebut. Bahkan Ini pertama kalinya mereka bertemu dengan mayat hidup. Mereka sudah berjalan cukup jauh. Hingga akhirnya Hana meminta untuk beristirahat. Tangannya mulai kebas seolah-olah mati rasa. tenaganya sudah cukup terkuras dan membuat wajahnya sedikit pucat dari biasanya. Mereka pun akhirnya terpaksa beristirahat dulu. Bagaimanapun juga mereka semua juga sudah sangat lelah. Hingga tanpa terasa matahari sedikit demi sedikit memancarkan sinarnya. Mereka telah melewati malam dengan sangat baik, tanpa tidur sama sekali.
Tubuh mereka mulai terasa ringan. Rasa lelah bercampur kantuk, menjadi sebuah kolaborasi yang apik. Sekalipun mereka kembali meneruskan perjalanan kondisi mereka tentunya tidak baik-baik saja. Mereka sudah hampir menyerah. Melihat wajah Apri yang makin pucat mereka makin frustrasi. Bukan tidak berniat menolong Apri dalam situasi dan kondisi seperti sekarang, tapi mereka seakan-akan sudah tidak sanggup lagi meneruskan perjalanan. Terutama Hana. Mereka mulai pesimis. Semangat untuk pulang, dan membayangkan bisa tidur dengan nyenyak di kamar masing-masing mendadak buyar. Apalagi saat mereka tidak melihat keberadaan Dana, Hani, dan Blendoz. Mereka harus siap kehilangan beberapa teman sekaligus.
"Loh, kalian di sini?" tanya seseorang yang berada di dekat mereka.
Mereka semua menoleh secara serempak. Sontak mereka melotot dan menjerit kegirangan.
"Pak Wiryo?"
Tanya mereka sambil menatap pria paruh baya di hadapan mereka dengan mata berbinar.
"Lah iya, saya Wiryo. Kok kalian di sini? Apa kalian tersesat lagi?" tanya Pak Wiryo heran.
"alhamdulilah!" ucap mereka dengan ungkapan puji syukur. Semua bersorak kegirangan. Bertemu pak Wiryo seakan-akan seperti sebuah harapan untuk membangkitkan semangat Mereka lagi. Pak Wiryo yang kebingungan dengan apa yang terjadi pada mereka, suruh terkejut saat melihat kondisi Apri yang tidak sadarkan diri.
"Astaga! ini kenapa?" tanya Pak Wiryo panik.
"Kami diserang zombi, Pak!"
__ADS_1
"Apa? Zombi?" tanya Pak Wiryo terkejut dengan penuturan salah satu dari mereka.