
Kak Bryan menoleh sekilas ke jendela rumahnya. Dia lantas mendesis agar kami berhenti berbicara, dan mengurangi semua pergerakan kami. Dia menunjuk ke arah luar, seolah mengatakan ada orang lain di luar rumah ini. Kami mulai waspada, karena tidak tau siapa yang ada di luar sana, terlebih diskusi yang sedang kami lakukan memang menyangkut sesuatu yang penting dan berbahaya.
Kak Bryan berjalan pelan menuju jendela. Mengintip keadaan di luar dari balik korden. Dia lantas menyuruh kami mundur, dan pergi dari ruang tamu ini. Perlahan kami bergerak sambil menunggu sang empunya rumah memberikan instruksi lain.
"Ikut gue!" kata Kak Bryan berlari naik ke lantai atas.
"Siapa yang ada di luar, Kak?" tanyaku cemas.
"Dagon dan kelompoknya! Waktu mereka mulai terbatas, mereka sedang mengincar kamu, Bil." Kak Bryan membuka sebuah ruangan dan menyuruh kami masuk ke dalam.
"Memangnya kenapa, Yan. Kenapa Bila seolah menjadi ancaman mereka. Kamu bilang, dia dalam bahaya, kan, saat berada di Kalimantan kemarin," cetus Kak Rayi meminta penjelasan.
"Iya, karena Nabila reinkarnasi Angelina Demitri. Ibaratnya dia Ratu penyihir di era zaman itu. Tapi kemampuannya, bakal terus ada sampai sekarang. Bahkan wajahnya nggak berubah sama sekali, dan kekuatannya pasti juga sama. Dia termasuk manusia yang sulit mati, dan kenapa dia menjadi incaran Dagon?" jelas Kak Bryan dengan penjelasan lain yang cukup panjang lebar. Mulutnya terus menyerocos dengan tangan yang juga terus bergerak membuka sebuah lemari. Kami tidak banyak menyahut, diskusi ini lebih banyak terjadi satu arah, karena Kak Bryan memang memiliki segudang informasi yang kami butuhkan saat ini. "Karena kemampuan sihir Angelina yang dapat kembali menidurkan Undead."
"Sebentar, Kak. Jujur kalau pun aku ini reinkarnasi Angelina itu, aku sama sekali nggak ingat apa pun. Nggak ada yang aku ingat sama sekali tentang hal yang kamu sebutkan."
"Eh, tapi tadi katanya Angelina juga termasuk manusia yang sulit mati, kan? Fakta itu sih sama seperti Nabila sekarang. Bener, kan?" sosor Kak Bintang.
"Oh iya bener. Walau Nabila terluka seperti apa pun, kalau ada ...." tambah Kak Roger.
"Pasir!" sambung Kak Bryan.
__ADS_1
"Bener!" tukas Kak Roger menyetujui.
Kak Bryan mulai mengambil beberapa senjata api dari dalam lemari tersebut. "Kalian bisa pakai senjata, kan?"
"Eum ...."
"Bisa!" cetus Kak Rayi mantap. Dia langsung mengambil sebuah senjata api, bahkan meminta dua senjata revolver hang segera di masukan ke pinggangnya. "Buruan! Kalau kita nggak bergerak, kita bisa mati!" kata Kak Rayi tegas.
Kak Bintang dan Kak Roger yang awalnya bengong, lantas mengikuti jejak Kak Rayi. Setelah mereka semua mendapatkan senjata tersebut, aku mendekat ke Kak Bryan, minta jatahku. "Bil, kami mengandalkan kamu. Coba ingat - ingat lagi, mantra untuk membunuh Dagon, agar Undead tidak bisa keluar dari tempatnya," bisiknya dan mampu membuat beban mental tersendiri padaku. Bagaimana bisa aku mengingat hal yang sudah ratusan tahun terjadi, sementara aku sudah terlahir menjadi manusia yang berbeda.
Aku tidak menyahut dengan satu kalimat apa pun, hanya mengambil senjata api yang sudah menjadi incaran ku sejak tadi.
Suara berisik di bawah membuat kami makin waspada. Kak Rayi mengunci pintu, Kak Bintang mendorong meja hingga jatuh, sebagai tempat bersembunyi. Aku memilih berada di balik ranjang, dan mempersiapkan diri dengan senjata di tangan.
Kaca jendela di belakang kami pecah. Berhamburan hingga membuat kami menutupi punggung dari serpihan pecahan tersebut. Rupanya kami terkepung. Aku segera melayangkan tembakan ke arah belakang. Satu orang tewas jatuh begitu saja.
"Di jendela!" jeritku agar mereka waspada. Pintu berhasil di dobrak. Tembakan terus bersahutan dari luar dan dalam. Aku, Kak Bryan dan Kak Rayi menghalau musuh yang datang dari jendela, sementara Kak Bintang dan Kak Roger dari arah pintu.
Kaca jendela sudah aman.
"Wah, gila, mereka banyak banget. Makin banyak naik ke atas!" jerit Kak Bintang.
__ADS_1
"Kita harus keluar!" sahut Kak Rayi, melirik jendela. "Jendela!"
Kak Bryan mendorong meja ke pintu agar menghalangi orang - orang tersebut makin banyak masuk ke dalam.
"Cepat!" Aku segera keluar lebih dulu, karena posisi kami ada di lantai dua. Aku harus berpegangan pada pipa - pipa di tembok. Berjalan dengan hati - hati hingga sampai ke pijakan lain, dan mendarat turun ke halaman belakang. Suara riuh masih terdengar di halaman depan. Dan kini mereka terasa mulai mendekat ke arah ku.
Kami terjebak! Kak Bintang turun diikuti Kak Roger. Namun dari arah datangnya musuh di bawah, mulai terjadi lagi tembakan beruntun hingga membuat Kak Bintang dan Kak Roger terpaksa melompat dari ketinggian tadi.
Aku berusaha melindungi mereka dengan menembak musuh dari tempat persembunyianku. "Kak sini!" panggilku agar mereka mendekat.
Hujan peluru menghiasi malam ini. Entah kenapa jumlah mereka makin banyak dan tidak ada habisnya, sekali pun kami sudah melumpuhkan banyak musuh.
"Ugh!" Lenganku tertembak. Kak Bintang menarikku mundur. Kak Roger yang ternyata terluka, juga duduk di sudut taman. Kami berada di dekat jendela bawah. Yang tertutupi pot besar dengan sebuah pohon besar di depan kami.
"Bil!"
Aku diam, luka ini tidak terasa sakit. Justru aku mencemaskan semua teman - temanku. Apalagi aku belum tau keadaan Kak Rayi di atas sana bersama Kak Bryan. Hanya terlihat kilatan cahaya dari atas, yang pasti ada serangan lain di sana.
Aku merasa sangat marah. Aku takut, sedih, semua perasaan berkecamuk. Rasanya jiwa ku seakan tertarik ke sebuah sudut gelap di dalam diriku. Aku berjalan ke tengah. Walau Kak Bintang berusaha menahan ku. Tidak peduli berisiknya suara tembakan, aku terus berjalan seolah menantang semua orang di sana. Tubuhku terkena tembakan. Aku berhenti lalu merogoh bahuku yang tertancap peluru. Darah yang menetes deras kuletakan di telapak tangan.
"mortem omnibus ex vobis!" Aku menyimpan darah tersebut di mulut lalu meniupkan ke segala arah.
__ADS_1
Ledakan berbunyi di sekitar ku. Semua orang yang tadi menyerang meledak dengan tubuh yang hancur. Nafasku tersengal - sengal. Semua pandanganku mendadak gelap.