
Seluruh ruangan gelap. Hanya ada satu penerangan yang berada di meja tamu. Dua jam lagi fajar mulai menyingsing. Sementara itu, Faizal belum satu menit pun memejamkan mata. Ia masih sibuk dengan laptopnya, dan tentunya masih belum menyerah untuk membuka sandi beberapa folder dalam flash disk ini.
Meja berserakan gelas kopi yang sudah tinggal ampasnya saja. Ini sudah gelas ke 20 dalam semalam. Rumah sewaan Vin tidak menyediakan alat pembuat kopi otomatis, jadi terpaksa kopi dibuat secara manual.
Faizal begadang semalaman seorang diri. Para gadis sudah terlelap sejak satu jam setelah makan malam. Kini keduanya masih bergelung di balik selimut tebal yang baru saja Vin keluarkan dari lemari. Karena selimutnya sendiri, sudah berbau apek. Maklumlah kamar lelaki.
Dengkurang dari dua pria yang kini tidur di sofa dekat Faizal, memang mujarab untuk penahan kantuk bagi dirinya. Faizal termasuk orang yang terbiasa tidur dengan keadaan tenang, tanpa gangguan apa pun juga. Rumahnya tertata rapi, dan bersih, lalu tentu saja wangi. Berbanding terbalik dengan tempat tinggal Vin sekarang. Beberapa kali, Faizal menatap jijik saat melihat sudut yang kotor, dan berantakan. Entahlah, siapa dalam hal ini yang tidak normal. Karena bagi Faizal rumah seharusnya bersih, rapi, dan wangi. Perfectionist.
Faizal merentangkan tangan ke atas, ia menggeliat karena rasa kantuk yang kini mulai terasa di saat detik detik ia mulai bisa membuka sandi di beberapa folder flash disk.
Senyumnya merebak, saat kini kunci folder itu terbuka semua. "Gaes! Gaes!" panggil Faizal dengan menggoncang-goncang kan tubuh Abimanyu dan Vin yang tidur di samping dan belakangnya. Dua pria itu awalnya diam, tapi goncangan itu makin kuat dirasakan. Alhasil dua netra Abi kini mulai mengerjap. Mencoba mengembalikan kesadarannya, dengan suara Faizal yang nyaring di dekatnya.
"Apa sih, Zal?!" omel Abimanyu berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Faizal.
"Lihat itu!" tunjuk Faizal ke layar di depannya. Abi tak langsung bereaksi, ia diam sejenak, membetulkan kepalanya agar jarak pandang ke apa yang ditunjuk Faizal dapat terlihat jelas. Sepersekian detik kemudian, Abi melotot dan sontak membetulkan posisinya dan kini duduk di sofa. Ia mendekatkan kepalanya pada layar menyala itu. "Ini ...."
"Gue udah bisa buka kuncinya!" pekik Faizal memegang kedua bahu Abi dan menggoyang-nggoyangkan nya dengan lebih bersemangat. Abi kini melebarkan senyumnya, takjub pada apa yang sudah dilakukan Faizal. Ia lantas melirik ke arah Vin, yang makin menenggelamkan kepalanya di balik selimut. Abi menoleh, lalu mengambil bantal yang tadi ia pakai, kemudian melemparkannya ke arah Vin. Bukannya terbangun, Vin justru memperkeras dengkurannya. Hal itu membuat Abi gemas. Ia tak pantang menyerah untuk membuat temannya terbangun, ia kini memencet hidung Vin hingga akhirnya ia berontak dan terpaksa bangun dari mimpi indahnya sambil mengumat kesal pada Abimanyu, yang kini tertawa cekikikan.
"Ngapa sih, lu?!" raung Vin dengan melempar bantal sebagai usaha balas dendam. Tapi itu semua percuma karena Abi malah tertawa puas melihatnya kesal.
"Makanya bangun! Ni lihat!" kata Abi menunjuk laptop di depan Faizal.
Dengan wajah yang masih kesal, Vin menatap apa yang mereka tunjuk, dan kemudian tersenyum. "Perfect!"
______
Matahari sudah mulai muncul di ufuk timur. Dua gadis yang masih bergelung di balik selimut, kini sudah mulai berteman kan asap dapur. Tak lupa mereka mengisi acara memasak dengan saling membagi informasi seputar makanan Indonesia dan Western. Allea yang jarang menikmati masakan Indonesia sangat penasaran dengan beberapa makanan yang disebutkan Ellea. Seperti Sayur lodeh, sate lilit, dan ikan asin. Allea memang pernah beberapa kali memakan makanan Indonesia yang ia dapatkan di salah satu resto Indonesia yang ada di San Fransisco, yaitu Borobudur Restaurant.
Walau sebenarnya di Venesia sekalipun, memang menjamur restoran halal. Semua orang tau jika mendengar Italia, identik dengan pasta dan pizza.
"Kamu harus coba Frittelle," ungkap Allea.
Frittelle adalah donat Venesia tradisional yang lembut dan halus yang hanya disajikan selama festival Christian festival of Carnival in Venice.
"Kalau gitu, saat kita pulang lagi ke Indonesia, kamu juga harus cobain nasi goreng!" balas Ellea.
"Oke, deal!"
Kopi dan beberapa tangkup roti bakar sudah tersedia di meja ruang tamu. 3 pria itu masih membahas soal folder rahasia yang kini sudah berhasil dibuka oleh Faizal.
Ada beberapa rahasia besar yang ada di dalamnya. Selain tentang permainan gila memburu manusia, mereka menemukan lagi beberapa hal, salah satunya siapa saja orang yang terlibat di dalamnya. Semuanya adalah orang kaya dan orang-orang berpengaruh di berbagai negara di dunia. Mereka membentuk sebuah organisasi hitam dengan nama Kartel Ransford. Ada sekitar 5 anggota yang ada di daftar ini.
Kapten Nicholas, seorang perwira pertama di Angkatan Udara Indonesia. Dia dan Vin sudah lama dekat, terlebih sejak mereka sama-sama ada di negara konflik, seperti perang saudara Suriah pada tahun 2011.
Charles Benzos, adalah salah satu anak orang terkaya di dunia. Benzos adalah pendiri perusahaan pengecer online terbesar di dunia, Mercuri. Perusahaan yang berbasis di Seattle ini menjual buku, barang-barang rumah tangga, dan produk lainnya melalui situs web andalannya. Mercuri sendiri menghasilkan pendapatan USD233 miliar pada 2017.
Garius Vabian Bughet adalah ketua dan pemegang saham terbesar dari Berkshire Hathaway. Perusahaannya yang berbasis di Omaha, Nebraska adalah salah satu pemegang saham terbesar produk dengan brand ternama di dunia.
Joanna Adriana, seorang model yang berasal dari Indonesia. Ia sudah menjadi model kelas dunia, yang kini juga seorang istri simpanan salah satu CEO terkaya di Asia. Dia memiliki beberapa badan amal baik di luar negeri, maupun di negerinya sendiri.
Abraham Alexi Bonar, Duta besar Indonesia untuk Venesia. Yang tidak lain adalah pemimpin di kantor milik Faizal.
"What?! Dubes di Venesia itu juga salah satu anggotanya?!" pekik Vin tak percaya. Sementara Faizal yang sudah mengetahui lebih dulu beberapa menit lalu sudah terbiasa dan tidak terlalu terkejut, mengingat salah satu anak buah Bonar juga yang membuat Faizal pergi dari kantornya begitu saja kemarin. Dia tidak tau, apakah semua orang-orang yang bekerja di KBRI mengetahuinya dan terlibat, atau hanya beberapa oknum saja.
"Terus ada apa lagi?" tanya Abimanyu.
"Cuma itu aja, dan sisanya video permainan yang mereka lakukan sejak beberapa tahun lalu. Kalian tau? Kalau Kartel Ransford ini udah ada sejak beberapa puluh tahun lalu?" jelas Faizal, serius.
Vin dan Abimanyu menggeleng. Faizal lantas membuka folder lain yang menunjukan bukti-bukti yang masih tersisa tentang asal mula dan kapan Kartel ini dibentuk.
Rupanya Kartel Ransford berawal dari Inggris. Para anggota kerajaan di Inggris, sering mengumpulkan sanak keluarga dan para kerabat dekat mereka. Sesama bangsawan yang ada di beberapa negara di dunia. Dari bangsawan yang tentu saja kaya raya itu, mereka harus menunjukan sikap dan sifat baik di hadapan rakyatnya. Menguburkan sisi buruk dan image negatif yang sebenarnya tetap ada di dalam jiwa mereka yang terbelenggu aturan kerajaan.
Dengan harta benda yang mereka punya, segala hal dapat mereka lakukan. Semua makanan bisa mereka dapatkan. Semua hal yang mereka mau, pasti bisa segera tercapai. Hingga akhirnya mereka perlahan bosan, dan ingin mencari hiburan dengan cara lain. Cara unik dan tidak biasa. Cara yang terbilang arogan dan tidak pantas dilakukan seorang bangsawan jika sampai rakyat nya tau.
Mereka membuat Kartel ini, dengan mengumpulkan banyak anggota. Tidak ada satupun data yang menunjukan berapa dan siapa saja anggota nya. Karena saat itu, Kartel Ransford memiliki anggota yang cukup banyak. Mereka menculik, dan membawa gelandangan dan pengemis. Awalnya sebagian dari mereka dijanjikan akan diberi tempat tinggal layak dan makanan. Mereka dengan senang hati ikut sebuah truk yang membawa beberapa gelandangan itu. Gelap dan sempit. Tidak ada penerangan sama sekali. Mereka dibawa saat tengah malam. Untuk mengurangi kecurigaan orang-orang tentunya. Perjalanan yang panjang membuat penumpang di dalam truk terlelap tidur. Hingga tanpa terasa, truk pun berhenti. Mereka diturunkan di sebuah Vila yang ada di tengah hutan. Di depan Vila itu sudah ada beberapa orang dengan senjata api di tangan mereka.
Hingga satu orang yang sepertinya adalah pemimpin mereka mengangkat senjata ke atas tinggi-tinggi. Lalu berteriak, " Kill them!"
Ia menarik pelatuknya dan menembak tepat satu orang di bagian dahinya. Sontak para gelandangan itu menguar, lari tunggang langgang menuju ke arah hutan. Dan dengan bersemangat, para kartel itu mengejar sambil terus menembak satu persatu orang yang tertinggal. Ini sebuah tragedi. Dan kejahatan yang tidak pantas untuk diampuni.
Kemudian, Kartel itu mendapat goncangan besar, saat salah satu anggotanya berkhianat dan melaporkan segalanya pada pihak kerajaan. Dan akhirnya mereka dibubarkan dan dicari anggotanya satu persatu. Mereka kemudian dihukum dengan cara di penggal kepalanya di depan rakyat. Ini dilakukan untuk menjaga stabilitas kerajaan mereka. Menghukum yang sepatutnya dihukum. Apalagi kesalahan mereka sangat fatal. Perlahan rakyat yang tau kejadian tragis itu terus memandang rendah para keluarga kerajaan, dan hukuman itu adalah bukti kalau keluarga kerajaan tetap akan terkena hukuman jika mereka melakukan kesalahan.
Beberapa tahun setelahnya, kartel ini kembali dioperasikan. Mereka membentuk panitia yang akan mengumpulkan anggota dan targetnya. Lebih mudah dan minim ketahuan. Karena jika ada orang tau, yang pertama kali akan di cari adalah panitia.
Panitia kartel itu sudah memasuki generasi keempat. Dan ternyata, mereka adalah Austin. Alan tidak tau menahu tentang kegiatan kartel Ransford. Ia hanya penyetok senjata api ilegal yang cukup tersohor. Hubungan Austin dan Alan sangat baik. Bisnis mereka lancar dan saling bekerja sama satu sama lain. Semua foto dan video penjualan senjata api itu ada di dalam folder rahasia.
"Yakin cuma ini, Zal?" tanya Vin seolah merasa tidak puas atas jawaban dan apa yang ia lihat di laptop Faizal.
"Enggak juga. Gue udah lihat dan tonton semua video di sana. Kapan dan di mana mereka melakukan transaksi penjualan dan senjata apa saja yang mereka dapatkan dari Pak Alan."
"...."
"Dan ada satu video yang membuat Austin dan Pak Alan akhirnya menghentikan kerja sama ini!" tutur Faizal lalu membuka sebuah video.
"...."
"Kalian lihat? Ini adalah transaksi terakhir mereka. Dan di sini ada sebuah kejadian aneh yang membuat Pak Alan curiga."
Flashback
Itu adalah malam terakhir Alan dan Austin bertransaksi. Di sebuah dermaga di San Feansisco, Pier 39. Senjata itu memang selalu di datangkan lewat perairan, karena Alan memang memiliki orang di dalam kepolisian dan tidak akan pernah tertangkap. Ia juga membayar pajak yang tinggi untuk bisnisnya.
"Malam yang dingin, ya?" tanya Austin basa-basi, mulutnya mengeluarkan asap rokok yang baru ia hisap.
Alan mengangguk sambil tersenyum menyetujui pendapatnya. Merapatkan jaket kulit yang ia pakai. "Kau rupanya memiliki banyak koneksi. Setiap minggu selalu saja ada yang mencari senjata api, ya."
"Yah, memang begitulah bisnis. Kita harus mencari dan menemukan peluang, jika tidak bagaimana aku memberi makan mereka semua?" tanya Austin menunjuk ke arah belakang.
__ADS_1
Alan tersenyum, lalu percakapan singkat itu harus berakhir karena kedatangan sebuah mobil hitam. Austin yang tau siapa pemilik mobil itu lantas berpamitan sebentar ke Alan untuk bertemu tamunya. Alan hanya menanggapinya dengan anggukan. Karena sedetik kemudian ponselnya bergetar. Sebuah panggilan membuatnya menyingkir agak jauh, mendekat ke tepi pantai. Mata Alan terus melihat ke tempat Austin, ia melihat Austin menunduk pada mobil hitam itu. Ia terlihat sangat hormat dan takut pada pengemudi di dalamnya. "Oh mungkin Bos yang selama ini membeli senjata padanya," pikir Alan.
"Ya, kenapa?" tanya Alan pada penelpon yang ada diseberang.
"..."
"Apa maksudmu?"
"..."
"Kartel apa?"
"..."
"Kau serius? Itu tidak mungkin!" pekik Alan tidak percaya.
"..."
"Sial! Ini gila!" pekik Alan, mematikan telepon genggamnya dan memicingkan matanya. Mencoba melihat lebih jelas siapa orang yang ada di dalam mobil hitam itu. Ia baru sadar kalau mobil itu termasuk mobil mewah yang jarang dimiliki orang biasa pada umumnya. Hanya orang-orang kelas atas yang memilikinya. Karena unitnya yang terbatas, maka Alan bisa tau siapa pemilik mobil itu.
"Charles Benzos." Mobil itu hanya ada 5 di dunia, dan di negara ini hanya keluarga Benzos yang memilikinya.
Alan berfikir kalau kabar yang baru saja ia dengar memang betul terjadi. Sebuah kartel gelap telah membeli semua senjata api ilegal miliknya. Bukan lagi gangster atau mafia seperti lazimnya, tapi ini justru lebih parah dari itu. Baru kali ini ia merasa sangat berdosa telah menjual senjata api yang ia sediakan untuk orang lain. Padahal tak hanya kartel Ransford yang membeli dan memakai senjata untuk membunuh orang. Alan sadar, ia telah menjadi penghubung kematian orang lain. Tapi apa yang dilakukan kartel terkutuk itu jauh lebih keji dari mafia mana pun yang ia kenal.
Kapal milik Alan mendekat. Apa yang mereka tunggu kini datang juga. Rasanya Alan ingin agar segera menyuruh kapal itu untuk memutar arah, tapi kapal sebesar itu tidak mungkin bisa berbelok dengan secepat kita mengendarai motor.
Austin tersenyum saat melihat barang miliknya sudah ada di depan mata. Ia mendekat ke jalan kayu yang ada di dermaga. Tempat menuju ke kapal dan memuat barang mereka. Tapi Alan menghalangi langkahnya.
"Lan? Kenapa? Itu kapal milikmu, kan? Barang milikku ada di sana?"
"Ya, itu memang kapal milikku. Tapi aku tidak menjualnya lagi padamu, Austin!"
Dahi Austin berkerut dan tak paham atas apa yang diucapkan Alan. Dia bingung kenapa Alan bisa berubah 180 derajat hanya dalam beberapa menit saja. "Apa maksudmu?" tanya Austin.
"Kartel terkutuk itu telah membuat hati nuranimu mati, hah? Kau memakai senjata dariku untuk membunuh orang-orang tak bersalah dengan cara biadab!" bentak Alan. Kini anak buah Alan dan anak buah Austin mulai terlihat bersitegang. Melihat pemimpin mereka seperti beradu mulut, semua pasukan pun siap jika keadaan menjadi makin panas. Senjata masing-masing mulai dikeluarkan.
"Kau pikir kau adalah manusia suci, Alan? Kau menjual semua senjata itu kau pikir gunanya untuk apa, hah?! Tidak peduli siapa dan bagaimana benda itu digunakan, bukan? Intinya tetap, untuk membunuh makhluk hidup." Kalimat Austin tak kalah telak dan mampu membuat Alan tidak bisa menjawab lagi. Ia sadar, apa yang ia lakukan sudah membuat banyak nyawa melayang. Bukan hanya kartel itu saja. Tapi jauh sebelum itu. Entah sudah berapa banyak senjata yang ia jual selama hidupnya, dan sebanyak itu pula ia telah ikut andil dalam kematian orang-orang itu.
"Aku tidak akan menjualnya lagi padamu! Akan kukembalikan uangmu sekarang juga!" kata Alan menunjuk Austin dan menyuruhnya mundur.
"Tidak bisa! Aku sudah membayar penuh dan pembeliku sudah menunggu untuk mengambil barangnya, kau tau?"
"Cih, jadi orang kaya memiliki hobi aneh, ya? Menjadikan manusia makhluk buruan. Tidak adakah lagi rusa atau **** hutan di sana?!" tunjuk Alan ke mobil hitam yang masih menunggu mereka.
"Itu bukan urusanmu, Alan! Menyingkir atau terjadi pertumpahan darah di sini!" ancam Austin.
"Lebih baik aku mati sekarang, daripada membiarkan kalian mengambil senjata itu!"
"..."
"Jhoni, suruh pergi kapal itu! Kalau mereka menghalangi, tembak saja kepalanya!" kata Alan menatap tajam Austin yang ada di depannya.
"Jangan banyak bicara!"
Bugh! Sebuah pukulan melayang ke perut Austin. Jhon sudah menyuruh kepala itu untuk kembali, bahkan sebelum kapal itu berhenti sepenuhnya.
Austin membalas dengan pukulan telak di wajah Alan. Tembakan kini terdengar dan saling bersahutan. Semua orang saling baku hantam, membunuh satu sama lain. Ini terakhir kalinya Alan dan Austin menjadi rekanan. Karena setelah ini, mereka menjadi musuh bebuyutan.
_____
"Ini gila! Jadi karena alasan ini, mereka membunuh semua keluargamu, All?" tanya Vin pada gadis yang kini duduk di sampingnya.
Aroma masakan sudah tercium sejak beberapa menit lalu. Tapi selera makan mereka seolah lenyap karena melihat rahasia besar yang telah membuat nyawa mereka terancam selama ini. Semua kematian orang-orang terdekat Allea dan Ellea karena sebuah Kartel biadab. Tidak berperi kemanusiaan.
Mata Allea dan Ellea menatap tajam ke arah laptop itu. Penuh emosi dan dendam. "Kurang ajar! Mereka benar-benar keterlaluan," tutur Ellea pelan, tapi penuh emosi di tiap kalimatnya.
"Kita harus ungkap semua ini! Agar orang-orang itu bisa dihukum dengan hukuman setimpal!" ujar Allea.
"Mereka dihukum? Hey, kalian benar-benar anak baru, ya. Sekalipun flash disk ini diungkap ke polisi, mereka akan tetap lolos. Karena apa? Mereka orang-orang berkuasa. Tidak pernah ada dalam sejarah mana pun, orang- orang seperti mereka akan dihukum dengan hukuman setimpal dengan kejahatan apa yang sudah mereka perbuat! Itu semua omong kosong!" kata Faizal.
"Lalu kita harus bagaimana?"
"Gue yakin mereka tau kalau kita sudah mendapatkan flash disk ini!" kata Vin, yakin.
"Dan, kita akan menjadi sasaran selanjutnya. Mereka pasti akan menyerang kita lebih gencar lagi. Apalagi kalau mereka tau kita mengetahui rahasia mereka!" tambah Abimanyu.
"..."
"Kita pulang ke Indonesia!"
"What?!"
"Setidaknya kita akan lebih leluasa bergerak di tanah kita sendiri, kan?" tanya Abimanyu yakin.
"..." Faizal tidak menjawab, hanya menatap mereka berdua bergantian.
"Yah, itu benar. Kau jangan salah, dia akan lebih produktif di tanahnya sendiri. Daripada di sini, hanya air yang bisa kita temui. Benar, kan, Bi?" tanya Vin. Abimanyu memang lebih membutuhkan tanah untuk bertahan hidup, bukan air.
"Liburanmu bagaimana?"
"Apa? Liburan? Wah ini liburan paling indah yang pernah kurasakan!" ucap Vin bersemangat.
"Oke, kita pulang ke Indonesia. Kita semua!"
"Eh, Zal, pekerjaanmu...?" tanya Ellea.
"Aku sudah keluar dari tempat itu! Lebih baik aku jualan koran daripada bekerja ditempat kotor itu."
__ADS_1
"Bukan tempatnya, Zal. Tapi manusianya. Dan nggak semua, kan? Mungkin, sih." Allea mencoba menjadi penengah atas kegundahan hati Faizal. Memberikan pilihan jika Faizal masih ingin tinggal.
"Lu gila?! Kalau gue di sini sendirian, besok gue tinggal nama, All. Mereka tau kalau gue udah tau semuanya."
"Bener juga," gumam Allea.
________
Siang ini juga, mereka berkemas. Membawa semua barang bawaan dan bertolak ke Indonesia. Musuh kali ini tidak mudah. Yah, memang selama ini musuh Abimanyu juga tidak segampang apa yang ia pikir. Tapi kali ini mereka berhadapan dengan organisasi kelam yang beranggotakan beberapa orang berpengaruh di dunia.
Mereka harus bertarung, dan tentunya bertahan hidup. Setidaknya jika Abi kembali, ia bisa meminta bantuan dua pamannya. Apalagi ada salah satu anggota kartel yang berasal dari Indonesia. Bahkan tidak hanya satu, tapi ada tiga.
Ellea duduk di samping jendela, ia memang sangat suka melihat pemandangan langit dari jendela pesawat. Sementara Abimanyu tentu ada di sebelahnya. Tangan pemuda itu menggenggam tangan kanan Ellea. Gadis itu menoleh sambil tersenyum.
"Gimana rasanya pulang?"
"Seneng. Tapi, juga sedih," jawab Ellea dengan kepala yang bersandar di bahu Abi.
"Jangan sedih lagi, sayang."
Ellea terkekeh, mendengar panggilan manis itu lagi. Ia senang dan merasa geli saat Abi bersikap mesra. Abi yang ia kenal sebagai sosok yang dingin dan acuh, kini berubah hangat. Padahal saat mereka masih dekat beberapa waktu lalu, Abi belum bersikap semangat ini. Ini kemajuan. Atau ada hal lain. Ellea melirik ke Abi.
"Biyu, selama kita lost kontak, kamu dekat sama siapa aja?" Pertanyaan itu membuat Abimanyu menelan ludah. Ia sadar, kalau dirinya tidak Pernah dekat lagi dengan wanita lain. Tapi hal ini membuatnya merasa terintimidasi.
"Nggak ada."
"Masa?"
"Iyalah. Mana sempat aku deket sama perempuan lain? Orang yang aku pikirin cuma kamu." Kembali rayuan gombal terucap dari mulut Abimanyu, walau itu suatu kejujuran, tapi Ellea merasa sedang digombali kali ini.
"Terus kalau sama Nabila gimana?"
Dahi Abimanyu berkerut. Ia lantas menoleh dan menatap tajam gadis di sampingnya. "Kamu tau dari mana nama itu?"
"Nggak penting tau dari mana. Jadi ... Kamu sempet deket sama dia?"
"Astaga! Enggak! Kan aku bilang, nggak deket sama siapa-siapa, sayang. Kamu nggak percaya?"
"Enggak. Aku denger dari Shanum, perempuan itu dekat sama kalian."
"Iya, karena Nabila itu salah satu anggota BIN, dia emang bertugas buat memecahkan kasus kemarin, Ell."
"Iya, jadi bener kalian dekat? Sering ketemu, kan? Sering bareng, kan? Ngobrol berdua juga, kan?"
"Astaga, Ellea, kamu cemburu? Sama Nabila?"
"..."
"Iya, Nabila dekat sama aku, kami. Aku, Paman Gio, Paman Adi dan semuanya. Kami satu tim. Lagi Nabila udah punya pacar loh, sayang," jelas Abimanyu tak patah semangat.
"Aku nggak tanya soal dia punya pacar atau nggak. Aku cuma tanya, kamu dekat sama dia? Sering ngobrol bareng, sering pergi bareng?"
"Ya ... Iya. Tapi aku sama Nabila nggak ada perasaan apa-apa. Nggak ada hubungan apa-apa!" Nada bicara Abimanyu agak meninggi.
"Biyu, aku tau itu. Tapi aku tetap cemburu. Cemburu karena kalian dekat. Dia bisa lihat kamu setiap hari, denger suara kamu, dekat sama kamu. Sementara aku ... Enggak! Aku tetap cemburu!"
"Ya Tuhan!" gumam Abimanyu sambil menekan kepalanya. Ia baru sadar kalau kekasihnya seorang pencemburu buta. "Oke, maaf. Tapi sekarang kamu kan sudah di sini, sama aku. Udah nggak perlu cemburu lagi, kan? Nabila juga udah balik ke kota setelah kasus itu selesai."
"Iya." Ellea memeluk lengan Abimanyu dengan posesif. Sementara Abi menarik nafas panjang, tak habis pikir.
"Sekarang nggak perlu cemburu lagi, kan?" tanya Abi sambil mengelus punggung tangan Ellea dengan lembut. Keduanya sama-sama menatap ke arah jendela dengan pemandangan awan yang indah di bawahnya.
"Tetap cemburu, Biyu."
"Apa? Cemburu ke siapa lagi, sayang?"
"Allea!"
"Ya Tuhan! Dia saudara kembarmu loh, sayang. Dan ada Vin sekarang!"
"Iya, tetap saja. Kamu jangan terlalu dekat sama Allea. Jangan kasih perhatian berlebih. Ada Vin juga ada Aku!"
Kembali Abimanyu menarik nafas dalam-dalam. "Siap, Kesayanganku."
Ellea tersenyum senang lalu memejamkan mata. Ia sedang menikmati rasa nyaman di dekat Abimanyu. Lagi. Dengan posisi ini, ia merasakan tenang, nyaman, dan aman.
Di kursi lain, ada Allea dan Vin yang duduk di barisan tengah. Allea termasuk orang yang takut ketinggian, ia tidak suka melihat pemandangan dari jendela pesawat. Sementara Faizal sudah tidur di kursi lain. Ia sadar, kalau hanya dirinya lah yang tidak memiliki pasangan.
"Kamu kalau ngantuk, tidur aja, All," kata Vin saat melihat wajah Allea pucat. Sejak naik pesawat tadi, gadis di sampingnya ini sedikit cemas. Ia memang takut naik pesawat.
"Nggak bisa tidur, Vin," kata Allea yang kini sedang menggengam tangannya sendiri. Menghentikan gemetaran yang sejak tadi ia rasakan. Tak hanya tangan, tapi seluruh tubuhnya bergetar. Vin merasa iba.
"Sini, aku bantu biar kamu bisa tenang." Vin segera menarik tubuh Allea ke dalam pelukannya. Ia mengambil selimut dan menutupi dirinya sendiri dan Allea. "Tangan kamu peluk pinggangku," suruh Vin sambil menarik kedua tangan Allea ke pinggangnya. Awalnya tubuh Allea masih kaku dan makin kaku akibat ulah Vin. Tapi saat Vin mendesis, layaknya seorang dewasa yang menenangkan bayi, Allea sedikit tersenyum dibalik tubuh pemuda bertubuh tegap itu. Allea perlahan merasa tenang, apalagi saat punggungnya diusap lembut oleh Vin.
"Tidur aja, ya. Biar waktu terasa cepat. Oke?" Suara Vin dari jarak dekat ini, membuat Allea hanya mampu menganggukan kepalanya. Vin terpaksa duduk menyamping, agar Allea nyaman dengan posisi seperti ini. Usapan pria itu, membuat Allea makin nyaman, hingga ia benar-benar masuk ke alam mimpi.
Faizal masih bergelut dengan laptopnya. Ia sedang mengetik surat pengunduran dirinya dan akan segera ia kirimkan saat mereka sampai di Indonesia. Ia mengetik sambil melamun, menatap layar di depannya sambil teringat saat dirinya bekerja di tempat itu. Bagaimana dekatnya dirinya dengan seluruh staf di sana. Semua momen di tempat itu kini berputar kembali. Seolah kaset film yang sedang ia tonton di pikirannya. Nyeri rasanya dihati. Mengingat semua hal itu. Ia nyaman berada di lingkungan itu, bekerja di luar negeri adalah salah satu cita-citanya. Faizal berasal dari kota kecil. Dan ia bisa membuat bangga kedua orang tuanya, tatkala ia bekerja di Italia. Pemikiran orang di daerah tempat tinggalnya masih kolot. Jika ada anak yang bekerja di luar negeri, apalagi Faizal bekerja di kantor pemerintahan, maka pasti hidup keluarganya akan makmur sentosa. Uang dan segala kebutuhan terpenuhi. Dan dipandang oleh semua tetangganya. Tidak disepelekan lagi, seperti saat dirinya masih bersekolah dulu. Nyatanya terbukti, sejak Faizal bekerja, ia mampu merenovasi rumah orang tuanya, membuatkan ibunya sebuah toko kelontong dan ayahnya tidak perlu bekerja lagi di sawah orang lain lagi. Karena Faizal sudah Nampu membelikan ayahnya sawah sendiri. Bekerja di tanah mereka sendiri dan ia mampu menyekolahkan adiknya hingga kini sudah berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di ibukota. Dan, rasanya itu sudah cukup untuk membuatnya kembali ke kampung halamannya. Ia memutuskan mencari pekerjaan di negeri sendiri.
Dahi Faizal berkerut. Terlihat dari layar di laptopnya, ada seorang pria yang sejak tadi terus memperhatikannya. Bayangan orang itu terlihat. Jika ia perhatikan, memang pria yang duduk di kursi seberang yang ada di belakangnya terus menatap Faizal aneh. Faizal menutup laptopnya. Ia ingin memeriksa hal ini, untuk sekedar memastikan apa yang ia pikiran itu salah.
Setelah meletakkan laptop di kursi sampingnya, ia beranjak. Netranya langsung tertuju pada pria yang ia curigai. Dan benar saja, kalau ia sedang menatap Faizal, dan langsung menatap arah lain saat ketahuan. Gerak geriknya mencurigakan. Faizal berjalan ke belakang. Dan mencari keberadaan teman-temannya. Setelah melewati orang itu, Faizal baru bernafas lega. Ia mencari Abi dan Vin. Ketemu. Hanya saja mereka sibuk dengan pasangan masing-masing.
Tiba-tiba punggungnya di todong sesuatu. Faizal menoleh sekilas dan mendapati kalau oria tadi sudah ada di belakangnya. "Jalan! Ke toilet!" bisiknya.
Faizal menurut dan berharap teman-temannya melihatnya. Tapi harapannya pupus sudah. Abi sudah memejamkan mata, Vin juga. Ia sadar, kalau tidak mungkin berteriak. Karena sama saja ia bunuh diri dan mengancam nyawa seluruh penumpang lain di pesawat.
"Bu, maaf kalau Faizal nggak bisa pulang," gumamnya dalam hati. Ia masuk ke dalam bilik toilet bersama pria tadi.
__ADS_1
______