
Gadis berdarah Jawa Bugis ini meneruskan pendidikannya ke kampung halaman. ia bahkan sudah pindah sejak Siska dinyatakan harus dirawat di rumah sakit jiwa karena mentalnya terguncang. Feliz merasa bersalah dan melarikan diri untuk menutupi rasa bersalahnya. keluarga Feliz membawanya kembali ke kampung halaman ibunya. ia kemudian menjalani kehidupan normal dan mulai melupakan kejadian itu.
tapi sebuah undangan membuatnya memutuskan kembali ke tempat itu. tempat di mana ia menghabiskan masa kecilnya dengan penuh memori. Ia memutuskan kembali ke sana tanpa beban. Feliz kini sudah berada di salam bus. Telinganya sudah disumpal dengan earphone. ia tengah mendengarkan lagu-lagu favoritnya dengan mata terpejam. menikmati lirik demi lirik dan alunan merdu lagu yang mampu menghipnotisnya.
Bus berhenti. hanya kurang 10 KM lagi bus sampai ke desa Amethys, kampung halamannya. Seorang penumpang naik. ia adalah pemuda dengan jaket hoddie, penutup kepalanya ia biarkan melindungi pucuk kepalanya, wajahnya ditutup masker dan kacamata hitam turut bertenger di hidungnya. Feliz sempat membuka matanya karena bus berhenti mendadak. ia menyapu pandang ke sekitar dan mendapati suasana hutan sudah mulai terlihat di kanan kiri jalan. Feliz melepas earphonenya dan memperhatikan keadaan dalam bus. penumpang sudah mulai menipis karena beberapa kali berhenti di tempat sebelumnya. Feliz tidak menyadari karena terlalu asyik tenggelam dalam kesibukannya sendiri.
Pria yang baru saja naik, lantas duduk di kursi yang ada di seberang deretan kursi Feliz. ia menempatkan diri duduk satu kursi di depan Feliz. Feliz terus memperhatikannya karena pria itu terlihat misterius dan aneh. Bahkan saat bus sudah mulai jalan kembali, Feliz kerap memergoki dia yang melirik ke arahnya. Hal itu membuat Feliz bergeser tempat duduk sampingnya, dekat jendela.
kanan kiri jalan yang mulai didominasi pohon-pohon yang menjulang tinggi, membuat perhatian Feliz teralihkan dari rasa cemasnya tadi. Ia mengeluarkan tangan ke jendela untuk menikmati sensasi udara dingin yang mulai diselimuti kabut tipis. Desa Amethys memang cukup sejuk, tak jarang kabut menyelimuti tempat ini. Feliz rindu. Rindu tempat ini. Karena di daerah tempat tinggalnya sekarang cukup panas. Hal itu membuat kulitnya sedikit kecoklatan. Eksotis.
Gerbang desa mulai terlihat menjulang di atas gapura. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Mana kala teringat undangan para sahabat-sahabatnya.
[Fel, kamu harus datang kali ini. Kita akan berkumpul dan merayakan reuni.]
Begitulah pesan yang ia terima beberapa hari lalu. Sudah beberapa kali Feliz menolak undangan itu. Padahal ia sangat ingin berkumpul lagi bersama kawan-kawannya. 7 tahun berlalu bukan waktu yang sebentar. Terlebih lingkungan barunya sekarang tidak mengasyikan. Feliz lebih sering ada di rumah daripada harus pergi keluar bersama teman-temannya. Bahkan ia tidak punya teman.
Bus sampai di terminal. Satu persatu penumpang turun. Feliz berdiri di halte untuk menunggu angkutan umum yang lewat. Pria berjaket hodie tadi juga berdiri di belakang Feliz. Feliz makin cemas. Sampai ada sebuah mobil yang berhenti di depannya. "Loh, Kak Feliz, ya?" tanya Maya yang duduk di kursi samping supir. Ia dan Ridwan baru saja pulang dari pasar, membeli bahan kebutuhan cafe Pancasona. Ini adalah libur semester, maka dari itu Maya tidak pergi ke sekolah, dan Feliz bisa berkunjung ke sini.
"Loh, kamu ...?" tanya Feliz yang mencoba mengingat-ingat wajah Maya yang memang banyak berubah. Ia kini tumbuh menjadi gadis yang cantik.
"Maya, Kak. Pangling, ya?" tanya Maya masih duduk dengan kaca jendela yang sengaja ia turunkan. Maya mengerutkan kening beberapa saat pikirannya terus mengingat nama Maya.
"Maya ... Maya ... Oh iya, dulu yang ikut dance bareng, ya?" Kini Feliz sudah ingat dan mendekat ke Maya. Ia mengulurkan tangan kanan dan mereka saling berjabat tangan. "Kamu apa kabar? Wah makin cantik saja, May."
"Ah, Kak Feliz bisa saja. Eh, Kak Feliz kok di sini? Mau ke mana?" tanya Maya heran dan menatap sebuah tas di samping Feliz. Maya tau kalau Feliz sudah lama pindah, dan ia sempat tidak percaya kalau yang ia lihat benar Feliz.
"Aku kangen kampung, May. Jadi mumpung liburan, ke sini deh."
__ADS_1
"Loh sendirian saja?"
"Iya. Mama menyusul, tapi lusa. Masih ada kerjaan di sana."
"Oh begitu. Eh ya udah, bareng aja, yuk." Maya bersemangat. Ia keluar dari mobil dan membuka pintu belakang mobil. Awalnya Feliz agak sungkan, tapi melihat Maya begitu antusias, ia pun menurut saja. "Kak Feliz ini abang aku, Bang Ridwan."
Feliz menatap sopir yang mulai menjalankan mobilnya meninggalkan halte. Ridwan juga melirik sekilas pada gadis hitam manis yang duduk di jok belakang mobil. Keduanya saling menarik bibir tanpa berkata apa pun juga. Feliz menyempatkan menoleh ke arah pria berjaket hodie yang sejak tadi mengusiknya. Kosong. Tidak ada satu pun orang di halte itu. Maya terus mengoceh sepanjang jalan, menjelaskan banyak perubahan yang sudah terjadi di desanya. Dari air terjun dan danau yang dulu menjadi tempat mereka bermain seusai pulang sekolah. Hingga sebuah pertanyaan terlontar dari mulut Feliz, membuat Maya mendadak diam, dan melirik kakaknya.
"May? Kok diem? Eliza sekarang tinggal di mana? Aku kangen banget sama dia."
"Eum, Kak Eliza ... Dia sudah ...."
"Kita mampir cafe Bang Abii dulu, ya. Feliz pasti lapar," potong Ridwan yang kini membelokkan mobil ke cafe Pancasona. Obrolan tadi terhenti sejurus dengan mobil yang sudah parkir mulus di antara deretan mobil pengunjung lain. ''May, ajak Feliz masuk terus pesan makanan. Biar Abang yang bayar nanti." Maya hanya mengangguk dan menggandeng tangan Feliz.
"Wah, ada cafe bagus di sini?" tanya Feliz sedikit terpukau dengan dekorasi cafe milik Abimanyu itu. Ia tidak menyangka di daerah kecil ini, ada cafe yang banyak ia temui di kota.
Sontak mata Abi membulat sempurna mendengar nama itu. "Feliz? Feliz Hernanda?" tanya Abi ragu.
Feliz terkejut pria di depannya tau nama panjangnya. padahal mereka baru saja bertemu. "Kok abang tau nama panjangku?"
"Eum ... Iya, Maya sering cerita," jawab Abi bohong. Mereka bertiga terlihat kikuk, hingga Ridwan masuk membawa beberapa kantung belanjaan. Abi membantu Ridwan dan akhirnya Maya mengajak Feliz duduk di meja pojok yang masih kosong.
Gio yang baru saja datang melirik ke meja Maya. Memang wajah baru pasti akan mendapat perhatian warga lokal. Terlebih Feliz termasuk gadis yang manis. Abi keluar dari dapur setelah membantu Ridwan membawa belanjaan. Gio mendekat dan berbisik, tatapannya terus tertuju pada Feliz. Tak lama mulut Gio membentuk huruf O dan mengangguk cepat. Saat Adi datang, Gio mendekat dan juga berbisik. Tingkah mereka benar-benar membuat Feliz risih. Ia yakin kalau dirinya lah yang menjadi bahan pembicaraan para lelaki itu. "May, ada yang salah sama aku, ya?" tanya Feliz menatap tubuhnya sendiri. Maya ikut menatap Feliz lekat-lekat. Ia lantas menggeleng. "Kenapa, Kak?"
"Mereka ...," tunjuk Feliz ke tiga pria di meja barista. " Lagi ngomongin aku, kan?"
Maya menarik nafas panjang. Ia sadar, kalau hal ini tidak bissa terlalu lama disembunyikan dari Feliz. Apalagi Feliz terus bertanya tentang keberadaan teman-temannya yang sebagian besr sudah meninggal. Dan Feliz seolah sedang mengantarkan nyawa ke sini.
__ADS_1
"Kak Feliz, ada hal yang Kak Feliz harus tau. Sebenarnya Maya bingung harus cerita bagaimana. Tapi, sebentar ... Bang Abi!" jerit Maya memanggil Abimanyu.
Abi menyerahkan kopi yang sedang ia buat pada Gio. Ia mendekat dan langsung duduk di depan dua gadis muda itu. Feliz makin bingung. "Kak, gini. Sebenarnya Kak Feliz ke sini kenapa? Apa ada yang nyuruh?"
Feliz menatap Maya lalu beralih ke Abimanyu. Ia heran, mengapa pria itu harus Maya panggil. Bukan, kah, jika mengobrol berdua saja itu juga cukup. "Kak Feliz jangan takut, Bang Abi di sini bakal bantuin Maya ceritain yang tadi Maya bilang. Bang!" desis Maya.
Abi yang awalnya hanya diam dengan mengaitkan kedua tangan dan bertumpu di meja, kini berdeham. "Kita langsung saja ke topiknya, ya. Jadi, beberapa bulan terakhir ini, desa kita sedang ada banyak tragedi. Beberapa orang ditemukan meninggal dengan cara yang tidak wajar. Awalnya kami mengira ini pembunuhan acak, walau terkesan termasuk kategori pembunuhan berantai."
Feliz mengerutkan dahi, karena obrolan aneh yang terlontar dari mulut Abimanyu. Namun perasaannya mendadak tidak nyaman. "Kak Feliz dengerin dulu, ya," pinta Maya.
"Kamu tau siapa yang dibunuh?" tanya Abimanyu serius, menatap dalam-dalam bola mata Feliz. Gadis itu menggeleng. "Cindy, Clarinta, Risna dan Eliza!"
Mendengar nama sahabat-sahabatnya disebut, Feliz menganga, ia lantas menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya sendiri. "Nggak mungkin!" ucapnya setengah berbisik.
"Itulah yang terjadi. Riki, kamu pasti ingat dia. Riki yang sudah bunuh teman-teman kamu. Dia kembali ke sini dengan mengubah identitasnya. Tapi, sekarang, dia sudah meninggal. Ada orang lain yang membunuhnya. Teror pembunuhan itu akan terus berlanjut. Dan kamu ... target selanjutnya."
Feliz memundurkan tubuhnya hingga menempel pada punggung kursi. Ia menggeleng. Tubuhnya lemas, ia masih tidak percaya. "Nggak! Itu bohong. Kalian tau? Kalau baru kemarin Eliza mengirimiku pesan. Lihat!" Feliz menunjukkan benda pipih yang ia simpan di tas. "Awalnya aku kaget, kenapa Eliza bisa tau nomor ponselku. Dan tiba-tiba dia nyuruh aku ke sini."
"Iya memang semalam Eliza dibunuh. Pasti pembunuhnya yang ngirim pesan itu," tukas Abimanyu yakin.
"Jadi dia? Mau membunuh aku? Bagaimana cara Eliza meninggal?" tanya Feliz penasaran.
FLASHBACK
Abimanyu mengemudi dengan sangat cepat. Dalam perjalanan ia sempatkan menghubungi Andrew agar menjaga Eliza. Tapi ternyata ponsel Andrew, Jesika, maupun Andika tidak bisa dihubungi. Abi terlihat frustasi hingga hampir menabrak sebuah truk bermuatan bahan bakar minyak.
Abi sampai di rumah Eliza. Ia segera masuk dan langsung dibukakan pintu oleh satpam. "Pak, ada orang masuk nggak?" Satpam itu hanya menggeleng. Abi berlari ke dalam bahkan berteriak memanggil nama Eliza Asisten rumah tangga Eliza sampai heran melihat Abi. Begitu sampai di kamar Eliza, mereka melihat tubuh gadis itu menggantung di bawah lampu kamar. lagi. Darah keluar dari mata, mulut, telinga dan hidung. Abimanyu terlambat.
__ADS_1