pancasona

pancasona
Part 184 Reuni keluarga


__ADS_3

"Ya, kamu penasaran nggak sama ... anak kita?" tanya gadis di sampingnya yang kini sedang bersandar di dada bidang Arya. Arya merentangkan tangan kirinya untuk memberi keleluasaan Nayla bermanja ria di dekatnya.


Mereka masih duduk di lantai,  yang dilapisi karpet tebal sambil menikmati suara hujan yang belum juga reda sejak beberapa jam lalu. Tangan kanan Arya ia gunakan untuk menyeimbangkan tubuhnya. Sementara kepalanya menempel pada gadis di sampingnya.


"Eum, yah lumayan. Walau rasanya aneh banget, Nay. Siapa namanya tadi?"


"Abimanyu, Ya. Abimanyu Maheswara. Aku yakin pasti kamu yang kasih nama," cetusnya lalu menatap pemuda itu dengan tatapan manja.


"Kenapa? Kok bisa nebak gitu?"


"Habisnya, namanya mencerminkan kamu banget. Aku yakin dia pasti mirip kamu. Hm, menyebalkan," kekeh Nayla dengan maksud menyindir Arya yang masih tetap saja bersikap cuek. Arya tersenyum sambil meliriknya, ia menampilkan wajah mengerikan. Hingga membuat tawa Nayla terhenti. "Awas, ya, kamu!" cetus Arya dengan smirk yang membuat Nayla takut.


Tiba tiba Arya mengangkat tubuh Nayla, hingga membuat Nayla makin ketakutan sekaligus penasaran. Ia menjerit dan meronta meminta dilepaskan. Namun Arya malah tertawa sambil merebahkan tubuh gadis itu ke atas ranjang. Dalam beberapa detik, mereka berdua sama sama terdiam. Saling tatap dengan dalam dan penuh perasaan. Arya yang berada di atas tubuh Nayla lantas tersenyum, wajahnya kian mendekat pada Nayla yang pasrah sejak tubuhnya diangkat pemuda itu.


Arya mencium kening Nayla lembut. Kemudian tersenyum. Kecupannya beralih ke mata kanan Nayla, lalu ke mata kirinya, secara perlahan. Jantung Nayla berdegup makin cepat, ia gugup mendapat perlakuan manis dari Arya. Sesuatu yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Dan bahkan tidak pernah terlintas di pikirannya sama sekali. Ciuman itu terhenti saat Arya menatap bibir ranum gadis itu. Ia menyapu lembut, lalu kembali mendaratkan ciuman di bibir kenyal Nayla. Cukup lama mereka berpagutan, sampai akhirnya tangan Arya mulai masuk ke pakaian Nayla, tapi sedetik kemudian ia kembali melepaskannya, dan juga ciuman mereka. Nayla yang sudah tegang akhirnya mampu bernafas lega sekarang. Lalu kata maaf meluncur dengan mulus dari mulut Arya, diakhiri dengan kecupan di dahi gadis itu. Arya lantas beranjak ke kamar mandi. Eh, mau apa dia, ya? Hahaha.


***


Wira baru saja menghubungi ponsel Arya, guna menanyakan di mana keberadaan mereka sekarang. Rupanya mereka harus bergerak cepat kali ini. Jejak pengikut Azazil sudah mulai tercium Wira.


"Wira mau ke sini," ujar Arya setelah panggilan tersebut diakhiri. Nayla yang sedang mengeringkan rambutnya setelah mandi hanya mengangguk paham. Namun ada hitungan detik, tiba-tiba mereka merasakan embusan angin dan seseorang sudah muncul dari sudut ruangan kamar sempit ini.


"Astaga!" pekik Nayla langsung menekan dadanya, sedikit kesal dan takut bercampur menjadi satu. Wira hanya menggaruk tengkuknya merasa bersalah. "Jadi begitu kemampuan kalian? Lalu mobilmu untuk apa?" tanya Arya sarkas.


"Ayolah, Ya. Itu cuma buat penyamaran saja. Kita ada hal yang lebih penting daripada membahas mobil. Wira melirik Nayla yang masih memakai piyama mandi dengan rambut basah, lalu beralih ke Arya sambil berdeham. "Apa?!" tanya Arya menaikkan sebelah alisnya.


"Nggak apa-apa." Wira lantas duduk di pinggir ranjang, menunggu Nayla mengenakan pakaiannya di kamar mandi.


Hujan sudah mulai reda, meninggalkan hawa dingin yang cukup membuat tubuh menggigil jika tidak mengenakan pakaian hangat. Nayla membuatkan dua cangkir kopi dan secangkir susu hangat untuk dirinya. Kopi diletakkan di meja nakas dan kini Arya mengambil salah satu cangkir kopi dan mulai menghirup aromanya. Sementara Wira hanya diam sambil menatap mereka yang sibuk menikmati minuman hangat tersebut. "Kamu nggak mau minum dulu?" tanya Nayla ke Wira. Wira tersenyum, memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaketnya. "Aku nggak perlu makan dan minum," ujarnya pelan. Arya meneguk pelan kopi di tangannya sambil menelaah perkataan Wira. Tak lama ia mengangguk paham.


"Jadi bagaimana cara kita menemukan Azazil?" tanya Nayla.


"Sama seperti yang aku bilang kemarin. Kita harus menemukan sepuluh kunci dari 10 tempat berbeda. Kunci itu akan kita pakai untuk membuka kurungan Azazil. Kita tidak bisa melakukan semua hanya bertiga," jelas Wira sambil menatap dua orang itu dalam.


"Hm, kita harus mengajak Abimanyu, begitu, kan? Jadi kita akan pergi berempat?"


"No, karena Nephilim terakhir sekarang adalah kekasih Abimanyu. Jadi kita akan membawanya juga."


"Apa?! Abimanyu, berpacaran sama Nephilim?!" pekik Nayla sedikit tidak percaya. Wira mengangguk, pertanda iya. "Jadi kalian siap bertemu anak kalian?" tanya Wira.

__ADS_1


Nayla dan Arya saling lempar pandang, lalu mengangguk perlahan bersama sama.


"Aku harap kalian nggak kaget, ya, nanti."


"Kenapa?"


"Hm, kita lihat saja nanti."


Kedua pria dan wanita yang baru saja mengikrarkan cinta mereka hanya saling menatap bingung dengan menampilkan dahi yang berkerut, namun tidak di tanggapi oleh Wira. "Kita teleportasi atau ...?" tanya Arya. Wira tidak menjawab, malah memegang bahu kedua orang itu, dan hilang.


Suasana penginapan yang baru saja ada di sekitar mereka kini berubah menjadi pemandangan alam dengan barisan pohon pinus di sekitarnya. Arya dan Nayla terkejut, namun keduanya langsung merasa mual dan kini memuntahkan semua isi perutnya.


"Maaf, lupa bilang kalau ini efeknya, eum, bagi manusia," gumam Wira. Ia lantas memperhatikan sekitar. Ia mendarat di tempat yang cukup jauh dari keramaian manusia. Ia menatap kedua ujung jalan raya yang sunyi. Menunggu dan berharap ada kendaraan yang lewat dan mau membawa mereka ke tempat Abimanyu. "Huh, kalau saja aku bisa menjelajah tempat ini dengan mudah. Pasti udah sampai di rumah Abi!" cetus Wira menggumam.


"Hei, mana? Nggak ada apa apa di sini. Hutan? Abimanyu itu Tarzan atau apa?" tanya Arya sinis. Ia masih merasakan mual dan tak nyaman di perutnya. Lalu mendekat ke Nayla yang kini duduk di sebuah batu besar yang berada tak jauh dari jalan raya. Arya lantas mendekat dan memeriksa kondisi Nayla.


"Sorry, desa ini punya semacam penangkal. Beberapa kemampuan tertentu nggak bisa dipakai di sini," jelas Wira, sambil mendekat pada dua orang itu yang masih merasakan mabuk dengan perjalanan yang ia bawa tadi.


"Penangkal?"


"Iya. Ada sesuatu di tanah ini yang membuat beberapa kemampuanku nggak bisa maksimal. Dan pasti beberapa kemampuan makhluk lain juga. Tapi bukan berarti desa ini aman dari serangan iblis dan sejenisnya. Justru anak kalian sudah pernah menghadapi banyak makhluk aneh di luar dugaan kalian," jelas Wira sambil memperhatikan sekitar, membuat Arya dan Nayla makin penasaran.


Wira menurunkan tangannya, dan menatap ke dalam kaca mobil depan. Pengendara mobil itu lantas membuka pintu mobilnya. Wira lantas mengerutkan kening saat melihat siapa orang di depannya itu. "Gio?!" gumamnya.


Pria yang terlihat makin tua tersebut melongo melihat pemandangan di depannya. Tiga orang itu adalah orang orang yang sangat ia kenal sebelumnya, namun dengan wujud yang sama saat mereka dulu bertemu. "Wira?" kata Gio dengan bibir bergetar. Ia mulai berjalan pelan mendekati tiga orang itu. "Arya?" Langkahnya pelan tapi pasti, hanya saja tubuhnya makin bergetar hebat. Membuat kakinya lemas dan sebenarnya tak sanggup lagi untuk melangkah. Gio kacau. Ini bagai mimpi ujarnya. Atau dia memang sudah mati sekarang. Itu hal lain yang merasuki otaknya sekarang. "Nayla?"


Arya mendekat ke Wira, "Siapa dia?" tanyanya berbisik.


"Kawan lama kita, Gio."


"Kawan lama?"


Gio berhenti, memukul pipinya sendiri sambil terus menatap tiga orang di depannya itu tanpa berkedip. Wira tersenyum, ia juga mulai berjalan mendekat ke Gio. Sampai akhirnya jarak yang sudah hanya tinggal selangkah membuat Gio berhambur memeluk Wira. Wira pun menyambut pelukan Gio. Wira masih mengingat semua tentang Gio. Awal mereka bertemu sampai akhirnya mereka saling berkelahi. Namun semua itu adalah kenangan yang membuat keduanya tetap saling merindukan.


"Bagaimana bisa kamu ada di sini, kalian?" tanya Gio menatap kawan kawan lamanya tersebut heran. "Apa aku udah mati, ya? Ini surga? Kenapa mirip desa Amethys?" tanyanya dengan pertanyaan beruntun dan membuat Wira terkekeh.


"Kamu masih hidup, Gi. Begitu juga kami, eum, mereka lebih tepatnya," sahut Wira sambil menoleh kepada dua orang di belakang mereka. Gio ikut menatap Arya dan Nayla dengan mata berkaca kaca.


"Kenapa mereka seolah nggak kenal aku?" tanya Gio dengan wajah sedikit kesal, dan hendak meluapkan hal itu ke Arya dan Nayla. Tetapi Wira menahan tangannya, mendekatkan sedikit kepalanya dan berbisik. "Mereka ... nggak ingat siapa kamu. Jadi tahan dulu emosimu, Gi."

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Hm, ceritanya panjang. Bisa kita pulang dulu ke rumah, dua orang itu butuh teh hangat dan makanan. Biasa, mabuk perjalanan," jelas Wira dengan senyum tipis. Gio mengerutkan kening lalu mengajak mereka masuk ke dalam mobil.


Perjalanan ke rumah tidak begitu jauh jika dilakukan dengan mobil. Karena hanya membutuhkan 15 menit saja, mereka kini sudah sampai di sebuah rumah yang berada di tengah tengah hutan. Satu satunya rumah yang ada di sana. Mobil berhenti, mesin mobil dimatikan. Gio menatap kedua penumpangnya yang duduk di jok belakang mobilnya. Tidak ada sepatah kata pun sepanjang perjalanan tadi. Walau wajah mereka sama, tapi sikap mereka seolah benar benar menganggap Gio orang asing, dan itu sedikit melukai hatinya. Hanya ada pembicaraan antara Wira dan Gio, untuk menjelaskan semua yang sedang terjadi sekarang.


Langit mulai gelap, mereka semua turun dari mobil dan berjalan ke rumah tersebut. Siluet bayangan mulai Nayla rasakan saat melihat rumah ini. Ia sempat berhenti dan memandangi bangunan di depan mereka. Gambaran samar mulai datang di pikirannya, masih samar. Tidak begitu jelas. Hanya saja, ia yakin kalau bangunan itu adalah rumah di depannya sekarang. Gio menjerit memanggil nama pemilik rumah sambil tetap memandangi para tamunya. Ia masih menganggap sedang bermimpi karena kembali bertemu dua orang tersebut dengan wujud yang sama seperti pertama kali mereka bertemu. Tidak ada yang berubah sama sekali.


Pintu rumah Gio buka, tetap sambil berteriak memanggil nama Abimanyu. Lalu tak lama kemudian, suara sahutan terdengar dari lantas atas. Dengan suara langkah kaki yang mantap dan perlahan jelas, mereka terus menatap ujung anak tangga yang ada di tengah ruangan. Kini seorang pemuda berumur sekitar 35 tahunan muncul dari sana. Langkahnya terhenti tatkala melihat tamu yang datang bersama pamannya. Jantungnya seolah langsung berhenti berdetak selama dua detik, lalu kembali memacu dengan cepat hingga memaksanya harus menekan dadanya tersebut untuk mengurangi perasaan aneh yang tiba tiba muncul.


"Ayah? Ibu?" panggilnya sambil menatap dua orang yang sangat ia kenal dan tentu ia rindukan. Walau mereka jauh lebih muda dari orang tuanya saat terakhir kali ia lihat dulu. Bahkan kini, Abimanyu jauh lebih tua daripada kedua orang tuanya. Nayla dan Arya yang kini masih berumur 25 tahun hanya menatap pemuda itu dengan kebingungan. Tapi jauh dari lubuk hatinya yang terdalam, di sudut lain hati mereka, ada perasaan getir dan bahagia yang bercampur menjadi satu saat kedua bola mata mereka bertemu dengan bola mata Abimanyu.


"Eum, Arya, Nayla ... Dia Abimanyu. Anak kalian di kehidupan kalian sebelumnya," jelas Wira menatap mereka bergantian. Ketiga orang tersebut hanya diam, Abimanyu kembali melangkahkan kakinya mendekat kepada dua sosok yang sangat ia kenal dulu. Matanya berkaca kaca, bibirnya bergetar, ia menahan sesak di dada dengan berusaha mengatupkan kedua rahangnya. Ia menoleh ke Wira yang berdiri di samping Arya.


"Jadi Om Wira berhasil menemukan mereka?" tanyanya dengan menahan tangis yang hampir pecah. Wira mengangguk pelan dengan senyum getir. Ia yakin ini bukanlah suasana terbaik yang bisa ia ciptakan. Karena baik Arya mau pun Nayla belum bisa mengingat semua kenangan mereka di masa lalu, dan hal ini pasti sangat menyakiti Abimanyu karena tidak dikenal oleh orang tuanya sendiri.


Abi kembali menatap Arya, ia tersenyum getir. Sementara Arya hanya berdiri diam dengan memaksa senyum yang sama seperti apa yang dilakukan pria di depannya. Abimanyu yang menyadari kekakuan ini, tidak bisa memaksakan apa pun. Ia tau dan sangat sadar kalau semua butuh waktu. Dan baginya asal dapat melihat kembali dua orang itu, rasanya sudah lebih dari cukup.


"Hai, kamu ... Abimanyu?" sapa Nayla dengan pertanyaan basa basi. Abi menoleh ke wanita muda di samping Arya yang dengan ramah menyapanya terlebih dahulu. Terlihat aneh, namun ia menghargainya, sangat. Dan sikap Nayla barusan benar benar merobohkan pertahanan air mata Abimanyu. Tangisnya pecah. Kedua bola matanya mengalirkan air bening dengan cukup deras. Abimanyu mengangguk cepat menanggapi pertanyaan Nayla. Sambil mengelap air mata yang sudah tidak bisa ia tahan lagi dengan telapak tangan kirinya, tangan kanan Abi menjulur ke arah wanita muda itu. Bermaksud saling berkenalan. Nayla justru menepis tangan itu dan langsung memeluk Abimanyu erat.


Sikap Nayla justru membuat Abi makin menangis lagi. Seorang Abimanyu yang terkenal tegar dan kuat kini terlihat sangat rapuh di depan ibunya. Isak tangis Abi mampu didengar Nayla dengan cukup jelas. Walau dirinya belum mengingat apa pun, tapi hatinya tersentuh dan ikut sakit mendengar Abi menangis. Bahunya terasa basah karena tangis Abimanyu. Nayla mengelus punggung Abimanyu lembut. Tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut keduanya, hanya ada suara tangis. Dan makin lama, kedua mata Nayla juga mulai mengeluarkan air bening yang sama. Ia bahkan tidak sadar dan tidak tau mengapa ia juga menangis. Siluet bayangan kembali muncul, menunjukkan beberapa kenangan yang pernah terjadi di rumah ini. Nayla sangat yakin kalau wanita dalam penglihatannya adalah dirinya sendiri. Wanita itu sedang menggendong seorang anak kecil yang sangat aktif, dan berakhir dengan panggilan, "Abimanyu!"


Nayla segera melepaskan pelukannya. Lalu menatap pria yang memiliki nama yang sama tersebut. Ia menggeleng pelan.


"Kenapa, Nay?" tanya Wira. Nayla yang sejak tadi diam dan hanya menatap Abimanyu lantas menggeleng cepat. "Ngga apa apa!"


Wira tersenyum tipis dan sedikit lega.


***


"Jadi di mana saja kunci yang Om maksud tadi?" tanya Abimanyu dingin. Sorot matanya penuh hasrat ingin menyelesaikan semua ujian yang terdapat di dalam buku catatan yang dibawa oleh Wira. Ia yang memang sudah terbiasa menantang bahaya, kini sudah tidak takut lagi akan maut yang ada di depan mata. Semua orang sudah berkumpul di ruang tamu rumah Abimanyu.


"Kita harus mendatangi satu persatu tempat itu untuk mengambil kunci kunci tersebut."


"Apa nggak sebaiknya kita berpencar, Ra?" tanya Arya.


"Enggak. Kita harus menghadapinya bersama sama, Ya. Karena kesepuluh tempat ini adalah beberapa tempat misterius dan berbahaya. Aku saja nggak tau apa saja bahaya yang akan mengintai kita nanti di sana. Dan aku yakin kalau kita ke sana bersama sama, akan lebih memungkinkan untuk mendapat kunci kunci itu."


"Gue ikut, Bi!" cetus Vin, antusias. Semua orang menatapnya dingin, namun Abi justru menggeleng cepat. "Jangan, Vin. Harus ada yang tinggal di sini. Kasihan Allea, dia lagi hamil, kan? Kita harus bagi tugas sekarang. Elu sama Rendra tetap di desa. Jaga semua orang. Gue yakin para iblis itu bakal mencari kami, dan bisa saja sampai ke sini saat kami pergi. Gue nggak sanggup lagi kalau terjadi sesuatu sama desa ini. Tolong, jagain mereka semua. Gue yakin kalian berdua bisa melakukan itu," pinta Abimanyu pada Vin dan Rendra. Walau butuh waktu agak lama, akhirnya mereka berdua setuju dengan permintaan Abimanyu. IA lantas menoleh ke Gio yang duduk di sampingnya. "Paman ... paman juga harus tinggal di sini buat bantu ...."

__ADS_1


"Nggak! Gue nggak bakal diam saja di saat kalian bertarung lagi, Bi. Inget, gue udah janji sama Arya, kalau gue bakal jagain anaknya! Gue ikut!" kata Gio yang memotong perkataan Abimanyu. Hal ini membuat Abi menarik nafas panjang dan menghembuskannya cepat. Ia sadar kalau ucapan Gio tidak akan bisa dicabut kembali. Abi sebenarnya takut jika terjadi sesuatu dalam misi mereka kali ini. Firasatnya tidak enak sejak ia mendengar penjelasan Wira tadi. IA yakin, akan ada pertempuran besar besaran. Dan ia takut. Baru kali ini ia merasa takut menghadapi kematian.


__ADS_2