pancasona

pancasona
Part 171 Simbol ANKH


__ADS_3

Suasana perpustakaan terasa sunyi, kini hanya ada mereka berdua yang duduk di lantai paling atas. Sisanya hanya mahasiswa yang ingin berteduh saja di lantai bawah. Hari beranjak sore dengan begitu cepat. Namun hujan masih deras membasahi bumi dan memaksa beberapa orang harus diam di tempatnya sekarang.


"Archangel?" tanya Nayla balik. Arya hanya mengangguk menanggapinya, ia juga bingung dengan reaksi Nayla yang sedikit heboh. "Archangel apaan sih?"


"Kamu nggak tau?" Tentu saja Arya menggeleng pelan dengan dahi yang berkerut. "Angel."


Arya melongo namun tak lama tertawa lebar. Nayla lantas mendesis sambil tengak tengok sekitarnya. Karena ini adalah perpustakaan, yang mengharuskan orang-orang diam, tidak banyak bicara apalagi tertawa sekeras itu. Tak mempan dengan desisan, Nayla beranjak dan duduk di dekat Arya, lalu menutup mulut pemuda itu rapat-rapat dengan telapak tangannya.


"Eh tapi tunggu bentar deh, Nay," tukas Arya sambil memegang tangan Nayla yang tadi ada di depan mulutnya. "Apa?" sahut Nayla sebal.


"Dia bilang seperti itu, mungkin karena lihat tato di punggungku kali, yah?"


"Tato? Tato apa memangnya?"


"Ini." Arya menaikkan kemejanya ke atas, memperlihatkan sebuah tato yang menutupi hampir semua punggungnya. Tato itu bergambar seorang pria dengan posisi jongkok, kepalanya tertunduk dengan bertumpu pada tangan yang berada di lututnya. Pria itu memakai sayap besar sekali yang berasal dari punggungnya.



"Waw, keren."


Arya kembali menutup tubuhnya, dan kini dengan senyum kemenangan merasa statmentnya adalah yang paling benar. "Nah, kan! Cuma asal ngomong aja dia itu. Karena lihat tato ini!"


"Memangnya tato itu siapa yang buat, dan sejak kapan, Ya?"


"Pas aku sudah akhil balig. Bapak yang bikin ini, bagus, yah?"


Nayla diam sambil berpikir. Rasanya aneh mengetahui tato itu berasal dari bapaknya Arya. Dan dibuat saat Arya masih belum cukup umur. Tato bagi sebagian orang di daerahnya adalah hal yang tabu, dan tidak pernah dianjurkan. Dan yang terjadi sekarang, malah tato itu dibuat oleh ayah Arya sendiri.


"Eh, sudah reda tuh. Pulang, yuk," ajak Arya sambil melihat jendela di dekat mereka. Hujan memang sudah reda, bahkan mereka sendiri tidak menyadarinya. Terlalu asyik berdebat dan membahas hal yang saling bertentangan di antara mereka. Arya yang sangat tidak percaya hal yang sedang Nayla pelajari, membuat Nayla sedikit kesal. Apalagi reaksi Arya yang sangat mengejek dirinya. Tapi Nayla masih penasaran dengan tato yang ada di pergelangan tangan Arya. Karena ia tau kalau simbol itu memang digunakan untuk penangkal iblis. Dan Nayla sendiri sudah pernah melihat iblis sebelumnya.


Mereka berdiri di ambang pintu perpustakaan dengan membawa beberapa tumpukan buku yang sudah dipinjam Nayla dari perpustakaan. Dan akhirnya hari ini dia menjadi salah satu anggota peminjam di perpustakaan kampus.


"Arya, itu Retno sama siapa?" tanya Nayla sambil menunjuk seorang gadis yang di kelilingi beberapa pemuda berjalan ke gedung kampus yang sudah usang. Tempat itu memang sedang direnovasi dan tidak digunakan untuk mengajar selama beberapa tahun ajaran ini.

__ADS_1


"Ngapain dia itu!" cetus Arya lalu berjalan menyusul Retno. Nayla yang bingung, lalu mengikuti Arya. Ia juga penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Dari kejauhan Retno terlihat pasrah saja, tapi raut wajahnya aneh. Dia terlihat seperti tubuh tanpa jiwa.


Mereka berdua sampai di gedung tua itu. Banyak bahan material dan tangga kayu yang diletakkan asal. Arya berjalan melewati beberapa palang kayu yang di masih dipasang asal. "Hati-hati," kata Arya sambil menoleh ke belakang. Nayla diam, dan hanya mengangguk paham. Langkah mereka dibuat pelan, karena takut diketahui orang-orang tadi. Firasat mengatakan kalau terjadi sesuatu dengan Retno.


Mereka berjalan naik, melewati tangga. Suara langkah kaki orang di atas mereka jelas terdengar karena jumlah mereka yang cukup banyak. Arya berhenti berjalan, "Kamu jangan ikut deh mendingan."


"Kenapa?"


"Bahaya!"


"Ih, nggak apa-apa. Aku ikut. Buruan, nanti Retno keburu diapa-apain sama mereka, Arya!" Nayla mendorong tubuh Arya agar kembali berjalan. Terpaksa Arya meneruskan niatnya, dan membawa Nayla serta. Gadis di belakangnya termasuk orang yang keras kepala.


Akhirnya mereka sampai di lantai atas. Bersembunyi saat salah satu dari orang tadi menoleh ke belakang, memeriksa apakah ada yang mengikuti mereka atau tidak. Arya lantas kembali berjalan dengan mengendap-endap saat keadaan kembali aman. Mereka masuk ke sebuah ruangan kosong yang berada di ujung koridor. Lagi lagi Arya menoleh sebelum berjalan ke depan," Jangan jauh-jauh dari aku!"


"Iya, bawel ih!"


Perlahan langkah mereka mulai dekat ke ruangan itu. Samar ada suara orang sedang bergumam dengan kalimat aneh. Saat mereka sudah sampai ke depan pintu itu, Arya mengintip ke salah satu lubang yang ada di pintu. Nayla pun sama, mengikuti Arya mencari lubang lainnya. Kini mereka sudah bisa melihat keadaan di dalam sana. Retno sedang terbaring di sebuah meja besar dengan bentuk salib dengan bagian atas yang berbentuk oval. Di sekelilingnya ada beberapa orang yang memakai jubah dan tudung berwarna hitam. Salah satu dari mereka seolah sedang memimpin ritual, dan yang lain menyahut seperti meng-amini perkataan pemimpinnya.


"Apa-apaan itu!"


"Simbol apa?" tanya Arya sambil menoleh ke Nayla yang jongkok di sampingnya.


"Itu yang di bawah Retno simbol ANKH. ANKH itu salah satu simbol kekuatan terdahsyat dari dunia mistik hitam. Katanya itu simbol untuk kehidupan abadi. Dulu ANKH dipergunakan dalam upacara pemujaan RA, dewa matahari Mesir kuno yang diyakini sebagai wujud lain dari setan. Ra juga dianggap sebagai pencipta alam semesta dan disembah oleh orang-orang Mesir kuno. Lingkaran di atas kepala adalah gambaran matahari. Dalam ajaran Mesir kuno, ANHK bermakna sebagai keabadian hidup. Syarat utama untuk menggunakan simbol ini, orang-orang Mesir kuno diwajibkan mempersembahkan kesucian para gadis perawan dalam sebuah pesta ritual yang menyeramkan," jelas Nayla lalu ditanggapi dengan tatapan tajam Arya.


Arya lantas berdiri, mundur satu langkah dan menyuruh Nayla menyingkir. Ia langsung menendang kuat-kuat pintu itu hingga jebol. Nayla menatap ngeri ke Arya yang sudah terlihat sangat marah. Arya langsung masuk ke dalam, ia di halangi beberapa orang berjubah hitam itu. Satu persatu pukulan dilayangkan dan membuat mereka terkapar di lantai. Pukulan Arya terlihat sangat kuat, bahkan sekali ia memukul lawan, mereka seolah terpental cukup jauh.


Nayla ikut masuk ke dalam. Ia meletakkan buku-buku yang dibawa dari perpustakaan tadi. Lalu membantu Retno membuka ikatannya. Retno yang masih terlihat seperti orang linglung terus berusaha disadarkan oleh Nayla. Ia memukul-mukul wajah Retno agar wanita itu kembali pada kesadarannya. "Ret! Retno! Sadar, Ret!" jerit Nayla berusaha sekeras mungkin. Ia lantas meletakkan telapak tangannya di kening Retno, " A PRIORI INCANTATEM!"


Retno tersadar. Ia lantas seperti orang panik dan ketakutan. "Lepaskan aku!" raungnya sambil menutup wajahnya sendiri.


"Ret, ini aku, Nayla!" cetusnya sambil memegang kedua bahu gadis itu. Retno menatap Nayla dan akhirnya menangis di pelukannya. "Sh ... sh ... Sudah. Kamu udah aman sekarang. Kita pergi dari sini, ya!" ajak Nayla. Mereka saling bergandengan tangan dan berjalan ke arah pintu. Arya masih bertarung dengan orang - orang berjubah hitam. Ia masih terlihat baik-baik saja dan mampu menguasai keadaan. Walau di sudut bibirnya terlihat bercak merah karena darahnya sendiri. Tetapi Arya masih bisa berdiri dan memukul lawannya dengan tanpa ampun. "Kalian pergi dulu!" suruh Arya. Nayla mengangguk dan memapah Retno keluar dari ruangan ini. Mereka bergegas pergi sebelum ada orang lain yang menghalangi. Nayla yakin kalau Arya bisa menangani masalahnya di dalam. Tapi ia sempatkan menoleh ke dalam sebelum benar-benar pergi, Arya yang melihat Nayla, lantas mengangguk yakin. Seolah mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.


Dua gadis itu segera berjalan keluar. Menapaki lantai kotor di bawah dengan langkah cepat. Nayla bahkan melupakan buku-buku pinjaman nya dari perpustakaan tadi. Sempat khawatir, namun keselamatan mereka jauh lebih penting. Sampai di lantai bawah, mereka berdua menunggu Arya di sebuah bangku yang ada di depan ruang perpustakaan. Suasana di sekitar mereka sudah sunyi. Hanya terdengar bunyi kicauan burung gereja yang kini terlihat ramai memenuhi halaman tengah kampus. Kampus mereka memiliki bentuk persegi, dengan bangunan yang mengelilingi halaman kampus. Sehingga keadaan di tiap ruangan akan terlihat di sisi lain gedung. Nayla beranjak sambil terus menatap ke gedung kosong itu. Arya belum juga keluar, khawatir akan keselamatannya, ia lantas berniat ingin menyusul Arya. "Kamu sini sebentar, ya, Ret."

__ADS_1


"Kamu mau ke mana, Nay?"


"Aku mau nyusulin Arya, aku takut dia kenapa-napa. Sudah lama banget ini kita nunggu dia di sini!" terang Nayla. "Tapi, Nay!" Kalimat Retno terpotong, karena gadis dengan rambut panjang yang selalu digerai itu, langsung berlari kecil melewati beberapa pohon bougenville yang ditanam rapi sebagai hiasan taman. Tanaman hias yang ada di beberapa sudut taman, dilansir akan membuat lelahnya otak para mahasiswa menjadi sedikit berkurang. Nyatanya hal itu malah jadi ajang bersantai dan pacaran oleh beberapa oknum mahasiswa. Nayla berhenti di tengah taman, saat melihat bayangan besar lewat di bawahnya. Sebuah bayangan dengan bentuk mirip sayap tetapi dengan ukuran yang sangat besar. Ia lantas mendongak ke atas, "apa itu?" tanyanya dalam hati.


Sesuatu yang ia pikir adalah burung rajawali sedang terbang di langit, berputar-putar di sekitar kampus, lalu akhirnya menghilang, terbang lebih tinggi lagi ke atas. Menembus tumpukan awan putih yang terlihat bagai hamparan permadani langit.


"Nay?" Pemilik suara dengan nada barito yang sangat ia kenal, kini sudah ada di hadapannya. Wajahnya lebam di beberapa tempat. Bajunya kotor dan sedikit robek di bagian punggungnya. "Arya?!" cetusnya lalu memegang wajah pemuda itu dengan gurat kecemasan. "Kamu nggak apa-apa?"


"Masih hidup. Yuk, " ajak Arya sambil menggandeng tangan gadis itu posesif. Mereka mendekat ke Retno yang masih duduk dengan tubuh lemah. Tenaganya seolah sudah habis terserap oleh kejadian tadi. Ia bahkan tidak ingat bagaimana peristiwa tadi berawal. Hingga dirinya yang hampir saja menjadi korban persembahan.


"Mereka siapa?" tanya Nayla.


"Beberapa mahasiswa, tapi beda fakultas. Dan berbeda tingkat juga. Mungkin mereka punya kelompok tertentu. Dan, apa tadi kamu bilang? Simbol itu?"


"ANKH?"


"Yah, itu, bagaimana kamu tau tentang semua itu?" desak Arya dengan kedua tangan menyilang di depan dadanya.


"Dari buku. Astaga, buku-buku ku!" pekik Nayla, memukul keningnya sendiri.


"Besok aja kita ambil. Pasti nggak akan hilang kok. Sekarang kita pulang dulu, sebentar lagi malam. Kasihan Retno itu," tunjuk Arya. Gadis yang ditunjuk hanya diam, melamun. Sepertinya pengaruh sihir yang ia dapat masih belum hilang sepenuhnya.


"Kalau begitu biar aku anter Retno naik mobilku."


"Aku ikut. Biar aku yang nyetir."


"Terus motor kamu?"


"Aku titipin ke Bang Ucok."


____________________


Di sisi lain, setelah ketiga orang itu pergi dari kampus, seseorang turun dari langit. Ia yang sedari tadi terbang mondar mandir di atas kampus ini. Pencariannya berhasil. Kini ia telah menemukan dua orang yang sejak beberapa bulan belakangan menjadi target pencarian langit dan bumi. Semilir angin malam mulai datang, menerpa anak rambut Wira yang sudah tergerai panjang. Di langit ia tidak pernah memperhatikan penampilannya. Namun setelah ia kembali turun ke bumi, maka ia harus berbaur. Dan tentu mengubah semua penampilannya agar layak dan bisa diterima oleh manusia.

__ADS_1


"Kalian masih sama," kata Wira yang sorot matanya sejak tadi terus menangkap pergerakan dua manusia di ujung koridor sana. "Aku harus mendekati mereka, menjadi teman mereka sampai ingatan itu pulih."


Tubuh Wira memancarkan cahaya terang dan seketika membuat penampilannya berubah layaknya manusia normal. Wajahnya yang sudah tampan sejak dulu, akan sangat mudah menarik perhatian lawan jenis dan misinya saat ini adalah mendekati Arya dan Nayla sebelum iblis atau pun fallen angel lain menemukan mereka.


__ADS_2