pancasona

pancasona
Part 77 Nayaka


__ADS_3

Lampu dimatikan seluruhnya. Pria berkemeja putih itu meraih jaket, lalu menutup pintu cafe. Ia menatap gedung yang sudah beberapa tahun belakang ini menjadi tumpuan hidupnya. Tempat dia mencari makan, dan berbaur untuk mendekati makanannya. Manusia.


Ia memakai penutup kepala, hodie yang ia pakai adalah hadiah dari Alicia. "Alicia, Alicia, kenapa kau begitu baik padaku. Membuatku tidak tega untuk menyantapmu saja."


Nayaka menatap jam di pergelangan tangannya. Jarum jam di sana menunjuk ke angka 12 tepat. Nayaka tengak tengok. Seorang wanita dengan pakaian minim melewati dirinya. Sikapnya begitu menggoda, seolah memberikan untuk hijau pada Nayaka untuk mendekatinya. Dia adalah wanita penghibur. Nayaka sering membawa wanita penghibur ke rumahnya. Karena dia selalu pulang saat larut, dan yang ia temui adalah wanita tuna susila yang sedang mencari pelanggan. Penampilannya bermacam-macam, dari yang tertutup sampai yang terang-terangan menggoda orang yang lewat di depan mereka.


"Ayo," ajak Nayaka, berjalan lebih dulu. Wanita tadi yang sudah memegang 5 lembar uang pecahan seratus ribuan sangat bersemangat. Mengikuti Nayaka yang terus berjalan ke jalanan. Penampilan Nayaka yang glamour menunjukan tingkat sosialnya. Jaket dengan merk perusahaan ternama selalu ia kenakan. Harganya cukup mahal untuk kalangan orang biasa. Kemejanya juga ia beli di butik ternama. Semua barang yang ia pakai selalu produk asli. Ia memang banyak uang.


Mereka sampai di jalan layang dengan lorong gelap. Di atas jalan layang itu ada jalur kereta api yang akan lewat setiap dua puluh menit sekali. Ini sudah larut malam. Bahkan sudah lewat tengah malam.


Tidak ada manusia yang berani lewat di jalan layang itu. Tapi kali ini pengecualian. Wanita tadi terus mengukir senyum karena malam ini ia akan meraup banyak uang.


"Setelah selesai aku akan memberikan setengahnya lagi," kata Nayaka saat memberikan uang muka pada wanita tadi. Tentu hal ini sangat jarang terjadi.


Sampai di tengah jalan, lampu yang ada di sepanjang jalan tiba-tiba berkedip. Lalu mati total secara bersamaan. Wanita itu sedikit gusar. Memperhatikan keadaan sekitar yang benar-benar tidak ada kehidupan selain dirimu dan pria yang menyewa jasanya tadi. "Kita akan melakukannya di sini?" tanyanya.


"Tidak masalah, bukan? Lagipula tempat ini sepi. Tidak ada orang yang akan melihat kita," jawab Nayaka santai.


"Baiklah." Wanita itu mendekat. Melingkarkan tangan di leher Nayaka. Sementara Nayaka hanya diam, kedua tangannya yang sejak tadi ada di dalam saku celana membuat wanita tadi kesal. Rayuannya seolah tidak mempan pada pria di hadapannya itu.


"Kenapa kau diam saja? Apakah aku tidak menarik?" tanyanya dengan sedikit kesal.


"Justru kau sangat menarik."


"Lalu?"


"Cobalah lagi."

__ADS_1


Saat wanita tadi hendak mencium Nayaka, tiba-tiba Nayaka memalingkan wajahnya. "Kenapa?"


"Bukan begitu caranya," kata Nayaka dengan suara berat.


"Maksudmu?"


Seketika tangan kanan Nayaka mendarat tepat di leher wanita itu. Mencekik erat. Hingga wanita itu meronta kesakitan. Nafasnya hampir habis. Tak hanya sampai di situ, Nayaka mengangkat wanita itu tinggi-tinggi. Kakinya meronta mencari pijakan. Wajah Nayaka mendekat padanya. Jari telunjuk dan ibu jari Nayaka menekan kuat pada rahang wanita seksi berdress merah tersebut. Membuat mulutnya terbuka lebar. Di saat itulah Nayaka mengisap hawa kehidupannya dalam-dalam.


Kulit yang kencang dan segar kini berubah kering. Makin lama ia makin kering dan kini mulai keriput. Nayaka terus melakukan hal itu, sampai daging wanita itu habis. Kini tinggal tulang berbalut kulit. Terus ia hisap. Hingga ... Tubuh itu benar-benar kering. Dalam sekali remas, tubuh tadi hancur menjadi abu. Tertiup angin malam hingga tak bersisa sedikitpun.


Nayaka mengelap sudut bibirnya. Seolah makanan yang ia santap meleber membuat mulutnya kotor. Ia menyeringai, sorot matanya mengerikan. Tidak ada kehangatan di sana. Hanya ada tatapan dingin dan penuh kegelapan.


Nayaka membersihkan jaketnya dari debu wanita tadi. Menepuk pelan lalu berjalan meninggalkan tempat itu. Ia menikmati udara malam dengan rasa bahagia. Terlebih ia sudah menyantap makan malamnya dengan sempurna. Beberapa kali ia melihat Kalla melakukan hal serupa. Mereka adalah satu ras. Tapi Nayaka adalah ras tertinggi Kalla. Ia dilahirkan dari rahim seorang Kalla tertua, yang menikah dengan pria manusia.


Sejak lahir Nayaka sudah ditakdirkan menjadi Kallandra pertama dan terkuat. Ia sudah hidup sejak ratusan tahun lalu. Berganti identitas dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Keistimewaan Nayaka karena menjadi Kallandra pertama adalah tidak berwujud seperti ras nya. Bentuk, bau, dan segala hal tentang Kalla tidak akan ditemukan dalam diri Nayaka. Tapi rasa haus akan tubuh manusia tetap menjadi hal utama yang ia butuhkan. Tubuhnya benar-benar manusia, tapi jiwanya iblis.


"Malam, Chris," sapa Nayaka pada satpam penjaga apartment yang selalu berjaga di lobi.


"Malam, Pak Nayaka. Wah, anda pekerja keras sekali, ya. Sebaiknya perbanyak istirahat. Kesehatan juga penting, bukan?" saran Chris yang menemani Nayaka berjalan hingga lift. Chris menekan tombol lift sebagai salah satu tugasnya untuk melindungi penghuni apartment. Ia selalu melakukan hal itu, membantu penghuni apartment masuk ke lift sekaligus memastikan mereka sampai di lantai mereka masing-masing.


"Terima kasih, Chris. Kau juga tidurlah. Tidak akan ada pencuri malam ini. Kau juga perlu istirahat, wajahmu terlihat sangat lelah," kata Nayaka yang sudah masuk ke dalam lift, seorang diri. Chris berdiri di depan lift dengan senyum perpisahan pada salah satu penghuni apartment nya yang paling ramah.


"Setelah ini, Pak Nayaka. Kau adalah warga terakhir di tempat ini yang masih terjaga."


"Selamat istirahat, Chris."


"Anda juga, Pak Nayaka." Chris menekan tombol lift dan lift pun menutup, membawa Nayaka ke lantai 34. Kediamannya.

__ADS_1


Di tiap lantai ini hanya ada 5 kamar saja. Karena ini adalah termasuk tempat mewah yang selalu memberikan fasilitas terbaik nya. Nayaka sampai di ujung koridor. Menekan kunci sandi untuk kamarnya. Suara pintu terbuka membuat Nayaka masuk ke dalam. Ia melepas sepatu dan menyampirkan jaketnya di hanger sudut dekat pintu. Lampu otomatis menyala saat Nayaka menginjakan kaki di dalam. Lalu akan mati saat ia sampai di ruang tamu. Keadaan seluruh ruangan gelap. Hanya ada penerangan dari aquarium miliknya. Ia menyapa hewan peliharaannya lebih dulu. Beberapa ikan piranha mondar mandir di aquarium besar itu. "Ah, kalian belum makan, ya?" tanya Nayaka dengan berbisik. Ia melangkah ke dapur mengambil sepotong daging segar dari dalam lemari pendingin. Lalu memasukan daging merah segar itu ke dalam aquarium. Dalam hitungan detik, daging merah segar itu habis dilahap ikan-ikan miliknya. Nayaka tersenyum senang. "Sudah kenyang, bukan? Sama. Aku juga."


Ia berjalan meninggalkan ruang tamu menuju ruang kerjanya. Satu keistimewaan lain pada Nayaka. Ia tidak pernah tidur. Ruangan dengan ukuran 5x5 meter itu, sungguh rapi. Ada sebuah meja di tengah ruangan. Ada laptop di atas meja. Di sisi kanan ada beberapa monitor dengan menampilkan banyak tempat. Nayaka memasang banyak kamera cctv di semua gedung ini. Bahkan tiap kamar. Maka dari itu, Nayaka sangat hafal tiap warga di sini. Bahkan ia sudah menandai kamar mana saja yang masih berpenghuni manusia.


"Hm. Hm. Hm. Tinggal Lidya, Rendra, dan Alvin saja. Mungkin besok malam aku akan datang ke kamar Lidya. Dia sudah mulai melunak padaku. Dasar wanita temperament. Akan aku makan kau!" Nayaka mengelus pipi kanannya dengan mengingat memori beberapa bulan lalu. Saat ia mendekati Lidya yang mendapat tamparan keras di pipinya. Lidya memang terkenal sebagai wanita galak di apartment. Tidak ada yang mau menyapanya bahkan ia satu-satunya orang yang sangat di benci para tetangga di lingkungan ini. Profesinya yang sebagai guru karate membuat Lidya menjadi target akhir. Hanya saja karena sikap Lidya yang terkadang membuat Nayaka emosi, membuat rencana Nayaka berubah. Ia ingin segera mengisap tubuh wanita galak itu.


Nayaka beranjak mengambil segelas bir dari dalam kulkas kecil di ruang kerjanya. Menyangka beberapa butir es batu. Ia berjalan ke balkon kamarnya. Duduk di kursi goyang yang sengaja ia letakan di sana. Ia duduk dan memandang ke langit gelap di depannya. Menghirup aroma minuman di tangannya. Menyesapnya sedikit. Lalu menarik nafas dalam dalam.


Ia kembali teringat gadis-gadis jalanan yang sudah ia santap. Dan tentu wanita terakhir tadi. Ada kepuasan tersendiri melihat korban nya tersiksa hingga mati.


Sejak kecil kemampuan membunuhnya sudah teruji. Bahkan dia adalah pembunuh dari ayahnya sendiri. Ayahnya adalah mati mengenaskan saat menggendong dirinya yang saat itu baru berusia satu tahun.


Saat ayahnya mengangkat Nayaka tinggi-tinggi dengan senyum lebar, Nayaka justru mengisap hawa kehidupan ayahnya. Hingga tidak tersisa. Sementara ibunya, diam. Karena ia tau putranya membutuhkan makanan.


Semua orang terdekat Nayaka sudah masuk ke dalam dirinya. Kehidupan mereka sudah direnggut Nayaka. Hal itu lah yang membuat Nayaka mampu hidup selama ini. Hal itu juga yang membuat dirinya kekal abadi dan terus awet muda saat ia merenggut nyawa anak kecil. Karena anak kecil memiliki hawa kehidupan paling murni diantara manusia dewasa lainnya.


Nayaka meraih ponsel pintar miliknya. Menatap sebuah kontak list di sana.


"Abimanyu Maheswara. Kenapa kau terus menjauh dariku, hah?"


Foto milik Abimanyu dengan dirinya yang diambil beberapa waktu lalu selalu ia simpan. Ia tau Abimanyu memiliki kemampuan istimewa. Dia satu-satunya manusia yang bisa melihat wujud asli rasnya dengan mata telanjang. Hal itu ia sadari saat pertama kali Abimanyu datang ke cafe.


Abimanyu yang terhenyak melihat salah satu Kalla yang menjadi pelanggan mereka terlihat jelas di mata Nayaka. Abi terkejut dan gugup melihat Kalla. Ini adalah hal yang baru pernah Nayaka lihat. Akhirnya ia mulai mencari tau asal usul Abimanyu.


"Tidak perlu mencari, rupanya dia datang sendiri padaku. Akira yang akan membunuhku ternyata ada di dekatku. Hahaha. Dan dia tidak menyadari kalau akulah yang harus ia bunuh. Mirisnya dia kini sedang mencari-cari diriku. Sungguh bodoh!" kata Nayaka dengan tawa meremehkan.


Nayaka memang tau asal usulnya. Legenda Kallandra yang ternyata dirinya lah yang ada di dalam buku itu. Buku yang ditulis seseorang jauh sebelum Kalla muncul ke bumi.

__ADS_1


______


__ADS_2