pancasona

pancasona
Part 147 Momen romantis


__ADS_3

Hari ini Vin dan Allea pergi ke rumah Yudistira. Ia benar-benar serius dengan ucapannya untuk membeli tanah yang dekat dengan kediaman Abimanyu. Dan tentu rencana pernikahan mereka benar-benar serius, dan akan dilangsungkan dalam waktu dekat. Ellea ikut ke cafe, karena ia juga rindu suasana cafe. Alasan lain, karena tidak mungkin meninggalkan dia di rumah sendirian.


Desas-desus beberapa orang hilang sunter terdengar. Berita itu terus mengalir dari mulut ke mulut. Bahkan para pengunjung cafe juga tidak bosan-bosannya memberitakan beberapa warga yang mendadak hilang secara serempak. Mereka juga mengaitkan hal itu dengan kematian Rahmat beberapa waktu lalu. Hampir semua orang menganggap orang-orang yang hilang ini akan bernasib sama seperti Rahmat. Hanya tinggal menunggu waktu saja, kapan mayat mereka akan ditemukan.


Kepala desa sudah menghubungi pihak yang berwajib untuk segera mengusut masalah ini, dan meminta bantuan untuk mencari beberapa warganya yang dikabarkan tidak ada di rumah mereka. Anehnya di dekat pintu atau jendela rumah warga yang anggota keluarganya hilang, terdapat cakaran di sekitar rumahnya. Cakaran yang sama seperti apa yang ditemukan di dekat mayat Rahmat waktu itu. Isu hewan buas menjadi salah satu opsi terbaik dalam masalah ini. Polisi bahkan meminta bantuan ahli hewan untuk mencari tau hal tersebut.


"Si Vin, jadi beli tanah itu?" tanya Gio ke Abimanyu yang sedang sibuk membuat kopi untuk pelanggan pertama mereka. Abi hanya mengangguk sambil melirik ke Ellea yang berdiri di meja kasir, sampingnya. Wajahnya terlihat tidak senang, ia terlihat murung.


"Lah terus tanah yang di sebelah jadi elu beli, Bi?" tanya Gio lagi, ia yang sedang duduk di seberang meja barista menatap Abi dan Ellea bergantian. Sadar kalau ada yang tidak beres di antara mereka berdua. Gio berdeham, karena pertanyaannya tidak mendapat respons apa pun dari Abimanyu.


"Eum, jadi kok, Paman. Tapi masih tunggu surat tanahnya, masih diurus katanya."


"Oh, oke." Gio memutuskan pergi dari hadapan mereka berdua, karena takut akan menjadi korban peperangan pasangan di depannya itu.


"Ell ...," panggil Abimanyu ragu-ragu. Tidak biasanya Ellea menunjukkan wajah murung seperti sekarang. Ellea hanya membalas dengan gumaman sekedarnya, tap perhatiannya tetap fokus pada benda di depannya. Ia masih menghitung laporan penjualan dan pemasukan cafe.


'Kamu kenapa?"


"Aku? Memangnya kenapa? Aku nggak apa-apa," elak Ellea dengan mencoba menarik sudut bibirnya, agar tercipta senyum. Senyum palsu pastinya. Karena ia sedang tidak baik-baik saja. "Aku ke toilet dulu," kata Ellea sambil berlalu begitu saja. Maya yang melihat kepergian Ellea, menatap Abimanyu bingung. Gadis itu mengangkat kedua bahunya dengan alis yang sama terangkat, seperti isyarat, "Kenapa?"


Abi justru hanya menggeleng sambil garuk-garuk kepala. "May, Abang pergi sebentar! Titip cafe." Abi malah pergi dari cafe dengan tampang kusut. Ia mengendarai mobilnya, entah akan pergi ke mana.


Di saat bersamaan, Ellea yang sudah kembali dari toilet, mencari keberadaan Abimanyu yang tidak terlihat batang hidungnya. Ia kesal, karena pria itu tak mengejarnya tadi.


"Biyu ke mana, May?" Maya yang sedang di meja kasir, melayani pembayaran pembeli, lantas hanya menggeleng, "Nggak bilang, Kak. Langsung pergi saja. Kalian lagi berantem, ya?" bisik Maya saat Ellea sudah ada di sampingnya. Ellea mendengus sebal melihat sikap tak acuh Abimanyu.


"Ih, ke mana sih dia? Bukannya kejar aku, tanyain aku kenapa! Malah pergi!" gerutu Ellea sambil menghentak hentakkan kakinya ke lantai. Maya hanya garuk-garuk kepala melihat Ellea kesal. Ia maklum kenapa Ellea bersikap seperti itu, mengingat Maya tau bagaimana sifat dan sikap Abimanyu sehari-hari. Saking cueknya, Abi termasuk laki-laki yang jarang melirik wanita lain. Dan, saat bersama wanita yang ia sukai pun, Abi tidak begitu antusias menunjukkan sikap romantismenya.


Vin dan Allea kembali dari rumah Yudistira. Mereka juga datang bersamaan dengan Rendra. Rendra mencari keberadaan Abimanyu, namun ternyata laki-laki itu sedang tidak ada di cafe.


"Emangnya si Abi nggak pamit ke elu, Ell, mau ke mana?" tanya Vin. Mereka kini duduk di sebuah meja yang ada di dalam cafe. Vin, Allea, Ellea, Rendra, dan Gio. Ellea menggeleng, netranya terus memperhatikan jendela, berharap kekasihnya segera datang. Ia kesal, masih sangat. Tapi ia tidak bisa bersikap baik-baik saja saat Abimanyu pergi tiba-tiba tanpa alasan, dan Ellea sebenarnya cemas, karena ia dan Allea kini sudah tau perihal masalah werewolf yang sedang mengacaukan desa ini.


"Nggak mungkin, kan, dia pergi cari werewolf sendiri?" tanya Ellea pada mereka semua.


"Ya bisa jadi sih. Tau sendiri cowok lu orangnya nekatan. Apalagi kalau suasana hatinya nggak enak," sahut Vin sengaja memanas-manasi Ellea. Allea langsung mencubit pinggang Vin sambil melotot.


"Mungkin lagi beli apa begitu, Ell. Tunggu saja, sebentar lagi juga pulang," hibur Allea yang sangat paham bagaimana perasaan saudaranya.


"Tapi beli apa, All? Kan bahan makanan di cafe udah semua dibeli. Paman Gio, Biyu nggak cerita mau ke mana tadi?"


Gio menaikkan kedua bahunya sambil menyeruput es kopi buatan Maya. Umurnya yang tak lagi muda, mengharuskan dirinya banyak istirahat. Ellea makin gelisah, apa pun nasehat dari teman-temannya tidak bisa mengubah pikiran buruk dalam kepalanya. "Jangan-jangan dia kesel sama sikapku tadi. Aku nyebelin banget pasti. Ih, kan! Padahal kami baru ketemu lagi. Aku tu kangen sama dia," rengek Ellea yang hampir menangis. Sungguh cengeng. Benar-benar wanita.


Suara deru mesin mobil terdengar sampai ke dalam. Mobil milik Abimanyu parkir di samping cafe, tempat biasa ia memarkirkan mobil kesayangannya. Ellea menghapus air matanya dan merapikan wajahnya yang kusut. Ia lantas beranjak, ingin menemui pria itu. Allea yang hendak mencegahnya, malah ditahan Vin. "Biarin saja."


"Wah, ada perang baratayuda ini," gumam Gio. Mereka semua memperhatikan dua orang itu dari dalam cafe. Beruntung pengunjung tidak begitu banyak saat ini, jadi jika ada perkelahian antar pasangan, maka tidak terlalu buruk nantinya.

__ADS_1


Abi berjalan dengan kedua tangan di belakang tubuhnya. Ellea langsung mencegatnya sebelum ia berhasil masuk ke dalam. "Dari mana sih?" tanya Ellea dengan suara sedikit bergetar, terdengar serak karena menahan tangis yang hendak tumpah.


'Keluar sebentar," sahut Abi, santai.


'Ke mana? Nggak bisa apa, kamu pamit dulu sebelum pergi. Kami nyariin tau. Pergi gitu aja, nggak bilang-bilang!" omelnya dengan bibir yang terus mengerucut sebal. "Lain kali pamit!"


"Iya."


"Bilang! Jadinya aku nggak nyariin. Aku takut kamu nekat!"


"Nekat? Ngapain?" tanya Abi yang benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan Ellea.


"Ya cari 'itu' sendirian misalkan."


"Itu?"


"Iya! Aku udah denger soal 'mereka'!"


Abi diam sejenak, perlahan ia mengerti maksud dari Ellea. Mungkin gadis ini sudah tau tentang keberadaan werewolf di desa ini. Pantas saja dia cemas seperti ini. Ellea memang sangat khawatir jika tau kalau Abi pergi ke sarang musuh sendirian. Yah, Abi tau, kalau Ellea sangat mencintai dirinya.


"Oh iya, aku memang tadi cari 'itu' sih. Untung saja ketemu."


"Tuh, kan! Biyu!" Saat Ellea hendak marah, tiba-tiba Abi memberikan sebuket bunga mawar hitam yang ia simpan di belakang tubuhnya. Mendadak wajah Ellea pucat. Ia melotot sambil menatap pria di depannya itu. "Apa ini?"


"Bunga dong sayang. Buat kamu. Kamu tau nggak arti bunga mawar hitam itu apa?"


"Mawar hitam ini, sebagai lambang kesetiaan. Karena warna hitam ini nggak akan berubah jika dicampur warna apa pun, maka dimaknai sebagai kesetiaan akan seseorang yang tidak dapat tergantikan oleh apa pun dan siapa pun. Kayak kamu ini," kata Abi lalu menyentuh ujung hidung Ellea yang menerima bunga di tangannya dengan ragu-ragu.


"Ada satu lagi artinya."


Gadis itu menatap Abimanyu dengan penuh rasa penasaran. Penasaran kalimat apa lagi yang hendak terucap dari bibir manis pemuda itu, yang akan menggoyahkan hatinya lagi.


"Artinya, sebagai awal kehidupan baru. Setelah melewati hal buruk. Itu pas banget sama kita, kan, sayang?"


"Maksud kamu?"


Abimanyu memegang kedua tangan Ellea. Kedua netra mereka bertemu dan membuat pemuda itu tersenyum tipis. Tangan kanannya masuk ke dalam saku celana, dan mengeluarkan sebuah kotak dengan bahan beludru merah. Mata Ellea berbinar. Semoga apa yang ia pikirkan sejalan dengan kenyataan. Abi membuka kotak itu, dan benar saja. Ada dua cincin tersemat di sana. Ellea menutup mulutnya, seolah tidak percaya atas apa yang terjadi di hadapannya. Air bening mengalir dari kedua kelopak matanya. Sebuah air mata kebahagiaan.


"Ellea, kamu mau menikah sama aku? Jadi ibu dari anak-anakku, dan hidup bersamaku sampai maut memisahkan kita?" Tubuh Ellea bagai meleleh seperti es krim yang terlalu lama dibiarkan. Ia tersenyum lalu mengangguk untuk mengiyakan lamaran Abi. Sorak sorai dari teman-teman mereka memenuhi cafe. Suasana bahagia seolah menular dan membuat semua ikut hanyut dalam peristiwa ini.


"Ellea yang dilamar kok aku yang baper, ya, Vin?" tanya Allea dengan mata tak lepas dari pasangan di depannya. Ia terus bertepuk tangan dan menari bibirnya karena melihat Ellea sangat bahagia.


Semua perasaan kecewa dan iri dalam hati Ellea memudar begitu saja. Ia tidak menyangka kalau Abimanyu mengerti apa yang ia mau. Sebenarnya di balik sikap cuek yang sering Abi tunjukkan, ia adalah pria yang paling peka. Tetapi ia sendiri tidak bisa mengekspresikan sikap romantis kepada Ellea. Dan selama ini Abi terkesan cuek, sementara Ellea yang terlihat agresif.


Tapi, Abi memang berniat ingin menikahi Ellea. Hanya saja, waktunya terasa tidak tepat. Ia ingin agar gadis itu aman jika berada di dekatnya, maka sebisa mungkin Abi akan segera menyingkirkan hal-hal buruk di sekitar Ellea sebelum mereka benar-benar tinggal bersama nanti. Yah, salah satunya tentang werewolf ini. Tapi melihat sikap Ellea yang berubah murung saat membicarakan rencana pernikahan Allea dan Vin, Abi harus bergerak lebih cepat.

__ADS_1


__________


"Aku tau bagaimana cara kita mencari Lycanoid yang lain!" seru Rendra. Kini pembicaraan kali ini akan serius.


'Bagaimana caranya?" tanya Abi.


Kali ini di meja ini hanya ada para pria saja. Ellea dan Allea menjaga kasir dan meja barista bersama Maya. Senyum sudah terlihat di wajah Ellea. Senyum khas miliknya yang membuat Abi tidak bisa berpaling lagi ke gadis lain.


"Jejak cakaran," kata Rendra serius, ia bahkan mendekatkan tubuhnya kepada mereka dan mengatakan hal itu dengan berbisik. Seolah ini adalah rahasia yang tidak boleh bocor ke orang lain.


"Maksudnya cakaran yang waktu itu kami temukan di pohon sekitar mayat Pak Rahmat?" tanya Vin.


"Iya."


"Gaes, kayaknya gue tau satu tempat yang ada tanda itu," tukas Gio, mengingat sesuatu yang terlewatkan dari perhatiannya.


"Di mana, paman?"


"Rumah Maya!" sahutnya lagi, dan menatap orang yang mereka bicarakan.


"Apa? Yang bener!"


"Yakin. Pas kita ke rumah Lulu, gue kan nemuin ibunya Maya, siapa tau dia lihat sesuatu, atau petunjuk apa pun itu, nah gue lihat di pintu rumahnya, ada goresan itu. Gue sih nggak tau, apakah itu makhluk yang menyerang Lulu, atau memang salah satu werewolf itu adalah anggota keluarganya Maya!"


"Sepertinya kita harus kelilingi desa dan mencari petunjuk itu di tempat lain, karena werewolf yang kabur semalam masih ada 5 ekor, kan?" tanya Abimanyu.


"Oke. Kita sebaiknya mulai secepatnya. Dan jaga rumah Maya mulai sekarang. Mungkin memang salah satu dari anggota keluarga memang werewolf, kan? Kita harus siaga!" cetus Gio.


Mereka bertiga tidak menanggapi, hanya sorot matanya dapat terbaca. Kalau apa yang dikatakan Gio memang benar. Siapa pun dapat menjadi werewolf. Karena mereka yang sudah dibunuh semalam juga beberapa orang yang dikenal oleh Abi maupun Gio. Orang yang baik dalam bermasyarakat jadi tidak ada yang tidak mungkin, sampai mereka benar-benar memastikan kalau para makhluk jadi-jadian itu benar-benar musnah dari desa Amethys.


Elea dan Alea bertugas menjaga rumah Maya. Mereka bahkan meminta tinggal sementara di sana, sampai Abi dan Vin pulang. Maya hanya tau kalau Abi, Vin, dan Gio akan pergi ke kota untuk membeli beberapa keperluan untuk persiapan membangun rumah Vin dan Alea kelak.


Hari belum sepenuhnya gelap. Senja masih terlihat di beberapa sudut langit. Keindahannya memang sangat disukai banyak orang, tapi semua orang juga tau, kalau keindahan senja hanya bersifat sementara. Allea mengajak Maya pergi ke air terjun yang ada di tengah desa. Alasannya karena ia sudah lama tidak pergi ke tempat itu. Dan ini adalah hal pertama bagi Allea tentunya.


Tiga gadis itu pergi ke air terjun. Suasana air terjun memang ramai jika sore hari, karena beberapa turis pasti akan menghabiskan waktu di tempat itu. Tempatnya nyaman dan sejuk, dengan pemandangan alam yang cukup memukau. Mereka bertiga bahkan mandi dan bermain air di tempat itu cukup lama. Tanpa sadar beberapa pengunjung sudah pergi dan kini tinggal tiga wanita itu saja di sana.


Ellea menyadari kalau di sini hanya tinggal mereka bertiga saja. Suara sekitar mereka tampak hening, hanya ramai oleh deburan air terjun yang airnya sedang tidak begitu banyak.


"Kok tinggal kita bertiga aja, ya?"


"Eh, bener, Kak. Mau pulang aja ini? Agak-agak serem suasananya. Apalagi isu werewolf kan lagi banyak di desa kita. Bahaya kalau sampai malam nanti kita masih ada di luar, Kak," kata Maya. Allea dan Ellea saling pandang. Rasanya tidak baik jika curiga berlebih ke Maya. Dan katanya, para lycanoid ini tidak tau kalau dirinya akan berubah menjadi werewolf saat malam. jadi jika Maya salah satu dari mereka, maka sampai saat ini mereka berdua masih aman. Karena malam akan datang 2 jam lagi. Tapi mereka juga tetap harus bergegas dan pergi dari tempat ini.


"Eh, ada bunga edelweis di sini?" pekik Allea saat mereka dalam perjalanan pulang. Di sudut hutan tak jauh dari jalan memang terlihat hamparan bunga edelweis yang sungguh indah. Ellea dan Maya juga ikut takjub melihatnya. "Ambil yuk, Kak. Jarang-jarang nongol soalnya bunga ini!" pinta Maya.


"Boleh! Yuk!"

__ADS_1


Mereka bertiga mulai sibuk mengambil bunga ini dan memasukkan ke dalam kantung plastik yang sengaja di bawa oleh Maya sebagai tempat botol kopi yang biasa ia bawa. Waktu berlalu hingga senja mulai hilang berganti malam. Hingga akhirnya mereka baru sadar, kalau malam sudah tiba.


"Gawat! Udah malam! Ayok kita cepat pulang!" ajak Ellea bergegas. Maya dan Allea menurut dan mereka akhirnya berjalan pulang. Tapi dalam perjalanan, Maya kembali mendengar suara yang sama. Suara geraman.


__ADS_2