pancasona

pancasona
Part 140 Penyelesaian


__ADS_3

Garius Vabian Bughet. Memiliki sebuah perusahaan bernama Berkshire Hathaway. Ia berasal dari Omaha, Nebraska, Amerika serikat. Seorang lajang yang meneruskan perusahaan milik ayahnya. Ia berbeda dari sang ayah, yang tekun dan ulet dalam bekerja. Vabian justru sebaliknya. Dia lebih sering foya-foya dan menghabiskan uang miliknya untuk bersenang-senang. Bahkan bukan dia, orang yang selama ini mengurus perusahaan itu. Vabian hanya boneka yang cuma datang untuk menanda tangani dokumen tanpa tau apa yang ia tanda tangani.


Semua hal mengenai perusahaannya dikelola oleh asistennya, Anthoni. Anthoni sudah bekerja di perusahaan itu sejak lama. Ia juga adalah asisten ayahnya dan yang paling mengerti tentang seluk beluk perusahaan. Dan, Anthoni adalah teman Elang. Berawal dari rekan bisnis, mereka perlahan cukup dekat hingga akhirnya Elang menceritakan semua perbuatan Vabian. Drama penculikan kekasih Vabian juga Anthoni-lah dalangnya. Dan kini giliran Vabian.


Pria itu berjalan gontai masuk ke kantornya yang sudah satu minggu ini ia tinggalkan. Penampilannya kacau, bahkan wajahnya terlihat sangat kusut dari biasanya. Setelah turun dari mobil mewah miliknya, Vabian melempar kunci mobil miliknya ke security yang berjaga di depan pintu lobi untuk memarkirkan mobil ke tempat yang seharusnya. Tapi ia malah dihadang oleh beberapa security dan tidak diperkenankan masuk ke dalam.


"Apa-apaan kalian?! Aku ini pemilik perusahaan! Kalian jangan sembarangan!" jerit Vabian berusaha melepaskan diri dari mereka. Beberapa staf yang ada di sekitar lobi pun menyaksikan hal ini dan bertanya-tanya antar sesama rekan kerja yang mereka temui. Resepsionis kemudian menghubungi seseorang saat Vabian mulai mengamuk dan memaksa masuk ke dalam. Akhirnya Anthoni turun ke bawah dan menyaksikan keributan ini.


"Hei, Anthoni, lihalah mereka! Menahanku untuk masuk! Sebaiknya kau pecat saja mereka!" perintah Vabian sambil membetulkan pakaiannya yang ditarik oleh para penjaga.


"Maaf, Vabian, kau memang tidak boleh masuk lagi ke sini," kata Anthoni dengan bersikap setenang mungkin.


"Apa maksudmu?"


"Kamu bukan lagi pemilik perusahaan ini."


"Apa maksudmu?" tanya Vabian dengan tatapan bingung dan emosi.


"Kemarin diadakan rapat direksi, dan kamu diberhentikan dari perusahaan ini karena kinerja kamu kurang maksimal sebagai pemilik perusahaan. Dan lagi, isu soal kartel Ransford yang kini sedang merebak menunjukkan kalau kamu ada bagian dari mereka. Semua direksi keberatan dengan hal itu, karena kamu telah mencoreng nama baik perusahaan! Dan lagi kamu tidak ingat, kalau telah menandatangani surat ini?" tanya Anthoni tegas. Vabian merampas selembar kertas yang terdapat tanda tangannya. Setelah ia baca, ia terkejut karena di sana tertulis kalau dia akan melimpahkan perusahaan kepada Anthoni. Ia bahkan tidak ingat kapan menandatangani pernyataan semacam ini.


Vabian diam sejenak. Tubuhnya lemas, wajahnya memerah karena menahan amarah. Ia mendengus sebal dan berusaha masuk kembali ke dalam. Para penjaga tentu tetap menahannya dan alhasil sebuah bogem mentah mendarat di rahang kanannya. Ia tersungkur, jatuh keluar dari pintu kantor. Vabian terus berteriak, masih tidak terima atas keputusan sepihak perusahaan. Tapi perlahan ia pun meninggalkan tempat ini menuju parkiran mobil.


Anthoni memandang kepergian Vabian dengan nanar. Ia tau kalau sikapnya sedikit keterlaluan, tapi jika Vabian dibiarkan terus menerus, maka perusahaan bisa bangkrut karena memiliki pemimpin seperti dirinya. Ia kembali ke ruangannya. Berjalan pelan sambil melonggarkan dasi yang ia kenakan. Saat masuk ke dalam, seseorang masih menunggu Anthoni di sana. Ia menoleh dengan melebarkan senyum.


"Bagaimana, Vabian?"


"Yah, kau tau, Lang. Bagaimana wataknya. Dia terus mengamuk dan tidak terima atas semua keputusan ini."


"Iya, aku tau. Dia itu masih sangat muda. Emosinya masih menggebu-gebu. Dan ... kau sendiri, bagaimana rencanamu selanjutnya untuk dia?" tanya Elang.


"Ayahnya sudah menitipkannya padaku. Memang sudah seharusnya aku bersikap tegas padanya. Nanti perlahan aku akan memberikan pengertian untuk Vabian. Dan akan mengembalikan perusahaan kepadanya sebagaimana mestinya, asal dia sudah berubah."


"Yah, semoga."


_______________


Vin datang ke Markas Besar Angkatan Udara (MABESAU). Ia berniat menemui KASAU, kepala staf tertinggi angkatan udara. Tekadnya sudah bulat untuk melaporkan hal ini pada pemimpin tertinggi Nicholas. Kebetulan saat ini Marsekal TNI Yuri Sutrisna sedang ada di tempatnya. Apa pun keputusan beliau, Vin akan menerimanya. Tapi tentu tidak akan tinggal diam begitu saja. Jika sampai laporannya ditolak, maka ia akan mengadu ke dewan yang lebih tinggi lagi. Presiden mungkin.


Kini Vin sudah ada di ruangan besar gedung ini. Di meja yang berada di tengah ruangan, terdapat tulisan "Marsekal TNI Yuri Sutrisna". Ia masih harus menunggu karena orang yang ingin ia temui masih ada beberapa urusan di luar.

__ADS_1


30 menit sudah waktu berlalu. Vin hampir kehilangan kesabarannya, namun saat ia menoleh ke arah pintu. Marsekal TNI Yuri Sutrisna sudah ada di depan pintu. Ia tersenyum melihat kedatangan Vin di ruangannya. Vin segera beranjak dari duduknya. Ia yang sengaja memakai pakaian dinas, segera berdiri dan memberikan salah hormat pada pria di depannya.


"Silakan duduk. Maaf menunggu lama," ujar Yuri kemudian ikut duduk di kursi paling tengah yang biasa ia duduki jika sedang ada tamu.


"Maaf, Pak, kalau saya mengganggu," kata Vin sedikit sungkan di depan orang penting di Angkatan Udara ini.


"Oh, tidak sama sekali. Jadi ada urusan apa Letnan ... Vin Abinaya?" tanya Yuri sembari membaca nametag di dada Vin.


"Begini, Pak. Sebelum saya berbicara banyak, sebaiknya bapak lihat dulu video ini," kata Vin lalu membuka laptop miliknya. Yuri hanya diam dan menuruti perkataan Vin. Video mulai diputar dan membuat dahi Yuri berkerut makin banyak.


"Ini apa-apaan?!" tanya Yuri mulai diliputi emosi. "Nicholas?"


"Benar, Pak. Saya dan teman-teman saya menemukan video ini. Kapten Nicholas memiliki suatu perkumpulan bersama beberapa orang lain dan melakukan kegiatan keji macam itu. Mereka memburu manusia untuk kesenangan pribadi. Dan ini sudah berjalan cukup lama. Awalnya saya takut ingin membongkar hal ini, karena Kapten Nicholas adalah seorang perwira yang teladan, bukan? Tapi saya memutuskan menemui Anda untuk membicarakan masalah ini. Jika dia dibiarkan terus, maka saya pastikan akan banyak korban lain di luar sana."


Yuri tampak diam beberapa saat, ia mengangguk dan tersenyum pada Vin.


"Saya tau, kenapa kamu tidak langsung melaporkannya pada saya. Karena Nicholas adalah keponakan saya, kan? Kamu takut kalau saya akan membela keponakan saya timbang mengusut kasus ini?" tanya Yuri dengan sikap tenang.


"Hm, kurang lebihnya seperti itu, Pak."


Yuri menarik nafas panjang lalu tersenyum kembali ke Vin," Kamu jangan khawatir, saya akan selesaikan kasus ini. Nicholas saya pastikan akan menerima hukuman atas semua perbuatannya. Walau dia adalah keluarga, tapi apa yang ia lakukan adalah hal yang tercela. Saya tidak mungkin menghalalkan semua kesalahan dia. Dan membiarkan dia terus berada di jalan salah."


"Syukurlah kalau begitu, Pak. Kalau bapak berkenan menghukum dia sebagai mana mestinya."


"Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu. Saya ucapkan banyak terima kasih atas kebijaksanaannya." Vin lalu menjabat tangan Yuri dan pamit pulang. Ia lega karena satu masalah telah selesai.


________________


Kini giliran Abimanyu dan Gio yang bergerak. Mereka mendapatkan jatah bertemu dengan Benzos dan Austin. Dua orang itu memang cukup dekat. Benzos juga lah yang menjadi cikal bakal berkumpulnya anggota Kartel Ransford selama ini. Benzos juga yang memasok senjata api dan beberapa kali mengumpulkan manusia untuk diburu oleh mereka.


Kini mereka sudah berada di sebuah bangunan tua, tempat Austin bersembunyi. Ia tak lagi berada di San Paz, karena konflik antar gangster di sana, membuat Austin terpojok. Ia sering berselisih paham dengan beberapa Gangster lain. Dan hal ini merupakan keuntungan bagi Abimanyu dan kawan-kawan.


Mereka tidak bergerak berdua saja. Karena kini beberapa mobil datang, mereka adalah beberapa perwakilan dari gangster yang sedang berselisih dengan Austin. Sesuai apa yang dikatakan Adelia kemarin. Ia memiliki beberapa informasi tentang Gangster yang bermusuhan dengan Austin. Bahkan dia sendiri yang mengajukan kerja sama dengan mereka, untuk membantu Abi dan Gio membereskan Austin dan anak buahnya. Ada Hells Angel, MS-13, 18 street, Vogos, The Bloods, The Crips, dan Latin kings. Menurut logika, Austin pasti akan kalah hari ini. Karena jumlah pasukan yang dibawa Abimanyu itu cukup banyak. Sementara Austin dan anak buahnya tidak ada separuhnya.


"Bagaimana nih, Paman?" tanya Gio meminta persetujuan kapan harus menyerang.


"Lah, hayuk sekarang. Mau nunggu apa lagi? Sudah kumpul semua. Seranglah!" kata Gio yang lalu berbicara dengan perwakilan tiap gangster. Gio lantas menoleh ke Abi, mengangguk, sebagai isyarat kalau mereka akan menyerang sekarang juga. Semua saling pandang dan menyiapkan senjata masing-masing. "Serang!" kata Gio, mengacungkan senjatanya ke atas. Otomatis mereka maju dan bergerak dengan cara berpencar. Ada yang langsung menuju halaman depan gedung itu, ada yang memutar ke samping hingga berputar ke belakang. Yah, mereka kini telah mengepung tempat Austin dan mulai bergerak masuk.


Suara ledakan senjata api mulai terdengar. Kini hampir semua sudut sedang terlibat saling tembak dan serang. Abimanyu dan Gio yang memilih menyerang di garis depan, kini sudah mulai masuk ke dalam dan memukul mundur satu persatu anak buah Austin. Abi mulai mencari di mana Austin berada.

__ADS_1


"Bi, atas!" tunjuk Gio saat melihat sebuah tangga. Abi mengangguk lalu menuju ke lantai atas bersama Gio, sementara Anak buah Austin yang masih ada di bawah sedang diurus oleh yang lain. Saat Abi dan Gio sudah sampai ke atas, mereka melihat Benzos berlari ke arah jendela. Gio lantas mengejarnya. Sementara Austin diam, menunggu Abimanyu datang.


"Bagaimana kabarmu, Austin?" tanya Abimanyu memandangnya santai.


"Kau pikir aku akan baik-baik saja atas penyerangan ini? Kalian licik! Beraninya main keroyok," sindir Austin, kesal.Tapi ia terus melebarkan senyumnya untuk menutupi kegelisahan hatinya. Abi tau kalau Austin sedang terpojok, tapi gengsi untuk mengakui kekalahannya. Satu persatu anggota Kartel Ransford sudah mereka lumpuhkan. Hanya tinggal Benzos dan Austin yang menjadi kaki tangan kartel tersebut.


"Lebih baik kamu menyerah saja. Dan ikut aku ke kantor polisi. Karena semua teman-temanmu sudah kami lumpuhkan. Bagaimana?" tanya Abimanyu memberikan penawaran yang lebih mengarah ke ancaman yang menyudutkan.


"Jangan mimpi!" kata Austin, ia malah merebut pistol yang ada di tangan Abimanyu. Mereka akhirnya terlihat perkelahian yang cukup sengit. Saling pukul dan hantam hingga keduanya sama-sama terluka. Sampai pada akhirnya Austin mendapatkan pistol milik Abi. Ia menodongkan benda itu ke arah Abimanyu. Tentu Abi tidak mempermasalahkan hal ini. Ia hanya tinggal melompat saja ke jendela. Tapi rupanya, kini senjata itu ia todongkan ke kepalanya sendiri. Dalam hitungan detik, kepala Austin meledak dengan darah yang muncrat ke mana-mana. Austin tewas, bunuh diri.


Abi hanya melongo saat melihat mayat Austin terbujur kaku di lantai, dengan darah yang mengalir deras dari kepalanya. Tak lama, Gio datang dengan tergesa-gesa. Ia juga terkejut saat melihat Austin yang terbujur kaku. "Bi ? Ini?" tanya Gio yang mempertanyakan kematian Austin, karena melihat cara mati Austin, rasanya bukan Abi pelakunya. Abi bukan termasuk orang yang kejam walau sejahat apa pun perlakuan orang lain padanya.


"Bukan aku, paman. Dia bunuh diri," kata Abimanyu dengan tatapan getir. Gio menarik nafas panjang, lalu menepuk bahu pemuda itu. " Ya sudah, ayok kita pulang. Benzos sudah diamankan polisi. Masalah kita selesai," ajak Gio.


Mereka pulang. Dengan kemenangan.


__________________


Di rumah Adelia, 3 wanita itu sedang duduk di halaman belakang sambil menikmati pie dan orange jus. Mereka saling berbincang mengenai kehidupan masing-masing. Allea masih merasa tidak nyaman dengan Adelia. Dan Adel juga merasakan tidak sukaan Allea terhadapnya.


"Eum, aku mau bikin salad dulu, ya," ujar Ellea yang merasa tidak nyaman dengan situasi di depannya. Ia menangkap gelagat Adel yang ingin mengobrol berdua saja dengan Allea. Diantara mereka berdua tidak ada yang menyahut, karena fokus pada pie masing-masing, tapi Adelia tetap memandang Allea nanar.


"Kemarin malam, kamu yang meninggalkan cangkir teh di meja dekat balkon atas, kan?" tanya Adel.


Allea berdeham, lalu mengangguk. "Maaf, kalau aku lupa meletakkannya di sana. Seharusnya aku taruh di wastafel semalam, tapi aku sudah mengantuk," tutur Allea.


"All, aku mau minta maaf. Kalau sudah membuat kamu tidak enak hati. Aku dan Vin tidak ada hubungan apa-apa. Jadi ...."


'Iya, aku tau. Kamu juga nggak usah merasa nggak enak begitu. Aku sama Vin baik-baik saja kok. Jangan khawatir," kata Allea berusaha tegar. Sekalipun masalahnya dengan Vin sudah selesai, tidak ada lagi ganjalan di hati, tapi ia masih belum bisa menerima kehadiran Adelia di sekitarnya. Ia tau betul kalau wanita itu memang tertarik pada Vin.


"Iya, memang. Walau begitu, aku yakin kamu tetap nggak suka lihat aku sekarang. Aku janji, setelah masalah ini selesai, aku tidak akan menemui Vin lagi. Bahkan saat Vin nanti pulang, aku nggak akan dekat-dekat lagi sama dia. Aku minta maaf, kalau kamu merasa nggak nyaman karena kehadiranku."


"...."


"Eum, atau gini aja, aku mau siap-siap pulang ke Indonesia sekarang, kalian di sini saja dulu. bagaimana?" Pertanyaan itu membuat Allea menoleh ke arah wanita itu.


"Jangan. Ini rumahmu, harusnya kami yang pergi, Del."


"Oh bukan seperti itu, All. Aku sejak awal memang berniat menolong kalian. Karena jujur, aku sangat berhutang budi sama kalian, terutama Vin. Karena dia yang sudah membuatku berani melawan Joanna secara terang-terangan. Dan dia juga yang membantuku menyingkirkan Joanna dan meninggalkan Mathias. Aku terlalu takut ditinggalkan Mathias, padahal justru sekarang aku merasa sangat lega karena terbebas dari laki-laki brengsek itu!"

__ADS_1


Allea lantas menggenggam tangan Adel, dan tersenyum. "Aku juga minta maaf kalau bersikap ke kanak-kanakan. Padahal aku tau kalau Vin hanya menyukaiku. Dan sekarang kami sudah berkomitmen lebih, bukan lagi teman biasa. Seharusnya dengan begitu aku tidak lagi mempermasalahkan hal ini, aku minta maaf, Del. Sudah bikin kamu nggak nyaman sama sikapku."


"Jadi kamu sudah mau menerimaku, All?" tanya Adel. Allea mengangguk dan membuat mereka berdua saling berpelukan hangat. Ellea yang melihat hal itu dari kejauhan hanya bisa ikut tersenyum lega.


__ADS_2