pancasona

pancasona
Part 22 Menjenguk Sabrina


__ADS_3

Maaf bolos update dua hari saya, ya. Ada urusan Real Life yang tidak bisa diganggu. Kembali bersama Nabila dan Rayi yang sudah berdamai. Yuk. Happy reading.


_______________________


Malam ini selepas magrib, kami berkumpul di depan sebuah rumah sakit swasta, tempat Sabrina dirawat. Aku bahkan belum tau apa yang sebenarnya terjadi pada Sabrina, hingga dirinya harus dirawat. Kata Kak Bintang karena stres. Apakah separah itu? Atau hanya sebuah ajang mencari perhatian saja? Ah, kenapa aku selalu berpikir buruk tentang dia. Tapi dia memang menyebalkan!


"Roger mana?" tanya Kak Rayi pada Kak Bintang. Kami tengak-tengok mencari keberadaan pemuda itu. Karena saat datang tadi, aku hanya melihat Kak Bintang naik motor seorang diri.


"Tadi sih di belakang gue, tapi ... nggak tau deh, ke mana itu anak!"


"Eh, itu!" tunjukku ke pintu masuk. Seorang pria dengan motor warna hitam, suara knalpot yang khas mulai masuk ke halaman parkir rumah sakit. Dia baru saja mengambil karcis parkir dari mesin dekat palang pintu. Lalu melambaikan tangan pada kami.


Sabrina dirawat di lantai tiga. Kak Bintang sejak Sabrina dirawat sudah bolak balik datang ke sini, jadi dia yang menjadi pemandu kami menuju ruangan Sabrina. Ditangannya sudah ada se-buket bunga mawar merah, dengan sebuah tulisan semoga cepat sembuh. Jujur, aku kagum terhadap sikap Kak Bintang. Dia orang yang baik, tulus, dan setia. Mungkin jika dulu aku lebih dulu bertemu dengan Kak Bintang aku bisa saja jatuh cinta padanya.


Kami sampai di lantai tiga, koridor tampak lenggang, namun tetap ada aktivitas dari perawat jaga yang membawa kantung infus atau menggandeng pasien kembali ke ruangannya. Aku dan Kak Rayi berjalan paling belakang, langkah kuperlambat, menoleh ke belakang karena merasa ada seseorang di belakang kami. Tapi di tangga yang tadi kami lewati, tidak ada satu orang pun di sana. Ah, mungkin hanya perasaanku saja.


Kak Bintang membuka pintu dengan sebuah tulisan Kenanga 5. Kami hanya menunggu dia masuk dan terus mengekor, tapi tetap menjaga jarak. Aku hanya belum terbiasa dekat dengan Sabrina. Aku juga takut kehadiran kami justru menambah rasa sakitnya, terutama kehadiranku. Karena dia tidak menyukaiku.

__ADS_1


Namun yang ada di hadapan kami justru Sabrina yang tengah terbaring tak berada. Oksigen ada di bawah hidungnya, wajahnya dipenuhi beberapa perban, tentu ada infus yang menempel di pergelangan tangan kanannya. Dia masih tertidur, atau memang tidak sadar. Seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan kami, memeluk Kak Rayi seketika dan mencurahkan perasaannya terhadap apa yang terjadi pada Sabrina. Aku hanya diam di ujung ranjang menatap Sabrina nanar.


Menurut apa yang aku dengar, wajah Sabrina berubah. Melepuh, dan mengelupas begitu saja. Sama seperti saat dia kecelakaan dulu. Sabrina histeris dan kemudian stres. Dia bahkan berusaha menyayat nadi di pergelangan tangan kirinya. Ternyata itu penyebab pergelangan kirinya juga diperban. Kak Rayi beberapa kali melirik padaku, karena kini tangannya terus dipeluk oleh ibunya Sabrina. Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Bahkan saat aku memperkenalkan diri, ibu Sabrina tampak tidak peduli. Yah, aku tidak apa-apa. Aku maklum. Karena keadaan mereka sedang tidak baik-baik saja, jadi biarlah Kak Rayi menghibur keluarga Sabrina. Kak Roger mendekat padaku dan mengajak duduk di sebuah sofa dekat jendela kamar Sabrina.


Di lantai tiga ini kami bisa melihat ke jendela dengan pemandangan kota. Gemerlap lampu bagai ratusan bintang yang tersebar di segala penjuru mata angin. Aku duduk di sofa bersebelahan dengan Kak Roger, sesekali aku menengok ke jendela, merasa bahwa di sana jauh lebih indah daripada pemandangan di hadapanku sekarang.


"Lu udah makan, Bil?" tanya Kak Roger sambil mengetik pesan pada seseorang. Teman sekelasnya, yang entah sedang membahas apa, karena aku hanya meliriknya sekilas.


"Belum, Kak. Nanti saja, belum lapar. Kenapa?" tanyaku balik, sambil memperhatikan jemarinya yang piawai di keyboard benda persegi tersebut.


"Nanti, habis dari sini kita makan dulu yuk. Nih si Rizal buka warung Lamongan begitu dekat GOR. Sekalian penglaris, biar dia makin semangat begitu."


Aku menoleh ke jendela, langit yang gelap seolah baru saja menyembunyikan sebuah bayangan yang melintas di sana. Dahiku membentuk kerutan, merasa kalau di sana justru tidak ada apa pun dan siapa pun, tapi entah kenapa hati kecilku berkata lain. Aku beranjak mendekat ke dinding kaca tersebut. Mengamati dari atas, bawah, kanan dan kiri. Jika memang ada burung yang lewat, rasanya tidak mungkin karena yang aku rasakan bayangan tadi cukup besar, dan burung apa yang sebesar itu terbang malam-malam begini. Jika itu manusia, lebih tidak mungkin lagi, karena tidak ada pijakan di luar untuk melintas. Ruangan ini juga berada di lantai tiga. Atau hantu? Ah, aku makin berpikir yang tidak-tidak. Mungkin hanya perasaanku saja.


Kami pamit pulang. Sekali lagi, Ibu Sabrina memeluk Kak Rayi erat bak sinetron di Tv yang penuh dengan drama. Kak Rayi juga berkali-kali menoleh padaku, dan aku hanya diam tak banyak berreaksi. Toh, setelah ini dia milikku lagi. Sabrina tidak akan bisa merebutnya.


Tanganku diraih oleh Kak Rayi, kami berjalan di sepanjang koridor dengan terus saling menggenggam erat. Kak Roger dan Kak Bintang kembali berjalan di depan kami. Sampai di ujung tangga, aku kembali berhenti berjalan, kami berada di persimpangan. Di sebelah kanan terdapat lorong lain yang menuju ruangan berbeda, sebelah kiri juga menuju ke tempat ruang inap Kenanga dengan nomor lebih besar. Lantai ini khusus ruang Kenanga saja, dan termasuk ruangan kelas satu. Kembali aku merasa ada bayangan yang melintas. Ada seseorang yang lewat di belakang tubuhku, hanya saja tidak terlihat. Entahlah, mungkin penghuni rumah sakit. Karena rumah sakit termasuk paling banyak penghuni tak kasat mata.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Kak Rayi, mengikuti ke arah mataku menatap.


"Eum, nggak apa-apa, Kak. Yuk," ajakku kembali mengikuti dua pria di depan kami tadi. Mereka sudah berjalan agak jauh dari kami karena aku menghentikan langkahku tadi.


"Sayang, maaf ya, soal tadi," kata Kak Rayi saat kami menuruni anak tangga satu demi satu.


"Yang tadi?" tanyaku berlagak tidak paham.


"Iya, sikap Mama Sabrina."


"Astaga, nggak apa-apa kok, Kak. Aku paham. Aku juga nggak cemburu lagi. Yah, sedikit sih."


"I love you, Nabila," gumam Kak Rayi menatapku dalam.


"Yes, i know. Me too," sahutku.


Kami sampai di halaman parkir, berjalan menuju tempat motor masing-masing berada. Kepakan sayap burung kudengar samar, aku bahkan sampai menatap ke langit di atasku. Yakin tidak salah dengar, karena suara tadi terdengar sangat jelas sekali di tengah suasana hening di pelataran parkir rumah sakit.

__ADS_1


"Yuk, sayang." Suara Kak Rayi membuyarkan lamunanku. Dia sudah naik di atas kuda besinya dan kini kami mulai berjalan meninggalkan rumah sakit ini. Rencana Kak Roger akan kami lakukan sekarang. Karena perutku juga sudah terasa lapar sekarang.


__ADS_2