pancasona

pancasona
Part 2 Mama


__ADS_3

"Bil, pegangan!" kata Om Gio serius. Aku berpegangan kuat-kuat ke pegangan yang ada di atas kepalaku. Om Gio membanting stir ke kanan, lalu ke kiri. Sesuatu di atas mobil mulai jatuh, namun masih berada di atas. Suara berdebum terdengar jelas. Saat aku melihat ke atas, ada penyok di atasku.


"Om itu apa?" tanyaku masih penasaran. Aku tidak takut, karena sejak kecil Om Gio selalu mengajarkan ku untuk tidak takut jika berhadapan dengan makhluk-makhluk itu. Dan juga karena ada Om Gio di sini. Walau dia sudah berumur 60 tahun, tapi dia masih salah satu orang yang sangat aku kagumi. Kekuatannya masih dapat aku acungi jempol. Dan Om Gio adalah guru pertamaku dalam berlatih bela diri. Tentu tanpa sepengetahuan Papa.


Papa lebih sering sibuk dengan pekerjaannya. Dia berada di rumah hanya selama 1 minggu dalam satu bulan. Bisa dibilang Papa adalah seseorang yang gila kerja. Itulah kenapa aku tidak begitu dekat dengan Papa, malah lebih nyaman dengan Om Gio.


"Om juga nggak tau. Waspada, Bil. Ambil pistol di dash board!" suruhnya. Aku mengangguk dan menuruti perintahnya.


Mobil berhenti mendadak. Sesuatu jatuh ke kap mobil lalu ke depan mobil. Kami diam, terus mengawasi seseorang yang kini sudah berada di depan kami. Lampu menyorot ke depan, dan membuat kami dapat melihat dengan jelas. Orang itu bangkit perlahan. Dan saat dia berdiri dengan sempurna, kami dengan jelas melihat wajahnya.


Giginya runcing, kuku-kukunya tajam. Ah, apa mungkin dia Wendigo?


"Mungkin wendigo yang kamu bunuh tadi punya koloni, Bil?" tanya Om Gio seolah dapat membaca pikiranku.


"Entah. Mungkin saja." Aku segera keluar dari mobil dengan pistol di tanganku. Om Gio mengikutiku dan kami berdua menghadang makhluk menjijikkan itu. Om Gio menyerang terlebih dahulu, ia memakai tangan kosong. Rupanya pistol ini hanya ada satu di mobil. Aku berusaha mencari celah untuk dapat menembak makhluk itu, tetapi juga harus berhati-hati dengan Om Gio. Aku tidak boleh salah sasaran.


Tapi tiba-tiba seseorang menyerangku dari belakang. Aku jatuh tersungkur dengan pistol yang terlempar jauh dari tanganku. Seorang Wendigo muncul di belakangku. Dia berhasil melukai wajahku. Kami saling berhadapan, ia memamerkan gigi runcingnya yang tajam. Sementara aku menatapnya penuh kebencian. Ia mendesis, dan segera berlari mendekat padaku. Aku mendekat dengan cepat, sambil menjerit. Dengan gerakan cepat aku berputar dan membuat tubuhnya terlilit kakiku, kubanting dia ke tanah. Namun kaki ku berhasil terkena gigitannya. Aku kembali menjerit karena kesakitan. Om Gio hilang fokus, dan terluka karena cakaran wendigo yang sedang dia hadapi.


Tiba-tiba sebuah letusan dari pistol Om Gio membuat satu wendigo itu tewas. Tubuhnya perlahan menyusut dan hanya tinggal tengkorak yang berbalut kulit dan pakaiannya. Tembakan kedua tepat mengenai kepala wendigo itu. Aku mencari siapa orang yang telah melakukan hal ini, dan ternyata Kak Rayi berada tak jauh dari kami.


"Nabila, kamu nggak apa-apa?" tanyanya dan berhasil membuat Om Gio menatapku, meminta penjelasan.


Sebelum pergi kami membakar dua mayat wendigo tadi. Membunuh Wendigo memang tidak butuh alat khusus, karena sebenarnya mereka adalah manusia yang berubah menjadi kanibal, karena pengaruh iblis di dalam hatinya. Mereka melakukan perjanjian dengan setan dan menjadi wendigo untuk beberapa tujuan. Yah, tentu mereka harus makan. Dan makanan mereka adalah tubuh manusia.


Kobaran api masih terlihat besar karena kami menyiram mereka dengan bensin. Om Gio melirik padaku, dan menatap Kak Rayi yang masih menatap kami bergantian. Aku tau tatapan Om Gio itu, memiliki maksud. Setelah menarik nafas panjang, aku berjalan mendekati Kak Rayi yang berdiri di dekat motornya. Aku berdeham, dia yang awalnya duduk di atas kuda besinya, lantas berdiri.


"Aku ... tadi itu, mereka ...," jelasku sambil menunjuk dua mayat yang sudah dia bunuh dan kami bakar bersama. Agak gugup.


"Mereka itu apa?"


"Wendigo," sahutku menatap Kak Rayi dingin.


"Apa? Wendigo?"


"Hm, iya, Kak. Monster. Begitu aku Menyebutnya. Yah, salah satu monster yang ada di dunia ini. Mungkin banyak orang yang nggak tau, kalau makhluk itu beneran ada. Sebagian menganggap mereka cuma mitos. Tapi buktinya ... See? Ya itulah mereka."


"Dan kamu? Kenapa bisa tau?"


"Nabila sudah berurusan dengan makhluk-makhluk seperti itu sejak dia kecil. Gue, papa nya, dan beberapa teman kami memang pernah berhadapan dengan beberapa iblis seperti itu." Om Gio menambahkan.


"Anda?"


"Gio. Om nya Nabila," jelas Om Gio sambil mengulurkan tangannya ke Kak Rayi, dan Kak Rayi pun membalas uluran tangan itu. Mereka saling berkenalan secara resmi, dan akhirnya muncullah banyak pertanyaan dari mulut Om Gio seolah menginterogasi Kak Rayi.


"Gagal deh kita nonton pertandingan itu," kataku memotong pembicaraan mereka, menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.


"Pertandingan apa?"


"WWF."


"Kamu nonton itu?" tanya Kak Rayi dengan ekspresi terkejut.

__ADS_1


"Iya, seru habisnya."


Ponsel Om Gio berdering, dia menjauh dari kami dan menerima panggilan itu. Sementara aku dan Kak Rayi masih mengobrol, dan membahas tentang kesukaanku terhadap tontonan itu.


"Baru kamu, perempuan yang suka sama tontonan seperti itu, Bil," katanya sambil terkekeh. "Aku pikir kamu ini perempuan yang lebih suka, eum ... film Korea atau ...."


"Suka juga kok."


"Oh begitu."


Om Gio kembali lagi, ia terlihat tergesa-gesa. "Bil, kita ke rumah sakit!" ajaknya.


"Kenapa?"


"Mama kamu."


Tubuhku langsung lemas saat Om Gio mengatakan itu. Aku mengangguk dan berpamitan dengan Kak Rayi. Tidak ada lagi keinginan apa pun, selain bertemu Mama. Mama koma, sejak aku kecil. Dan selama ini Mama hidup dengan bantuan alat di rumah sakit. Sudah 9 tahun Mama tidak sadarkan diri. Dokter sebenarnya ingin melepas semua alat bantu yang menempel di tubuh mama, tetapi Papa tidak mengizinkan hal itu. Papa selalu beranggapan kalau Mama akan kembali sadar dan berkumpul lagi dengan kami. Sementara aku? Entahlah, aku tidak tau apa yang sebenarnya aku inginkan. Bagiku, keluargaku sudah berantakan sejak dulu. Sejak saat itu.


Om Gio parkir di depan rumah sakit, walau sebenarnya tempat ini bukanlah tempat parkir yang seharusnya, tetapi kami tidak punya waktu lagi. Aku berlari lebih dulu menuju kamar rawat mama. Suasana di rumah sakit sudah sepi, namun masih ada beberapa aktivitas di sini. Tempat ini merupakan salah satu tempat yang akan terus hidup selama 24 jam. Beberapa pasien yang datang kulihat ada di pintu masuk.


Aku segera naik menggunakan tangga, karena lift terlihat lama. Aku sudah tidak sabar lagi untuk mengetahui kondisi mama sekarang. Sampai akhirnya aku sampai di sebuah kamar, di dalam sudah ada dokter yang sedang menangani mama. Aku masuk begitu saja, dan sempat dihalangi oleh suster yang ada di dalam. Ia menyuruhku keluar, sementara dokter menatapku dan akhirnya membolehkan agar aku tetap di dalam. "Mama kenapa?"


"Waktu kematian 02.00." Kalimat tersebut benar-benar meruntuhkan hatiku. Tubuhku luruh ke lantai, air mata mulai banjir membasahi pipi. Kudengar langkah kaki dari luar dan ikut masuk ke dalam, Om Gio menyusulku dan menanyakan hal yang sama.


Tanpa berkata apa pun, Om Gio ikut jongkok di lantai dan segera menarikku ke dalam pelukannya. Aku menangis tergugu dan memeluk Om Gio erat. Tubuh Mama sudah terbujur kaku, selimut menutup tubuh Mama sampai ke kepala. Aku makin histeris dan berlari ke ranjang di mana mama masih terbaring.


Aku membuka selimut yang menutupi wajah mama, memeluknya sambil terus memanggilnya. Om Gio mendekat dan berusaha menenangkan ku. Tapi aku tidak mau mendengarnya kali ini, aku masih sakit, aku benar benar kehilangan. 9 tahun mama terbaring terus di atas ranjang, berharap suatu saat nanti dia terbangun, dan nyatanya kini justru pil pahit yang harus aku telan.


Rumah sudah mulai ramai, aku hanya diam di kursi dekat jenazah mama terbaring. Pagi ini juga kami akan segera memakamkan mama. Hanya tinggal menunggu Papa pulang. Semalam Om Gio bilang kalau Papa sudah diberi kabar. Dan dalam perjalanan pulang.


Aku hanya duduk diam, terkadang menyambut uluran tangan atau pelukan dari saudara atau teman papa dan mama. Selebihnya Om Gio yang menemani mereka. Rasanya aku tidak ingin bertemu orang-orang itu, mereka terlalu banyak drama. Mengucapkan kalimat bela sungkawa namun dandanannya sungguh tidak layak untuk berada di rumah duka. Biasanya ada beberapa wanita sosialita yang berusaha mendekatiku, dengan segala kalimat manis mereka yang sama sekali tidak menyentuh hatiku. Aku tau kalau mereka hanya ingin mencari perhatianku, karena ingin menggantikan posisi mama di hatiku. Papa ku memang tampan, dan banyak wanita yang menginginkannya. Bahkan aku tidak tau, apa yang papa lakukan di luar sana.


"Kamu yang tabah, kalau ada masalah dan ingin ngobrol, cerita saja sama tante," ujar salah satu teman bisnis papa. Pakaiannya begitu fashionable, dengan make up tebal dan membuatku muak.


"Saya lebih baik ngobrol dengan Bi Wati daripada sama tante!" kataku ketus.


Seseorang muncul dari balik pintu, diam dan mulai masuk ke dalam. Wanita di depanku ini segera berdiri dan menyambut papa. Aku segera mendekat ke jenazah mama, merapikan mama karena berkali-kali banyak orang yang membuka penutup wajahnya dengan dalih ingin melihat wajah mama untuk terakhir kalinya.


"Bil, maafin papa. Papa ...."


"Mama sudah meninggal, Pa. Jadi papa bisa menikah lagi," sindirku dengan melirik ke wanita tadi. Ia tersenyum senang mendengar kalimatku.


"Kamu ngomong apa sih?! Kenapa bicara seperti itu?"


Tanpa menjawab apa pun, aku pergi dari tempat itu kembali ke kamar. Tidak lagi peduli dengan panggilan papa yang menggema ke penjuru rumah. Dan membuat keadaan terasa makin tidak nyaman. Mama sudah tiada. Aku yakin papa makin jarang pulang lagi sekarang. Dan aku sudah biasa seperti ini. Mungkin nanti aku harus mulai membiasakan diri tidak melihat papa untuk waktu yang lama.


_____


Ini hari ketiga sejak kematian mama. Papa sudah mulai sibuk bekerja sejak hari kedua mama meninggal. Bahkan dia tidak tau kalau aku tidak masuk sekolah sejak kemarin. Hari ini Om Gio tidak ada di rumah, dan aku memutuskan pergi keluar rumah mencari udara segar.


Saat aku sudah di halaman rumah, sebuah pesan masuk membuatku tercengang.

__ADS_1


[Hai, Bil. Kamu belum masuk sekolah juga? Besok ada ujian, kamu datang?]


Ah, benar juga. Besok memang waktunya ujian taekwondo. Dan aku tidak boleh melewatkan kesempatan itu.


Tanpa aku sadari, rupanya Kak Rayi mengirimiku pesan sebelumnya. Bahkan saat hari pertama mama meninggal.


[Bil, aku dapat nomor kamu dari Zidan. Turut berduka cita, ya, Bil. Kamu yang kuat, ya. Kamu sabar. Jangan lupa makan.]


[Are you oke?]


[Bil, apakah wendigo itu menular? Ada yang aneh sama Faza.]


Itu adalah pesan-pesan yang dikirimkan Kak Rayi padaku. Dan aku tertarik pada pesan tentang Kak Faza.


[Kak Faza kenapa?] Pesan itu kukirimkan pada Kak Rayi, sambil berjalan ke jalan raya di depan. Namun tiba-tiba telepon ku berdering dan ada nomor Kak Rayi yang belum sempat kusimpan tadi.


"Ya, kak?"


"Kamu baik-baik aja?"


"Eum, aku baik. Maaf, aku nggak sempat balas pesan Kak Rayi, kemarin ... Sibuk. Nggak sempat pegang handphone."


"Iya, aku ngerti. Cuma mau memastikan aja keadaan kamu."


"Kak Faza aneh kenapa?"


"Oh iya, nafsu makan dia agak aneh, Bil. Dia sekarang banyak makan. Nggak seperti biasanya."


"Tapi nggak makan orang, kan?"


"Eum, entahlah. Mungkin iya, mungkin juga enggak. Sekarang aja, dia nggak masuk sekolah."


"Kak Rayi bisa jemput aku sekarang? Kita ke rumah Kak Faza."


"Sekarang?! Bisa. Bisa. Aku jemput kamu sekarang."


"Eh, tapi kan masih sekolah?"


"Gampang. Aku bisa bolos. Tunggu."


Telepon di matikan secara sepihak. Dan akhirnya aku pun menunggu Kak Rayi datang. Duduk di pos satpam depan rumah. Bersama Pak Dio yang sedang membersihkan rumput liat dekat gerbang. Pak Dio tidak banyak mengobrol, tapi dia sempat menyapa, dan menanyakan kabar ku hari ini. Pak Dio juga menawarkan diri mengantarku, namun aku menolaknya.


"Eh, tapi, Kak Rayi tau rumahku nggak, ya? Kok tadi nggak nanya sekalian." Aku bergumam sendiri. Dan menyempatkan diri menengok benda pipih di tanganku sekarang. "Ah, nanti juga telepon kalau dia bingung."


Tapi dalam beberapa menit, tiba-tiba ada sebuah motor yang berhenti di depan gerbang rumahku. Aku langsung dapat mengenali nya. Apalagi saat dia membuka penutup kaca helm. "Yuk."


Aku beranjak dan mendekat. "Kok kak Rayi tau rumahku? Memangnya aku udah bilang, ya?"


"Aku tau dari Zidan." Ia memberikan helm cadangan dan aku pun segera memakainya.


Kami berdua naik motor menuju rumah Kak Faza. Sebenarnya aku tidak yakin kalau Kak Faza berubah menjadi wendigo. Tetapi dari penuturan Kak Rayi yang melihat sikap Kak Faza aneh, sebaiknya aku memeriksanya. Dan lagi, rasanya aku sedang ingin memukul wajah seseorang sekarang. Mama ku meninggal dan aku makin sering bertengkar dengan Papa. Membuatku kesal dan frustrasi.

__ADS_1


__ADS_2