
Fajar mulai menyingsing. Membentuk semburat merah di langit. Nayaka yang sejak semalam duduk di balkon masih setia di tempatnya dengan kaca mata hitam bertengger di hidung. Rutinitas paginya terus ia lakukan. Menikmati udara pagi yang segar di atas balkon kamarnya.
Seseorang mengetuk pintu kamar Nayaka. Suara sapaan lembut terdengar setelahnya. Ia mengernyit lalu beranjak karena rasa penasaran yang menghinggapi relung hatinya. Siapa gerangan tamu yang bertandang ke kediamannya sepagi ini.
Nayaka mendekat ke monitor. Melihat seorang gadis muda yang kini tengah berdiri di depan kamarnya. Di tangannya ada sebuah nampan yang berisi beberapa makanan. Smirk tercetak jelas di wajah Nayaka. Rupanya makanan incarannya datang sendiri. Tak perlu ia mencarinya lagi.
"Hm, sepertinya aku akan sarapan pagi kali ini," gumam Nayaka lalu segera keluar menyambut tamunya.
Nayaka berlari kecil menuju pintu. "Sebentar." Suaranya yang lembut terdengar juga. Membuat Lidya tersenyum di balik pintu. Ia sengaja membuat roti bakar dengan salad untuk Nayaka. Tak lupa segelas susu yang masih hangat.
Pintu dibuka, sang penghuni kamar melebarkan senyumnya. Senyum Nayaka memang manis. Wajahnya yang kalem mampu menipu banyak orang. Tidak ada yang tau kalau wajah tampan dan lembut itu memiliki sisi iblis yang jahat di dalamnya.
"Lidya? Ada apa?" tanya Nayaka dengan wajah polos. Ia melirik pada nampan yang ada di tangan gadis itu.
"Maaf, menganggu sepagi ini. Kau baru bangun tidur, ya? Aku ... Hanya mengantarkan sarapan saja. Kebetulan aku membuat banyak roti bakar dan salad."
"Wah, kau tidak perlu repot begini, Dy," kata Nayaka dengan menerima nampan di tangan Lidya.
"Eum, ini juga sebagai permintaan maaf ku."
"Maaf? Untuk apa?" tanya Nayaka pura-pura tidak paham.
"Iya, eum selama ini sikapku kurang begitu menyenangkan. Aku ... Minta maaf, Nayaka," kata Lidya dengan wajah menunduk malu.
"Astaga. Itu bukan hal besar buatku. Aku tidak pernah mempermasalah kan nya. Dengan satu syarat ...."
Lidya memberanikan diri menatap wajah pria di depannya itu. Ia dibuat penasaran pada kalimat Nayaka barusan. "Syarat? Apa itu?" tanya Lidya penasaran.
"Kau harus menemani ku sarapan pagi ini. Bagaimana?"
"Aku? Menemanimu? Eum, tapi ... Aku harus segera pergi bekerja." Lidya yang ragu menjadi tidak nyaman. Di satu sisi ia ingin menerima permintaan Nayaka. Karena sebenarnya Lidya mulai menyukai pria itu. Hanya Nayaka yang mampu bertahan pada sikap dingin Lidya. Nayaka selalu baik padanya, terus menolong Lidya di saat genting dan selalu menjadi tetangga yang baik tentunya.
Arthur melewati koridor, dan berjalan santai di belakang Lidya. Pria yang mengenakan tuxedo dengan tas tenteng itu melirik ke arah Nayaka dan Lidya yang masih berdiskusi di depan kamar. "Pagi, Arthur," sapa Nayaka ramah. Nayaka memang terkenal baik dan ramah ke seluruh penghuni apartment. Sementara Arthur hanya menaikan sudut bibirnya. "Sarapan yang lezat, ya, Nayaka? Kau beruntung sekali. Sepagi ini sarapanmu datang sendiri. Sementara aku belum makan sejak semalam," sindir Arthur penuh arti. Kalimat itu mampu ditangkap Nayaka dengan baik. Arthur belum mendapat korban sejak semalam. Yah, dia memang kurang lihai dalam mencari makanan.
"Kau saja yang bodoh. Makanya jangan suka pilih-pilih makanan."
"Tentu saja aku harus mencari yang segar dan berpenampilan menarik bukan?" tanya Arthur yang kini berdiri di belakang Lidya.
Lidya merasa aneh dengan percakapan dua pria itu. "Kalau begitu aku pamit dulu," kata Lidya.
"Eh, Dy. Ke mana? Kamu tidak menemaniku sarapan? Syarat itu masih berlaku, ya."
Lidya berbalik dan tetap berjalan menjauhi mereka. "Baiklah. Nanti malam saja. Pagi ini aku sibuk. Sampai nanti, Nayaka." Gadis itu melambaikan tangan ke arah Nayaka yang masih memegang nampan miliknya.
Arthur menelan ludah saat tatapan mata Nayaka beralih padanya. Nampan ditangan Nayaka ia banting sekuat tenaga ke lantai. Arthur mundur teratur. Ia sadar kalau telah membangunkan raja iblis. Walau Nayaka adalah pimpinannya, tapi dia bukanlah pemimpin yang bijaksana. Justru pemimpin yang kejam. Bahkan pada ras nya sendiri.
Tatapan lembut yang tadi Nayaka tunjukan, berubah bengis. Arthur yang sudah terpojok tak mungkin lagi bisa melawan. Semua ras Kalla tau, kalau Kallandra tidak akan mudah dibunuh. Apalagi dia adalah Arkie. Kallandra pertama yang lahir di bumi. Bahkan kalau pun Arthur berlari dan menghindarinya, itu juga tidak akan berpengaruh apa pun. Karena sesempit apa pun tempat persembunyiannya akan sangat mudah ditemukan Arkie.
Indera penciumannya sangat tajam. Ia mampu mengendus keberadaan Kalla walau berjarak 5 mill jauhnya. Semua makhluk yang Arkie temui tidak akan mampu mengelabuinya. Matanya yang sensitif bisa dengan mudah mengenali siapa lawan bicaranya. Ia mampu melihat masa lalu hidup seseorang hanya dalam sekali menatap dalam matanya.
Berapa berat badannya. Golongan darah, isi hati dan kepala manusia. Bahkan semua kejadian yang mereka alami. Sehingga memudahkan Nayaka mendekati mangsanya.
Tangan Nayaka mencengkeram kuat leher Arthur. Arthur jadi-jadian. Seolah tanpa mengeluarkan tenaga sedikit pun, Nayaka mengangkat tubuh itu ke atas. Ia meronta sama seperti gadis semalam yang ia santap.
Wajah Arthur kini berubah. Ia kembali ke wujud semula. Cengeraman tangan Nayaka makin kuat. Leher Kalla itu mulai robek dan mengalir cara hitam dari sana. Menetes pelan ke lantai sedikit demi sedikit. Suara tercekik dengan sensasi digorok membuat suasana hening koridor menjadi sedikit bising. Ia harus segera menuntaskan hasrat membunuhnya. Karena sebentar lagi, Lidya akan segera keluar dari kamar. Bahkan Nayaka sangat hafal semua kegiatan Lidya setiap hari.
Ia menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sikapnya begitu santai walau di tangan kanannya ada sosok yang sedang kesakitan dan akan menemui ajal.
"Baiklah, Artur. Aku sudahi saja, ya. Sebentar lagi Lidya akan keluar. Aku tidak mau kehilangan makan malamku karena ulahmu lagi."
Genggaman tangan Nayaka menguat. Perlahan tangan kanannya berubah hitam dan urat nadi nya berubah warna menjadi merah. Seolah api yang mulai menjalar di lengan kanannya, kini wajah Kalla di depannya mulai terbakar. Dan hangus. Dalam hitungan tiga detik tubuh itu hangus terbakar dan langsung menjadi abu.
Nayaka mengibas ngibaskan tangan di depan wajah. Kemudian masuk ke dalam kamarnya. Ia mengambil telepon genggamnya.
"Lantai di depan kamarku kotor. Tolong suruh Hilda membersihkannya. Terima kasih."
_____
Guyuran air dingin membuat tubuh Nayaka rileks. Matanya yang terpejam terus menampilkan bayangan di tempat lain. Ia mencari Abimanyu dan pikirannya. Semua kejadian di pulau saphire nampak jelas dipikirannya. Bagaimana mereka bertahan hidup dan akhirnya terdampar di desa Abimanyu sendiri. Namun, sekeras apa pun Nayaka mencari keberadaan Abimanyu, ia selalu berhenti di desa itu. Ia tidak bisa lagi melihat semua nya dalam pikirannya. Seolah ada sesuatu yang menahannya menelusuri lebih dalam. Ia berteriak frustasi.
Nayaka sudah bersiap pergi ke cafe. Kali ini ia akan menaiki mobil sedan miliknya. Sejak Lidya datang ke rumahnya pagi tadi, Nayaka tidak akan membiarkan mangsanya lolos lagi. Hari ini juga ia harus menuntaskan hasrat laparnya. Lydia sebagai santapan akhir akan membuat Nayaka menjadi yang terkuat di gedung mewah itu. Yah, karena semua penghuni sudah berganti menjadi kawanannya.
Pintu kamar Lydia diketuk. Wajah wanita yang tadi nampak lebih cantik sekarang. Ia sudah memakai riasan sederhana. Sebenarnya walau tanpa riasan sekalipun, Lydia pasti akan tetap cantik.
"Nayaka? Ada apa?" tanya Lydia yang sudah membawa tas dan jaketnya.
"Kamu sudah siap, bukan? Kalau begitu kita berangkat bersama saja."
"Tapi, bukannya kita tidak satu arah? Akan terlalu jauh jika kamu mengantar ku lebih dulu," tolak Lydia.
"Tidak masalah." Senyum Nayaka seolah menghipnotis Lydia. Gadis itu tersipu saat netra tajam Nayaka tidak berpaling dari kedua bola matanya. "Eum, lebih baik kita segera pergi. Sebentar lagi pasti jalanan akan macet," ajak Nayaka lagi.
Lydia otomatis menurut. Menutup pintu kamarnya dan berjalan bersama pria itu. Nayaka adalah pribadi yang ceria, supel, dan sangat mudah memikat orang lain. Terutama wanita. Entah sudah berapa wanita yang menjadi korbannya selama ini. Yang pasti sangat banyak.
Lydia yang berprofesi sebagai guru karate, juga mengajar pelajaran bahasa spanyol di salah satu sekolah menengah atas. Ia adalah guru honorer. Kemampuannya berbahasa spanyol didapat karena ayahnya adalah warga negara spanyol.
"Nanti aku jemput, ya," kata Nayaka saat Lydia turun dari mobilnya. Wanita dengan blazer hitam itu tersenyum dan menganggukkan kepala. Ia melambaikan tangan pada Nayaka saat mobilnya melesat pergi.
Nayaka bersiul. Memandangi sepanjang jalan dengan wajah berseri.
Ia berhenti di perempatan jalan karena lampu merah. Beberapa orang menyebrang zebra cross dengan tertib. Dalam pandangannya, orang di depan tak ubahnya makhluk hitam yang memang adalah Kalla. Kembali, Nayaka mengukir senyum bahagianya.
__ADS_1
"Sebentar lagi. Sebentar lagi kota ini akan menjadi milikku. Bahkan sekarang saja tempat ini mirip kota mati. Lihatlah! Hanya ada makhluk penghisap di sana. Manusia? Mana manusia? Tentu saja sudah habis kami santap. " Nayaka tertawa di balik kemudinya. Ia terlihat puas karena hasil kerja kerasnya dan pengikutnya, sebentar lagi kota ini akan menjadi milik mereka. Tak hanya di kota ini saja, tapi di kota lain, bahkan negara lain, Kalla sudah mendominasi.
Nayaka sampai di pelataran parkir cafe. Ia terus bersenandung sepanjang jalan. Alicia menyambutnya dengan gembira. "Selamat pagi, Bos."
"Pagi, Alicia. Bagaimana pagi mu?" tanya Nayaka balik. Ia terus berjalan melewati Alicia menuju meja barista. Memeriksa apakah ada debu yang menempel di meja itu. "Seperti biasa, Bos. Sepertinya pagi mu menyenangkan. Sudah lama aku tidak melihatmu tersenyum seperti ini," ujar Alicia sembari mengelap meja tamu.
"Ah iya, kau benar. Pagi ku sangat menyenangkan." Smirk terlihat di bibir Nayaka.
"Wah, itu sangat bagus, Bos. Ah, ada pelanggan." Alicia mulai menyambut pelanggan pertama mereka.
_____
Suasana cafe tidak seramai biasanya. Tentu saja, karena populasi manusia yang berkurang, membuat cafe mereka tidak seramai dulu.
Cafe di tutup lebih cepat dari biasanya. Nayaka pulang sedikit terburu-buru karena harus menjemput Lydia.
Alicia sedikit melamun. Mengingat Abimanyu, yang tak kunjung kembali. Padahal dia cukup senang sejak Abi datang ke cafe. Baginya Abi sudah dia anggap adik sendiri. Karakter Abi yang cuek dan dingin sangat mirip adiknya yang telah tiada.
Alicia segera bangkit dan menyelesaikan pekerjaannya. Ia mengemasi sampah-sampah dan bersiap membuangnya ke tempat pembuangan yang ada di belakang cafe.
Ia mencoba mengirimkan pesan pada Abimanyu. Sekedar menanyakan kabar dan kata-kata rindu sebagai pemanisnya.
[Bagaimana keadaan cafe? Apa ada yang berubah sejak aku pergi, Alicia?]
[Semua berjalan seperti biasanya. Hanya saja entah kenapa aroma cafe kita tidak segar seperti dulu.]
[Maksudmu?]
[Aku sering mencium bau anyir yang sering membuatku pusing. Entah berasal dari mana bau ini. Tapi hampir seharian aku selalu merasakannya. Bahkan tadi saat cafe tutup, dan Irfan selesai mengepel lantai, bau itu terus tercium. Padahal aku sudah menyuruh Irfan menambahkan pengharum lantainya.]
Abimanyu yang curiga segera menyuruh Alicia segera pulang. Firasatnya buruk. Terlebih kata-kata Alicia membuatnya khawatir.
"Sepanjang hari cafe berbau anyir? Aneh," gumam Abimanyu yang sedang duduk di teras bersama Elang.
"Ada apa?"
Ia menunjukan benda pipih di tangannya." Baru saja Alicia mengirim iku pesan. Ada yang aneh dengan cafe, Paman. Aku khawatir."
Abi menceritakan obrolan singkatnya dengan Alicia. Sementara Alicia kini masih ada di belakang cafe menuntaskan pekerjaannya. Ia berhenti sejenak dan mengambil rokok mint yang sering ia hisap. Bau anyir itu membuat Alicia sering mual dan rokok mint ini bagai penetralisir segalanya.
[Alicia. Sebaiknya kamu segera pulang. Jangan masuk cafe lagi. Pulang saja lewat jalan samping. Siapa saja yang masih ada di cafe sekarang?]
[Semua masih di sini, hanya Nayaka saja yang bergegas pulang tadi. Sepertinya ia ada kencan buta.]
[Ya sudah. Dengarkan aku baik-baik, Alicia. Bisa, kan?]
[Kau ini kenapa, Bi? Tidak seperti biasanya saja.]
Akhirnya Alicia yang penasaran, menghubungi Abimanyu.
"Halo? Apa maksudmu, Bi?"
"Aku rasa, kau perlu tau sekarang. Karena aku takut kau akan jadi korban berikutnya."
"Maksudmu?"
"Sebentar, aku akan mengajukan beberapa pertanyaan terlebih dahulu. Kau janji akan menjawab dengan jujur, kan?"
"Hm, iya. Tentu saja, Bi. Apa yang ingin kau tanyakan?"
Rokok Alicia yang tinggal sedikit, membuatnya menyalakan lagi untuk rokok kedua.
"Sejak kapan kau merasa aneh dengan cafe. Bau anyir yang kau cium. Sejak kapan kau menyadarinya?"
"Bau anyir itu? Eum, sebentar. Biar aku ingat-ingat lagi. Kalau tidak salah belum lama ini, Bi. Malam setelah kau tidak masuk kerja. Dari situ aku mulai merasa aneh. Awalnya bau itu hanya samar. Kufikir karena lantai yang baru saja di pel. Ternyata bukan. Aku bahkan sudah bertanya pada yang lain. Mereka bilang, tidak ada bau semacam itu. Ah entahlah, mungkin hidungku yang bermasalah. Tapi makin lama bau itu makin kuat. Aku sering keluar cafe karena tidak tahan dengan bau itu."
"Baiklah. Bagaimana kalau kita masuk ke dalam. Kita ganti dengan panggilan video saja. Biar aku melihat keadaan di dalam."
Alicia menyetujuinya. Ia terus memegang ponsel dan mengarahkan ke depan. Alicia bersikap seolah olah hanya memegang ponsel itu seperti biasa saja. Padahal mereka masih terhubung dalam panggilan video ini. Satu-satunya alat komunikasi adalah headset yang kini ia pakai. Alicia bersenandung agar orang-orang percaya kalau dia sedang mendengarkan musik.
Pintu belakang cafe di buka. Beberapa lampu memang sudah dimatikan. Sampai dapur, ada Irfan yang masih membereskan beberapa piring. Abi dan Elang serius menatap ke dalam cafe.
"Fan, biarkan saja. Kita lanjutkan besok. Toh piring dan gelas kotornya tidak terlalu banyak, kan?"
Irfan hanya diam dan mengangguk. Ia segera keluar. Di sisi lain, Abimanyu melotot. "Dia bukan Irfan. Dia Kalla."
Suaranya di ponselnya ia matikan. Agar Alicia tidak mendengar Abimanyu. Ia takut Alicia akan panik jika tau hal yang sebenarnya.
"Kau yakin, Bi?" tanya Elang.
"Tentu, Paman. Bagaimana jika hanya Alicia dan Nayaka saja yang masih menjadi manusia di sana? Karena dia bilang, sepanjang hari ia terus mencium bau anyir itu. Bau kalla," kata Abi gelisah. "Paman Gio dan Paman Adi, bisa, kah kalian menjemput Alicia. Bawa dia ke tempat aman. Aku benar-benar khawatir."
"Baiklah, Bi. Kami ke kota sekarang."
"Aku ikut," kata Vin lantang.
Layar ponsel terus memperlihatkan suasana cafe. Di meja pelanggan mereka masih berkumpul di sana. Otomatis Alicia dengan leluasa menyorotkan ponsel ke arah mereka.
Abimanyu menekan kepalanya. "Astaga! Ternyata benar, Paman. Mereka semua ...."
"Kalla?"
__ADS_1
Abi mengangguk. menepuk bahu Abimanyu. "Kita berdoa saja. Semoga Adi sampai di sana tepat waktu."
"Lebih baik, kau menyarankan Alicia pergi dari cafe. Akan lebih baik jika mereka tidak terlalu berdekatan," ucapan Lian ada benarnya.
"Alicia, sekarang kau pulang. Aku akan menceritakan semua padamu diperjalanan. Oke?"
Alicia hanya diam. Menatap rekan kerjanya satu persatu. Mereka pun menatap Alicia heran. "Aku pamit dulu. Kalian hati-hati di jalan."
"Alicia? Mau kuantar?" tanya Irfan. Nada pengucapannya terdengar aneh. Alicia baru menyadari kalau Irfan mang aneh sejak beberapa hari lalu.
"Tolak!" bisik Abimanyu di seberang.
"Eum, tidak usah, Fan. Lagipula aku harus ke apartment Nayaka. Lihatlah, dia meninggalkan dompetnya lagi," tunjuk Alicia pada sebuah dompet yang memang tertinggal di meja barista.
Alicia pamit dengan mendapat tatapan dari rekan-rekan kerjanya.
"Apa maksudmu mereka bukan manusia?" tanya Alicia saat ia sudah jauh dari cafe. Ia terkejut mendengar perkataan Abimanyu barusan.
Mereka bukan manusia? Lalu apa?
Pertanyaan seperti itu melintas di kepala Alicia.
Abimanyu menceritakan semua hal yang selama ini terjadi. Semua tentang Kalla, Kallandra dan semua hal yang mengancam nyawa mereka selama ini.
Alicia terhenyak. Ia bahkan berhenti sebentar untuk mencari pegangan. Tubuhnya sempoyongan. "Ini benar-benar gila. Aku harus memberi tau Nayaka!"
"Alicia? Kau akan ke rumah Nayaka?"
"Iya, Bi. Dia harus tau semuanya kalau anak buahnya bukan lagi manusia."
"Baiklah. Biar Paman Adi, Paman Gio dan Vin menjemputmu di apartment Nayaka."
"Begitu lebih bagus."
Perjalanan malam yang sungguh membuat Alicia hampir gila. Ia berjalan kaki dan terus memikirkan semua perkataan Abimanyu. Ia yakin kalau Abimanyu tidaklah berbohong. Terlebih Alicia tau, kalau Abi adalah orang baik.
Penjaga keamanan menyambut Alicia. "Selamat malam, Alicia."
"Malam, Chris. Nayaka sudah sampai, kan?"
Chris menatap ke lift dan berusaha mengingat orang yang dimaksud Alicia. "Ah, benar. Baru saja dia sampai. Baru sekitar lima menit lalu."
"Baiklah, terima kasih, Chris." Alicia masuk ke dalam lift. Ini bukan kali pertama dirinya berkunjung ke apartment Nayaka. Maka dari itu, Chris selaku keamanan gedung sudah hafal wanita paruh baya itu.
"Hati-hati, Alicia."
Pintu lift menutup. Ia terus membalas pesan Abimanyu. Abi memang sangat cemas akan keselamatan Alicia. Walau ia yakin jika bersama Nayla dirinya akan aman, tapi entah kenapa hati Abi masih tidak tenang.
Alicia sampai di koridor lantai tempat Nayaka tinggal. Suasana sepi.
Nayaka yang baru saja sampai. Segera mengganti pakaiannya dan pergi ke kamar Lydia. Lydia berkata akan memasak makan malam untuk mereka berdua. Nayaka datang ke kamar Lydia, sementara Alicia kini sudah ada di depan kamar Nayaka. Ia mengetuk pintu. Namun tak ada sahutan. Akhirnya Alicia membuka pintu dengan kode rahasia yang sudah di beri tau Nayaka sebelumnya. Nayaka dan Alicia emang cukup dekat selama ini. Mereka sering saling berkunjung ke kediaman masing-masing tanpa sungkan.
"Nayaka? Kau di dalam?" suara Alicia memenuhi semua sudut ruangan di kediaman Nayaka. "Ke mana sih dia?" gerutu Alicia kesal.
Sambil menunggu Nayaka datang, Alicia mengambil segelas air mineral. Saat ia meneguk air itu masuk ke tenggorokannya, samar-samar ia mendengar suara teriakan. Alicia mempertajam telinganya. Ia kemudian mendekat ke ruang kerja Nayaka. Pintu yang belum tertutup sempurna, membuat rasa penasaran Alicia membuncah. Ia membuka pintu itu, dan sedikit terkejut. "Astaga! Apa ini?" tanya Alicia pada dirinya sendiri.
Walau Alicia sering datang ke sini, tapi ruang kerja Nayaka adalah pengecualian. Nayaka tidak pernah mengijinkan siapapun masuk ke dalam sini. Sementara Alicia tidak terlalu mempersoalkan hal itu. Karena baginya Nayaka memiliki privasi. Dan dia menghargainya.
Alicia mendekat ke monitor. Di sana semua aktifitas penghuni gedung ini terekam jelas. Di tiap kamar ia tidak melihat satu pun manusia normal. Alicia justru melihat makhluk yang tadi Abimanyu katakan. Dan baru sekarang Alicia benar-benar yakin, kalau makhluk itu memang ada.
Sampai ke sebuah kamar, dengan jeritan dari pengeras suara. Alicia sempat heran, karena jika ini adalah rekaman cctv, tentu tidak akan ada suara apa pun di sana. Sepertinya tidak hanya kamera cctv, tapi alat sadap lain juga dipasang di tiap ruangan.
Netra Alicia menatap ke ruangan dengan Nayaka di dalamnya. Alicia menggeleng pelan saat Nayaka mencekik leher wanita di kamar itu. Alicia bahkan sampai menangis melihat kekejaman Nayaka.
Ia lantas merogoh ponsel di kantung jaketnya. Melakukan panggilan ke Abimanyu.
"Bi! Kau harus mendengar ini."
"Ada apa?"
"Rupanya, Nayaka adalah bagian dari mereka," bisik Alicia ketakutan.
"Apa maksudmu?"
"Aku melihat ruang kerja Nayaka. Di sini banyak monitor yang memperlihatkan semua keadaan di sekitar gedung ini. Dan aku melihat dia, Bi. Nayaka. Dia membunuh wanita di kamar ujung!" rengek Alicia dengan tangis yang tidak bisa ditahan lagi.
"Kau yakin dengan ucapanmu?"
"Iya, Bi. Sangat yakin." Alicia melirik ke monitor di sampingnya. Nayaka tidak terlihat di semua monitor. Di saat bersamaan pintu depan terbuka. Hal itu membuat Alicia panik dan berusaha bersembunyi di bawah meja kerja Nayaka.
Abimanyu menatap Elang dengan tak percaya. "Bagaimana bisa Nayaka?"
"Itu benar. Bahkan saat aku di dekatnya, tidak ada tanda Kalla di tubuh Nayaka."
"Alicia bilang itu Nayaka. Jadi itu benar-benar wujud Nayaka asli, bukan?" tanya Lian. Yah, memang hanya Lian yang masih terjaga malam ini. Ia memiliki gangguan tidur yang cukup parah.
Dua pria didepannya mengangguk. "Jadi, Nayaka memang bukan Kalla." Elang berasumsi.
"Maksudmu?"
Elang menatap kedua bola mata Abimanyu. "Dia ... Kallandra. Kallandra pertama. Arkie!"
__ADS_1