
hellow pembaca setia pancasona, makasih untuk semua kritik dan saran, serta review ceritanya. sangat membantu saya dalam meneruskan cerita.
Babnya ketuker, ya? hehe. yuk, disimak bab barunya.
_________
Bangunan tinggi ini biasanya didirikan di kawasan laut yang dipenuhi oleh batuan karang, atau pada perairan laut dangkal yang luas. Dilengkapi system lampu sorot yang bersinar terang pada malam hari. Mercusuar sangat membantu para pelaut untuk lebih berhati-hati membawa kapalnya di kawasan laut seperti itu selama bertahun-tahun lamanya. Bagi masyarakat luas, salah satu jenis sarana bantu navigasi di laut yang satu ini (Mercusuar) memang yang paling populer. Bentuk bangunannya yang tinggi dan cemerlang sorot lampunya di malam hari memang menampilkan kesan pemandangan yang istimewa. struktur bangunan mercusuar tidak mengalami perubahan yang berarti. Syarat yang diharuskan untuk bangunan mercusuar adalah tinggi bangunan atau ketinggian dataran letak bangunan mercusuar yang mencukupi. Cahaya yang dihasilkan harus sudah dapat dilihat oleh awak kapal sebelum kapal itu mendekati kawasan laut yang dianggap berbahaya bagi pelayaran. Ada banyak bangunan mercusuar yang juga berfungsi sebagai rumah bagi petugasnya.
Kembali mereka datang ke sebuah pantai. Berbeda dengan pantai yang kemarin ada di Insula Mortem, tetapi ini adalah daerah wisata pantai yang cukup ramai di kunjungi turis. Pantai nya indah, dengan memiliki beberapa batu karang di pantai. Membuat suasana terlihat lebih menarik dan sangat cocok dijadikan spot berfoto bagi wisatawannya.
Mereka duduk di pasir pantai, yang kering dan tidak terkena ombak pantai yang cukup besar. Mereka memandangi lautan yang luas dengan beberapa menara mercusuar yang berada di jarak yang cukup jauh dari pantai. "Jadi kita harus ke sana?" tanya Gio menatap salah satu mercusuar yang terlihat tidak beroperasi. Lampu yang biasanya berputar dan terlihat di sekitar, tidak nampak apa pun di tempat mereka duduk sekarang.
Matahari sudah mulai akan tenggelam, dan momen seperti ini sangat ditunggu para wisatawan. Mereka yang berburu sunset akan sangat menantikan saat saat seperti ini. Banyak orang yang duduk di pasir pantai sama seperti mereka. Ada yang berdiri sambil menikmati guyuran ombak di kaki kaki telanjang mereka. Berpelukan dengan pasangan masing masing dan mengabadikan semuanya dalam telepon genggam mereka.
"Kita ke sana saat hari sudah gelap, dan pengunjung sudah mulai pergi," saran Abimanyu. Yang kini duduk bersebelahan dengan Ellea, yang sedang bersandar di bahunya.
"Tapi para wanita lebih baik di sini saja. Aku nggak mau kamu sama Ellea kenapa napa lagi, biar kami yang ke sana," jelas Arya tegas.
"Tapi, Ya ..."
"Nggak pakai tapi tapi," jelas Arya. Dan akhirnya membuat Nayla menurut.
"Kita naik apa ke sana?" tanya Wira.
"Itu, kapal itu, sudah gue sewa dia buat perjalanan kita nanti. Tapi cuma kapalnya saja."
"Loh, kok kapalnya saja? Yang mengendarainya siapa?" tanya Wira meminta jawaban dari Gio. Gio meliriknya dengan senyum lebar. "Gue dong!" sahutnya bangga. Sementara Wira malah menatapnya curiga. "Nggak yakin gue!" ujarnya dengan tatapan sinis.
"Kita lihat saja nanti!" cetus Gio lalu merebahkan tubuhnya di pasir pantai yang halus itu. Langit mulai gelap, semburat merah sudah tidak lagi menampakkan diri. Sunset yang sudah muncul dan memuat riuh beberapa pengunjung pun, sudah mulai meninggalkan peraduannya. Satu persatu pengunjung mulai beranjak dari posisi mereka duduk dan mulai meninggalkan pantai dengan membawa wajah puas dan bahagia.
Pemandangan dan suasana pantai memang salah satu cara untuk melepaskan penat akibat seharian beraktivitas. Apalagi jika datang ke tempat ini ditemani kekasih. Akan menjadi hal romantis untuk menghabiskan waktu berdua saja dengan pasangan. Nayla contohnya, dia kini sedang memeluk pinggang Arya dari samping, walau Arya terlihat cuek dan tidak bereaksi apa apa, tapi sebenarnya pria itu menikmati momen kebersamaan mereka tersebut.
Pikirannya mulai menerawang jauh ke tempat lain yang ia tinggalkan kemarin. Arya sedang memikirkan kedua orang tuan angkatnya, yang kini di rumah. Arya yang kemarin hanya pamit ada keperluan kampus, merasa bersalah karena tidak pernah memberi kabar pada mereka. Ia tau, pasti kedua orang tuanya itu akan sangat mencemaskan keadaannya. Arya sudah memutuskan akan memberi kabar setelah mereka berhasil mengambil kunci berikutnya, menara mercusuar hantu di ujung laut sana.
Ada sekitar 6 Menara mercusuar yang ada di pantai ini, namun yang hanya beroperasi hanya ada 5, apalagi saat malam hari sepeti ini, lampu lampu yang menyorot ke sekitar laut akan makin terlihat jelas. Setiap menara akan ada penjaga yang bertugas di sana. Dan hanya ada satu orang penjaga yang ditempatkan di tipa menara.
Ahmad, adalah pria berumur sekitar 25 tahun yang sudah menjadi penjaga menara sejak satu tahun terakhir ini. Ia menjaga menara di samping persis menara kosong yang memang tidak beroperasi sejak 20 tahun lalu itu. Sementara di menara samping menara kosong, ada menara yang di jaga oleh Rahmat, pria berumur 35 tahun itu sudah bekerja menjadi penjaga mercusuar sejak 5 tahun lalu. Mereka berdua mengapit menara kosong yang kabarnya berhantu.
Ahmad sudah berada di tempat sejak 15 menit lalu. Dia sudah membawa perbekalan untuk berjaga semalaman di menara ini. Untuk sampai ke atas menara, tempat dia bekerja nanti, harus menaiki tangga. Menara ini kokoh, karena berkali kali terkena hantaman dari ombak laut jika air sedang pasang, nyatanya tidak pernah roboh sama sekali. Padahal letak mercusuar itu tidak begitu luas di bagian bawahnya. Ahmad adalah penjaga termuda di menara ini. Semua penjaga lain sudah berumur kepala tiga bahkan kepala 4. Mereka bertugas jaga dengan berganti shift.
Ahmad lebih sering berjaga di malam hari karena teman satu shift nya sedang menunggu istrinya yang baru saja melahirkan. Ia datang dengan sebuah perahu kecil yang memang khusus dipakai untuk membawanya pulang pergi ke pantai. Kini dia sedang duduk di kursi sambil memantau sekitar dari menara. Ia meraih walkie talkie yang biasa digunakan untuk berkomunikasi dengan penjaga lainnya. Dan seperti biasa ia menghubungi Ahmad, rekan terdekatnya. Biasanya mereka memang saling bertegur sapa saat baru datang dan jika mereka mulai merasa bosan.
Dulu, setiap penjaga mercusuar akan tinggal selama satu bulan di tempat itu, mereka tidak diperbolehkan pergi walau hanya untuk mencari makan. Karena stok makanan akan disediakan oleh staf dan akan terus diberi setiap harinya. Tetapi sejak dari beberapa kejadian aneh, penjaga tidak lagi tinggal di sana dalam kurun waktu yang lama. Mereka akan pulang setiap hari dan kembali lagi esok hari.
"Pak Rahmat, bawa bekal apa saja malam ini?" tanya Ahmad di balik alat komunikasi mereka itu.
"Lumayan, Mad. Istriku membawakan satu bekal rantang yang banyak. Juga kopi satu termos kecil. Kau sudah makan belum?"
"Sudah, Pak. Saya juga membawa ubi rebus, lumayanlah untuk teman malam nanti."
__ADS_1
"Iya, jangan sampai kelaparan, nanti kau masuk angin."
Ahmad tersenyum karena Rahmat memang satu satunya penjaga menara yang baik kepadanya, dan tentu yang terdekat dengan dirinya. Karena menara menara lain berada agak jauh dari mereka berdua. Ahmad dan Rahmad masih berbincang untuk memecah kesunyian. Tentu sambil bekerja dan mengawasi navigasi yang ada di hadapan mereka. Apalagi saat malam hari, banyak kapal kapal yang berlayar untuk menangkap ikan atau keperluan lainnya.
Sampai tiba tiba, Ahmad merasakan ada hal aneh di samping kanannya. Di mana menara kosong tersebut berdiri. Ia seperti melihat ada sekelabat bayangan yang lewat, atau lebih tepatnya terbang dan menempel di kaca yang sejajar dengan dirinya. Ahmad diam, lalu menoleh ke arah tersebut. Dia beranjak dan mendekat ke kaca sampingnya, untuk memeriksa benda aneh yang sedang menempel di kaca menara tetangganya itu. Letaknya memang tidak begitu dekat, tapi tetap saja kalau dirinya mampu melihat jelas, kalau ada benda aneh itu. Karena warnanya yang putih sangat kontras dengan cat menara yang sudah memudar dan berwarna hitam.
"Ahmad! Ahmad! Kenapa?" tanya Rahmat yang suaranya masih terdengar jelas. Ahmad memang mendengar suara Rahmat, tetapi dirinya masih fokus pada benda yang menempel di kaca menara tetangganya itu. Suara RAhmat terus terdengar memanggil namanya. Tapi tiba tiba suara Rahmat mulai terganggu, putus putus dan akhirnya hanya menyisakan suara statis yang melengking. Ahmad terus menajamkan penglihatannya. Sampai pada akhirnya benda putih yang terbang tadi, mulai melayang kembali dan kini menuju ke arahnya.
Ahmad yang mulai menyadari keanehan itu, lantas mundur mundur. Kini apa yang sejak tadi ia perhatikan mulai terlihat jelas. Wajahnya yang rusak membuat Ahmad makin mundur ketakutan. Dan dalam sekejap makhluk itu mulai menempel di kaca menara yang menjadi perlindungan sementaranya. Ahmad menjerit ketakutan. "Pergi kamu!" katanya sambil menutup wajahnya dan duduk di sudut lantai ruangan. Semua ruangan di atas sini memang dikelilingi kaca, tebal dan sulit untuk dipecahkan. Tapi makhluk yang ada di depannya adalah makhluk balik, yang bisa masuk ke dalam walau seluruh ruangan dikunci.
Wanita mengerikan itu menembus kaca, dan masuk ke dalam. Melayang dan membuat Ahmad makin menjerit ketakutan. Ia terus menutup wajahnya dan memejamkan mata. Sampai akhirnya ada tangan yang memegang bahunya. Ahmad makin menjerit ketakutan, tapi tak lama suara seseorang yang ia kenal membuat dirinya memberanikan diri membuka mata. "Pak Rahmat!"
Mata Ahmad berbinar. Melihat rekan kerjanya yang sudah muncul di depan. Dan tidak hanya Rahmat, karena di belakang pria itu ada beberapa orang lainnya.
Gio, Arya, Wira, dan Abi sudah sampai di mercusuar dengan selamat. Mereka yang awalnya hendak langsung mendatangi mercusuar kosong tersebut, lantas menatap heran pada Rahmat yang terlihat terburu buru menaiki perahu kecilnya. Wajah Rahmat yang menampilkan kecemasan membuat mereka akhirnya menghampiri pria tersebut.
Setelah menanyakan beberapa hal kepada Rahmat, mereka pun menangkap kegelisahan pria itu.
"Teman saya dalam bahaya! Kita harus ke sana dulu, baru saya ceritakan semuanya!" paksa Rahmad.
Dan akhirnya mereka sampai di mercusuar milik Ahmad. Menemukan pemuda itu yang sedang ketakutan di sudut ruangan. Yang gelap dan berantakan. Bahkan tanpa Ahmad sadari, keadaan di ruangannya sangat kacau. Kursi miliknya sudah terguling ke lantai. Beberapa benda yang ada di meja juga berantakan di mana mana. Gelas pecah dan makanan Ahmad berhamburan seperti telah dilempar lemparkan dengan keras.
"Kamu nggak apa apa, Mad?" tanya Rahmat khawatir melihat temannya ketakutan dengan wajah pucat dan tubuh gemeteran.
"Tadi ada ...." Ahmad tidak meneruskan kalimatnya, tapi netra nya liar mencari cari keberadaan makhluk yang tadi ia lihat.
Wira memperhatikan sekitar. Begitu juga dengan Abi dan Arya. Sementara Gio hanya memperhatikan secara seksama saat Ahmad bercerita. Ia mulai menceritakan tentang sosok kain putih yang menempel di kaca mercusuar, dan lantas terbang menghampiri dirinya. Lalu suara radio yang mulai aneh, seolah ada gangguan teknis. Padahal Rahmat tidak merasakan gangguan apa pun. Bahkan dia mendengar semua hal dan mengetahui apa saja yang dibicarakan Ahamd. Jeritannya. Dan semua ketakutannya tadi. Itu sebabnya Rahmat segera mendatangi tempat Ahmad dan memeriksa kondisinya.
"Saya tidak tau tentang kejadian persisnya. Tapi kata orang orang terdahulu, tempat itu sudah angker sejak awal dibangun. Kami tidak tau ada makhluk apa yang mendiami tempat itu, tapi setiap ada staf yang bekerja di sana, pasti mereka akan mendapat celaka. Seolah mercusuar itu tidak dibolehkan untuk dipakai."
"Memangnya ada berapa korban karena mercusuar itu, Pak?" tanya Arya sambil menatap menara gelap di depannya.
"Semua. Semua yang bekerja di sana pasti terkena imbasnya. Ada yang kecelakaan, patah tulang, bahkan banyak juga yang meninggal. Entah jatuh dari sini sampai menghantam batu karang, atau tiba tiba bunuh diri tanpa alasan jelas. Semua aneh. Akhirnya menara itu tidak lagi dioperasikan dan hanya dibiarkan berdiri begitu saja."
"Tapi awal mula kejadian nggak tau gimana ya?" tanya Gio.
"Enggak tau. Sepertinya sebelum menara itu dibangun, memang sudah ada hal aneh di sana. Mungkin memang ada benda aneh atau sesuatu yang tersembunyi di tempat itu. Saya nggak tau."
Mereka saling pandangan satu sama lain. Dan dari penuturan Rahmat tadi, tekad untuk mendatangi menara tersebut makin bulat.
"Kami boleh ke sana, kan?" tanya Abimanyu dengan tatapan dingin.
Rahmat menatap mereka satu persatu, tatapan yang tidak dapat ditebak. Tapi sebenarnya menyiratkan ketidak setujuan atas permintaan mereka. Hanya saja Gio meyakinkan Rahmat kalau mereka akan baik baik saja.
Akhirnya Arya, Abi, dan Wira kini kembali menaiki perahu kecil menuju tempat yang tak jauh dari mereka. Sementara Gio masih di mercusuar tempat Ahmad dan Rahmat tadi. Gia bertugas menjaga dua orang tersebut dari serangan lain yang mungkin terjadi. Karena mereka belum mengetahui pasti siapa dan apa yang sedang mereka hadapi sekarang.
Semua sudah memegang senjata masing masing. Sampai di mercusuar tersebut, ketiga orang tadi diam sambil memperhatikan sekitar mereka. Lampu sorot yang menyorot ke mereka membuat langkah mereka lebih mudah. Karena di menara ini tidak ada satu pun sumber penerangan yang ada. Semau lampu mati dan rusak. Bahkan tempat ini seperti sudah hampir retak di beberapa bagian dindingnya.
Abi membuka pintu bawah, di mana tangga akan membawa mereka nanti menuju ke bagian atas menara. Tangga di dalam sudah mulai gelap dan tidak begitu terlihat jelas. Mereka pun sudah mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Seperti membawa senter kecil di tangan mereka masing masing. Arya berjalan lebih dulu, lalu diikuti Wira. Dan terakhir Abi, ia membiarkan pintu terbuka, bahkan dia sampai menahan pintu itu dengan batu yang cukup besar di bawahnya, agar tidak tertutup dengan sendirinya. Angin laut memang cukup kencang dan dipastikan mampu membuat pintu itu tertutup dengan sendirinya. Abi sudah memastikan hal tersebut dan kini ia menyusul dua pria yang sudah naik lebih dulu ke atas.
__ADS_1
Cahaya yang berasal dari sorot lampu menara milik Ahmad, mampu membuat keadaan di dekat pintu terang. Bahkan sinar lampu itu dapat mereka lihat dari dalam. Di tangga yang membawa mereka terus naik ke atas. Suara berisik langkah kaki yang mereka ciptakan menggema ke seluruh ruangan. Pelan tapi pasti, sambil memperhatikan tembok di sekeliling mereka. Ada beberapa gambar aneh yang tertulis di sana. Seperti simbol simbol yang mereka tidak tau apa artinya. Tapi ada satu simbol angka yang memang familiar bagi mereka yaitu simbol angka 666. Semua yang buruk dan jahat konon mempunyai kaitannya dengan angka 666. Simbol itu dilambangkan sebagai klenik gaib.
Simbol atau lambang klenik (gaib) adalah sarana kekuatan yang digunakan pengikut aliran sesat untuk memohon bantuan kekuatan jahat dalam dunia gaib dan pemujaan setan. Tetapi penggunaannya baru bisa efektif jika dalam bentuk tiga dimensi.
Simbol digunakan orang untuk menarik perhatian kekuatan gelap. Sebagian besar dari kita belum sepenuhnya menyadari kekuatan misterius dari simbol-simbol yang digunakan. Terkadang kita menggunakannya sebagai kalung yang melingkari leher, jadi gelang di pergelangan tangan, atau menyimpannya di dalam kamar. Hati- hati! Simbol-simbol itu sesungguhnya bukan gambar tak bermakna. Tapi ada kekuatan jahat di baliknya.
Waspadalah, di mana pun terdapat pengaruh klenik, simbol-simbol ini pasti digunakan, khususnya yang berhubungan dengan kekuatan jahat. Kuasa kegelapan sudah pasti mengenal simbol-simbol ini dengan mudah. Jadi, bila Anda termasuk salah seorang pemilik simbol-simbol ini dan menggunakannya, kemungkinan besar akan mudah dipengaruhi oleh setan. Dan di dinding ini sangat penuh dengan simbol simbol tersebut.
Dan sebuah gambar pentragram ada di bagian paling atas, langit langit tempat ini. Pentagram berhubungan dengan Lucifer dan tukang sihir perempuan percaya bahwa Lucifer berarti putra sang pagi. Ada beberapa kebenaran dalam gambaran tentang setan yang dilukiskan sebagai seorang malaikat penerang dan merupakan salah satu makhluk terindah yang pernah diciptakan. Karena itu, rasa bangga dan kesombongan telah menguasai diri Lucifer. Karena sifat juga yang membuatnya terpuruk dalam kesesatan.
Jika pentagram ini diputar secara terbalik, bentuknya jadi semacam bintang yang bertanduk. Atau bila diamati secara seksama. simbol bintang ini dalam perputarannya seakan-akan membentuk wajah setan. Dan sampai saat ini Pentagram dijadikan sebuah simbol yang dipergunakan seluruh gereja setan di dunia.
"Jadi tempat pemujaan setan sekarang pindah ke sini?" ujar Abimanyu yang mulai dapat membaca situasi di sekitarnya.
"Mungkin tempat ini dulunya tempat pemujaan setan, begitu, kah?" tanya Arya.
"Yah, benar. Ini tempat ini penuh aura gelap yang pekat. Dan makhluk yang di lihat Ahmad tadi pasti salah satu dari iblis yang menjaga tempat ini. "
"Kita hanya tinggal mencari kunci itu saja, kan? Lalu pergi?" tanya Abimanyu.
"Iya, bener. Bukan semua tempat angker harus kita aman, kan, bukan?" tanya Arya sependapat dengan Abi.
"Ya sudah, kita berpencar, cari kunci itu!" Mereka mulai kembali mencari keberadaan kunci yang disinyalir adalah salah satu kunci yang memang mereka cari selama ini. Dan Abi menjerit saat ia menemukan benda yang mereka cari tersebut. "Bagus, Bi. kita pergi!" ajak Wira terburu buru. Mereka kembali menuruni anak tangga yang cukup tinggi dan terjal. Sampai pad akhirnya Abi menyadari satu hal, kalau kunci yang sedang ada di tangannya sama persis dengan beberapa gambar simbol yang ada di tembok tembok samping mereka.
"Ini maksudnya apa, yah?" tanya Abi, memperlihatkan bentuk kunci itu dengan gambar di depannya.
Arya ikut memperhatikannya, hingga tiba tiba pintu di bawah tertutup dengan keras. Mereka terkejut dan menekan dada masing masing. karena suara kencang barusan membuat jantung mereka tidak beraturan.
"Perassana sudah aku halangi pakai batu besar," ujar Abi bingung.
"Kegeser kali," sahut Wira.
"Nggak mungkin!"
Saat mereka hendak turun ke bawah, ada bayangan putih berkibar kibar. Bayangan yang sama seperti yang dilihat Ahmad tadi. Mereka berhenti, menyiapkan senjata. Satu yang ada di dalam pikiran mereka, kalau ruh itu tidak akan bisa melukai mereka asal mereka tidak takut.
Tapi naas, leher Abimanyu terjerat sebuah kain putih dan membuatnya terbang hingga kembali ke atas. Arya menjerit memanggil nama Abi dan mengikutinya ke atas. Sementara Wira malah mengejar makhluk itu dan berusaha mengusirnya. Bersamaan dengan itu, ikatan kain yang membawa Abi juga terlepas. Hingga pemuda itu merosot jatuh ke bawah. IA berpegangan pada ruas tangga, dan membuat Arya berhasil menangkapnya dan membawanya kembali ke atas.
"Kalian nggak apa apa?" tanya Wira dari bawah tangga.
"Iya, kami baik baik saja," sahut Arya. Abi mulai batuk batuk dan memegangi lehernya. Mereka akhirnya kembali turun ke bawah. Kini tidak lagi berhenti atau sekedar berbincang membahas hal aneh lainnya. Kkarena semakin lama mereka ada di menara ini, rasanya nyawa mereka makin terancam.
Mereka berhasil keluar, dan dapat menghirup udara bebas. Tapi saat mereka menatap ke atas menara, wanita tadi kembali terlihat. Berdiri di sana dan menatap mereka tajam. Mereka bertiga segera naik ke perahu dan menjauhi tempat itu. Tapi saat mereka hendak menjemput Gio, ada sebuah kapal lain yang berisi 2 orang wanita yang sedang memegang benda berwarna bulat menyala. Di belakang mereka ada seorang pria yang sangat mereka kenal, Gio.
Bom!
Nayla melempar menara itu dengan bom. Ledakan tak terelakan lagi. Hingga perlahan bangunan itu mulai runtuh perlahan. Perahu Nayla menjauh dan kembali ke pantai, menjauhi runtuhan menara yang mulai jatuh ke laut di bawahnya. Gio, Ahmad dan Rahmat ternyata juga sudah berada di pantai bersama mereka semua. Mereka sampai di pantai dengan nafas tersengal sengal. Sambil menatap menara itu yang sudah runtuh, Ahmad dan Rahmat hanya menarik nafas dalam dalam.
"Apa yang akan kalian jelaskan tentang semua ini?" tanya Arya pada mereka berdua.
__ADS_1
"Kami akan bilang, kalau kami yang menghancurkan menara setan itu! Dan sepertinya kami harus mencari pekerjaan lain sekarang!" ujar Rahmat
"Akhirnya aku terbebas dari pekerjaan mengerikan ini," sahut Ahmad sambil terkekeh.