pancasona

pancasona
Part 185 Perjalanan pertama


__ADS_3

Sepuluh kunci yang berada di sepuluh tempat misterius dan berbahaya adalah tujuan mereka sekarang. Sesuai kesepakatan, Rendra dan Vin tidak ikut dalam misi kali ini. Karena kondisi Allea yang sedang kembali berbadan dua, sekaligus Abi membutuhkan mereka untuk menjaga keamanan desa selama mereka pergi.


Sesuai petunjuk dari buku curian yang sudah diambil Wira kemarin, sudah ada ke sepuluh daftar yang memang tertulis jelas di sana.



Desa Angikuni.



Desa tersebut terletak di pedalaman sungai dan lembah yang memang jauh dari pemukiman desa lain. Yang membuat desa ini misterius adalah hilangnya seluruh penduduk desa dalam satu malam. Sampai sekarang tidak ada yang tau keberadaan warga desa itu.




Rumah Bayonetta. Sebuah rumah yang sejak abad ke 10 M telah menjadi rumah terkutuk. Karena pernah terjadi peristiwa yang mengerikan di tempat ini.




Mercusuar Hantu.




Insula Mortem. Atau biasa disebut Pulau kematian. Konon siapa pun yang datang ke tempat ini, tidak akan selamat.




Kastil Archanum.




Blue Hole.




Pulau tak berpenghuni.




Makam penyihir.




Timbuktu dengan sebuah gerbang gaib.




Sebuah makam dengan tulisan yang berbunyi, "Ketika aku bangkit dari kematian, dunia akan bergetar"

__ADS_1




Tidak semua tempat itu dipaparkan dengan jelas letaknya di dalam buku. Maka tugas mereka adalah mencari di mana ke sepuluh tempat itu berada. Di mulai dari tempat pertama, yaitu Desa Angikuni. Karena perjalanan yang diberikan Wira kemarin membuat Arya dan Nayla mabuk selama hampir seharian lamanya, mereka tidak akan melakukan hal itu lagi. "Jangan harap aku mau pergi sama dia lagi!" cetus Arya melirik Wira sesaat sebelum mereka memulai perjalanan. Wira hanya menarik sebelah bibirnya lalu masuk ke dalam mobil di mana Gio yang menjadi pengemudinya.


Mereka hanya memakai sebuah Caravan yang sudah dibuat oleh Gio sejak setahun belakangan. Ia memang berencana melakukan perjalanan ke berbagai kota, sendirian. Tidak dapat dipungkiri, diumurnya yang sudah tidak lagi muda, dan juga dengan semua hal buruk yang ia alami, kehilangan seorang sahabat, membuat Gio lelah dengan kehidupannya. Ia ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Ternyata semua impiannya untuk bepergian terlaksana. Namun dia tidak melakukannya sendirian. Justru ia melakukannya bersama para sahabatnya. Sahabat yang kini sudah kembali lagi. Tampak aneh dan keadaannya sedikit berbeda, tapi bagi Gio ini adalah hal terbaik yang ia inginkan.


Sebagai pemilik caravan, Gio kini sudah duduk di kursi kemudi. Wira kini sudah duduk di sampingnya sebagai pemandu tur mereka, dengan buku catatan yang memang mereka butuhkan untuk menuju ke sepuluh tempat tersebut. Di bagian belakang mobil sudah ada Ellea, Nayla, Arya dan Abimanyu. Bagian tengah mobil memang disediakan dua jok mobil yang menghadap dengan depan.


"Tante Nayla, kita duduk di belakang aja, ya," ajak Ellea. Nayla sedikit terganggu dengan panggilan tante yang ia sandang. "Eh, tunggu! Bagaimana kalau kita saling panggil nama saja? " tanya Nayla dengan penawaran yang masuk akal. Walau dulu Nayla dan Arya adalah orang tua Abimanyu, tapi keadaan kini berbeda. Bahkan umur mereka jauh lebih muda dari Abimanyu. Hal itu membuat Abimanyu sedikit tidak nyaman, ia pasti orang yang paling sulit untuk menyesuaikan keadaan dengan memanggil kedua orang itu dengan tanpa embel embel Ayah dan Ibu.


Mobil sudah berjalan meninggalkan rumah. Allea, Vin dan Rendra hanya menatap kepergian mereka dari teras rumah itu. Rumah itu akan kosong dalam waktu yang cukup lama, dan tidak dapat diprediksi kapan mereka akan kembali. Bahkan mereka juga tidak tau, apakah mereka akan kembali ke sana atau tidak.


Keadaan di dalam mobil hening, hingga akhirnya Gio menyalakan musik untuk mengisi keheningan kali ini. "Wah lagu ini, memang legendaris, ya," ucap Arya saat sebuah lagu milik Aerosmith melantun keras di sepanjang caravan, mengiringi perjalanan mereka. "Bukannya ini lagu kesukaanmu sejak dulu, Ya," cetus Gio sambil melirik ke arah pemuda di belakangnya.


"Benar, kah? Wah, rupanya seleraku nggak berubah, ya," kata Arya sambil menikmati lagu tersebut. Abimanyu yang duduk di sampingnya hanya diam, dengan perasaan tidak karuan. Ia sesekali melirik ke ayahnya yang kini lebih muda darinya. Arya yang menyadarinya lalu menoleh pada Abi. "Hei, Bi, Apakah aku dulu menyebalkan?" tanya Arya dengan pertanyaan yang membuat Abimanyu sedikit tersentak.


"Eum, menyebalkan dalam artian bagaimana?" tanya Abi, ragu.


"Nayla bilang aku ini manusia paling menyebalkan dan dingin." Abi terkekeh mendengar kalimat itu, karena ia bisa membayangkan kalau ayahnya itu tetap sama. Walau sudah berganti kehidupan.


"Ayah, memang orang yang menyebalkan, eh ... Maaf, aku ... eum." Kalimat Abi terpotong karena menyadari panggilan nya untuk Arya sudah meluncur mulus dengan kebiasaannya dulu. Keadaan menjadi sedikit kaku, Wira dan Gio juga sempat melirik ke belakang. Di mana percakapan ayah dan anak beda generasi itu terhenti.


"Santai aja. Kalau kamu lebih nyaman memanggilku begitu, aku nggak masalah," jelas Arya sambil menepuk bahu Abimanyu. Ia lalu bersandar di punggung kursi dan merapatkan jaketnya. Matanya terpejam dan tidak menyadari kalau pria di sampingnya masih diam membisu. Tapi bibir Abimanyu tersenyum samar. Ia kini membetulkan posisi duduknya dan menoleh ke arah jendela samping. Mungkin dalam kehidupan ini mereka bukanlah ayah dan anak, tapi setidaknya Abi seolah mendapat kesempatan kedua untuk bisa dekat kembali dengan sosok Arya dan Nayla.


Di bagian belakang caravan, dua wanita yang baru bertemu beberapa jam lalu justru terlihat akrab. Ellea memang terkadang masih terlihat kikuk jika berhadapan dengan Nayla. Bukan karena Nayla adalah ibu dari pria yang ia cintai, tapi karakter Nayla yang unik dan cerdas membuat Ellea kagum.


"Wow, jujur aku baru pertama kali ini bertemu Nephilim. Kamu terlihat cantik untuk seorang Nephilim, Ell," puji Nayla dengan mata berbinar. Ia terlihat tulus bagi Ellea.


"Seberapa kamu tau tentang Nephilim, Nay?"


Gadis itu menerawang ke langit langit caravan, menatap lampu panjang yang ada di atas mereka. "Sekilas aja sih, karena informasi tentang Nephilim nggak begitu banyak dijelaskan. Mungkin karena kalian hanya ada sedikit saja di dunia ini. Dan Wira bilang, kalau kamu Nephilim terakhir, ya? Wah, para iblis itu pasti benar benar gencar membunuh para Nephilim lain."


"Hm, itu bukan lucu sih menurutku, tapi luar biasa, Ell. Kalian bersahabat dengan saling melindungi satu sama lain. Rendra, yang seorang werewolf, eum ... aku hampir tidak percaya kalau ada werewolf yang berhati manusia."


"Aku juga nggak sangka, kalau bisa ngobrol dengan reinkarnasi ibunya Abi." Nayla menatap Ellea, lalu keduanya tertawa bersama. "Kita ini bagai kelompok orang orang aneh, ya," cetus Nayla.


****


Perjalanan mereka sudah memakan waktu lebih dari 24 jam, tujuan yang mereka tuju hanya tinggal beberapa jam lagi. Kini Abimanyu bergantian menyetir di dampingi Wira. Malam sudah makin larut, keempat orang di belakang sudah tidur nyenyak. Caravan milik Gio memang disediakan kasur dan beberapa tempat tidur yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa untuk tempat sempit ini. Dan suara dengkuran terdengar bersahutan di belakang.


"Rasanya lama banget aku nggak denger suara dengkuran Gio dan Arya yang saling bersahutan seperti itu," kekeh Wira sambil menoleh sebentar ke belakang. Abimanyu tersenyum dan tetap fokus menyetir. Mereka melewati lahan persawahan dan sebentar lagi akan masuk ke dalam hutan. Tentu jalanan beraspal memang masih terlihat dalam jarak pandang mereka sekarang.


Kini jalanan berubah menjadi bebatuan, jalan beraspal sudah habis sejak beberapa meter di belakang mereka. "Om yakin kalau ini tempatnya?" tanya Abi sambil menyapu pandang ke sekitar.


"Yakin, Bi. Aku udah nyari tau tentang desa ini, dan memang desa ini yang kita cari," jelas Wira.


Namun samar samar di depan mereka ada beberapa orang yang sedang berjalan dengan memikul ranting ranting pohon di punggung mereka. "Eh, itu ada orang, Om," kata Abi menunjuk 4 orang di depan mereka. Mobil mulai melambat dan Abi seperti ingin menghampiri orang orang itu. Ia lantas menghentikan mobil tanpa mematikan mesin mobil. "Bi, mau apa?"


"Abi mau coba tanya mereka."


"Tunggu! Mereka itu bukan manusia!" cegah Wira, dengan tatapan dingin.


Saat Abi mulai meyakini perkataan Wira, orang orang di depan mereka berhenti berjalan. Diam tanpa menoleh atau bergerak sedikit pun dari tempat mereka berdiri. Abi dan Wira makin was was. Abi lantas melirik jam di pergelangan tangannya. Dan ini sudah lewat tengah malam, dan memang aneh jika mendapati ada orang yang ada di tempat terpencil seperti ini. Karena desa terakhir yang mereka lewati tadi sudah jauh sekali. Tidak ada lagi pemukiman penduduk dalam jarak dekat.


"Jadi mereka apa?" tanya Abi terus memperhatikan keempat orang tersebut.


"Hantu! Dan, aku yakin cuma kita berdua yang bisa melihat mereka, mereka enggak," kata Wira sambil menoleh ke teman teman mereka di belakang. "Masa sih, Om?"


"Mau bukti?" tanya Wira, dan Abi tentu mengangguk pelan. Hantu? Wah, ini memang unik. Abi memang beberapa kali bisa melihat keberadaan hantu, tetapi akhir akhir ini dia sudah tidak melihat mereka lagi. Wira menjulurkan tangannya ke belakang, di mana Gio yang paling dekat dengan mereka. Tubuh Gio dibangunkan, dalam sekali sentuh Gio langsung terbangun kaget. Ia segera duduk dan langsung kesal.


"Apa sih?! Gue lagi mimpi tadi tau!" omel Gio.


"Gi, lihat orang orang itu nggak?" tanya Wira sambil menunjuk di mana keempat orang itu berdiri di luar. Gio mengerutkan kening dan mengikuti jari telunjuk Wira. Namun, tidak ada yang Gio lihat, hanya padang ilalang di tengah hutan. "Apaan sih? Mana ada orang? Terus, kenapa kita berhenti? Ini masih di hutan, kan?" Gio lantas membetulkan letak bantal miliknya dan kembali tidur.

__ADS_1


"Lihat, kan? Cuma kita yang melihat mereka," jelas Wira.


"Jadi kita harus gimana, Om?"


"Jalan terus aja."


Mobil kembali dinyalakan, Abi mengikuti saran Wira dengan meninggalkan orang orang yang diindikasi adalah hantu di daerah ini. Sedikit merinding ia rasakan. Dan ia terus melajukan mobil meninggalkan sosok sosok yang masih berdiri tanpa gerakan apa pun.


Mereka terus maju sampai akhirnya bertemu kembali dengan sosok sosok tersebut. "Om! Mereka lagi!" cetus Abimanyu kebingungan. Karena sosok yang mereka lihat tadi, kini kembali terlihat dengan posisi yang sama. Abi mempercepat laju kendaraannya. Kini mereka mulai tidak nyaman dengan keadaan ini. Abi terus memperhatikan dari spion dan makin lama sosok itu makin tidak terlihat lagi.


Ia kembali mengendarai mobil dengan santai, namun baru beberapa meter ia mulai tenang, kini sosok 4 hantu tadi kembali terlihat di depan. "Astaga! Apa apaan ini!" pekik Abimanyu. Wira ikut terheran heran dan merasa ada yang tidak beres dengan perjalanan mereka ini.


"Stop, Bi!"


Mobil mengerem mendadak, dan membuat penumpang di belakang yang sedang tidur nyenyak terbangun. Kepala mereka terbentur karena Abimanyu yang menghentikan mobil dengan tiba-tiba.


"Bi, gimana sih nyetirnya!" omel Gio sambil menguap dengan rambut acak acakan.


"Kita di mana?" tanya Nayla dengan suara serak khas bangun tidur. Ia juga melihat ke sekitar dengan kondisi gelap dan hanya ditumbuhi pepohonan lebat. "Ini jam berapa sih?" tanya Ellea sambil melihat ponsel yang ia letakkan di bawah bantalnya. "Astaga jam 3 pagi?!"


"Hei, kamu cuma muter muter aja, ya?" tanya Arya yang sejak awal tidur dengan posisi duduk di dekat jendela. "Perasaan pohon ini udah kita lewatin tadi," tunjuknya ke sepasang pohon di samping mobil yang bentuknya aneh.


Abi baru sadar kalau sejak tadi mereka hanya berputar putar dan kembali lagi ke jalan di awal mereka melihat 4 sosok hantu tersebut. Kini semua orang sudah bangun. Abi dan Wira saling pandang.


"Heh! Kalian berdua kenapa sih?" tanya Gio yang sekarang duduk di antara Wira dan Abimanyu. Kedua pria itu diam dengan wajah kebingungan. Arya yang melihat hal itu lantas menyapu pandang ke sekitar.


"Siapa mereka?" tanyanya menunjuk keempat sosok di luar sana dengan dagunya.


Wira dan Abi lantas saling pandang dengan dahi berkerut. "Kamu lihat juga, Ya?" tanya Wira.


"Lihat apa sih?" Gio malah makin dibuat bingung oleh mereka. Arya melirik ke pria di sampingnya yang kini duduk di lantai caravan yang sudah dilapisi karpet tebal. "Oh, jadi mereka setan?" tanya Arya tanpa beban.


"Apa? Setan?" pekik Gio sambil mencari sosok yang sedang menjadi bahan pembicaraan tiga pria di samping dan depannya.


"Setan? Setan seperti apa sih?" tanya Nayla dengan sedikit berteriak karena posisinya yang berada agak jauh dari mereka yang ada di depan.


"Kita harus giman, Om?" tanya Abi ke Wira.


"Biar aku yang turun!" tukas Arya yakin. Semua orang terkejut dengan reaksi Arya yang santai dan tiba tiba itu.


"Eh, jangan gila, Ya! Itu hantu!" cegah Gio sambil menahan Arya yang sudah berdiri.


"Justru karena mereka hantu, mereka nggak akan menyakiti kita secara fisik, tapi mental. Dan, harus dilawan!" Arya kembali berjalan dan membuka pintu caravan.


Dengan santai nya dia berjalan menuju ke empat sosok yang sejak tadi mengganggu perjalanan mereka. Suasana di sekitar terasa dingin. Hawa sejuk dan dingin ini makin terasa ke tulang, hingga Arya mengharuskan merapatkan jaket yang ia pakai. Ia memperhatikan sekitar dan akhirnya kini berdiri di samping salah satu sosok itu.


Arya berdeham, memperhatikan sosok di depannya yang diam dengan ranting kayu di punggungnya.


"Permisi, maaf mengganggu. Boleh, kah, saya bertanya, Pak?" sapa nya dengan tenang tanpa terlihat ketakutan dalam dirinya.


"Desa Angikuni di mana, ya?" tanya Arya terus terang tanpa memperdulikan sosok itu yang tak menyahut sapaannya tadi.


Tiba tiba keempat sosok itu menoleh padanya. Tatapannya tajam dan dingin. Kemudian keempatnya menjerit kencang dan keras. Bahkan sampai sampai Arya merasakan angin yang berembus kuat mengenai wajahnya. Baunya busuk dan menyengat tajam. Arya hanya mundur selangkah tanpa memalingkan wajahnya dari empat sosok tersebut.


"Di mana desa itu?" kembali pertanyaan itu dilontarkan Arya tanpa sedikit pun merasa gentar.


Dan tiba tiba saja mereka menunjuk ke arah jalanan di depan. Arya mengikuti arah yang mereka tunjuk, lalu mundur dan mulai meninggalkan tempat itu. Ia kembali masuk ke dalam caravan dan meminta Abimanyu segera pergi dari tempat tersebut.


Caravan sudah berjalan menjauh dari sosok sosok tadi. Mereka berharap kalau tidak akan ada lagi pertemuan dengan mereka yang membuat Arya dan yang lain berputar putar saja di tempat itu.


Sampai akhirnya mereka melihat sebidang tanah yang luas dengan gapura yang berada di tengah jalan. "Selamat datang di Desa Angikuni."


Mereka saling tatap dengan rona bahagia. Semua terlihat lega karena akhirnya menemukan tempat ini.


"Sampai juga!"

__ADS_1


__ADS_2