
Zikal memimpin dalam usaha pencarian Abimanyu. Ia pergi bersama Iqbal, orang kepercayaannya dan beberapa anak buahnya. Titik koordinat yang diberikan Elang sudah mereka dapatkan. Kini giliran Gio yang terus memantau mobil itu dari tempatnya duduk. Dan tentu Zikal yang akan bergerak menyelamatkan Abimanyu karena Vin belum bisa banyak bergerak.
Mobil melesat mengikuti jejak dari mobil yang membawa Abimanyu. Melewati jalan dengan didominasi pepohonan dan mulai jauh dari keramaian. Di sisi kanan ada pemandangan berupa perbukitan yang berbatasan dengan sungai besar yang akan bermuara di lautan lepas. Zikal duduk di kursi penumpang samping Iqbal, dengan pistol yang sudah ia siapkan di balik jaketnya.
Zikal dan Abimanyu berteman baik saat sekolah dulu. Mereka bertiga, Heru, Abi, dan Zikal adalah murid yang cukup ditakuti di sekolah. Ketiganya memiliki perangai yang hampir sama. Mereka suka berkelahi dan terkenal sebagai murid yang masuk daftar hitam di sekolah. Bedanya, mereka tidak mudah terpancing emosi dan memilih diam jika masalah yang mereka hadapi tidak cukup memancing emosi. Tapi jika salah satu dari mereka terlibat masalah maka yang lainnya akan membantu, walau akan terjadi pertarungan yang mengancam nyawa mereka.
Heru terkenal anak yang pandai di sekolah. Tapi dia juga termasuk anak yang jarang ikut pelajaran di sekolah, karena lebih sering nongkrong di kantin atau di belakang sekolah untuk merokok atau berkumpul dengan anak lain. Heru termasuk anak yang cerdas.
Berbeda dengan Zikal. Dia sangat sulit menerima pelajaran, itulah alasan kenapa dia sering tidak masuk kelas dan lebih menyukai nongkrong di kantin dengan Heru dan Abi. Zikal pernah mengalami kecelakaan yang membuat kepalanya mudah sakit jika memikirkan hal yang berat dan sulit. Tapi, dia adalah pernah memenangkan kejuaraan taekwondo dan mengharumkan nama sekolah.
Dan Abimanyu. Dia berada di tengah-tengah sifat dua temannya. Abi tidak terlalu pintar dan tidak terlalu bodoh. Dia lebih banyak diam dan menyendiri. Tapi sekali emosinya terpancing, maka dia bisa bertarung sampai mati. Abi jarang bisa dekat dengan orang lain sejak dulu. Tapi sebenarnya Abi memiliki hati yang lembut dan setia.
Hanya saja persahabatan mereka retak saat orang tua Heru meninggal. Heru menjadi tertutup dan memilih pergi dari desa. Dan sekarang mereka kembali dipertemukan dengan cara yang tidak biasa. Kembali saling berpegangan dan saling membantu sesama.
Zikal memang banyak diam. Tapi dalam hatinya, ia sangat mencemaskan Abimanyu. Ia juga mengutuk dirinya sendiri karena tidak banyak membantu kemarin. Zikal masih memiliki sakit hati pada Abimanyu. Karena sikap dingin Abi sejak dulu lah yang membuat Heru marah dan memilih pergi. Padahal saat itu Heru sangat membutuhkan teman, seperti mereka. Tapi, bagaimana pun juga, Abimanyu adalah sahabatnya dulu. Mereka bertiga sering melewati susah dan senang bersama.
"Kal, mobilnya berhenti di titik ini. Kurang lebih 1 kilometer lagi kita bisa nyusul mereka," kata Iqbal.
"Oke, cepat, Bal."
Iqbal memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Mobil lain mengikuti mereka di belakang. Mereka sengaja ikut untuk mengantisipasi hal buruk yang mungkin akan terjadi nanti. "Bang, di sini titik koordinatnya berhenti!" kata Iqbal. Ia menghentikan mobil di pinggir jalan, tepat di titik merah yang sejak tadi mereka ikuti. Di sana hanya ada jurang dengan rerumputan di bawahnya yang cukup rimbun. "Bagaimana, Bang?" tanya Iqbal.
"Ambil tali. Biar gue turun," sahut Zikal, yakin.
Iqbal menyuruh beberapa orang mengambil tali. Di bagasi itu memang sudah dilengkapi perlengkapan yang memang berguna dalam usaha pencarian ini. Gulungan tali sudah ada di tangan Iqbal, ia mengikatkan ujung tali itu pada sebuah batang pohon besar yang ada di pinggir jalan tak jauh dari mereka, melingkarkan ke tubuhnya dan memberikan ujung lainnya pada Zikal.
Zikal lalu mengikat tubuhnya di ujung tali satunya dan mulai turun. Beberapa anak buahnya ikut memegang tali itu agar Zikal mudah turun. "Biar gue cari di sisi lain, Bang!" seru salah satu di antara mereka. Ia melakukan cara yang sama seperti apa yang dilakukan Zikal. Kini ada sekitar 5 orang yang turun ke jurang terjal itu, mencari tubuh Abimanyu. Zikal cemas, karena medan tempat ini yang curam, ia takut kalau Abi tidak bisa selamat. "Bi!" jerit Zikal ke bawah.
"Bang! Itu bukan?" tanya Iqbal dengan berteriak ke bawah, tangannya menunjuk sesuatu yang ada di sebuah batang pohon tua di bawah Zikal. Zikal menoleh ke bawah dan mendapati tubuh Abimanyu tersangkut di sana. "Abi!" jeritnya lagi. Akhirnya Abimanyu ditemukan. Mereka lantas mengikatnya dan membawa Abimanyu ke atas.
"Semoga belum terlambat!" cetus Zikal. Ia meletakkan tubuh Abimanyu di tanah. Lalu menggulingkan lagi tubuhnya.
"Bang, kenapa nggak kita bawa ke rumah sakit saja?" tanya Iqbal penasaran dan heran dengan apa yang dilakukan Zikal.
"..." Zikal tak menjawab, namun terus membolak-balik tubuh Abimanyu di tanah. "Bi, ayok! Bangun!" paksa Zikal yang terlihat mulai gelisah, tidak ada reaksi apa pun yang Abi tunjukkan sejauh ini. Zikal bangun, dia sudah mulai putus asa. Ia berteriak sambil menjambak rambutnya sendiri karena Abi tidak bergerak sama sekali. Ia takut jika hal ini sudah terlambat, dan Abi sudah tidak bisa di selamatkan lagi.
Tapi tak lama, suara orang terbatuk membuat Zikal kembali menoleh ke tubuh di bawahnya. Tubuh yang masih tergolek di tanah begitu saja. Keadaannya sudah kacau. Banyak luka bekas tusukan di beberapa bagian tubuh Abimanyu. Bajunya penuh bercak darah yang masih basah. Iqbal melotot saat melihat Abimanyu kembali sadar. Zikal membantu memapah Abimanyu dan bertanya keadaannya.
"Thanks, Kal. Untung elu nemuin gue cepat. Kalau nggak, gue udah mati," kata Abimanyu tersenyum pada pria di depannya, yang menampilkan wajah datar. Zikal tak menjawab, hanya langsung memeluk tubuh Abimanyu erat-erat, hingga ia tidak dapat bernafas.
"Kal, gue bisa dua kali mati kalau gini," cetus Abi. Zikal melepas pelukannya, " Udah berapa kali elu mau mati gini? Hah? Dan berapa kali lagi gue harus nolongin lu gini?"
"Elu emang sahabat terbaiklah, Kal."
Mereka akhirnya kembali pulang. Menaiki mobil dan berbalik ke arah awal mereka datang. Iqbal masih memiliki banyak pertanyaan dalam benaknya. Ia sadar betul bagaimana keadaan Abimanyu saat ditemukan tadi. Dan tiba-tiba pria itu kembali bernafas dengan beberapa luka ditubuhnya. Itu suatu keajaiban.
"Jadi sebenernya kenapa Vin bisa salah kasih informasi. Jelas-jelas dia yakin kalau Ellea sama Allea ada di vila itu. Kenapa bisa nggak ada, dan bilang kalau kita di hack?" tanya Abi sambil meneguk air mineral yang Zikal berikan.
"Gue yakin, mereka bisa menerobos akses komputer kita, dan bikin kita melihat Ellea, padahal mereka nggak ada di sana. Gue dari awal curiga, saat tau Nicholas ke Jerman. Kenapa dia bisa ninggalin Ellea di sana begitu aja, karena itu tindakan bodoh!"
__ADS_1
"Maksud lu?"
"Gue yakin Allea dan Ellea nggak ada di sini. Nggak ada di Indonesia!"
'Jadi maksudnya mereka juga dibawa Nicholas ke Jerman?"
"Mungkin. Yah, yang penting elu masih hidup. Nanti kita cari lagi di mana mereka sebenarnya."
Abi terdiam sambil menatap jendela sampingnya, pikirannya menerawang ke tempat lain. Ia mengkhawatirkan Ellea. Ia juga mengkhawatirkan Vin, Gio, dan semua orang di sekitarnya. Dia harus menyelesaikan masalah ini segera. Memberikan pelajaran pada kartel Ransford agar kehidupan mereka kembali berjalan normal.
"Ehem, maaf, Bang. Boleh saya bertanya?" kali ini Iqbal bertanya, dengan ragu tapi ia tidak bisa menahan lagi rasa penasarannya. Abimanyu dan Zikal menoleh ke arahnya yang masih fokus menyetir. Zikal tersenyum, mengerti apa yang hendak Iqbal tanyakan.
"Ada apa sih?" tanya Abimanyu yang tidak mengerti maksud dari pertanyaan Iqbal. Zikal menoleh sedikit ke belakang, di mana Abimanyu duduk. " Dia penasaran, kenapa elu nggak mati tadi. Soalnya Iqbal tadi ngotot nyuruh gue bawa elu ke rumah sakit."
Abi kemudian tertawa seperti Zikal. Ia menghela nafas, lalu duduk lebih dekat dengan Iqbal. "Jadi gini, Bal, gue ini nggak mudah mati walau keadaan gue udah separah tadi. Asal gue menyatu sama tanah, gue bisa sembuh sendiri." Abimanyu merasa Iqbal bukan musuh, dia orang kepercayaan Zikal, jadi tanpa sungkan ia menceritakan sedikit rahasianya.
"Waw! Pancasona?" tanya Iqbal, dan kini membuat Abimanyu balik terkejut.
"Elu tau soal pancasona, Bal?" tanya Abimanyu, penasaran.
"Ya tau,lah. Eyang gue dulu punya ilmu begitu. Eyang uyut. Jadi elu punya ilmu pancasona, Bang?"
"Eum, enggak gitu juga sih, Bal. Gue juga nggak tau bagaimana caranya gue bisa gini. Karena gue juga nggak mempelajarinya. Semua ada begitu saja sejak dulu."
"Itulah alasan gue dulu mau temenan sama dia, Bal. Elu tau bagaimana musuh kami ketakutan, pas Abi bangun lagi padahal perutnya sudah ditusuk berkali-kali. Dan karena alasan itu, kami jadi ditakuti orang-orang. Mana ada orang yang berani cari masalah sama kami. Iya, kan, Bi?"
"Iya, Gio ditelepon sama ... Lang. Lang. Siapa tadi, ya? Lupa gue."
"Elang? Paman Elang?" tanya Abimanyu terkejut.
"Nah itu. Dia yang kasih tau keberadaan elu. Memang dia siapa?"
"Om Elang itu teman ayah. Tapi, kok dia bisa tau gue di mana, ya? Padahal dia nggak di Indonesia sekarang. Bagaimana cara dia melacaknya? Dan gue nggak pernah kasih tau masalah ini ke dia."
"Nah itu gue nggak tau. Mending elu tanya langsung ke dia. Dan coba elu tanya di mana Ellea, mungkin aja dia tau. "
Ide itu boleh juga. Abi tidak berfikir sampai ke situ. Baginya, mengganggu kehidupan Elang lagi merupakan suatu kesalahan. Kartel Ransford terlalu berbahaya, dan Abi tidak mau membahayakan orang lain lagi. "Oke."
Mereka sampai di kediaman Zikal. Vin menyambut kedatangan Abimanyu dengan wajah cemas, berikut Gio juga. Saat mereka melihat keadaan Abi yang baik-baik saja, mereka dapat bernafas lega. Setidaknya tidak ada lagi yang terluka atau mati. Tapi tentu masalah masih begitu rumit dan sulit untuk mereka atasi. Apalagi karena dua gadis itu yang masih menjadi tawanan Nicholas.
Sebuah panggilan masuk melalui komputer yang ada di ruangan itu. Vin menerima panggilan itu dan ternyata Elang yang ada di sana. Ia tersenyum saat melihat keadaan Abimanyu baik-baik saja.
"Huh, hari yang sulit, kan?" tanya Elang pada Abi. Pemuda itu mengangguk dan menatap pria itu nanar. Ingin rasanya ia mengadukan semua masalah yang sedang ia alami. Karena biasanya Elang yang ada di garda depan jika Abi sedang kesulitan. Tapi Abi seolah merasa gengsi untuk meminta tolong lagi. Tapi, Elang tetap menolongnya dengan cara lain.
"Lang, bagaimana? Elu udah nemuin di mana Ellea?" tanya Gio.
"Yah, sudah. Dia ada terus sama Nicholas. Nicholas terus bawa mereka berdua ke mana pun dia pergi. Dia pintar. Tau kalau kalian mau ambil Ellea dan Allea."
"Terus mereka di mana, Om?" tanya Vin.
__ADS_1
"Sementara mereka mash di Jerman. Tapi! Gue nggak menyarankan kalian nyusulin ke sana. Karena apa? Gue yakin mereka berdua masih aman."
"Masih aman? Maksud lu?"
"Yah, untuk sekarang mereka masih aman. Karena belum saatnya mereka mati. Kalian tau, kan, soal adventure game?"
Mereka serempak mengangguk.
"Permainan yang bakal diadakan satu bulan satu kali. Yang mengharuskan mereka membawa korban untuk perburuan mereka. Biasanya itu mereka lakukan tepat pada pertengahan bulan. Yah, Ellea dan Allea bakal jadi target permainan itu nanti," jelas Elang.
"...."
"Yang harus kalian lakukan adalah, membunuh mereka lebih dulu. Karena sampai acara itu dimulai, Elea dan Allea bakal aman. Gue jamin. Dan gue tau di mana mereka. "
"Membunuh?" tanya Abimanyu memperjelas.
"Yupz. Gue tau ini terdengar gila dan ekstrem, tapi cuma dengan begitu kartel itu bisa berhenti dengan kegiatan gila mereka. Karena kalau kalian berharap mereka sekedar ditangkap polisi dan masuk penjara itu adalah hal yang tidak mungkin."
"...."
"Kenapa gue bilang begitu? Karena gue sudah selidiki soal kartel ini dari generasi ke generasi. Nggak ada satu pun dari mereka yang akan diendus polisi. Mereka semua punya backingan di dalam kepolisian, bahkan sampai kejaksaan. Mereka pasti aman. "
"Tapi katanya kasus ini sedang diusut? Karena pemberitaan soal video dan foto mereka sudah tersebar di media?"
"Yah, memang. Tapi gue jamin itu nggak bakal bertahan lama. Sebentar lagi bukti itu hilang, dan masyarakat hanya akan anggap itu hoax. Kartel mereka udah ada lama. Ini seolah seperti kegiatan turun temurun. Mungkin juga otak psiko mereka merupakan sesuatu yang turun temurun juga. Dan mereka akan berhenti kalau mereka mati."
"Oke, Paman. Jadi siapa target pertama kita?" tanya Abimanyu.
"Oke. Gue pikir orang yang paling lemah di kartel itu adalah Joana Andriana. Satu-satunya perempuan gila yang rela melakukan apa saja demi kepuasannya. Kepuasan membunuh, uang, tahta, dan kedudukan." Sebuah foto wanita muncul di layar komputer mereka, wanita dengan penampilan glamour menunjukkan kalau dialah yang bernama Joana.
"Dia orang kita, Indonesia. Berawal dari model biasa, dan akhirnya menjadi model kelas dunia. Foto-fotonya banyak ditemukan di majalah dewasa. Dia rela menjual harga dirinya dengan harga yang cukup tinggi. Tidur dengan pengusaha-pengusaha kaya di dunia, dengan imbalan yang fantastis. Sampai akhirnya dia menjadi simpanan salah satu pengusaha terkaya di Asia. Mathias Fernanda. Kabar perselingkuhan mereka sudah banyak dicium publik, tapi rumah tangga Mathias terlihat baik-baik saja. Bukan karena istrinya bodoh, tapi dia sengaja. Dan ini kesempatan kita. Kalian dekati istri Mathias, dan buat penawaran kerja sama. Gue yakin dia bakal senang buat kita ajak bergabung untuk menyingkirkan ******* suaminya!"
"Di mana istri Mathias, Om?"
"Ada di Jakarta. Kebetulan dia punya serikat amal untuk para anak yatim piatu di seluruh dunia. Dan besok dia menggelar badan amal di salah satu hotel bintang 5. Bagaimana? Kalian bisa dekati dia?"
'Siapa namanya, Paman?"
"Adelia Betharista. Seorang warga keturunan. Indonesia dan Pakistan. Cantik, elegan, lemah lembut, keibuan, tapi tegas. Berkali-kali dia menyewa orang untuk menyingkirkan Joanna, tapi berkali-kali pula mereka gagal. Kalau kalian bisa menarik simpatinya, gue jamin, dia bakal kasih kalian banyak keuntungan dan fasilitas untuk menyingkirkan Joanna. Dia orang yang kejam, tapi karena image nya sebagai ibu peri bagi anak yatim piatu, dia selalu mencoba bersikap santai dan berwibawa."
"Oke. Besok Abi bakal ke sana!"
"No!" kata mereka serempak. Abimanyu menoleh dengan tatapan bingung. "Kenapa?"
"Nggak bakal bisa, cowok angkuh dan dingin kayak elu deketin cewek! Biar gue saja!" sahut Vin.
"Tapi elu, kan, masih ...."
"Gue udah sehat!"
__ADS_1