
"Serius nih?" tanya Diah sambil menatap Rea juga teman-temannya.
"Re, kamu tahu tentang hal ini? Aku lihat kamu sama sekali nggak terkejut," cetus Dana.
Perkataan Dana tentu terdengar masuk akal dan sesuai dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Rea. Mereka pun menatap Rea dan meminta penjelasan.
"Eum, iya sekilas. Aku memang tahu tentang hal ini, tapi nggak secara rinci. Kemarin Ayahku yang menceritakan kisah itu."
"Ayah Mbak Rea tahu? Memangnya siapa ayah mbak?"
"Namanya Habibi Ridwan Rasyid, Pak."
"Astaga! Mas Habib? Yah, saya kenal. Dia teman Mba Amanda dulu. Mas Habib dan Mas Haga masuk ke hutan terlarang dan mencari Mba Amanda. Kami bahkan juga ikut mencari, tapi sayangnya takdir berkata lain. Mba Amanda justru mengorbankan dirinya untuk mengembalikan Iblis itu ke kurungan."
" jadi iblis itu pernah keluar dari kurungannya, Pak? Bagaimana bisa?" tanya Blendoz penasaran.
" Kalian pasti Paham bagaimana tipu daya iblis. Kurang lebihnya sama seperti apa yang dialami oleh Jaka. Amon memanipulasi orang-orang atau pengikutnya, orang-orang yang menyembah dirinya. Dia melakukan segala cara agar mereka mau patuh kepada dirinya. Kekuatan Iblis ini sungguh besar. Sekalipun dia ada di dalam kurungan, tapi dia memiliki kemampuan melukai orang di dunia mimpi."
"Wow, luar biasa. Tidak bisa melukai manusia di dunia nyata, tapi justru bisa melukai kita di dalam mimpi? Itu sih sama-sama sulit untuk dihadapi!" pungkas Diah sambil menatap teman-temannya, meminta dukungan dari perkataannya.
"Itu benar. Mungkin tidak makhluk yang dikurung di sana ataupun makhluk rendahan lainnya maka bukan hal yang patut untuk dicemaskan. Tapi yang berada di sana itu adalah iblis. Sekalipun dia tidak bisa melukai manusia secara langsung, Tapi dia bisa melukai manusia di alam bawah sadar kita. Justru di saat itulah kita sedang berada di titik paling lemah. Saat di mana kita akan dengan mudah dilumpuhkan."
"Wah, Pak Wiryo saya malah penasaran dengan isi di dalam sumur tersebut. Apa sebenarnya yang ada di dalam sumur itu sehingga mampu untuk mengurung makhluk dengan tingkatan seorang iblis."
"Sumur di sini hanya tampak oleh mata kita saja. Begitu kita memasuki ke dalam sumur tersebut, justru akan ada semacam energi yang sangat kuat, yang bisa meredam segala bentuk kekuatan jahat maupun kekuatan baik. Di tempatku itu semua akan menjadi netral. Jika kita manusia yang tidak bisa melihat iblis, lalu kita masuk sumur itu, maka kita akan melihat penampakan sosok iblis itu sama seperti diri kita. Kita bisa menyentuhnya, kita bisa memukulnya dan melakukan Apapun yang kita mau. Di dalam sumur itu semua makhluk tak kasat mata, akan berubah menjadi makhluk nyata."
"Tapi, Pak. Saya belum mengerti mengenai wanita yang bernama Amanda Rea. Bagaimana bisa justru dia yang mengorbankan dirinya untuk mengurung iblis itu kembali ke dalam sumur? Apakah iblis ini memang mengincar orang-orang tertentu saja?"
"Tidak juga. Dia sebenarnya mengincar semua orang, terutama orang-orang mudah dipengaruhi olehnya. Tapi jika maksud pertanyaan Mas dana mengenai Amanda, maka itu adalah pengecualian. Karena Amon, berniat untuk menjadikan tubuh Amanda sebagai inangnya. Jiwa yang dimiliki oleh Amanda, adalah jiwa yang sangat murni. Jiwa murni inilah yang dibutuhkan oleh Amon untuk bisa keluar dari kurungan tersebut. Karena jika memakai jiwa-jiwa lain maka tubuh manusia itu tidak akan sanggup untuk menampung sosok Amon di dalam dirinya. Amon adalah salah satu iblis yang terkuat. Yang sebenarnya dia tinggal di dalam neraka. Dulu ada sebuah rumor yang beredar di neraka mengenai bagaimana keindahan dunia manusia, maka Amon memutuskan untuk kabur dari neraka. Namun, tentunya dia tidak bisa melakukan banyak hal, dengan wujudnya yang seperti itu. Sehingga dia pun mulai mencari inang untuk dirasuki. Tapi beberapa kali dia memilih korban, rupanya tubuh tersebut tidak kuat untuk menampung dirinya. Setiap kali dia salah merasuki tubuh manusia, maka tubuh itu akan hancur dalam hitungan detik saja. Sampai akhirnya diketahui kalau Amon hanya bisa merasuki satu tubuh yang memiliki jiwa paling murni diantara jiwa jiwa lain yang dimiliki oleh manusia."
"Oh jadi dia mencari tubuh yang punya jiwa murni?"
"Tapi, Pak, bagaimana caranya mengetahui jiwa murni seseorang?"
"Kalau itu saya juga tidak tahu. Mungkin hanya Amon yang bisa melihat dan mengetahui siapa orang yang memiliki jiwa murni."
"Jadi wanita yang bernama Amanda Rea itu, adalah wanita tersebut? Dan dia adalah teman ayah kamu, Re?"
Rea hanya mengangguk. "Tapi, Pak, berarti hal seperti itu bisa saja terjadi lagi, jika sampai Amon menemukan manusia dengan jiwa murni seperti yang terjadi pada Tante Amanda waktu itu?" tanya Rea.
"Yah, itu bisa saja, Mba. Karena Amon sendiri memang tidak bisa dibunuh. Dia makhluk abadi yang hanya akan binasa saat hari akhir nanti, seperti kita semua. Jadi kemungkinan dia akan mencari jiwa murni untuk berusaha keluar dari kurungannya bisa saj terjadi lagi. Apalagi mba Amanda sudah meninggal, dan yang saya tahu jiwa murni itu akan terus ada ditiap generasi."
"Oh jadi kalau dulu, orang yang punya jiwa murni meninggal, maka akan digantikan orang lain lagi, begitu, kah, Pak?"
"Betul, Mba."
"Fauzan berarti kena pengaruh i
Suara keributan terdengar di luar, membuat diskusi mengenai iblis Amon terhenti. Mereka yang penasaran lantas keluar dari balai desa dan melihat ke luar. Rupanya para warga berbondong-bondong berlari ke suatu tempat. Pak Wiryo lantas menahan salah satu warga yang melintas di depan balai desa.
"Ada apa?" tanya beliau serius.
"Itu, Pak. Anak muda yang tadi diketemukan di hutan tiba-tiba mengamuk dan menganiaya beberapa warga kita," jelasnya dengan panik sambil menunjuk ke arah kerumunan warga yang terlihat dari balai desa.
Mendengar hal itu, mereka semua saling tatap, dan langsung berlari mengikuti warga untuk melihat apa yang terjadi dan seberapa parah kondisinya. Orang yang disebut anak muda oleh warga yang tadi melintas sudah dapat dipastikan kalau itu adalah Fauzan. Walau Fauzan bersikap tidak baik pada teman-temannya, mereka tidak menaruh dendam, justru merasa kasihan dengan apa yang terjadi pada Fauzan. Apalagi mengingat kalau Fauzan dalam pengaruh iblis.
Mereka sampai di kerumunan warga yang tampak kacau. Pasar yang memang salah satu tempat ramai, menjadi berantakan karena ulah Fauzan. Kini salah satu teman mereka sedang duduk di atas salah seorang pemuda desa yang terkenal sebagai penjual ayam potong. Fauzan sedang mencekik leher pemuda itu, dan warga yang lain tentu tidak tinggal diam. Mereka sedang berusaha menarik Fauzan agar segera menyingkir dari pemuda desa itu. Hampir lima orang yang sedang berusaha menarik Fauzan agar segera beranjak dari tubuh pemuda itu, namun mereka semua justru terjungkal, dan digantikan warga yang lain. Anehnya setiap ada yang berusaha menarik tubuh Fauzan, mereka seakan-akan terdorong dan jatuh menjauhi Fauzan.
"Duh, gue pikir dia udah nggak kesambet lagi tadi. Kenapa malah kumat!"
__ADS_1
"Ayo, bantu!"
Mereka pun akhirnya mendekat dan ikut menolong. Sambil terus memanggil nama Fauzan, agar teman mereka itu juga sadar atas apa yang sedang diperbuat. Dana, Hani, Blendoz, dan Hana berusaha menarik tubuh Fauzan. Bahkan mereka tampak mengeluarkan seluruh tenaganya namun Fauzan justru diam saja tidak bererak sama sekali.
"Kalian pakai tenaga nggak sih? Buruan tarik, nanti anak orang bisa modar!" pekik Hana.
"Dodol, lo nggak lihat gue udah ngeden-ngeden gini! Kuat banget ni anak!" sahut Blendoz.
"Gila! Ni anak kesurupan nggak tanggung-tanggung. Segala macam setan bisa masuk!"
Rea merasakan hawa panas di dadanya. Dia meraba leher dan baru ingat kalau tasbih milik ayahnya kini ada di lehernya. Rupanya tasbih itu yang mengeluarkan hawa panas dan membuat Rea segera melepaskannya. Entah mendapat bisikan dari mana, Rea langsung meletakkan tasbih itu di leher Fauzan. Sontak Fauzan langsung menjerit kesakitan. Otomatis dia beranjak dari tubuh pemuda di bawahnya dan berguling-guling di tanah seperti orang yang tercekik. Semua orang hanya bisa memandanginya dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Re, gimana nih? Ozan mati nggak?" tanya Hani ceplas ceplos. Hana langsung memukul pelan kepala adiknya dan melotot. "Lah, lihat sendiri. Dia kesakitan gitu."
"Tunggu saja sebentar lagi, sampai dia benar-benar lelah dan berhenti berteriak," sahut Pak Wiryo.
"Memangnya nggak apa-apa, Pak?"
"Tidak apa-apa. Lagipula benda yang ada di lehernya hanya sebuah tasbih. Dan tasbih tidak akan membunuh manusia, tapi akan melenyapkan setan atau makhluk apa pun yang berada di dalam tubuh itu," jelas Pak Wiryo.
Mendengar penjelasan Pak Wiryo, semua orang yang ada di tempat tersebut hanya diam sambil terus memperhatikan Fauzan yang masih menjerit kesakitan sambil terus memegangi lehernya. Sementara pemuda yang tadi dicekik Fauzan, sudah diselamatkan dan sedang mendapatkan perawatan medis.
Setelah menunggu beberapa menita, Fauzan memang benar mulai lemas, dan kini seolah - olah sudah kehilangan banyak tenaga.
"Pingsan?" tanya Apri berbisik.
"Tapi matanya terbuka."
"Tapi dia diem aja. Gimana nih?"
"Pak, Ozan kenapa itu?" Leni tampak cemas sama seperti teman-temannya yang lain.
"Oh, baik, Pak." Dana dengan cekatan membantu Fauzan membawanya pergi meninggalkan pasar ke klinik sederhana yang dimiliki desa tersebut.
Hari sudah beranjak petang. Melihat kondisi Fauzan yang masih belum memungkinkan untuk kembali hari itu juga, mereka terpaksa tinggal semalam di desa tersebut. Sambil menunggu jemputan dari pihak kampus yang sudah dihubungi sebelumnya. Untungnya di desa tersebut sudah terdapat jaringan sinyal ponsel. Sehingga mereka sudah bisa memberikan kabar pada keluarga masing-masing.
Mereka akhirnya mendapatkan sebuah rumah kosong yang memang kerap dijadikan tempat tinggal sementara atau home stay di desa tersebut. Rumah itu juga pernah dijadikan posko KKN mahasiswa sebelumnya. Rumah itu juga terawat walau tidak dihuni oleh warga sama sekali. Letaknya ada di tengah tengah desa, lebih tepatnya berada di antara rumah-rumah warga desa yang lain, tanpa ada kesan tersembunyi dan jauh dari keramaian.
Rumah itu juga memiliki banyak kamar yang tentu cukup untuk mereka bersepuluh. Satu kamar diisi oleh dua orang, karena ranjang yang tersedia berukuran single yang ada di sisi kanan dan kiri kamar. Di tengah, di antara kedua buah ranjang, ada meja belajar dengan sebuah lampu belajar. Dua buah lemari kecil juga ada di dalam tiap kamar. Mereka merasa ini adalah tempat paling nyaman selama berada di tanah Borneo.
Setidaknya mereka tidak perlu lagi harus tidur di dalam tenda. Atau berada di rumah kosong yang memiliki hawa mengerikan. Rumah yang disediakan oleh Pak Wiryo sangat nyaman. Walau rumah tersebut masih dalam kategori rumah sederhana, tapi mereka tidak merasakan ketakutan atau kecemasan saat berada di tempat baru. Walau rumah tersebut terbuat dari kayu tapi justru pedesaan melekat erat dengan suasana yang ada sekarang.
Secara otomatis mereka mulai memasuki kamar masing-masing. Satu kamar berisi 2 orang. Namun tidak ada yang mau tidur bersama Fauzan. Hana tidur bersama Hani, saudara kembarnya. Sementara Dana bersama Blendoz.
Rea dan Leni, lalu Apri dan Ita. Tersisa Diah, yang tidak memiliki pasangan satu kamar. Tapi dia tidak ambil pusing. Dengan santainya dia mengatakan akan tidur sendirian. Teman-temannya pun tidak menghalangi. Karena di antara mereka semua, Diah adalah salah satu orang yang paling pemberani.
Beberapa ibu-ibu datang dengan membawa aneka masakan yang dimasukkan ke dalam rantang makanan.
"Makan dulu, nanti kalau butuh sesuatu bilang saja. Rumah kami dekat. Rumah saya ada di sebelah, rumah Bu parmi ada di depan kalian. Jadi jangan sungkan jika ada sesuatu yang kalian butuhkan," tutur Bu Tuti dengan ramah.
"Baik, Bu. Terima kasih sebelumnya. Maaf kalau kami terus merepotkan."
"Ah, sama sekali tidak repot kok. Ya sudah kami permisi dulu. Dihabiskan makanannya. Semoga kalian suka dengan masakan kami."
" Pasti bu. Sekali lagi terima kasih."
Mereka mulai membuka makanan yang baru saja dikirim oleh tetangga sebelah rumah. Masakan Ala kadarnya yang sangat khas sekali dengan suasana pedesaan. Membuat mereka menjadi teringat dengan kampung halaman.
" biasanya kalau aku ke rumah nenek pasti ada menu masakan ini di rumahnya," cetus Rea saat menuju ke sebuah sayur tumis daun Pakis yang selalu dia makan di rumah neneknya.
__ADS_1
"Eh, sama. Tapi kalau di rumah kakek nenek aku, sayuran pakis ini dimasak pakai kuah santan. enak Banget," sahut Apri yang tampak antusias dengan menu makan malam mereka kali ini.
"Eh, Ozan udah bangun belum?"
"oh iya ya."
" Coba tengok sana. Siapa tahu dia udah sadar. Terus kelaparan."
"atau kebingungan karena tiba tiba dia udah ada di kamar yang nyaman."
Mereka semuanya hanya saling pandang, menunggu salah satu dari mereka beranjak untuk melaksanakan apa yang sedang mereka bicarakan.
akhirnya Dana yang dari duduknya bangunkan bosan agar bisa ikut makan malam bersama mereka. Sampai dikamar Fauzan yang memang dibiarkan terbuka, Dana melihat kalau Fauzan masih tertidur. Dia pun tidak tega untuk membangunkan Fauzan. Akhirnya dana kembali ke ruang makan. " biarin aja dulu kali ya. Kasihan. Mungkin dia memang kecapean."
" Iya benar. Biarin dulu aja. Besok aja kita kasih makan."
Malam ini mereka makan malam dengan tenang dan juga gembira. Mereka bisa tidur dengan nyenyak malam ini tanpa harus berpatroli atau ketakutan mendadak ada serangan dari orang asing atau mayat hidup. Setelah makan mereka memutuskan pergi ke kamar masing-masing agar bisa beristirahat. Tubuh yang lelah membuat Mereka ingin segera beristirahat agar bisa bangun dalam keadaan lebih bugar dan segar.
Rea dan Leni sudah berada di atas ranjang masing-masing. Lampu kamar juga sudah dipadamkan. Mereka berdua sama-sama tidak bisa tidur dalam kondisi lampu yang menyala terang.
"Re, apa ayah kamu nggak bilang apapun kemarin saat kita ke sini?" tanya Leni membuat Rea berpikir, Apa maksud dari perkataan temannya itu.
" bilang apa ya, maksud kamu yang mana nih?"
" soal teluh telur ayam itu. Aku yakin Ayah kamu tahu siapa orang yang kirimi aku santet. Rea, coba kamu nanti tanyakan. Aku benar-benar penasaran orang yang ingin mencelakakan aku sama keluargaku."
"Hm. Oke, besok kalau ketemu ayah, aku coba tanya ya. Tapi aku nggak janji Bakal dapet jawaban yang kamu inginkan. Karena ayahku kalau ditanya hal-hal semacam itu nggak mau jawab. Palingan cuman senyum, dan bilang, Kalau aku nggak perlu tahu siapa orangnya. Reaksi kita ke orang tersebut bakalan lain. Ayah selalu nyuruh aku, atau orang-orang yang selama ini mau minta tolong sama dia, untuk lapang dada dan memaafkan orang lain."
"Yah, jadi aku bakalan gak tahu siapa orang itu dong?"
" aku yakin suatu saat nanti bakalan ketahuan kok. Orang-orang yang punya niat jelek sama kita, sekalipun dia adalah orang terdekat kita atau bahkan keluarga kita sendiri, pasti sikap mereka akan terlihat lain. Aku yakin, kamu pasti bisa merasakannya."
"Hm ya udah deh. Kita coba lihat nanti saat kita pulang."
"Iya, sekarang kita tidur aja ya. Besok kita kan mau pulang. Semoga jemputan nya gak ada kendala apapun lagi."
"Aamiin."
Kedua gadis tersebut segera memejamkan mata setelah memanjatkan doa-doa. Mereka berusaha untuk cepat tertidur. Agar bisa segera bertemu dengan pagi dan pulang ke rumah.
Diah, membongkar tas miliknya. Dia mengambil peralatan make up yang sengaja dia bawa dari rumah. " aku harus pakai masker malam ini sebelum tidur. Kelamaan di sini kulit gosong dan kering," gumamnya berbicara sendiri.
Dia mengenakan bando di kepalanya. Duduk di meja belajar sambil bercermin dan menyiapkan mangkok masker. Kini dia mulai meracik masker yang baru dia beli beberapa hari sebelum pergi ke tanah Borneo.
Saat sedang asyik meracik masker, tiba-tiba Diah merasakan ada sekelebat bayangan yang lewat di belakangnya. Dia yang sengaja belum menutup pintu kamar, bingung dan penasaran pada sosok yang baru saja lewat di depan kamarnya. Alhasil dia beranjak untuk memeriksa Siapa yang baru saja lewat. Hanya saja tidak ditemukan siapapun di luar. Justru ruang tengah sekaligus ruang tamu itu tampak sepi. Dia menajamkan pendengarannya, mencoba mencari tahu ada suara apapun yang mungkin ada di sekitarnya. Kamar-kamar milik teman-temannya, sudah gelap, menandakan kalau mereka semua sudah tidur. Beberapa kamar memang ditutup dan beberapa kamar juga ada yang dibiarkan terbuka Agar udara bisa masuk ke dalam kamar dan hawa panas akan berkurang. Diah yang yakin tidak menemukan apapun di luar, akhirnya kembali masuk ke dalam kamar. Dia menutup pintu kamar karena merasa tidak enak dengan situasi malam ini. Apalagi karena mengetahui kalau semua teman-temannya sudah tertidur. Sayangnya Diah memang belum mengantuk dan tidak bisa tidur jika berada di tempat baru seperti sekarang.
Baru saja dia menutup pintu kamar, dan akan kembali duduk di meja belajar, Diah mendengar suara langkah kaki dari luar. Jantung Diah mulai berdegup lebih kencang dari biasanya. Beberapa kali mengalami kejadian mistis, membuat dia menjadi lebih waspada dan sedikit takut dari biasanya. Hanya saja Diah masih tetap berani menghadapinya. Kini Diah berniat kembali membuka pintu untuk memuaskan rasa penasarannya. Karena suara langkah kaki itu Terdengar cukup jelas. Namun begitu sampai di belakang pintu dan hampir membuka nya, Diah tiba tiba menjadi ragu ragu. Setelah berpikir beberapa saat, Dia memutuskan untuk mengintip dari lubang kunci. Diah menunduk sejajar dengan lubang kunci. Diah langsung bisa melihat kondisi di luar. Kini dia mulai melihat bayangan yang melintas. Saat diamati dengan seksama, Iya baru bisa melihat dengan jelas kalau sosok bayangan yang dia lihat tidak lain dan tidak bukan adalah Fauzan. Fauzan berjalan di depan kamarnya mondar-mandir. Tatapan matanya kosong. Membuat Diah bergidik ngeri.
" jangan-jangan dia kesambet lagi!" batin Diah.
Diah mulai agak panik, karena saat ini dia sendirian, dan teman-temannya berada di kamar lain. Hal pertama yang Diah lakukan, adalah terus Mengintip dan memperhatikan gerak-gerik Fauzan.
Setelah diamati terus menerus, tiba tiba Fauzan berhenti di depan pintu kamar Diah. Diah menelan ludah, dan mulai menggerakkan tangannya untuk menahan pintu. Fauzan yang berdiri dengan posisi membelakangi pintu kamarnya, tiba-tiba berbalik badan, dan langsung menatap diah yang juga sedang menatapnya. Diah terkejut. Dengan gerakan cepat Fauzan menabrak pintu tersebut. Untungnya dia sudah bersiap akan kemungkinan buruk itu. Berkali-kali Fauzan berusaha mendobrak pintu kamar Diah.
Dengan susah payah Diah berusaha meraih Grendel pintu yang ada di atasnya. Sambil terus berusaha menahan pintu itu agar tidak terbuka.
"Tolong!" jerit Diah dengan suara yang sangat kencang. Fauzan tidak pantang menyerah dan terus mendobrak pintu tersebut. Diah makin ketakutan. Dan kini dia bahkan menangis sesenggukan. Berharap teman-temannya terbangun dan menolongnya dari serangan Fauzan.
Tapi sayangnya, keributan ini tidak terdengar sampai kamar yang lain. mereka justru tetap tidur dengan nyenyak bahkan suara dengkuran mulai terdengar bersahutan. Diah benar benar ketakutan sekarang. Dia terus menjerit meminta tolong sambil berusaha menahan pintu dengan tubuhnya.
__ADS_1