pancasona

pancasona
20. menyegel amon


__ADS_3

Bahu Haga ditepuk, spontan dia menoleh ke arah orang itu. Haga terkejut dan menatap Habibi bingung. Dipandanginya Habibi dari atas ke bawah. Matanya membulat, ia pun menelan saliva berkali kali.


"Bib!" pekiknya.


"Kenapa, Ga? Gimana? Udah ketemu Manda?" Habibi bertanya sambil menyapu pandangan ke sekeliling.


Haga menoleh ke arah Manda yang masih sedang ada di dekapan pria itu. Lalu kembali menoleh ke Habibi yang ada di sampingnya.


"Kenapa sih? Muka mu gitu?"


"Bib ...." kata Haga pelan sambil menunjuk Manda yang berdiri tak jauh dari mereka.


Habibi mengikuti ke arah yang Haga tunjuk, dan reaksinya sama seperti Haga barusan. Habibi melotot, deru nafasnya terlihat jelas, sedang menahan amarah.


"Siapa dia? Berani- beraninya menyamar jadi aku!!" Rahangnya mengeras, diikuti suara gigi yang beradu.


Yah, ada dua Habibi sekarang. Habibi yang ada di samping Haga dan Habibi yang ada dipelukan Manda. Jadi, mana yang asli? Kenapa ada dua Habibi?


"Siapa dia, Bib!!" suara Haga terdengar bergetar. Karena dia yakin, kalau Habibi yang ada di dekatnya adalah Habibi yang asli.


Belum sempat Habibi menjawab, langit tiba - tiba berubah, semburat merah muncul hampir menutupi sebagian besar atap dunia ini. Perlahan tapi pasti, semburat merah itu mulai menghitam. Bahkan hitam pekat. Di tambah lagi, angin yang bertiup makin kencang. Seolah pertanda, akan ada badai yang cukup besar.


Habibi melihat ke arah Manda. Sepertinya Manda sudah terhipnotis oleh makhluk itu. Sayap mulai keluar dari punggung sosok itu. Dari kejauhan, iblis mulai nampak jelas. Aura hitam mengelilingi mereka. Membentuk sebuah portal yang sepetinya hal itu membuat Manda tidak menyadari keadaan di sekelilingnya.


"AMON!" gumam Habibi tanpa melepas sorot matanya dari iblis itu.


"Apa? Bukannya kalian bilang, kalau Amon nggak bisa sentuh Manda di dunia kita?"


Habibi terdiam lalu seolah teingat sesuatu. Ia menoleh ke arah Haga.


"Aku lupa! Malam ini! Yah, malam ini, Ga!" dijambak rambutnya sendiri, sambil merutuki kebodohannya. " Pantes perasaanku nggak enak dari tadi. Lalu Amon ...." tunjuk Habibi ke Haga, "Dia bakal bawa Manda pergi! Kita harus bergerak sekarang, Ga!" ucap Habibi dengan menepuk bahu Haga.


Mereka berlari mendekati Amon yang tengah memeluk Manda makin erat. Habibi dengan cekatan menyerang Amon. Tapi, dengan sekali sentuh, ia langsung terpental lagi. Giliran Haga mendekat.


"Lepaskan dia!"


Amon hanya menaikan sebelah bibirnya, meremehkan keberadaan Haga yang seperti semut, yang bisa dia injak setiap saat. Tanpa basa basi lagi, dan tentu saja, tanpa keraguan apapun, Haga mengambil sebongkah batu di tanah.


"Bismillahirrahmanirrahim!"


Bugh!


Dengan sekali hentakan, cairan kental mengalir dari pelipis Amon. Amon yang terkejut, melepas tangannya dari Manda, disentuhnya cairan hitam kental itu dengan tangan bergetar. Perlahan ia mundur.


"Siapa kamu?" tanyanya.


Haga mengerutkan kening, mendengar pertanyaan Amon.

__ADS_1


"Aku? Haga! Hagana!"


"Bukan! Siapa kamu sebenarnya!"


Amon menatap Haga dengan penuh ketakutan sekaligus kebencian. Habibi pun ikut heran dengan keadaan ini. Jangankan melukai Amon, menyentuhnya saja, ia terpental seperti itu. Pertanyaan yang sama pun, terlintas dibenaknya.


'Benar juga. Siapa Haga? Dia bukan orang sembarangan!'


Melihat Amon takut, Habibi fokus pada Manda yang masih berdiri dengan tatapan kosong.


"Manda! Manda! Sadar, Manda!" teriak Habibi.


Haga melirik pada Manda. Langkahnya mulai mendekati Manda, karena Amon malah mulai berjalan mundur, saat Haga mendekat.


"Ai, sadar. Ai ... Ai-ku. Sadar!" tangan Haga terulur ke Manda.


Tapi tiba- tiba saja, Haga ambruk karena sesosok makhluk datang entah dari mana, langsung menabrak dirinya hingga ikut terpental seperti Habibi tadi.


Amon kembali mendekat, lalu segera mendekat Manda dan membawanya pergi. Hilang. Sosok makhluk tadi pun, ikut pergi bersama Amon.


Habibi dan Haga sangat marah.


"Bib! Gimana sekarang! Ke mana Manda dibawa pergi?" tanya Haga dengan mencengkram kerah baju Habibi.


Habibi terdiam. Tak lama menggeleng. Haga berteriak kencang hingga Kevin dan Andre muncul dari kejauhan.


"Kalian kenapa? Manda mana?" tanya Andre kepada dua pria yang sedang terpuruk karena tidak bisa berbuat apapun untuk mencegah Amon tadi.


\=\=\=\=\=\=


"Terus langkah selanjutnya, apa, Bib?" tanya Haga.


Habibi yang sedang duduk, bertopang dagu terlihat berpikir keras. Ia lalu menegakan tubuhnya dan menatap Haga tajam.


"Kita harus jemput Manda!"


"Oke, tapi ke mana?" tanya Haga belum mengerti.


"Tempat Amon. Kita berdua, Ga!"


"Tunggu ... Tunggu ... Kalian berdua? Oke. Kalau cuma elu, Bib, buat gue itu wajar. Karena elu kan emang biasa bersinggungan sama hal-hal kayak gini. Tapi ... Haga? Elu yakin, dia bisa? Katanya kalau orang yang udah masuk dunia tak kasat mata, rawan untuk diganggu, bahkan beberapa ada yang nggak bisa balik, kan?" tanya Kevin secara mendetail.


Habibi beranjak, mendekati Haga.


"Dia!"tunjuk Habibi ke arah Haga yang sedang duduk di samping Andre, "Dia bukan orang sembarangan!"


Semua dahi berkerut, sorot mata mereka tertuju pada Haga sepenuhnya.

__ADS_1


"Maksud kamu, Bib?" tanya Haga yang benar- benar tidak mengerti arah pembicaraan ini.


Habibi menarik kursi, kemudian duduk di hadapan Haga.


"Kamu siapa sebenarnya?"


Haga semakin menambah kerutan di dahinya sambil sesekali melirik Andre dan Kevin.


"Aku? Haga! Maksudnya apa, sih?"


"Pinjem tangan kamu sebentar," pinta Habibi dengan menjulurkan tangan pada ke Haga. Haga memberikan tangannya begitu saja tanpa tahu apa yang akan Habibi lakukan.


Habibi menggenggam tangan Haga lalu menundukan kepala dengan mata terpejam. Ia memang seorang indigo, dengan kemampuan bisa melihat masa lalu, atau pun masa depan seseorang hanya dengan memegang tangan orang itu. Bakat nya didapat sejak lahir.


Siluet bayangan masa lalu terus melintas dikepalanya. Waktu seakan berjalan mundur, kembali ke masa kecil Haga. Merasa belum menemukan hal yang istimewa, Habibi terus mundur makin jauh. Keringat dingin terus mengucur deras melalui dahi. Habibi mengerahkan semua tenaga untuk mencari tahu siapa Haga di masa lalu.


Hingga, tiba saat sebuah kejadian yang membuat Habibi berhenti, dan yakin, siapa Haga sebenarnya.


Seorang pria dengan jubah berbalut emas, tengah berdiri dengan tombak yang tajam mengkilap. Di belakangnya, ada ribuan prajurit yang siap berperang melawan kelompok di hadapan mereka. Anehnya, kelompok lawan berpenampilan aneh, ada yang berkulit hitam legam dengan taring panjang, ada juga manusia berkepala babi, bahkan ada manusia berkaki ular. Semua bentuk makhluk itu sungguh mengerikan dan aneh.


Sebuah teriakan lantang keluar dari mulut pemimpin mereka, wajahnya, bentuk tubuhnya, bahkan suaranya sangat mirip Haga. Tombak diangkat tinggi-tinggi ke atas, lalu peperangan pun dimulai. Darah mulai muncrat di mana - mana. Beberapa potongan tubuh menggelepar jatuh ke tanah, bersamaan dengan mayat yang terus bergelimpangan memenuhi hamparan rumput hijau yang kini berubah merah, bagai sebuah lautan darah di sepanjang tempat ini.


Habibi kembali ke kesadaran nya,  deru nafas memburu, berkali-kali ditelannya saliva untuk mengisi kerongkongannya yang kering. Netranya membulat saat manik mata itu saling bertemu. Haga yang penasaran lantas terus memberondong banyak pertanyaan ke Habibi.


"Kamu ...." tutur Habibi tanpa meneruskan kalimat.


"Aku? Aku kenapa, Bib? Jangan bikin penasaran gitu kenapa sih?" paksa Haga.


"Iya, cerita napa," sambung Kevin yang ikut penasaran.


Habibi menarik nafas panjang sebelum bercerita.


"Jadi ... Haga dulu, adalah orang yang telah menyegel Amon, ke dalam lubang gelap dan paling dalam," jelas Habibi.


"Apa? Aku? Ngawur kamu, Bib!" cetus Haga tak percaya dengan menepis angin di depan wajah Habibi.


"Aku serius! Mungkin, sebelum kamu terlahir ke dunia ini, itulah diri kamu yang dulu, Ga! Memang ini di luar nalar, tapi, itulah yang aku lihat," terang Habibi penuh keyakinan.


"Tapi, tadi kata elu, Amon dulu di segel sama Haga, terus ... Kenapa dia bisa lepas?" tanya Kevin.


"Sebenarnya, Amon belum sepenuhnya terlepas dari segel itu, karena selama ini ruang geraknya terbatas, dan mungkin seiring berjalannya waktu, segel yang dibuat Haga dulu, mulai menipis."


"Jadi?" Andre menunggu kesimpulan dalam diskusi ini.


"Aku sama Haga, harus ke sana, buat jemput Manda. Aku yakin, Haga bisa menyegel Amon lagi. Tapi, itu harus dilakukan sebelum bulan Purnama nanti malam. Kekuatan Amon akan kembali sepenuhnya saat purnama tiba. Lalu saat Purnama berakhir, dia harus kita kirim kembali ke Labirin tempat dia disegel dulu," ucap Habibi serius.


"Tapi, gimana caranya, Bib? Aku bahkan nggak tau, gimana cara menyegel Amon," tanya Haga.

__ADS_1


"Aku yakin, kamu bisa melakukan itu lagi nanti!"


\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2