
Insula Mortem atau Pulau kematian. Tempat ini adalah salah satu tempat berbahaya dan jarang di datangi manusia. Kabarnya siapa pun yang datang ke Insula Mortem pasti tidak akan selamat. Tetapi hal itu tentu bukan hal besar bagi mereka, karena sudah beberapa kali hal buruk mereka hadapi selam mereka bersama sama. Se-menyeramkan apa pun tempat yang mereka datangi, akan mereka hadapi bersama sama.
Nayla sudah beristirahat selama seharian di rumah sakit. Dokter hanya mengatakan kalau gadis itu kekurangan oksigen dengan beban pikiran yang berat, hingga membuatnya tidak sadarkan diri dalam beberapa jam kemarin.
Kini mereka sudah berada di dermaga yang akan membawa mereka ke sebuah pulau. Insula Mortem. Sebuah pulau yang tidak ingin didatangi oleh warga sekitarnya. Banyak isu yang berkembang di masyarakat dan beberapa pulau di sekitarnya. Kalau siapa pun yang masuk ke dalam pulau itu, dipastikan tidak akan selamat, karena julukan pulau kematian sudah melekat dan tersugesti ke pulau tersebut. Tetapi menurut pihak kepolisian, dan memang sudah diperiksa secara khusus oleh Gio, memang banyak kejadian orang hilang dan ditemukan dalam keadaan tewas jika memasuki pulau tersebut.
Mereka terpaksa meninggalkan caravan di dermaga, karena untuk sampai ke pulau itu harus menaiki perahu kecil dan yang hanya bisa mengangkut manusia saja. Setelah membawa beberapa perlengkapan yang dibutuhkan, mereka pun mulai menaiki kapal sewaan yang kan membawa mereka ke tempat itu.
Suara mesin memecah keheningan selama perjalanan ke Insula Mortem. Kapal mulai membelah laut yang memang di kelilingi pulau pulau kecil lainnya. Lima orang tersebut duduk menyebar di beberapa kursi yang di sediakan. Tidak terlalu banyak akses untuk berjalan atau sekedar menikmati pemandangan dari atas kapal. Karena mereka hanya bisa duduk sambil menunggu kapal membawa mereka ke pulau tersebut.
Gio duduk di belakang, di mana pengemudi kapal melajukan kapal kecil tersebut. Terlebih karena hanya dia seorang pria yang tidak punya pasangan. Sementara Arya dan Abimanyu sudah berpasangan. "Hm, kalau saja ada Wira, gue nggak menjomblo sendirian!" runtuk Gio yang menopang tangannya di sandaran kursi depannya.
Di sekitar mereka hanya ada air dan barisan pepohonan yang memang berada di pulau pulau kecil sekitar. Tidak banyak kapal yang terlihat di sekitar mereka, tetapi beberapa kali memang mereka berpapasan dengan kapal kecil yang sama, seperti yang sedang mereka naiki. Hal ini membuat perasaan Nayla sedikit lega. Ia agak ketakutan saat tujuan mereka selanjutnya adalah sebuah pulau terkutuk. Rumah terkutuk yang kemarin mereka datangi saja hampir membuatnya dirinya kehabisan nafas, dan sekarang dia harus berurusan lagi dengan sesuatu yang terkutuk. "Mungkin nasib sebagai makhluk yang dikutuk," ujarnya dalam hati.
Kapal menuju sebuah pulau yang cukup besar, namun tidak begitu rimbun pepohonannya jika dilihat dari kejauhan. Mereka kini telah sampai, sang pemilik kapal menatap pulau ini sambil bergidik ngeri. "Kalau kalian selamat, bisa hubungi saya lagi di nomor telepon ini, nanti saya jemput lagi," katanya sambil menyerahkan kartu nama yang sudah dilaminating. Gio mengangguk sambil menatap kartu nama tersebut, dia sedikit menarik sebelah bibirnya dengan tatapan lucu ke pria tersebut. "Terima kasih," ucapnya.
Setelah semua barang diturunkan, mereka mulai menapaki pasir pantai itu. Beberapa remukan karang terlihat indah di atas pasir halus yang mereka pijak. Beberapa kali mereka menemukan hewan laut kecil yang memang jarang sekali ditemui. Bahkan Ellea memungut sebuah bintang laut yang masih hidup, yang terdampar di dekat kakinya. "Lucu," kata Ellea sambil menunjukkan pada Abimanyu yang berjalan di sebelahnya.
Sedangkan Nayla justru menatap pulau ini nanar. Arya menatap gadis di belakangnya, lalu menjulurkan tangan kanan agar Nayla meraihnya. "Yuk," ajaknya. Gadis itu tersenyum penuh makna.
Menurut informasi yang mereka dapatkan sebelum datang ke pulau ini, di tengah pulau akan ada sebuah bangunan, bekas bangunan peninggalan sejarah yang sudah usang dan tidak layak huni. Semacam benteng yang sudah lama ditinggalkan, dan kini hanya sebuah bangunan yang teronggok begitu saja. Mereka hanya perlu berjalan kurang lebih 20 km, dan mereka akan menemukan tempat tersebut. Tempat itulah satu satunya harapan mereka untuk mencari di mana kunci ketiga.
Pepohonan di sekitar mereka tampak gersang, daun daunnya menguning, tak hanya yang sudah jatuh berguguran saja. Tetapi juga yang masih ada di atas pohon. Selah olah tempat ini tidak memberikan kesuburan bagi semua tanaman yang tumbuh di pulau ini. Gersang dan tandus.
"Lihat!" tunjuk Gio pada sesuatu di bawah pohon. Mereka kini mengerubungi sesuatu yang memang menyita perhatian. Karena ada ribuan lalat yang menutupinya dan terdengar berisik sekali.
"Apa itu?"
"Bangkai. Kelinci."
"Wow, sudah busuk. Berarti sudah lama, ya."
"Itu juga," tunjuk Ellea ke sudut lain.
Rupanya ada beberapa bangkai hewan yang tersebar di beberapa tempat. Penuh lalat dan belatung, bahkan ada yang sudah sampai mengering. Wajah mereka mulai merasakan hal yang tidak beres. Suasana mencekam mulai terasa. "Mereka mati kenapa?" tanya Arya. Abi yang sedang jongkok sambil memeriksa lantas menggeleng. "Nggak ada luka robek atau cakaran. Seolah olah mereka mati karena dari dalam, bukan serangan luar, atau serangan hewan lain."
"Memangnya di tempat ini ada predator yang memangsa kelinci kelinci ini?"
"Eh, predator kelinci itu apa?"
"Ayolah, Gi, jangan melucu," tukas Arya meliriknya sinis.
"Selera humormu jelek, Ya," ejek Gio.
"Mungkin ini alasan tempat ini disebut pulau kematian. Bahkan binatang saja mati di sini."
Mereka melanjutkan lagi perjalanan itu, hingga di ujung jalanan berbatu ini, terlihat sebuah bangunan usang. Warna cat nya yang benar benar sudah pudar, membuat tempat itu begitu menyedihkan. Beberapa patung manusia yang memakai jubah yang menutup seluruh kepalanya, ada di halaman depan. Sudah tidak utuh lagi, antara tangan yang sudah retak, bahkan hancur. Semua patung itu menunduk di sepanjang jalan masuk ke tempat tersebut.
Nayla terus memperhatikan patung patung itu. Ia merasa tidak nyaman, seperti sedang diawasi di tiap langkahnya. Teras di depan rumah, terlihat rapi, hanya menyisakan debu tebal yang menempel. Mereka berhenti sambil memperhatikan sekitar.
"Aneh nggak sih, sama patung patung itu?" tanya Nayla mulai memberitahukan kegelisahannya. Arya menoleh ke objek yang dimaksud kekasihnya itu. "Hm, ya ... cukup seram. Tapi yang jelas mereka tidak hidup, sayang. Jangan terlalu berpikir yang tidak tidak, oke?"
"Tapi, kalau mereka bisa hidup, itu mengerikan juga, ya," cetus Ellea yang satu pemikiran dengan Nayla. "Hm, bener itu. Coba, Ell, bayangkan, mereka mengejar kita. Wow, mirip film horor, kan?" tanya Nayla berdiskusi dengan kekasih putranya itu. Rupanya dua wanita itu sangat cocok dalam berbagai situasi.
"Hello? Bisa nggak kalian singkirkan imajinasi liar kalian itu untuk nanti?" potong Gio dengan sikap tidak nyaman. Karena jika dilihat lihat perkataan dua wanita itu ada benarnya juga. Patung patung itu memang menyeramkan. Mirip malaikat kematian yang hendak mencabut nyawa seseorang.
Abimanyu mendorong pintu yang sudah lapuk tersebut. Derit pintu itu terdengar nyaring dan menggema di penjuru rumah. Mereka diam, dan menunggu dengan tatapan ngeri ke dalam bangunan tua yang gelap dan kotor. udara dari luar masuk ke dalam, dan bau pengap khas debu yang tebal mulai menyeruak di pangkal hidung mereka.
"Yuk," ajak Abimanyu lalu melangkah lebih dahulu.
"Masuk ini?" tanya Gio, ragu.
"Ayok, ah!" paksa Arya sambil menggandeng teman lamanya itu masuk ke dalam.
Mereka mulai masuk, perlahan tapi pasti mulai menelusuri tempat ini. Kondisi di dalam tidak lebih buruk seperti du halaman rumah. Kotor dan berdebu. Tetapi semua perabotannya masih utuh dan tertata rapi. Tempat ini seperti rumah yang ditinggalkan cukup lama. Bahkan sangat lama. Tidak ada bekas perusakan, atau keributan. Semua masih tertata rapi di tempatnya. Beruntungnya mereka segera menemukan apa yang dicari. Benda itu terpampang jelas di sebuah patung wanita yang dipahat sedemikian rupa hingga mirip manusia asli. Jika dilihat sekilas tentunya. Bahkan Nayla sampai menyentuh benda itu, wajahnya ia sentuh pelan. Debu yang menempel lantas membuatnya harus menjentikkan jari jarinya untuk menghilangkan kotoran itu. "Uh, kotor banget. Padahal patungnya cantik gini, ya," ujar Nayla.
"Kenapa aku nggak suka patung, ya?" gumam Gio yang bertanya pada dirinya sendiri.
"Om Gio terlalu paranoid mungkin," tukas Ellea.
"Yah, itu juga karena diskusi kalian tadi," sindirnya, membuat Ellea dan Nayla menatapnya heran, lalu keduanya tertawa kecil. "Heh! Kenapa ketawa?" tanya Gio kesal.
"Om Gio lucu!" tutur Ellea lalu memeluk lengan pria paruh baya itu, dengan manja.
"Halah, ada maunya ini," tunjuk Gio ke Ellea.
"Ih, selalu buruk sangka deh, jangan begitu nanti cepat tua," sahut Ellea, membuat yang lain tertawa lepas.
Namun tawa mereka terhenti seketika, saat suara keras yang berasal dari pintu depan yang tertutup kencang. Kelimanya saling lempar pandangan, seolah mereka telah membangunkan penghuni pulau yang sedang tertidur. Dua wanita itu langsung mendekat ke kekasih masing masing. Hanya Gio yang berdiri sendirian dan menatap tajam dua pasangan tersebut.
Saat Gio hendak protes, suara langkah kaki terdengar nyaring, sedang mendekat ke arah mereka. Tentu mereka kembali diam, bahkan mematung di tempat mereka berdiri. Mereka seolah mengikuti gaya dari patung patung yang mereka temui tadi. Arya melirik ke patung wanita itu, di tangannya ada sebuah logam yang berwarna kekuningan dan mirip seperti apa yang sedang mereka cari. Ia langsung merampasnya dan mundur menjauh. Jantung mereka makin berdetak lebih cepat, apalagi saat bayangan seseorang mulai terlihat memasuki ruangan itu. Abimanyu bahkan sudah memegang sebuah tombak yang berada di samping patung tadi. Walau ujung tombaknya sudah berkarat, tapi setidaknya benda itu masih bisa digunakan untuk menyerang. Bayangan itu makin dekat dan jelas, sosoknya terlihat seperti laki laki yang memakai jubah dengan celana panjang. Hingga saat sosok itu mulai memasuki koridor dekat mereka, Abi sudah bersiap menyerang, tapi rupanya, dia menjerit dengan menyilangkan kedua tangannya ke depan. "Hei, ini aku!" jeritnya.
"Wira!"
"Om Wira!" jerit mereka bersamaan. Akhirnya mereka bernafas lega dengan meninggalkan degup jantung yang belum beraturan. Ujung jari jari mereka bahkan terasa dingin karena tegang.
"Kok elu di sini?" tanya Gio seperti tidak percaya. Ia bahkan menatap Wira dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Coba mengap mulutnya!" suruh Gio.
"Apa sih?"
"Mangap!" paksanya.
Wira mendengus sebal, lalu menurut saja pada apa yang disuruh Gio. Ia menunjukkan gigi giginya dan tidak ada gigi taring lain di sana. "Elu pikir vampir bisa mengubah wujud?!" tanya Wira sebal.
"Ya kali saja elu udah berubah jadi vampire. Siapa tau, kan? Lagian elu ngilang ke mana sih? Lama banget!" tanya Gio meminta penjelasan.
"Ada urusan," jawabnya singkat.
__ADS_1
"Bagaimana Galiyan?" tanya Arya.
"Hm, lolos. Aku belum ketemu dia. Kacau semua!" katanya frustrasi.
"Kacau gimana sih?"
"Aku dijebak, rupanya memang nggak seharusnya aku mempercayai orang lain."
"Maksudmu? Dia bohong?"
"Kurang lebihnya begitu, tapi, sudahlah. Bagaimana? Sudah dapet kuncinya?" tanya Wira mengalihkan pembicaraan mereka. Arya menunjukkan logam kuning di tangannya, menandakan kalau apa yang ditanyakan Wira sudah ada di genggamannya. Wira mengangguk, "ya sudah, ayok pergi! Tempat ini mengerikan!" ujarnya sambil bergidik ngeri menatap sekitar.
Mereka pun mulai berjalan keluar meninggalkan ruangan itu. Saat sampai di teras, Nayla menahan tangan Arya yang berjalan di sampingnya. "Tunggu!"
"Kenapa?" tanya Arya, heran. Nayla masih memperhatikan depan dan kini beralih ke sekitarnya. Larangan Nayla membuat dua pria yang berjalan lebih dahulu di depan ikut berhenti dan menoleh.
"Kalian merasa aneh nggak?" tanya Nayla.
"Aneh? Kenapa?"
"Patungnya!" cetus Ellea yang mulai menyadari maksud Nayla.
Mereka mulai memperhatikan patung patung yang semula berdiri di sisi sisi taman. Dan benar saja kalau patung itu berubah arah dan posisi. Patung yang awalnya menghadap membelakangi rumah, kini seolah berbalik, menghadap rumah yang berarti sedang menatap mereka secara serempak.
Mereka mulai menyadari keanehan ini. Diam dan berusaha mencari akal, dan segala kemungkinan yang akan mereka hadapi. Dan juga mencari tau apa yang sedang terjadi. Alasan patung tersebut berubah posisi. Karena tidak mungkin ada orang yang dengan sengaja menggeser patung patung itu. Satu informasi penting, kalau patung itu menancap kuat di alas bawahnya yang terbuat dari batu. Jika memang bisa digeser itu akan sangat berat sekali.
"Kita harus bagaimana sekarang?" tanya Gio menatap awas para patung mengerikan itu.
"Kita jalan biasa saja," saran Wira.
Wira berjalan lebih dahulu, lalu diikuti Gio di belakangnya, dan seterusnya. Langkah mereka pelan karena sambil memperhatikan sekitar. Satu yang mereka takutkan, jika patung patung itu tiba tiba hidup dan menyerang. Karena nama pulau kematian, pastilah memiliki alasan kuat, dan sejarah serta kejadian nyata yang membuat rumor itu menjadi cerita rakyat di tempat ini.
Arya yang berada di posisi paling akhir, terus menatap samping kanan dan kirinya. Saat dia melewati patung pertama, ia mendengar suara aneh. Arya berhenti sambil melirik ke samping kanannya. Mencoba memeriksa posisi patung itu, apakah masih berada di tempatnya atau tidak. Dari ujung ekor matanya, Arya mengetahui kalau posisi patung itu sudah berubah. Dan makin dekat dengannya.
Arya kembali meneruskan berjalan dengan perasaan was was. Ia terus memperhatikan sekitarnya, dengan cemas. Kembali, suara retakan ia dengar dan sangat dekat dengan telinganya. Arya kembali berhenti, ia diam sambil menatap ke bawah. Nayla yang merasakan keanehan Arya lantas ikut berhenti dan kini menoleh ke belakang. "Arya? Kenapa?" tanyanya yang melihat sikap aneh kekasihnya.
Perlahan Arya menatap Nayla, mulutnya komat kamit dan mengatakan hal tanpa mengeluarkan suara. Nayla yang tidak mengerti terus meminta Arya mengulanginya. "Lari!" jerit Arya lalu langsung menyeret tangan Nayla. Seketika semua teman temannya ikut lari, dan bersamaan dengan itu patung patung itu hidup. Mereka bergerak dengan bunyi retak di beberapa bagian tubuhnya, dan tentu mengejar pada manusia itu.
Selain lari kencang, mereka juga menjerit karena ketakutan. Setiap barisan pohon yang mereka lewati mereka gunakan untuk mengalihkan diri dari patung hidup yang kini masih mati matian mengejar mereka. Arya yang cukup jengah dengan kejar kejaran ini lantas melihat sebuah kesempatan untuk menahan mereka. Ia melepaskan tangan Nayla lalu melompat ke sebuah pohon dan mendorong keras tubuhnya. Ia berputar dan kedua kakinya kini mendarat ke dada patung berjubah tersebut. Ia hendak mendorong patung itu, namun nyatanya justru dirinya yang terpental jauh.
"Arya!" jerit Nayla yang kini berhenti berlari dan berbalik menolong kekasihnya. "Kamu nggak apa apa?"
"Nay, lari!" suruh Arya.
"Enggak! Kita hadapi bersama. Lagi pula nggak ada tempat kita melarikan diri dari sini! Kita harus hadapi mereka!" cetusnya dengan tatapan nanar.
Semua teman temannya juga mulai berhenti berlari, karena patung patung itu berlari lebih cepat dari mereka dan kini sudah berdiri di depan. Menghadang para manusia yang sangat kurang ajar berani masuk ke wilayah mereka.
"Kalian mau apa?!" tanya Abimanyu lantang. Walau dia sebenarnya takut dan ragu, tapi ia tidak ingin menunjukan perasaan itu di depan para musuhnya.
Salah satu dari patung yang berdiri paling depan, menunjuk mereka satu persatu. Lalu telunjuknya mengarah ke lehernya mengisyaratkan 'mati'.
Pulau ini tidak terlalu besar tapi juga sangat mudah untuk memutarinya dan tidak butuh waktu lama. Terlebih lagi, topografinya yang gersang tidak memberikan tempat untuk bersembunyi. Entah bersembunyi di balik pohon besar atau semak semak. Di sini tidak ada satu pun makhluk hidup gang berhasil bertahan hidup lama. Seolah tanah yang mereka pijak terkutuk, namun kenapa patung yang terbuat dari batu justru bisa hidup dengan baik. Bahkan mirip robot pembunuh.
Satu pukulan palu dari Abi membuat wajah patung tersebut remuk. Tapi anehnya tak berapa lama kemudian, remukan itu kembali menyatu. Abi menatap takjub sekaligus takut. Bagaimana lagi cara menghancurkan mereka, jika dengan pukulan palu saja, mereka tidak bisa mati.
Mereka semua mulai melawan dengan sekuat tenaga. Alat alat yang mereka bawa cukup untuk mengulur waktu. Tembakan dari pistol yang Gio bawa pun, tidak begitu berpengaruh banyak. Mereka akan lumpuh sementara dan kemudian bangkit kembali.
"Mereka ini apa!" pekik Gio mulai putus asa. Amunisinya yang mulai menipu membuatnya mulai cemas.
"Aneh memang. Nggak ada patung yang bisa hidup seperti itu, sekalipun mereka dirasuki iblis, maka tembakan ini harusnya berhasil!" tukas Ellea yang memang memegang senjata yang sama sepeti Gio. Dan peluru yang mereka pakai adalah peluru perak.
Hanya saja yang mereka hadapi bukanlah iblis dan sejenisnya.
"Hei, ini sihir, kan?" jerit Nayla yang sedang bersembunyi di balik tubuh Arya. Arya terus menembak mereka dengan Glock 20 miliknya.
"Sihir?" tanya Arya yang fokusnya terbagi.
"Aku yakin banget. Ini sihir, ada sumbernya sekaligus menjadi kelemahannya."
"Terus di mana, Nay?! Kelemahan dan sumbernya?" tanya Gio yang mulai kewalahan.
Nayla diam, sambil terus berfikir. Ia mengingat semua hal yang mereka temui sejak menginjakkan kaki di pulau ini. Sampai akhirnya, kunci yang kini muncul di saku belakang Arya, kunci yang tadi sudah mereka ambil dari rumah mengerikan tadi membuatnya mengingat sesuatu.
"Aku tau! Kita balik ke rumah tadi!" jerit Nayla dan membuat semua orang kebingungan. Nayla menyeret Arya agar segera meninggalkan patung patung yang mengamuk itu. Dan otomatis semua orang mengikutinya. Mungkin cara ini akan berhasil, pikir mereka. Kontribusi Nayla selama ini juga cukup bagus dalam menghadapi mereka. Dia termasuk peka dan cepat tanggap, apalagi segala pengetahuan yang ia punya, menjadikan salah satu bekal yang sangat bermanfaat bagi kelompok ini.
Langkah mereka terus cepat dan mulai memasuki halaman rumah itu. Sampai di teras rupanya pintu tertutup. Padahal seingat mereka, setelah meninggalkan rumah ini, mereka bahkan tidak menutup pintunya sama sekali. Dan sekarang justru tertutup dan terkunci. Arya berusaha membuak pintu itu.
"Eh tunggu! Lihat mereka!" ujar Wira yang berdiri paling belakang, menunjuk ke halaman rumah ini. Saat mereka menoleh secara serempak, hal aneh kembali terjadi, para patung tadi kini sudah kembali berdiri di tempatnya dan juga dengan posisi yang sama seperti saat mereka datang.
"Kok, bisa begitu?" tanya Ellea, heran.
"Arya buruan buka pintunya!" sergah Gio memaksa. Berkali kali ia mencoba memasukkan kawat yang biasa ia pakai untuk membuka pintu rumahnya jika ia pulang malam, tak juga berhasil. Seolah pintu ini terkunci paten. Karena tidak sabar, Arya lalu berdiri, mundur sedikit, dan menendang pintu itu kuat kuat.
"Gila!" ungkap Gio.
"Anggap saja rumah sendiri," kata Arya saat memasuki tempat itu. Abimanyu lantas kembali menutup pintu itu sambil mengamati patung patung yang kini diam di tempatnya. Benar benar aneh pikirnya.
Mereka kembali ke patung wanita yang tadi menyimpan kunci yang sudah mereka ambil tadi. Nayla menatapnya lekat lekat, dan mencari keanehan atau apa pun petunjuk yang bisa ia pakai untuk memecahkan misteri ini dan mengeluarkan mereka dari pulau ini dengan selamat. Ia mencari tiap detik petunjuk yang mungkin ada di patung tersebut.
"Kenapa harus patung ini, Nay?"
"Karena cuma patung ini yang ada di dalam, dan lihat, dia pakai mahkota sekaligus kunci yang kita ambil tadi dia yang pegang!" tunjuk Nayla ke wanita yang terbuat dari batu tersebut. Ellea yang ikut mencari langsung melotot saat melihat nama yang tertera di bawah kaki patung itu. "Elenore Fransiska?"
"Mungkin itu namanya! Biar gue cari tau siapa dia!" cetus Gio lalu mengeluarkan laptop dari tasnya.
"Ada sinyal, Paman?" tanya Abimanyu.
__ADS_1
"Ada. Tumben, ya?" sahut Gio sambil menatap pemuda itu. Abi hanya menarik sebelah bibirnya sambil tetap waspada dan mengawasi jendela dan arah pintu di depan.
Gerakan jemari Gio yang cepat, kini langsung menampilkan sebuah informasi lengkap tentang siapa wanita yang ada di patung depan mereka. "Elenore Fransiska, adalah seorang putri dari sebuah kerajaan Bartosya yang mendapat serangan dari musuhnya. Dia melarikan diri dari istananya dibantu seorang dayang kerajaan."
"Wow, kabur ke sini gitu? Bukannya kerajaan itu jauh ya, dari tempat ini?" tanya Ellea.
"Pakai pesawat kali," cetus Arya asal.
"No, pakai mesin waktu!" timpal Gio.
"Ngawur!" sahut Nayla.
"Lah beneran nih. Gue bacain lagi, ya."
"..."
"Elenore dan dayang istana yang tertangkap oleh musuh, akhirnya dimasukan ke dalam penjara untuk mendapat giliran dihukum gantung. Tapi saat giliran mereka, ternyata mereka hilang tanpa jejak. Sipir penjara itu melihat ada tanda lingkaran hitam di tembok tempat mereka di kurung. Lingkaran itu berwarna hitam dengan bau belerang yang pekat. Disinyalir, kalau mereka melintasi waktu dan pergi ke tempat yang tidak bisa ditemukan oleh musuh kerajaannya."
"Dia putri kerajaan atau penyihir sebenernya?" tanya Wira.
"Putri kerajaan yang belajar ilmu sihir. Dan dayang itu yang mengajarinya!" jelas Gio menatap mereka jengah.
"Oke, jadi, mungkin dia membuat patung patung itu untuk melindungi sang putri? Kalau kalau musuh mereka ke sini dan membunuh Eleanore?" pungkas Nayla.
"Jadi itu alasan mereka bangun saat kita hendak pergi tadi?" tambah Abi menarik benang merah masalah ini.
"Terus gimana cara kita pergi? Kalau tiap kita ninggalin halaman rumah ini, mereka justru bangun dan mengejar kita?" rengek Ellea.
"Masalahnya mereka bukan makhluk halus atau makhluk yang bisa kita bunuh! Jadi bagaimana cara kita menghadapi mereka!"
"Pasti ada cara!"
"Hey, Gi, apa ada informasi tentang kunci yang tadi ada di tangan dia?" tanya Arya.
"Sebentar!" Ia kembali mengetik dan menjelajah ke dalam dunianya. Untung di tempat ini jaringan internet lancar. Dan memudahkan mereka untuk menggali informasi.
"Nah, ketemu!"
"Apa?"
"Benda ini hadiah dari sang raja, cuma itu."
"Sang raja dapat dari mana, Om?" tanya Abi.
"Tunggu, siapa nama rajanya?" potong Wira.
"Raja Nihamk!"
"Apa? Nihamk?" tanya Wira mengulangi perkataan Gio. Gio mengangguk pelan. "Kenapa sih? Elu kenal?"
"Gila! Dia itu Nephilim!" ungkap Wira yang mulai paham akar permasalahan ini.
"Nephilim?" gumam Ellea. Abi menggenggam tangan gadis itu sambil tersenyum.
"Yah, nephilim. Dan dia pasti yang membuat semua jebakan di luar."
"Tapi dia sudah mati, Ra. Di sini disebutkan begitu. Seluruh anggota kerajaan dibantai, tinggal putrinya aja sama dayangnya."
"Kalian nggak tau, ya, kalau nephilim itu kuat. Mereka juga nggak gampang mati seperti manusia lainnya."
"Terus Elenore mati kenapa?" tanya Nayla.
"Di sini cuma disebutkan kalau Eleanore meninggal karena sakit keras."
"Dayangnya bagaimana?"
"Dayangnya ..." Gio kembali membaca semua informasi yang ada di depannya," tetap ada di pulau ini dan dia juga yang membuat patung ini. Dulu tempat ini ramai penduduk. Tapi setelah Eleanore meninggal, satu persatu dari penduduk mati juga. Katanya wabah penyakit."
"Eleanore dikubur di mana?"
"Nggak disebutkan."
Semua diam, berpikir kembali karena hal tersebut belum memberikan titik terang apa pun untuk mengeluarkan mereka dari tempat ini. Arya tiba tiba mengangkat patung tersebut, ia kesal dan langsung membantingnya ke lantai. Pahatan batu itu kemudian pecah, sedetik kemudian beberapa kerangka tubuh manusia terlihat dibalik patung itu.
"Apa apaan ini!" pekik Gio.
"Jadi ... Dayang itu membuat patung ini dari tubuh Eleanore sendiri?!"
Mereka sudah menggali tanah yang cukup dalam, dan menguburkan mayat Eleanore di sana. Semoga acara penguburan yang layak untuk sang putri mampu mematahkan semua hal buruk di pulau ini.
Matahari mulai bergeser dari tempatnya. Semburat merah mulai tampak di langit. Kini mereka hendak melanjutkan misi lainnya. Mereka sudah berdiri di antara patung patung tadi. Berjalan pelan sambil terus waspada, jika sampai patung patung itu kembali hidup, maka mereka akan berlari kembali ke rumah itu.
Namun hingga beberapa meter meninggalkan rumah itu, patung di halaman itu hanya diam, tanpa bergerak sama sekali. "Kita berhasil?" tanya Gio sambil berjalan mundur, memperhatikan patung patung yang hampir membunuh mereka tadi.
Semua bersorak saat mereka sudah sampai ke pantai. Dan mereka kini telah menghancurkan kutukan pulau kematian ini, dan mendapatkan kunci ketiga yang mereka cari.
Abi menghubungi nomor yang tadi mengantar mereka ke pulau ini. Sambil menunggu jemputan untuk mereka, para gadis malah bermain main di pantai. Mereka berkejar kejaran sambil memungut binatang laut yang terdampar di pantai. Bahkan bermain adu kepompong sambil tertawa riang. Mereka bahkan sampai lupa, kapan terakhir kali mereka menikmati liburan seperti ini. Dan, pantai merupakan tempat yang disukai oleh hampir sebagian besar orang orang itu. Moodbooster bagi Abimanyu dan kedua orang tuanya. Kesukaan mereka berdua tidak berubah. Sama seperti dulu, dan tentu, Gio, Ellea dan Wira juga menikmati indahnya pantai ini. Menatap sunset yang mulai terlihat di ujung laut.
Mereka duduk berjejeran di pasir pantai. Nayla bersandar di bahu Arya. Diam tanpa sepatah kata pun. Ellea memeluk lengan Abimanyu erat. Tidak ada yang tidak menyukai ciptaan Tuhan yang satu ini. Senja, sunset, dan pantai. Kolaborasi yang sangat menarik dan indah tentunya.
Arya menatap kunci yang ada di genggaman tangannya, ia tersenyum tipis. "7 lagi, " gumamnya dalam hati. Tapi beberapa detik kemudian, perasaannya tidak enak. Ia merasakan sakit di dadanya yang entah karena apa. Perasaan ini seolah muncul tiba tiba dan tidak bisa ditebak dan ditahan. Hingga saat jemputan mereka datang, mereka seolah enggan beranjak, karena tempat ini terlihat nyaman sekarang. Hanya saja, matahari yang sebentar lagi hilang dari peredarannya, mengharuskan mereka kembali, dan tidak memungkinkan kalau mereka menginap di tempat ini. Pulau Insula Mortem.
"Wah, kalian masih hidup," ujar pria pemilik perahu.
"Apa kubilang, kami akan hidup dan kembali," sahut Gio bangga, memakai kaca mata hitamnya dan mulai menikmati angin laut yang makin kencang. Kembali pulang, walau mereka masih jauh dari rumah. Bahkan tidak ada yang menjamin, apakah mereka akan pulang ke rumah lagi, atau tidak. Perjalanan ini sangat panjang dan berat. Dan akan banyak hal yang harus dikorbankan untuk kepentingan bersama.
Angin menerpa wajah Nayla, ia menekan dadanya karena rasa nyeri yang tiba tiba datang tanpa sebab. "Kenapa aku terus merasakan hal tidak enak seperti ini. Perasaan apa ini."
__ADS_1
Tanpa Nayla tau, Arya juga merasakan hal yang sama. Mereka sama sama berusaha menutupinya. Lalu membiarkannya saja. Karena ini sudah sering mereka rasakan. Perasaan tidak enak, sejak mereka memulai perjalanan pertama.