
...Rasa takut ada di tiap hati dan pikiran manusia, asal kita bisa mengendalikan hati dan pikiran kita untuk melawan rasa takut itu, semua akan mudah dijalani. Bahkan sekalipun, kita sendirian di dunia ini. ...
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Sampailah mereka di halaman rumah Haga. Nampak lampu di teras menyala namun di dalam masih gelap gulita.
"Welcome in my house," Haga memberi ruang untuk Manda berjalan di sampingnya.
Manda agak ragu melangkahkan kaki nya masuk ke dalam. Dia masih ingat saat Sarah menghubunginya dan menyuruhnya untuk melepaskan Haga lalu menghilang sejauh- jauhnya, karena mereka akan menikah.
Rasa sakit itu masih terasa sampai sekarang.
Klek!
Pintu terbuka. Haga masuk menyalakan lampu, sementara Manda hanya berdiam diri di muka pintu. Matanya mengamati seluruh detil ruang tamu di hadapannya. Sunyi.
"Loh ngapain di situ aja? Ayok masuk," ajak Haga sambil mengulurkan tangannya ke Manda.
"Sarah mana? Kok sepi?" tanya Manda yang mulai memasuki rumah Haga.
Haga malah tersenyum tipis. "Di rumahnya," jawab Haga santai.
"Di rumahnya? Maksud kamu?" tanya Manda bingung.
Haga berjalan mendekat ke Manda, sambil menatap lantai yang dia pijak. "Aku sama Sarah--- Udah lama pisah," ucapnya dengan terus menundukan kepalanya.
"Loh kok gitu? Kenapa?" tanya Manda kaget.
"Hmm ... Selama nikah sama dia, aku nggak bisa sayang ke dia. Sekalipun saat itu aku amnesia, enggak inget kamu sama sekali, tapi perasaanku ke dia nggak pernah ada. Jadi yah, Sarah kesel, aku ditinggalin deh," terang Haga sambil cengengesan lalu menutup pintu dan menguncinya.
Manda diam, pikirannya menerawang entah kemana. Hatinya berkecamuk mendengar penuturan Haga barusan. "Terus ... Anak kalian ikut Sarah?" tanya Manda ragu ragu.
Haga tidak langsung menjawabnya malah berjalan masuk ke dalam. "Enggak. Hassha ikut Neneknya. Dia tinggal sama Mama-ku," teriak Haga sambil terus berjalan menuju dapur.
Manda pun mengikuti Haga karena penasaran dengan cerita hidup Haga.
"Udah berapa lama?" Manda terus mengekor ke Haga yang sedang membuat dua cangkir teh hangat.
"Is ... Kepo yaaa!" ledek Haga.
Alhasil wajah Manda menjadi merah karena malu. Akhirnya Manda memilih duduk di ruang tengah sambil meraih remote TV di depan nya.
Haga meletakkan teh ke meja. "Jangan suka begadang. Tidur gih. Tuh kamar itu aja," tunjuk Haga ke pintu kamar samping TV. Manda hanya melirik sekilas lalu bersandar pada sofa yang dia duduki sambil menekan kepalanya. "Kenapa?" tanya Haga sambil menyecap teh ditangannya.
"Nggak apa apa kok, capek!" dengus Manda sambil matanya fokus ke acara TV di depan mereka.
__ADS_1
"Ya udah, bobok sana. Istirahat. Kamu capek, kan? Biar aku jagain kamu disini," kata Haga sambil menatap Manda yang duduk di sampingnya.
"Heem ...." Manda melirik Haga lalu beranjak masuk ke kamar yang Haga tunjuk. Saat masuk ke kamar itu, nuansa pink dan warna pastel memenuhi seluruh dekorasi serta perabot di kamar ini, ada wallpaper bergambar hello kitty di tembok tengah ranjang. Beberapa
Tokoh kartun seperti frozen, winnie the pooh serta barbie juga ada di tiap sudut kamar. Sudah bisa dipastikan bahwa ini kamar Hasha, anak Haga.
Karena lelah, Manda segera saja naik ke ranjang. Dia duduk duduk sebentar di tepi ranjang. Diusapnya kasur bersprei pink muda dengan motif barbie, Manda menaikkan sebelah bibirnya. Lalu segera merebahkan tubuhnya. Lampu di biarkan menyala. Manda tidak tenang jika lampu dimatikan. Dia selalu merasa diawasi jika dalam kondisi gelap. Setelah membaca beberapa doa, matanya perlahan terpejam. Manda pun mulai masuk ke alam bawah sadarnya. Sementara di luar, Haga masih terjaga sambil menonton acara TV. Dia tidak berniat tidur malam ini. Dia ingin menjaga Manda hingga pagi. Beberapa jam sudah berlalu, tubuh Haga mulai lelah, dia pun merebahkan tubuhnya di sofa abu abu miliknya. Dan tak lama mata nya pun terpejam.
\=\=\=\=
Korden kamar yang Manda tempati berkibar, jendela terbuka entah sejak kapan, hingga embusan angin malam pun mulai masuk ke dalam kamar. Manda mulai kedinginan karena tidak memakai selimut.
Braaaaakk!!!
Jendela kamar menutup dengan kasar. Lalu bergerak membuka dan menutup dengan cepat.
Manda terkejut.
Dia langsung terduduk dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Di jendela, samar samar ada sosok itu. Sekalipun keadaan gelap di luar, namun sinar bulan mampu membuatnya terlihat jelas. Dia tersenyum mengerikan. Perlahan tapi pasti tubuhnya memecah bagai debu, lalu terbang masuk ke dalam kamar. Sampai di dalam, butiran debu itu menyatu kembali. Sosok tadi menatap tajam Manda. Manda tidak gentar. Karena dia tau, kalau iblis itu tidak akan bisa menyakitinya secara langsung.
"Mau apa kamu, Amon?" tanya Manda dingin.
"Menjemputmu!"
"Cih, aku tidak sudi. Kamu lupa, kamu tidak bisa berbuat apa apa disini!" Manda beranjak lalu berjalan mendekat. Malam ini rasa takutnya hilang. Dia sangat yakin makhluk itu tidak akan bisa menyakitinya. Selama ini dia hanya bisa muncul untuk meneror Manda. Dulu, Manda di tandai oleh seseorang yang pernah menolongnya saat Manda koma dulu. Saat Manda terjebak di alam lain dan dikejar oleh makhluk itu, seorang pria berpenampilan seperti kyai, dengan pakaian yang hampir semua putih, menolongnya, lalu tiba tiba kyai itu menggenggam erat pergelangan tangan Manda, dan tak lama ada sebuah tato berbentuk lingkaran dengan beberapa tulisan sansekerta di dalamnya. "Ini untuk menangkal makhluk itu mendekat." ucap Kyai itu.
Tak lama setelah makhluk itu menghilang, Manda memegangi tengkuknya, bulu kuduk Manda berdiri. Akhirnya dia menoleh ke arah belakangnya. Di balik jendela kamar, ada sosok pocong di luar yang sedang memandangi Manda dengan tatapan tajam.
Jangan remehkan tatapan mata Pocong. Apalagi bila dilakukan dalam jarak dekat. Itu bisa fatal. Tatapan mata pocong bisa menimbulkan efek badan terpaku atau tidak bisa bergerak. Badan menjadi membeku atau kaku, alias menjadi sulit bergerak. Bisa jadi ini adalah memang kemampuan mistis yang dimiliki makhluk astral itu, atau mungkin karena sekedar reaksi psikologis yang muncul dari orang yang melihat, karena ketakutan.
Dan itulah yang dirasakan Manda sekarang. Dia diam terpaku dengan terus menatap pocong itu. Semua orang pasti sudah tau bagaimana bentuk dari pocong. Badannya benar benar kaku tidak bisa digerakan. Lidahnya kelu. Pikirannya kacau. Seolah olah makhluk di hadapannya seperti bisa mengatur pikiran dan tubuhnya untuk terus diam, tanpa bisa bertindak apa apa. Pocong itu dalam sekejap sudah ada di hadapannya hanya berjarak beberapa jengkal saja. Pocong tidak selamanya berjalan dengan melompat, tapi gerakan nya justru sangat cepat.
Keringat dingin terus mengucur deras, Manda makin ketakutan, mungkin jika jaraknya masih jauh, dia tidak akan setakut ini. Pocong itu membuka mulut lalu keluarlah tanah dari mulutnya. Tanah basah dan berbau busuk. Rasa mual dan takut bercampur menjadi satu, memaksanya untuk segera bangkit dari pengaruh makhluk mengerikan ini. Rupanya ini siasat iblis itu. Memang benar, Amon tidak akan bisa menyakiti Manda di alam nyata, tapi dia biasanya menyuruh makhluk lain untuk meneror Manda. Tato di pergelangan tangannya memang bisa menjauhkan Manda dari Amon, tapi tidak dengan makhluk lain. Mereka bisa dengan mudahnya muncul bahkan tidak jarang menyakiti Manda. Tato pemberian Kyai itu memang hanya khusus menjauhkan Manda dari Amon saja. Sebenarnya makhluk astral lain dapat dengan mudah dikalahkan, hanya saja terkadang rasa takut, panik dan kaget Manda lebih dulu dirasakan Manda dan membuat pikirannya buyar seketika. Itulah kenapa Habibi sering menyuruhnya untuk meditasi. Agar Manda lebih bisa fokus dan tenang jika berhadapan dengan 'mereka'.
"Audzubillahhiminassyaitonnirojiiim"
gumam Manda setelah kesadarannya kembali. Seketika Manda bisa menggerakan tubuhnya. Tanpa berpikir dua kali dia langsung berlari keluar kamar dan langsung menutup pintu kamar dengan nafas tersengal sengal. Saat sudah di luar, Haga terkejut mendengar suara pintu yang di tutup dengan kencang. Haga langsung terduduk sambil mengucek ucek matanya sambil memperhatikan Manda yang terlihat panik.
"Kenapa?"
Manda menatap Haga lalu menelan ludah berkali kali. "Nggak apa apa kok," jelas Manda lalu duduk di samping Haga. Diraihnya teh yang sudah dingin dan diteguknya hingga habis.
"Hei ... Kamu kenapa?" tanya Haga sekali lagi sambil menepuk bahu Manda.
Manda menoleh, "Enggak apa apa kok," jelas Manda lagi. Dia lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Manda memilih sofa yang agak panjang untuk merebahkan badannya, dia berniat akan tidur di sofa malam ini. Manda takut akan datang setan setan lain nanti.
__ADS_1
"Kamu mau ngapain?"
"Tidurlah."
"Nggak di kamar aja?"
"Enggak deh, sini aja. " Manda menenggelamkan wajahnya ke sofa berharap bisa tidur kembali. Dia masih agak panik. Badannya pun masih gemetaran.
Haga diam sambil terus menatap Manda, dia tau ada yang tidak beres. Haga beranjak lalu menarik tangan Manda. "Eh ... Apa apaan nih?" Manda menoleh dengan wajah keheranan.
"Yuk. Tidur!" paksa Haga.
"Eh, nggak ah, sini aja. Udah sana kamu tidur aja!" tolak Manda.
"Denger ya, Ai ... Aku tau ada yang nggak beres. Walau kamu nggak bilang, ada sesuatu, Kan? di kamar? Makanya kamu kayak gini. Kamu mau tidur disini sendirian? Kalau aku sih, nggak bakal biarin kamu sendirian disini, karena ini rumahku, jadi semua keselamatan kamu, itu tanggung jawabku! Ayok ikut!" kata Haga panjang lebar.
Manda yang awalnya bersikeras menolak akhirnya luluh juga karena paksaan Haga. Manda diam saja saat Haga menggandengnya ke kamar yang dekat ruang tamu. Saat kamar itu dibuka, terlihat sebuah ruangan yang didominasi warna abu abu. Sebuah bingkai foto besar ada di tembok atas ranjang, foto Haga dengan seorang anak perempuan yang cantik. Manda yakin itu pasti Hasha, putri Haga. Sampai di ranjang, Haga menyuruh Manda tidur.
"Udah, tidur sana!" Haga bukannya keluar dari kamarnya, malah berjalan ke sisi ranjang satunya dan tiduran begitu saja. "Kenapa bengong? Ayok tidur."
"Disini?" tunjuk Manda ke ranjang itu.
Haga menepuk bantal disampingnya. "Ya- iyalah ... Di mana lagi? Udah sini!" sadar kalau Manda ragu, Haga malah tersenyum kecil. "Tenang aja kali, aku nggak akan macem macem," jelasnya. "Kecuali di macem macemin duluan," gumamnya pelan.
"Apa?" pekik Manda.
"Eh, nggak nggak ... Udah yuk. Tidur!" Haga menarik selimut lalu menghadap ke sisi lain. Dia tau kalau Manda pasti akan risih jika Haga tidur menghadap ke arahnya. Perlahan Manda naik ke ranjang. Lalu merebahkan tubuhnya disamping Haga. Ada perasaan tak menentu yang berkecamuk di hatinya. Manda senang, tapi juga bingung. Tidak tau harus bereaksi seperti apa mengetahui status Haga yang sudah menjadi duda.
Dug! Dug! Dug!
Mereka yang awalnya hendak tidur, lalu kembali duduk sambil menajamkan pendengaran masing masing. Haga mengisyaratkan Manda diam. Suara itu berasal dari jendela. Haga beranjak lalu dengan langkah pelan hendak mendekat ke jendela. Manda menahan tangan Haga lalu menggeleng pelan. "Biar aku liat!"tukas Haga.
"Mending nggak usah. Percaya sama aku, please," bujuk Manda setengah memohon.
Haga mendengus, "terus gimana?"
Manda diam sejenak, lalu beranjak menuju dekat tembok. Diusapnya tembok di hadapannya sambil memejamkan mata. Haga mendekat dan memperhatikan apa yang hendak Manda lakukan. Manda menggumamkan beberapa doa doa. Tak lama ... "Selesai," ucap Manda.
"Hah? Apanya? Kamu ngapain barusan?" tanya Haga penasaran. Manda tidak menjawabnya malah kembali ke ranjang dan mencoba tidur kembali.
"Eh, kamu ngapain tadi?" paksa Haga.
"Aku pagerin biar 'mereka' nggak bisa masuk," terang Manda sambil memejamkan mata.
Dug! Dug! Dug!
__ADS_1
Suara brisik tetap terdengar, Haga menoleh ke jendela dengan wajah cemas.
"Tenang aja, nggak bakal bisa masuk kok!" kata Manda sambil menarik selimut sampai ke lehernya. Sedikit takut. Haga hanya mengangguk lalu ikut tidur di samping Manda.