pancasona

pancasona
65 Apri di sandera


__ADS_3

Butuh waktu beberapa jam sampai ambulans datang ke desa. Maklum saja kalau saat ini sudah lewat tengah malam. Waktunya orang-orang beristirahat. Tapi keributan justru terjadi lagi di desa Tabuk Hulu. Hampir semua warga desa terbangun, terutama rumah-rumah yang paling dekat dengan homestay di mana Rea dan teman-temannya tinggal. Orang-orang yang terluka diobati alakadarnya saja. Tentu saja mereka tetap mendapatkan pertolongan pertama. Apalagi orang-orang yang mengalami pendarahan. Rea, Leni, dan Diah, ikut membantu mengobati orang-orang yang terluka. Sebagian warga memutuskan kembali ke rumah masing-masing. Hanya beberapa warga saja yang tinggal untuk berjaga-jaga jika ada hal-hal buruk yang terjadi lagi nanti. Mereka juga ikut menjaga Fauzan  yang kini sudah diikat di kamarnya, dengan pintu yang terkunci dari luar.


Sambil menunggu ambulans datang, mereka pun berbincang. Apakah Rea dan teman-temannya sangat penasaran dengan sosok pemuda yang membantu mereka tadi. Radi sibuk menjaga ayahnya. Untuk saja luka Pak Wiryo tidak begitu parah. Namun tetap saja dia kini sedang terkulai lemas akibat pendarahan yang terjadi pada pelipisnya.


" ambulans nya sudah dalam perjalanan, Pak. Bapak baik-baik saja kan? Apa ada rasa sakit yang tidak bisa ditahan?" tanya pemuda itu pada Pak Wiryo.


Pak Wiryo kini duduk di kursi yang berada di ruang tengah. Di samping kanan sudah ada Radi yang sedang memijat tangan kanan ayahnya.


"Bapak baik-baik saja kok. Cuma masih nyeri. Tapi nggak papa. Untuk kalian cepat datang. Tapi kapan kamu pulang, Raja?" tanya Pak Wiryo yang sepertinya sudah sangat mengenal pemuda itu.


" tadi malam. Pas saya sampai rumah, Ibu bilang bapak sedang pergi ke sini. Jadi kami berdua menyusul. Radi juga sudah menceritakan masalah ini dalam perjalanan tadi. Kenapa Bapak tidak bilang sama saya? Kalau ada masalah ini di desa?"


" Bapak Cuma tidak mau mengganggu Kuliah kamu. Lagi pula permasalahan ini juga sudah diselesaikan."


"Belum, Pak. Lihat, bapak saja sampai terluka seperti ini. Laki-laki tadi itu adalah sumber masalahnya bukan?"


"Iya, betul. Bapak juga tidak menyangka sangat dahsyat."


" pantas saja perasaan saya tidak enak, dan saya selalu ingin cepat pulang. Makanya saya mengambil penerbangan terakhir agar bisa sampai di rumah malam ini juga."


Kedua orang itu saling berbincang seolah-olah tidak mempedulikan orang-orang di sekitar. Sampai akhirnya Pak Wiryo pun sadar kalau banyak mata yang sedang memandang dirinya. " Oh iya sampai lupa. Mbak dan Mas sekalian, perkenalkan adalah Raja, Dia anak sulung saya. Kakaknya Radi. Saya punya dua orang Putra, dan inilah mereka," jelas Pak Wiryo yang menjawab semua kebingungan Rea dan teman-temannya.


"Oh begitu, ya, Pak. Kami pikir siapa tadi, soalnya sepertinya baru lihat sekarang," sahut Diah.


"" iya, soalnya Raja ini tidak tinggal di desa. Dia sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Sudah semester akhir."


"oh begitu. pantas saja kami baru pernah melihat."


Obrolan ringan mulai mewarnai malam ini. Rea perhatikan sekitar. Teman-teman yang terluka kini sudah bisa tersenyum walau masih menahan rasa sakit. Namun tiba-tiba dia menyadari satu hal.


"Eh, Apri mana?"


" Oh iya. Masih di kamarnya paling. Berikan waktu kita ribut sama Fauzan dia masih ngantuk di kamar sama Ita."


" tapi tumben ada ribut ribut kayak gini, mereka nggak keluar sama sekali."


" Masih tidur kali, Re."


"aku cek deh." Rea lantas beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar Ita dan Apri. Begitu dia membuka pintu kamar, Rea melotot, dan segera mendekat ke ranjang Ita.


"Ta?! Apri mana? Ita! bangun, Ta! Apri mana?" tanya Rea panik saat tidak melihat Apri diranjang miliknya.


Ita mulai mengeliat dan terbangun karena suara berisik Rea.


"Apa sih, Re! aku masih ngantuk!"


"Apri! Apri mana!" tanya Rea sambil menunjuk ranjang di sebelah Ita. 


Ita mengucek mata lalu melotot begitu melihat Apri tidak ada di sana. "Ke kamar mandi mungkin, Re."


Rea segera keluar dari kamar mereka, dan berlari ke kamar mandi. Orang-orang yang berada di luar menatap Rea dengan ekspresi bingung.


"Re, kenapa?" tanya Dana sambil memegangi lengannya yang diperban. "Rea! Rea!" jerit Dana yang sama sekali tidak digubris oleh Rea.


Ita menyusul keluar mengejar Rea yang terlihat panik. Sampai di luar Ita terkejut melihat suasana di luar yang terlihat ramai. Yang membuat Ita terkejut justru kondisi orang-orang di sekitar yang terlihat babak belur dan terluka di beberapa bagian tubuhnya.


"Loh, ada apa ini?" tanya Ita kebingungan.


"Lo itu tidur atau pingsan sih, Ta? Ada ribut-ribut tadi masa nggak dengar?" tanya Hani.


"Hah? Ribut-ribut apa sih?" tanya Ita bingung.


"Ozan ngamuk lagi. Dia melukai semua orang di sini. Untung kamu di kamar terus. Jadi aman. Tapi Rea kenapa kok lari-lari gitu?" tanya Leni.


"Ap - Apri ilang!" cetus Ita menunjuk ke arah Rea pergi.


"Hah? ilang gimana? kok bisa?" tanya Dana yang begitu terkejut mendengar hal tersebut.


"Enggak tahu. Aku tadi lagi tidur jadi nggak tahu kapan Apri keluar kamar. Tahu - tahu dia udah nggak ada di kamar!"


Rea kembali ke ruang tengah. " Apri nggak ada di kamar mandi, dapur, ataupun tempat lain di rumah ini. Kita harus cari dia! Kalian nggak ada satupun yang lihat dia keluar dari rumah?" tanya Rea menatap semua orang yang ada di ruangan tersebut.


Dan serempak semua orang menjawab dengan jawaban tidak tahu. Memang sungguh aneh rasanya. Begitu banyak orang yang ada di rumah itu tetapi tidak satupun ada yang melihat Apri pergi dari rumah. Berbagai spekulasi dari yang sederhana sampai yang rumit menjadi diskusi mereka.


Ada yang beranggapan jika Apri diculik oleh hantu yang berkomplot dengan Fauzan. Tapi ada juga yang beranggapan kalau Apri keluar dari rumah begitu saja karena sedang mencari teman-temannya yang lain. Kondisi rumah itu memang kacau beberapa saat yang lalu. Mungkin saja Apri memang sengaja keluar untuk mencari teman-temannya yang tidak ada di rumah. Alhasil dengan kejadian ini mereka semua kembali membentuk kelompok untuk mencari Apri. Tidak ada kata istirahat untuk malam ini.


"Ya sudah, kita berpencar buat cari Apri," kata Dana.


" tunggu. Sebaiknya kalian beristirahat saja. Kalian masih harus memulihkan tubuh. Biar pencarian kali ini diserahkan kepada saya dan warga desa," ucap Raja.


" Iya, Dan.  Raja betul. Sebaiknya Kalian di sini saja, biar aku sama yang lain aja yang mencari Apri. Kalian terluka. Sebaiknya kalian memulihkan diri dulu," tandas Rea.


"Iya. Lagi pula warga desa sama kami juga sudah cukup untuk mencari Apri.  Kalian di sini saja. Siapa tahu Apri tiba-tiba pulang," tambah Diah.


"Mereka benar, Dan. Kita tunggu di sini saja biar mereka yang mencari Apri." Hani pun setuju dengan pendapat itu.

__ADS_1


Alhasil Dana pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi.  Dan lagi kondisi tubuhnya juga sudah tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya terpaksa dia menuruti perkataan teman-temannya itu. 


Kini orang-orang sudah mulai berpencar untuk mencari keberadaan Apri. Walau mereka benar-benar tidak tahu ke mana Apri pergi, tapi setidaknya mereka akan mencari ke pelosok desa. 


"Semoga dia belum jauh," kata Leni sambil tengak tengok sekitar.


"Kira-kira dia ke mana, ya?" tanya Rea yang tampak cemas. 


"Aneh sih menurutku kalau tiba-tiba dia pergi gitu aja. Mengingat kondisi Apri juga lagi sakit. Kaki kanannya kan keseleo juga itu. Masa dia malah pergi gitu aja."


"Eh, coba telepon ke hapenya," tukas Rea.


"Oh iya bener! Kelamaan nyasar di hutan jadi lupa kalau di sini ada sinyal!" Diah lantas meraih ponselnya dan mulai menghubungi nomor Apri.


Nada dering sudah tersambung ke ponsel Apri, namun tak kunjung mendapat jawaban. Sementara mereka terus melangkah menyusuri desa. Suasana malam itu menjadi tidak terlalu sepi karena beberapa warga ikut mencari Apri bersama-sama. Bahkan suara saling bersahutan mulai terdengar di beberapa sudut desa memanggil nama Apri. 


"Duh, nggak diangkat-angkat juga!" rengek Diah sambil masih tetap menghubungi ponsel Apri.


"Nggak apa-apa. Coba terus. Siapa tahu nanti diangkat."


Diah masih terus berusaha menghubungi nomor Apri, walau sampai sekarang belum juga ada tanda-tanda Apri menerima panggilan telepon itu. 


"Eh, tapi hape Apri nggak ketinggalan di rumah, kan?"


"Bentar, aku telepon Dana, suruh cek di kamar Apri." Rea lantas menghubungi Dana untuk memastikan kalau ponsel Apri tidak ada di kamar. "Kata Dana nggak ada. Dia udah cek di semua sudut kamar. Tas, kasur, bantal, meja, nggak ada ponsel Apri."


"Setidaknya kita ada harapan. Semoga di mana pun Apri berada, dia nanti bisa angkat telepon ini."


"Iya, semoga."


Langkah mereka berempat kini berhenti saat bertemu dengan rombongan Raja. Di ujung jalan. 


"Gimana? Ketemu?" tanya Rea sambil menatap Raja.


"Belum. Semua rumah yang tadi kami lewati sudah diperiksa, namun tidak ada teman kalian."


"Duh, ke mana ya si Apri. Seharusnya dia nggak bisa pergi jauh, kan kakinya masih sakit," gumam Leni.


"Kamu menghubungi siapa?" tanya Raja pada Diah yang tak henti-hentinya melakukan panggilan telepon.


"Oh ini, aku coba telepon hape Apri. Nyambung sih, berarti hapenya aktif, tapi ... Nggak diangkat juga dari tadi. Ini udah panggilan ke 10!" desah Diah sedikit frustrasi.


"Kalau begitu kita bisa melakukan pencarian dengan dering telepon itu. Walau telepon dari kamu tidak diangkat, semoga saja nada dering dari ponsel teman kalian bisa kita dengar. Ayo, lakukan pencarian lagi bersama-sama," ajak Raja dengan semangat baru.


Sudah hampir satu jam lamanya mereka mencari keberadaan Apri. Beberapa kali mereka juga berpapasan dengan rombongan lain yang juga sedang mencari Apri. Namun sampai detik ini tidak ada orang yang bisa melihat Di mana lokasi Apri berada.


Sampai akhirnya mereka mulai mendekat ke arah hutan. Setelah mencari di semua tempat di desa dan tak kunjung membuahkan hasil, mereka memutuskan mencari ke tempat-tempat yang Inan tidak akan didatangi oleh Apri. Karena sekarang yang ada dipikiran mereka hanyalah satu hal. Yaitu Apri dalam kondisi tidak sadar saat meninggalkan rumah. Dengan artian biasa aja Ada sosok gaib membawanya pergi dari rumah. Seperti yang bisa terjadi kepada Fauzan ataupun kejadian kesurupan sebelumnya. Dan mereka pun baru sadar kalau Apri juga menjadi korban kesurupan tempo hari. Diah tanpa lelah terus berusaha menghubungi ponsel Apri.


Hingga akhirnya perjuangan mereka mendapatkan hasil. Suara dering telepon yang sering dipakai Apri terdengar samar samar. Tapi di tempat yang sunyi seperti di pinggir desa tentu suara sekecil apa pun akan terdengar. Orang pertama yang menyadari hal itu adalah Ita.


"Itu suara telepon! Kalian dengar?" tanyanya sambil berusaha menajamkan pendengaran.


Mereka semua diam, sambil ikut mendengarkan suara yang dimaksud oleh Ita.


"Oh iya bener! Di mana, ya?" tanya Leni sambil tengak tengok.


Warga desa yang Juga ikut pencarian dalam kelompok itu ikut diam dan berusaha mendengarkan suara yang dimaksudkan oleh Ita.


"Oh iya benar. Sepertinya suara ini berasal dari sana," tunjuk seorang warga.


Tempat yang ditunjuk membuat orang orang terpaku dan ragu untuk melanjutkan pencarian. Karena tempat tersebut adalah arah di mana hutan terlarang berada.


"Ayo, ke sana," ajak Rea tanpa rasa takut.


"Re! Tunggu sebentar. Kamu lihat mereka? Nggak ada yang mau ikut kita ke sana tahu!" cegah Diah sambil berbisik pada Rea.


Rea menatap warga desa. Apa yang dikatakan oleh Diah memang benar. Dari raut wajah para warga desa yang ada di sekitar mereka, tidak ada satupun yang tampak antusias mengikuti asal suara tersebut.


"Kenapa? Di sini nggak ada yang mau ikut kami ke sana?" tanya Rea tegas.


Namun tidak ada satupun yang menjawab. Mereka hanya saling tatap dan tampak ragu untuk mengatakan isi hati mereka masing-masing. Rea sendiri tidak menyalahkan sikap warga desa tersebut. Dia sadar mereka memiliki alasan kuat, dan tidak mau lebih jauh dalam pencarian ini. Apalagi jika tempat yang harus dituju adalah ke arah hutan terlarang.


" Ya sudah tidak apa-apa. Kami paham kok, Pak. Saya dan teman-teman saya juga tidak akan memaksa. Kami akan ke sana sendiri. Tapi saya minta tolong, jika kalian tidak keberatan, Tolong tunggu kami di sini dulu sebentar. Jika dalam 1 jam kami tidak kembali, Tolong hubungi polisi untuk melakukan pencarian ke hutan terlarang secepatnya," pinta Rea. "Yuk, kita ke sana," ajak Rea pada ketiga teman-temannya.


"Tunggu! Saya ikut kalian!" sergah Raja dan kini justru berjalan lebih dulu ke arah hutan terlarang. Rea dan teman-temannya saling tatap, begitu pula dengan warga desa. Alhasil mereka Kini Tinggal mengikuti langkah Raja untuk memasuki hutan terlarang.


Raja tampak tidak ragu dan terus berjalan tanpa menoleh kebelakang atau ke kanan kirinya. Para Gadis itu mengikuti Raja dan berusaha menyamakan langkah mereka. Langkah Raja cukup cepat, sehingga mereka sedikit kewalahan untuk menyusul Raja.


"Ini orang sadis bener, ya, mukanya," bisik Leni.


"Tapi cuma dia yang mau bantu kita, dan Setidaknya kalau dia ada sama kita, aku nggak terlalu takut kalau nanti ketemu orang yang mirip seperti Fauzan. Atau bahkan kalau nanti Apri juga kesurupan seperti Fauzan, kita nggak perlu takut lagi. Dia pasti bisa mengalahkan setan yang masuk ke tubuh Apri."


"ish, jangan ngomong sembarangan kalian ih!" sergah Rea.


"Ini kenyataan, Rea!"

__ADS_1


Alhasil mereka pun berdebat tentang sosok Raja yang terlihat dingin tapi memiliki kekuatan dan kemampuan yang membuat mereka kagum.


"Aku nggak sangka kalau Pak Wiryo punya anak yang cakep dan cool gitu," bisik Diah pada Rea.


"Sst! Nanti dia dengar!"


"Ya biar. Lagi pula emang kenyataan kok."


"Di, jangan berhenti teleponnya. Kita nggak tahu di sebelah mana Apri," cetus Leni.


"Iya, ini masih aku teleponin!"


Suara dering telepon masih terdengar dari tempat mereka berjalan, dan suara yang tadinya hanya samar samar, kini mulai lebih jelas dan keras. Artinya mereka sudah mulai dekat dengan tempat ponsel Apri berada.


Tapi tiba-tiba suara yang awalnya hanya dering telepon yang khas dari ponsel Diah, berubah menjadi suara gemerisik daun yang terinjak. Diah yang pertama kali mendengar hal itu lantas segera berhenti berjalan dan menatap ponselnya. Layar yang awalnya masih dalam kondisi memanggil, kini berubah menjadi posisi terjawab oleh seseorang di seberang. Layar mulai menunjukkan detik demi detik panggilan tersebut berlangsung.


"Eh, diangkat!" seru Diah sambil menatap teman-temannya.


Alhasil mereka semua berhenti berjalan dan memperhatikan ponsel Diah.


"Coba di loudspeaker!" pinta Rea.


Dia menurut dan segera menekan tombol speaker, dan suara tersebut makin jelas terdengar. Raja lantas menyapu pandang sekitar. Namun sampai sekarang dia tidak melihat adanya pergerakan manusia ataupun cahaya yang berasal dari layar ponsel.


"Halo? Apri? Apri kamu di mana?" tanya Diah mulai menginterogasi.


Namun tidak ada satupun suara manusia yang terdengar. Sejak tadi hanya ada suara berisik di seberang.


"Jangan jangan terjadi sesuatu sama Apri, dan dia nggak bisa bicara?" tanya Leni dengan membawa kemungkinan yang membuat mereka makin cemas.


"Duh, jangan dong. Apri jangan sampai kenapa kenapa!" sergah Ita.


"Ya kan, mungkin, Ta. Bukannya aku mau mendoakan yang nggak baik. Soalnya suara Apri dari tadi nggak kedengeran."


"Sst. Udah, jangan berdebat. Kita coba dengarkan lagi. Mungkin Apri sebentar lagi bisa bicara sama kita," tandas Rea optimis.


Dia kembali memanggil nama Apri. Dari panggilan lembut hingga nada tinggi. "Jangan main-mainnya! Siapapun lo di sana, kalau sampai temen gue kenapa napa, awas aja! Gue bakal babat habis hutan itu, biar kalian nggak punya tempat tinggal lagi! Biar rasa!" omel Diah dan membuat Rea menutup mulut temannya itu.


"Biarin aja, Re! Habisnya dia ... Bhhhhfff. Re! Ffftttt." Diah kesulitan berbicara karena Rea terus berusaha menutup mulutnya. Wajar saja jika Diah emosi, karena setiap manusia tentu memiliki tingkat kesabaran yang berbeda.


"Ssst. Jangan ngomong sembarang, Di!" omel Rea.


Namun suara gemerisik dari dedaunan yang ada di seberang telepon, berubah menjadi geraman dengan suara berat.


"ssst. Ada suara!" kata Raja sambil menyuruh mereka diam.


Mereka semua diam, berusaha untuk tidak mengeluarkan sepatah kata pun bahkan suara sekecil apapun. Suara geraman yang terdengar diawal kini berubah menjadi cekikikan. Lalu tak lama kemudian menjadi suara tangisan. Raja lantas menatap 4 gadis itu lekat-lekat, begitupun dengan mereka berempat.


"Gimana nih?" tanya Rea sambil berbisik.


"Apri bukan sih?" tanya Leni ikut berbisik.


"Kalau bukan Apri, terus siapa? setan?"


"Kalau ini Apri berarti dia kesurupan dong!"


"Siapa kamu?" tanya Raja lantang.


"Hihihi. Kalian mencari anak gadis ini bukan?" tanya sebuah suara yang mereka hapal betul, kalau suara itu adalah milik Apri.


"Suara Apri!" bisik Ita ke Raja.


" Siapa kamu? Sebaiknya kamu jangan melukai anak gadis itu! Kami juga tidak Mengusik kamu bukan?" tanya Raja berusaha bernegosiasi.


" tidak Mengusik? Kata siapa? Justru kalian telah menyandera salah satu anak buah ku! Jadi kalau kalian ingin gadis ini selamat, mari kita bertukar tempat."


" anak buahmu yang mana? Fauzan maksudmu?" tanya Raja.


"Yah, Fauzan. Dia adalah anak buah ku yang paling setia. Jadi lepas kan dia, dan aku akan mengembalikan gadis ini tanpa kurang satu apapun."


Raja tidak langsung menjawab pertanyaan iblis itu. Dia tampak Sedang berpikir keras. Memang syarat yang diajukan oleh sang iblis sangat mudah. Kembalikan Fauzan ke hutan tersebut maka situasinya akan terkendali lagi. Hanya saja jika dia memberikan Fauzan kembali ke iblis itu, maka kemungkinan besar kejadian-kejadian buruk akan kembali terulang. Entar akan berimbas pada Desa Tabuk Hilir, atau desa yang lainnya. Bahkan bisa saja mengancam kota lain dan beberapa tempat di seluruh dunia.


" kami akan berdiskusi terlebih dahulu sebelum memutuskan hal ini!" kata Raja.


Telepon pun dimatikan. Raja memperhatikan ke arah hutan terlarang. Di sana dia bisa melihat seseorang yang sedang berdiri menatap ke arah mereka. Bisa ditebak kalau sosok itu adalah Apri yang sedang dirasuki oleh roh jahat.


"Jadi gimana, Ja? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Rea.


" saya juga bingung. Karena pilihan yang diberikan sangat sulit untuk diputuskan. Jujur saja saya tidak bisa memilih salah satu dari pilihan itu. Karena jika kita memilih mengembalikan Fauzan kepada mereka, maka kemungkinan akan ada bencana lain yang terjadi. Saya yakin jika sampai makhluk itu berhasil menguasai Fauzan sepenuhnya, maka bencana yang terjadi tidak hanya di daerah sini saja. Kekuatan Fauzan akan bertambah dan terus bertambah jika tidak disembuhkan. Tapi jika kita tidak mengembalikan Fauzan, maka teman kalian akan bernasib sama seperti Fauzan. Para iblis itu hanya membutuhkan tubuh manusia sebagai Inang. Siapapun yang memiliki karakter buruk dan ketakutan serta kecemasan yang paling menonjol, akan sangat mudah untuk dikuasai!"


" kalau memang seperti itu, Apri bisa menjadi sasaran selanjutnya dong! Apa yang harus kita lakukan?"


" itu dia yang sedang saya pikirkan. Bagaimana menurut kalian? Apakah kalian punya solusi, kalau kalian bisa memilih salah satu dari teman kalian itu untuk diambil oleh mereka?"


Pertanyaan Raja benar-benar sulit untuk dijawab. Walau dalam lubuk hati mereka, tidak mempermasalahkan jika Fauzan dibawa oleh iblis tersebut. Tapi efek atau dampak yang akan terjadi nanti justru akan lebih membahayakan ketimbang apa yang sudah mereka alami di hutan terlarang selama ini.

__ADS_1


__ADS_2