
Malam itu Leni sudah masuk ke dalam kamar. Dia mudah lelah bahkan untuk kegiatan yang terbilang mudah. Jam baru menunjukkan pukul 10 malam. Leni yang baru saja menyelesaikan tugas tugas kuliahnya Kini ingin segera naik ke ranjang dan tidur. Baru saja ia naik ke atas kasur sambil memejamkan mata dan memeluk guling, Leni dikejutkan dengan suara garukan di tembok. Dia Menajamkan pendengarannya untuk bisa mengetahui sumber dari suara tersebut berasal. Hanya saja Leni yang penasaran lantas mencari sumber suara tersebut. Anehnya saat Leni terus mencari suara tersebut suara itu Justru malah lenyap. Leni mengintip dari balik horden kamarnya. Di depan jendela kamarnya terdapat kebun kebun singkong yang tidak terawat.
Akhirnya Leni terkejut saat melihat ke kebun singkong di depannya, samar-samar Leni melihat ada bayangan putih berdiri diantara pohon pisang. Ia segera menutup kembali gorden kamarnya. Dia ketakutan karena apa yang dilihatnya merupakan sosok yang mengerikan.
Sosok wanita yang dilihat oleh Leni, memiliki rambut panjang yang acak-acakan. Gaun putih panjang menjuntai sampai tanah membuat kedua kaki wanita itu tertutup. Padahal jika dibuka, maka akan tampak kalau dia tidak menginjak tanah.
Dengan cepat dia segera naik ke atas ranjang. Menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dengan tubuh yang bergetar hebat karena ketakutan yang sedang dirasakan saat ini. Leni tidak berani mengintip ataupun melihat keluar. Dia hanya mampu bersembunyi sambil menunggu makhluk itu menghilang dari tempatnya tadi. Leni tidak menyangka kaan kembali melihat sosok seperti apa yang dialami di hutan tempo hari. Leni masih sangat trauma. Akhirnya seseorang mengetuk pintu kamarnya. Hal ini justru membuat Leni makin merapatkan selimut. Dia makin ketakutan dan membayangkan jika sosok itu yang mendekat dan kini berada di depan pintu kamarnya. Namun ketakutan itu sirna saat suara yang di balik pintu memanggil namanya.
"Len? leni ... kamu sudah tidur?"
"Belum, Bu! Sebentar!" sahut Leni lalu akhirnya berani untuk keluar dari dalam selimut dan bergegas menuju ke arah pintu.
Saat sampai di depan pintu kamar, Leni segera membuka pintu tersebut. "Ada apa, B- U." kalimat Leni terbata-bata. Saat mengetahui kalau ternyata tidak ada satu orang pun yang berada di depan pintu kamarnya.
Leni menelan ludah, tubuhnya seakan-akan membeku. Hanya saja rasa penasaran itu seakan akan mengalahkan ketakutannya. Dia melangkahkan kaki ke depan pintu. Lalu tengok kanan dan kiri yang ternyata sepi. Tidak terlihat adanya aktivitas apa pun di luar kamarnya. Ruang tengah juga sudah gelap yang artinya orangtuanya sudah berada di dalam kamar untuk tidur.
Leni penasaran karena dia yakin sekali kalau suara yang tadi memanggilnya adalah suara ibunya sendiri. Tapi dia melangkah lagi lebih jauh dari kamar menuju ke ruang tengah. Di mana kamar ibunya berdekatan dengan lorong yang akan menuju ke dapur. Suasana benar-benar terasa sunyi. Keheningan rumahnya membuat Leni makin ketakutan. Bulu kuduknya meremang. Yang ada dipikirannya sekarang adalah ingin segera menemui ibunya. Dia memang aku tipe anak yang pemberani tapi juga pengecut.
Begitu sampai di ruang tengah, Leni tidak berniat untuk tengok kanan kiri maupun belakang. Dia justru mempercepat langkahnya agar bisa sampai ke kamar orang tuanya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Dari ujung ekor mata, Leni merasakan ada kehadiran seseorang. Sosok itu seperti sedang duduk di sofa yang berada di ruang tengah.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana?" tanya seorang wanita yang suaranya sama seperti yang tadi dia dengar di kamar. Entah mengapa tubuh Leni jadi sangat kaku. Padahal dia ingin segera meninggalkan ruang tengah, karena firasatnya tidak enak. Sekalipun suara itu memang suara ibunya, tapi dia tidak yakin kalau sosok itu adalah ibunya sendiri. Apalagi di tengah kegelapan, sendirian, merupakan hal aneh yang tidak mungkin dilakukan oleh Retno.
Bahkan Retno adalah orang yang lebih pengecut daripada Leni. Jadi rasanya tidak mungkin kalau dia tiba-tiba duduk seorang diri di ruang tengah tanpa penerangan sama sekali. Saya saja Sekuat apapun keinginan Leni untuk tidak melihat Aku menoleh ke arah ibunya itu, justru otomatis menoleh ke tempat yang tidak dia inginkan.
Tapi begitu Leni menoleh, dia justru menemukan sosok ibu nya yang sedang duduk di sofa sendirian.
"Bu? lagi ngapain?" tanya Leni terkejut sekaligus cemas.
"Sini, Len," ajak ibunya Leni sambil Melambaikan tangan menyuruh Leni untuk segera duduk bersamanya. Tapi sikapnya itu justru membuat Leni merasa ada sesuatu yang aneh dan janggal pada ibunya.
leni tidak ingin mendekat. Tapi entah mengapa kakinya seakan akan tertarik untuk mau mendekat ke tempat ibunya yang sedang duduk sekarang.
Lama kelamaan Leni merasa kalau sosok yang ada di hadapannya ibu kandungnya.
"Ibu kenapa ada di sini? bukan nya tidur? kan sudah malam," kata Leni dengan perhatian layaknya anak ke orang tuanya. " iya, ibu gak bisa tidur." Retno terlihat memelas. Seperti sedang menanggung beban yang sangat berat. Leny merasa Iba. Apalagi dia pernah memergoki kedua orang tuanya bertengkar hebat. Jadi kali ini dia berpikir kalau ibunya sedang bertengkar dengan ayahnya. Bagaimanapun juga Leni sangat menyayangi ibunya. Apalagi setelah kematian adik kandungnya yang berumur 15 tahun membuat kehidupan keluarga nya sedikit berantakan.
Setelah yakin Leni pun akhirnya kepada Retno. Dia kini sedang duduk di samping Retno sambil mengelus elus punggung ibunya.
"Ada masalah apa sih, Bu. sama Bapak, kah!"
__ADS_1
" Ibu sudah gak tahan hidup sama bapakmu, Len. Bapakmu itu keterlaluan. Dia selalu berjudi sehingga membuat harta kita terus berkurang."
""Terus maunya Ibu gimana?" tanya Leni bingung.
.
" Ibu mau kamu mengembalikan bunga dari hutan itu," kata Retno lalu menoleh ke arah Leni dengan tatapan menyeramkan.
Sadar ada hal yang aneh kini Leni mundur perlahan menjauhi ibunya. Di saat yang bersamaan Retno justru menyeringai dengan seringai yang mengerikan.
kini Ratna bukan hanya menyeringai saja. Boleh tertawa melengking keranjang dari tempat duduknya. "Siapa kamu?"
"Aku ibumu, Nak!"
"bukan! kamu bukan ibuku! jadi siapa kamu seberani ini!"
Retno terus beranjak dari duduknya dan menyeringai sambil terus mengikuti langkah Leni. Leni yang ketakutan terus mundur dan mundur. Hingga sebuah vas bunga terjatuh karena dirinya tidak sengaja menjatuhkannya. Kini Retno terus berjalan dengan tangan menjulur ke arah Leni.
" kamu harus mengembalikan bunga itu!" ancam Retno dengan suara yang berubah seperti laki laki.
__ADS_1