
Jaka sudah dipastikan benar-benar meninggal. Setelah diperiksa oleh tim khusus. Akhirnya dua orang tim tersebut membawa tubuh Jaka pergi, kembali ke desa. Perjalanan tidak berhenti hanya sampai di situ saja. Mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan tujuan satu lagi. Yaitu desa yang disebut sebagai desa mati karena ternyata seluruh warga desanya telah meninggal secara bersamaan. Memang di antara warga desa Tabuk Hulu dan Desa Tabuk Hilir jarang saling bertemu apalagi sampai bertegur sapa. Karena letak desa yang terhalang hutan-hutan di sekitar membuat desa Tabuk Hilir lebih terisolasi dari dunia luar. Berbeda dengan Desa Tabuk Hulu yang justru masih sering beraktifitas dengan para pegawai pemerintahan daerah, bahkan sering mendapatkan bantuan kesehatan dari kota.
Ada mitos yang beredar kalau warga desa Tabuk Hilir justru merupakan kelompok suku Punan.
Suku Punan adalah salah satu rumpun Suku Dayak paling tua yang sebarannya cukup signifikan di wilayah Pulau Kalimantan. Istilah Punan sendiri lebih dipandang sebagai sebutan umum untuk kelompok masyarakat pemburu dan peramu yang dulu hidup secara berpindah-pindah di hutan Kalimantan. Oleh karena itu, suku ini dikenal sebagai "penjaga hutan rimba", karena hidup dan sebaran populasinya banyak ditemui di dalam hutan dan terpisah dari sub-sub Suku Dayak lainnya.
Sejak zaman dulu, pemerintah telah melabeli Suku Dayak Punan sebagai suku terasing, sama halnya dengan Suku Kubu di Sumatera. Pelabelan ini tentunya tidak lepas dari pola hidup mereka yang berpindah-pindah di dalam hutan, tidak memiliki tempat tinggal permanen karena mengikuti ritme alam. Suku Punan kerap berpindah-pindah bukan semata-mata karena mengikuti siklus alam, tetapi juga untuk menemukan rasa aman dan jauh dari gangguan suku lain. Berburu, mencari sagu, menangkap ikan, dan mengolah tumbuhan menjadi tradisi yang terus diwariskan secara turun-temurun.
Hal yang masih dipertahankan sejak dulu adalah hidup secara berkelompok dalam hutan dan terpisah dari sub Suku Dayak lain. tidak dapat dimungkiri bahwa seiring perkembangan zaman, sudah ada beberapa generasi Suku Punan yang hidup berdampingan dengan Suku Dayak lain dan suku-suku pendatang. Sejak akhir abad ke-19, Suku Punan diketahui telah mulai bermukim di dusun-dusun kecil. Kemudian memasuki abad ke-20, mereka melakukan perladangan sebagaimana Suku Dayak lainnya dengan budidaya tanaman pangan seperti padi dan ubi-ubian.
Kendati demikian, Suku Punan hingga kini masih terus dikenal sebagai "penjaga hutan rimba". Persebaran Suku Punan Suku Punan dianggap sebagai suku bangsa yang hidup berpindah-pindah di pedalaman Provinsi Kalimantan Barat sampai ke wilayah Kalimantan Timur, Tengah, dan Selatan. Bertambahnya jumlah anggota dalam suku yang kian masif membuat Suku Punan harus menyebar agar dapat bertahan hidup
Mulailah mereka memisahkan diri dan membentuk kelompok kecil untuk mencari wilayah sendiri. Hal ini membuat Suku Dayak Punan akhirnya menyebar dan umumnya tinggal di bagian hulu sungai bahkan di tengah hutan yang sangat terpencil. Di wilayah Kalimantan Barat, mereka terutama berada di sekitar hulu-hulu anak Sungai Kapuas. Di Kalimantan Timur, Suku Punan berdiam di Kabupaten Balungan, selain itu juga di Kabupaten Kutai seperti di Kecamatan Tabang.
Berdasarkan cerita yang ada, asal-usul Suku Punan berasal dari negeri Yunnan, daratan Cina. Mereka dari salah satu kerajaan Cina yang kalah dalam berperang, lalu mereka lari menggunakan perahu hingga ke Pulau Borneo. Karena merasa aman, mereka pun menetap di daratan tersebut. Selain itu, ada juga Dayak Punan yang tersebar di Sabah dan Serawak, Malaysia Timur, dan wilayah lainnya yang masih menjadi bagian Kalimantan. Menurut keterangan warga setempat, Suku Punan ditakuti oleh banyak orang karena beringas. Di antara 400-an Suku Dayak yang ada di Kalimantan, Dayak Punan adalah suku yang memiliki segala "kelebihan" di antara Suku Dayak lainnya. Suku ini dikenal sebagai suku yang paling tangguh, hebat saat berperang dan berburu, hingga dapat bertahan hidup di hutan.
Begitulah asal muasal warga Desa Tabuk Hilir. Hanya saja seiring perkembangan zaman, label orang Punan sudah tidak begitu melekat dalam diri mereka, karena mereka sudah tinggal menetap di desa tersebut hampir dua dekade lamanya. Mereka mulai menetap, namun masih terasing dengan dunia luar. Bahkan mereka sering menolak orang luar masuk ke desa mereka. Karena itulah mereka tidak dikenal oleh warga desa di wilayah lain. Dan warga desa di wilayah lain seakan memaklumi hal tersebut karena masa lalu warga desa Tabuk Hilir adalah orang Punan. Mereka bahkan belum pernah datang ke desa Tabuk Hilir seumur hidup mereka. Walau Pak Wiryo kerap berkeliling hutan mencari kayu bakar atau rumput untuk pakan ternak, tapi dia juga belum pernah menginjakkan kaki ke desa tersebut.
"Itu di sana, Pak," tunjuk Dana yang memang memutuskan untuk ikut dalam misi ini. Untungnya mereka tidak mengalami luka yang serius, sehingga masih kuat berjalan, untuk kembali ke desa mati itu. Mereka sampai di gapura desa yang memang terlihat kusam dan lapuk. Sebuah rumah ada di situ, dan tampak sepi. Dengan hati-hati mereka masuk dan mencari warga desa lain yang disebutkan oleh rombongan Dana dan kawan-kawan.
Rumah itu adalah rumah yang pertama kali dilihat oleh Dana dan teman-temannya saat tersesat tempo hari. Rumah yang memberikan cahaya harapan bagi mereka, walau berakhir menjadi tragedi. Namun, Dana, Hani, dan Blendoz tidak melihat ada penghuni rumah tersebut yang biasanya ada di sekitar, seperti yang mereka temui kemarin. Rumah itu tampak kosong. Mereka pun melanjutkan memasuki desa tersebut. Namun anehnya, suasana desa yang biasanya ramai di jam-jam seperti sekarang mendadak sepi. Bahkan tidak ada suara hewan sekalipun yang terdengar. Semua sunyi, dan justru membuat bulu kuduk merinding.
Tapi dengan demikian maka pernyataan Rea dan teman-temannya tentu masuk akal bagi mereka semua, terutama para tim pasukan khusus yang pada awalnya sempat meragukan penuturan mereka. Rumah-rumah penduduk mulai tampak, tapi mereka belum menemukan satu pun warga desa yang tinggal di sekitar. Sampai akhirnya satu persatu rumah disusuri, dan sontak mereka semua terkejut begitu melihat ada tubuh yang tergeletak begitu saja di tiap rumah yang mereka datangi.
Denyut nadi dan nafas mereka sudah tidak ada, yang menandakan kalau mereka sudah meninggal. Hingga akhirnya mulai tercium bau busuk yang ternyata berasal dari para mayat tersebut.
"Kapt, sepertinya mereka sudah lama meninggal. Tubuh mereka masih baru, tapi di dalamnya sudah busuk," ujar salah satu anggota tim pasukan khusus yang memang bertugas memeriksa tubuh para mayat itu.
Yah, tubuh mereka masih terlihat baik-baik saja. Jika memang mereka sudah meninggal, maka pasti baru beberapa jam saja, karena tubuh mereka masih segar. Hanya saja, aroma busuk yang tercium justru berasal dari dalam tubuh mereka, yang sudah membusuk cukup lama.
"Ya sudah, angkat mayat-mayat itu dan kita bawa mereka semua untuk diperiksa."
"Baik, Kapt!"
Hanya saja begitu mayat itu di angkat, tiba-tiba seluruh tubuhnya remuk. Hancur. Otomatis semua orang langsung menyingkir dan mual-mual, karena bau busuk yang tercium makin menyengat. Bahkan ada asap yang tiba-tiba keluar saat tubuh itu hancur dan berjatuhan ke lantai.
Mereka saling tatap, bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Hingga akhirnya Pak Wiryo pun mendekati kapten. "Sepertinya perkataan anak muda tadi benar. Mereka semua sudah meninggal cukup lama,hanya saja pengaruh dari orang tadi, yang bernama Jaka, membuat tubuh mereka masih awet. Tapi rupanya hanya bagian luar saja, bagian dalamnya tetap saja sudah busuk semua," jelas Pak Wiryo berbisik, walau demikian hampir seluruh orang di tempat tersebut mampu mendengar perkataannya dan menyetujui analisisnya.
"Jadi bagaimana, Kapt. Apakah kita akan tetap membawa mereka kembali?"
Sang kapten lantas diam beberapa saat, hingga akhirnya dia menarik nafas panjang. " Ya sudah. Tidak perlu. Karena akan percuma nanti. Saat kita bawa ke markas, mereka justru akan semakin membusuk. Sebaiknya kita kuburkan saja mereka semua di sini."
Akhirnya mereka membuat sebuah kuburan massal di desa tersebut. Seluruh mayat dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam lubang besar itu, dan akhirnya dikuburkan. Walau bukan termasuk salah satu cara menguburkan yang layak, tapi melihat kondisi para mayat yang sudah hancur seperti itu, membuat langkah ini adalah cara yang terbaik.
"Lalu bagaimana dengan rumah-rumah ini. Apakah kita biarkan saja?"
"Bagaiamana Pak Wiryo, menurut bapak apakah kita perlu membumihanguskan tempat ini juga atau tidak? Mengingat pernah ada pembantaian di sini, dan mungkin ada manusia seperti Jaka lagi dikemudian hari."
"Sebaiknya biarkan saja, Kapt. Karena arwah-arwah warga desa pasti akan mencari keberadaan rumah mereka nanti. Percaya tidak percaya, mereka masih ada di sini, sedang menatap kita, dan berterima kasih telah dikuburkan dengan layak. Mereka tersiksa selama ini karena apa yang telah dilakukan oleh Jaka, telah menghalangi jiwa mereka terbebas dari belenggu iblis."
"Baiklah kalau begitu. Kita biarkan saja rumah-rumah di sini. Mungkin sesekali akan dilakukan patroli agar kejadian serupa tidak lagi terjadi di sini."
__ADS_1
"Baik, Kapt. Saya akan sering-sering datang untuk memeriksa tempat ini lagi nanti. Anda tidak perlu cemas."
Acara penguburan menjadi hal terakhir yang mereka lakukan sebelum memutuskan kembali ke Desa Tabuk Hulu. Mereka pun lega, karena satu persatu masalah telah diselesaikan dengan baik. Setidaknya sumber masalah sudah dilumpuhkan dan tidak akan lagi menjadi ketakutan untuk warga desa di wilayah lain. Karena berita ini pasti akan segera cepat tersebar, dan semua warga desa di wilayah lain tentu akan dengan cepat mengetahui nya. Namun jika mereka sudah tahu, kalau orang yang bertanggung jawab atas tragedi ini sudah meninggal, maka tidak akan ada lagi kericuhan yang mungkin akan timbul akibat insiden ini.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka akan kembali ke desa Tabuk Hulu. Perjalanan pulang menuju Desa Tabuk Hulu tidak terlalu tergesa-gesa atau penuh dengan kewaspadaan seperti saat berangkat tadi. Mereka mulai Mengisi waktu luang dengan mengobrol santai sambil menikmati suasana hutan di sekitar. Pak Wiryo dan Kapten tim berjalan di tengah-tengah rombongan. Mereka masih berdiskusi tentang permasalahan yang sedang mereka hadapi sekarang.
"Di sini Aura mistis memang masih sangat kental, kapten. Jadi kita juga tidak bisa menelaah kejadian yang tadi kita lihat dari sisi ilmiah saja," tukas Pak Wiryo.
"Iya, itu betul Pak. Saya sempat kebingungan tadi. Karena saya dengan tim baru pernah mengalami kejadian seperti ini."
"Yah, Saya yakin kalau orang-orang di kota Tidak semua yang akan bisa menerima dengan lapang dada mengenai kasus-kasus seperti ini. Hanya segelintir orang yang paham dan mengerti."
Kapten mengangguk-angguk. " kalau menurut Pak Wiryo sendiri, apa yang sudah dilakukan oleh Jaka? Bagaimana bisa dia menghidupkan seluruh warga desa Tabuk Hilir yang jelas-jelas sudah meninggal beberapa bulan yang lalu."
" Tentu saja itu semua karena sihir. Jaka adalah Penganut aliran sesat. Sebenarnya ada salah satu cerita legenda yang terjadi di sekitaran wilayah ini," cetus Pak Wiryo sambil menunjuk dan memutarinya.
"Legenda seperti apa, Pak?"
"Dulu ada sebuah kejadian yang masih menjadi cerita rakyat di tempat ini secara turun temurun. Ada seseorang yang telah membawa iblis dan memenjarakannya di salah satu hutan di wilayah ini. Iblis ini sangat kuat. Jika sampai dia lolos dan lepas, maka tatanan kehidupan manusia akan goyah. Menurut leluhur kami, iblis itu dipenjara di sebuah sumur tua di pedalaman hutan. Kami semua menyebutnya hutan terlarang. Sejak saat itu tidak ada yang berani memasuki kawasan hutan tersebut. Bahkan hutan itu diberikan pagar keliling guna menghindari jika ada warga desa yang tersesat dan tiba-tiba memasuki kawasan tersebut. Semua berjalan dengan baik hingga beberapa tahun setelahnya. Hanya saja lama-kelamaan legenda mengenai iblis yang dipenjara di sumur tua itu mulai menarik perhatian para manusia pengikut aliran sesat, atau mungkin bisa disebut dengan penyembah iblis."
"Seperti Jaka?"
"Iya betul, seperti Jaka. Mereka justru dengan berani dan tanpa rasa takut memasuki hutan dan mencari di mana letak sumur tua itu. Beberapa berhasil, mendapatkan imbalan apa pun sesuai keinginan mereka. Entah itu kekayaan, kejayaan, percintaan, atau ilmu-ilmu kebal."
"Semacam pesugihan, Pak?"
"Yah, bisa dibilang seperti itu. Karena tumbal yang harus mereka persembahkan, biasanya kita menyebutnya dengan istilah pesugihan. Tapi sebenarnya mereka hanya diperdaya dengan kenikmatan sesaat. Karena tujuan iblis itu justru harus segera keluar dari sumur, agar bisa lebih leluasa bergerak."
"Tunggu, Pak. Jika memang mereka memuja iblis itu, bagaimana caranya mereka saling berkomunikasi, dan apakah iblis itu bisa mendapatkan keinginannya sementara dirinya ada di dalam kurungan?"
"Untuk apa, Pak?"
"Untuk kekuatan. Agar ilmu yang dia miliki makin berkembang pesat, sehingga dia akan sulit untuk dikalahkan. Sambil menunggu, dia memakan jiwa-jiwa manusia hasil dari tumbal. Dia memakan jiwa banyak manusia agar memiliki kekuatan untuk melepaskan iblis itu dari kurungan. Sebenarnya ada satu hal yang paling mudah bisa dilakukan, untuk melepaskan iblis itu tanpa menunggu waktu yang lama seperti ini."
"Apa itu, Pak?"
"Sebuah jiwa murni. Jiwa ini hanya dimiliki seseorang setiap satu generasi."
"Maksudnya bagaimana, Pak?"
"Ada sebuah jiwa yang murni, dan paling murni yang sangat kuat. Walau pemilik jiwa itu biasanya tidak akan menyadari kekuatannya, tapi jiwa itulah yang justru menjadi kuncu utama iblis itu bisa keluar dari kurungan. Saya pikir, mereka sedang mencari jiwa tersebut."
"Wow, sungguh hal yang baru, yang saya dapatkan."
"Kalian tidak percaya dengan kisah ini, kan? Iblis yang terpenjara dan jiwa murni tersebut? Biasanya para tentara atau orang berilmu tidak memercayai hal mistis seperti ini."
"Ah, tidak juga, Pak. Justru saya dan beberapa tim pernah mengalami hal mistis seperti ini. Eum, maksudnya sesuatu yang diakibatkan oleh setan, iblis dan sejenisnya. Saat itu saya sedang bertugas di sebuah negara kecil di Amerika Serikat. Di sana ada sebuah kasus teror yang membuat kami harus turun tangan ke sana. Kebetulan di tempat itu ada beberapa komunitas orang Indonesia yang menjadi warga tetap, mereka bekerja, dan menempuh pendidikan di sana. Lalu ada seseorang yang melakukan serangan teror, namun ada yang aneh yang kami temukan saat itu."
"Hal aneh apa?"
"Saat kami hendak menyergap dia, tiba-tiba mata orang tersebut berubah menjadi hitam. Memang hanya beberapa detik saja, tapi setelah itu dampaknya sangat besar. Dia memiliki kekuatan yang sangat besar, dan membuat kami semua kewalahan."
__ADS_1
"Iblis. Itu perbuatan iblis."
"Bagaimana bapak tahu?"
"Karena jika kita kesurupan iblis, maka bola mata akan berubah menjadi hitam dan hanya berlangsung beberapa detik saja. Itu menurut pengalaman leluhur kami terdahulu. Karena iblis yang terkurung pernah mengacaukan desa kami dan merasuki salah satu warga. Katanya mata orang itu berubah menjadi hitam."
"Benar sekali, Pak. Akhirnya setelah kami kesulitan, kami memanggil pendeta dan dilakukanlah upacara eksorsisme. "
Eksorsisme adalah sebuah praktik untuk mengusir atau makhluk halus atau jahat lainnya dari seseorang atau suatu tempat yang dipercaya sedang kerasukan setan. Praktik ini sudah cukup tua dan menjadi bagian dari sistem kepercayaan (agama) di berbagai negara.
Orang yang melakukan eksorsisme, dikenal dengan sebutan eksorsis, sering kali adalah seorang rohaniwan atau seseorang yang dipercaya memiliki kekuatan atau kemampuan khusus. Eksorsis bisa menggunakan hal-hal religius lainnya, seperti mantra, gerak-gerik, simbol, gambar/patung orang suci, jimat, dan yang lainnya. Sang eksorsis sering kali memohon bantuan Tuhan, Yesus dan/atau beberapa dan lainnya untuk ikut campur di dalam eksorsisme.
Secara umum, orang yang sedang kerasukan setan tidak dianggap sebagai setan itu sendiri, termasuk juga sama sekali tidak bertanggung-jawab akan tindakan orang itu sendiri. Oleh karena itu, para pelakunya menganggap eksorsisme lebih sebagai suatu penyembuhan daripada suatu hukuman. Ritual-ritual yang umum akan hal ini biasanya memperhatikan unsur tersebut, memastikan bahwa tidak akan terjadi kekerasan terhadap diri orang yang kerasukan itu. Apabila ada potensi terjadinya kekerasan, maka orang yang sedang kerasukan itu biasanya hanya direbahkan dan diikat.
Perjalanan pulang mereka tidak terlalu melelahkan. Tanpa terasa mereka sudah hampir setengah perjalanan. "Tunggu, sepertinya kita salah jalan. Ini bukan jalur yang tadi kita lewati," ujar Pak Wiryo, lalu menatap sekitar. Para warga desa yang ikut perjalanan kali ini juga merasakan hal yang sama.
"Benar, Pak. Padahal kita tadi melewati jalur yang sebelumnya. Kenapa bisa sampai di sini?"
Pernyataan tersebut membuat mereka semua mulai kebingungan. Terutama para warga desa yang ikut dalam misi ini. "Dim, kalian salah ambil jalur?" tanya Kapten pada prajurit yang berada di barisan terdepan.
"Tidak, Kapt. Kami yakin melewati jalur yang tadi. Tapi ... entah kenapa berubah seperti ini," sahutnya berusaha membela diri. Sang Kapten pun juga merasa jika jalur yang mereka ambil adalah jalur yang semestinya. Walau dia sibuk berdiskusi sejak tadi dengan Pak Wiryo, tapi dia tetap bisa fokus pada sekitar. Dia tetap waspada dengan kondisi di sekitar mereka, karena dia sudah di didik dengan cukup keras untuk siap dengan segala kondisi apa pun.
"Memangnya kenapa, Pak? Apakah tidak ada jalan keluar untuk kembali ke desa dari jalur ini?" tanya Kapten kebingungan. Dia pun merasa jika jalur yang mereka tempuh adalah jalur yang sama, seperti saat mereka datang tadi.
"Bisa. Hanya saja ... Kita harus melewati hutan terlarang untuk bisa kembali ke desa."
"Hutan terlarang yang tadi kita bicarakan?"
"Iya. Dan ... Itulah tempat yang saya maksud," tunjuk Pak Wiryo ke sebuah rimbunan pepohonan dengan kondisi yang lebih gelap dari hutan lainnya. " Sepertinya sang iblis tahu kalau kita tadi membicarakannya," bisik Pak Wiryo dan segera berjalan lebih dulu memasuki tempat tersebut.
Akhirnya mereka pun memasuki hutan terlarang. Sebuah tempat keramat yang memang terlarang bagi warga desa sekitar. "Pak Wiryo, apa tidak apa-apa jika kita masuk ke dalam," cegah salah satu warga desa. Sebagian wara desa Tabuk Hulu memang sama sekali tidak mau memasuki hutan itu apa pun yang terjadi. Berbeda dengan Pak Wiryo yang masih mau masuk ke huatn itu hanya sekedar mencari kayu bakar, atau pakan ternak. Bahkan dia juga kerap mengambil buah-buahan yang tumbuh liar di hutan tersebut. Tapi tetap saja, Pak Wiryo tidak berani memasuki hutan lebih dalam, apalagi saat sendirian. Dia pantang mendekati sumur tua yang menjadi kurungan sang iblis. Karena Pak Wiryo sangat paham bagaimana pengaruh iblis itu walau dia berada di dalam kurungan.
Sejak masuk ke dalam hutan, mereka semua terdiam, seakan-akan suasana berubah menjadi mencekam. Tidak seperti sebelumnya yang terkesan santai. Tidak ada satu orang pun yang berbicara. Semua justru memperhatikan sekitar dengan tatapan waspada. Seolah-olah ada musuh yang sedang mengintai mereka sejak masuk ke dalam hutan itu. Sampai akhirnya langkah mereka justru berjalan makin masuk ke dalam hutan dan sontak semua berhenti berjalan saat melihat ada sebuah sumur tua di tengah-tengah hutan.
"Itu ... Bukannya sumur tua itu," gumam salah satu warga desa dengan menunjuk ke arah yang ia lihat. Tangannya terlihat bergetar. Tapi temannya justru buru-buru menarik nya agar berhenti menunjuk.
"Pak, Bagaimana ini?" tanya Riswan.
"Ayo, kita lanjutkan perjalanan. Jangan sampai kita sampai desa saat tengah hari."
Saat mereka berjalan meninggalkan hutan itu, tiba-tiba ada seseorang yang terjatuh dari sebuah pohon tak jauh dari sumur tersebut. Pria yang dalam keadaan terikat kaki dan tangan itu berteriak meminta tolong. Para tim pasukan khusus diam sejenak. Mereka menatap pria yang tiba-tiba muncul itu lekat-lekat.
"Dim, tolong dia," suruh Kapten.
"Baik, Kapt."
Ikatan tangan dan kakinya segera dilepaskan. Tim lainnya terus waspada dengan senjata di tangan masing-masing. Berjaga-jaga jika ada gerakan mendadak dari orang asing itu yang akan merugikan mereka.
"Tolong saya, Pak."Dia tampak menangis ketakutan.
"Loh, kamu bukannya anak Jakarta itu?" tanya Pak Wiryo pada pemuda itu.
__ADS_1
"I-iya, Pak. Saya terpisah dari teman-teman saya. Saya terikat di sini sejak beberapa hari lalu. Ada yang membuat saya berada di sini. Saya tidak sadar, kenapa saya bisa kembali lagi ke sini. Saya benar-benar tidak tahu, Pak. Padahal saya sudah pulang ke rumah, tapi saat bangun tadi, tiba-tiba saya ada di sini! Tolong saya, Pak."
Kapten dan Pak Wiryo saling tatap. Ada gurat keraguan dari wajah mereka, hanya saja mereka menepis itu semua dan membawa Fauzan kembali ke desa bersama mereka.