
Wira mengisi hari liburnya untuk lari pagi. Ia sudah hafal seluk beluk kota ini. Dan tentu misinya tidak bisa ia lakukan dengan cepat. Pertama-tama ia harus memulihkan ingatan Arya dan Nayla. Dan itu bukan perkara mudah, butuh waktu yang tidak bisa diprediksi dan tidak ada orang yang tau.
Ia memakai hoddie dengan celana pendek selutut, sepatu dengan merk terkenal membungkus kakinya. Berlari menebus kabut tipis yang biasa turun pagi-pagi sekali. Sesekali mulutnya mengeluarkan uap saat terbuka untuk mengeluarkan nafas. Runtastic running dan fitness tracker ia nyalakan sejak keluar dari rumah tadi. Bagaimana pun juga dia tetap harus menjalani aktivitas layaknya manusia pada umumnya.
Jalanan masih tampak sepi, hanya ada beberapa orang yang juga sedang lari pagi seperti dirinya. Ia memutar sepanjang gedung olah raga terkenal di kota itu. Karena biasanya di tempat ini berkumpul orang-orang yang gemar olahraga.
Wira berhenti. Saat merasakan angin ribut di sekitarnya. Ia membuka hoddie, lalu menatap ke atas langit. Saat ia memeriksa sekitar, ada seorang pria yang berjalan mendekat ke arahnya. Wira memiringkan kepalanya, sambil tersenyum sinis.
"Kau rajin juga sebagai manusia, Sam," ujarnya.
"Bukan urusanmu, Bael! Lagi pula mau apa kau ke sini? Apakah di neraka terlalu panas, huh?" tanya Wira menyindir pedas. Baginya bersikap baik dengan iblis bukanlah prinsipnya. Iblis itu tidak bisa dipercaya, mereka licik dan menyesatkan. Sebaik apa pun dia memperlakukanmu.
Bael adalah seorang iblis yang melambangkan ketamakan, dan keberadaannya merupakan musibah bagi surga dan manusia sendiri.
'Sepertinya kau sudah menemukan mantan kekasih dan sahabatmu, Sam?"
Wira terdiam, menelan ludah lalu tersenyum sinis. Semilir angin membuat dedaunan sekitar mereka bergerak liar. Keadaan terlalu sunyi, tidak ada makhluk hidup lain selain mereka berdua. "Lalu mau apa, kau? " tanya Wira, membuka telapak tangan yang sejak tadi ada di samping kanannya. Sebuah pedang roh yang dibuat khusus untuk membunuh iblis, kini ada di genggamannya.
Bael melihat benda mengkilap itu, lalu tersenyum sinis. "Kau suka sekali bertarung, ya?"
"'Oh, tentu saja. Apalagi jika melihat kalian!" Ia berlari ke arah Bael, sambil mengacungkan pisau itu. Bael yang sudah siap, mengeluarkan trisula dari telapak tangannya juga. Saat kedua senjata itu bertemu, suara gesekannya membuat guntur terdengar nyaring di langit, kilat petir seperti berjalan di atas mereka, seolah membelah langit menjadi dua. Dua makhluk berbeda alam bertarung tanpa menimbulkan gema di bumi. Waktu terhenti, semua mematung saat Samael dan Bael tengah berseteru. Tentu hal ini menjadi pertarungan sengit antara malaikat dan iblis, tetapi tak dapat dipungkiri kalau Samael adalah salah satu malaikat yang cukup kuat. Bahkan saat dia jatuh ke bumi, dia yang telah menyelesaikan beberapa permasalahan pelik manusia. Karena hanya dia yang bisa, dan kuat saat berkolaborasi bersama Arya.
Kepala Bael menggelinding terkena tebasan pedang ruh milik Wira. Pedang itu adalah satu-satunya senjata yang bisa dipakai untuk membunuh iblis mana pun. Semua luka yang terjadi karena pedang ruh, tidak akan bisa disembuhkan oleh para iblis. Lain halnya jika menggunakan pedang biasa, pedang perak dan sejenisnya. Mereka mampu menyembuhkan diri, bahkan bagian tubuh yang terpotong akan dengan mudah kembali dalam waktu kurang dari 24 jam.
Tubuh Bael menggelepar di tanah, Wira mendekat lalu menghujam jantungnya kuat-kuat. Ia mati. Selang beberapa detik kemudian, kepala dan tubuh Bael terbakar dengan sendirinya. Hangus tak tersisa. Hanya meninggalkan jejak hitam membentuk tubuh dan kepalanya.
Waktu kembali berputar, Wira kembali melakukan aktivitasnya yang sempat terganggu. Menutup hoddienya lalu pergi dari tempat ini.
Tanpa ia sadari, Nayla dan Arya sedang joging bersama. Mereka memang sengaja melakukan olahraga di hari minggu, tentu karena paksaan Nayla. "Temenin, Ya. Aku kan belum hafal kota ini, nanti kalau nyasar gimana? Retno nggak mau soalnya." Begitulah kalimat rayuan yang sudah dikatakan Nayla ditelepon pagi tadi. Di saat Arya masih bergelung dengan selimutnya, dan menikmati libur yang hanya mereka rasakan sehari dalam seminggu.
"Nanti habis ini nyari sarapan, yah," pinta Nayla.
"...." Tanpa reaksi apa pun, Arya terus berlari kecil dengan kostum kaus tanpa lengan dan celana bola yang biasa ia pakai jika bermain futsal.
"Di sini ada lontong sayur, nggak? Atau gudeg yang enak di mana, Ya?" cerocos Nayla dengan pertanyaan yang membuat Arya jengah.
__ADS_1
"Percuma kamu olahraga kalau habis ini menimbun lemak!" cetus pemuda itu jengah. Ia berhenti, sambil merentangkan tangan dengan gaya pendinginan setelah lari.
"Kan kita udah membuang kalori, Ya. Jadi harus diisi dong. Nanti lemes, terus pingsan gimana coba?"
Sebuah jitakan mendarat mulus di kening Nayla. "Mana ada orang habis lari pingsan cuma karena nggak sarapan. Paling cuma lemes, duduk sebentar fit lagi!"
"Kamu mah nggak percayaan banget, Ya. Temenku pernah gitu soalnya. Jadi dulu tuh, ya ...."
Arya memperhatikan tanah yang ia pijak, dahinya berkerut, lalu menyapu pandang ke sekitarnya. "Tunggu! Ini apa?" tanyanya dengan menatap tanah yang ia pijak. Nayla yang terus menyerocos, ikut menunduk, memandang kaki nya dan akhirnya ia pun melotot saat menyadari di bawah mereka ada bekas hitam aneh.
"Arya ... Ini kok, mirip ...."
"Tubuh manusia. Itu kepalanya," tunjuk Arya ke bentuk bulat tak jauh dari mereka. Bekas hitam gosong itu membentuk tubuh manusia, dengan kaki dan tangan utuh.
"Kita menginjak bekas tubuh manusia yang habis terbakar?" tanya Nayla dengan sorot mata ngeri. Sementara itu, Arya memperhatikan sekitar, mencoba memeriksa hal aneh yang ada di dekat mereka.
"Katanya mau cari sarapan, yuk!" ajak Arya lalu kembali berlari menjauh. Nayla masih menatap heran ke bawah kakinya, ia yang memiliki rasa penasaran yang cukup tinggi mulai menghubungkan nya dengan berbagai teori dari buku yang pernah ia baca.
"Arya! Tunggu!" Nayla mulai menyusul pemuda itu yang susah berlari lebih jauh. "Arya!" jeritnya, namun tidak dihiraukan oleh Arya.
"Ramai, Ya. Duduk di mana?" tanya Nayla sambil tengak tengok mencari tempat untuk duduk.
"Tuh, sana. Yuk," tunjuk Arya ke segerombol pemuda yang sedang bermain gitar.
"Tapi kan ...." Belum sempat Nayla menyelesaikan kalimatnya, tangannya ditarik oleh Arya dan kini mereka berjalan ke tempat itu.
Saat mereka berdua susah ada di dekat kelompok preman jalanan itu, Arya menatap satu persatu mata mereka. "Ngapa lu?" tanya salah satu dari mereka dengan nada tinggi.
"Minggir. Kami mau duduk. Tempat ini masih milik warung gudeg itu, kan? Jadi kami berhak duduk di sini." Kalimat Arya terdengar lantang tanpa ada gurat ketakutan di wajahnya. Berbanding terbalik dengan Nayla yang berusaha bersembunyi di balik tubuh Arya.
"Cari tempat lain! Ini punya kami!" tolaknya lagi. Ia beranjak seolah menantang Arya.
"Penuh. Cuma di sini yang masih kosong, karena kalian tidak memesan apa pun, bukan? Jadi kalau mau nongkrong, jangan di sini, di sana masih banyak tempat kosong!" sahut Arya menunjuk ke arah lain di mana ada trotoar jalan dengan tumpukan sampah di sudutnya. Merasa dihina, mereka lalu mendekat ke Arya.
"Arya, udah biarin aja. Kita cari tempat lain," bisik Nayla menarik ujung baju Arya dari belakang.
__ADS_1
"Mundur," bisik Arya, menoleh ke belakang. Nayla segera menyingkir dan mencari tempat aman. Rasanya percuma Nayla melarang Arya, dan dia yang harus mengalah.
Satu persatu mulai menyerang, perkelahian mereka terlihat tidak imbang, satu melawan enam. Tetapi sejauh ini justru keenam orang itu yang terlihat kewalahan. Orang-orang melihat mereka namun enggan melerai. Sampai akhirnya mereka berenam menyerah dan lari tunggang langgang.
"Yuk," kata Arya menoleh ke Nayla yang masih berdiri ketakutan. Ia mengulurkan tangannya agar Nayla mau mendekat. Gadis itu tentu menurut dan akhirnya mereka mendapat tempat duduk yang nyaman untuk menikmati sarapan pagi mereka.
Nayla banyak diam saat menikmati gudegnya. Padahal dia termasuk gadis yang cerewet dan sering membuat Arya kewalahan mendengar celotehannya. Arya tentu tetap dengan sikapnya, dingin dan cuek. Hingga sampai suapan terakhir, Arya membalik sendok dan mendorong piring nya menjauh.
"Nanti siang kamu ada acara?" tanyanya tanpa melihat ke Nayla yang masih sibuk makan.
Gadis itu melotot sambil menelan nasi yang dipenuhi kuah. "Eum, kenapa?"
"Kan aku tanya ada acara apa enggak."
"Oh, eh, enggak ada. Paling mau baca buku yang kemarin," sahutnya lalu meneruskan makan.
"Boleh minta tolong?" tanya Arya sambil menoleh ke Nayla.
"Tolong? Eum, apa?"
"Lusa, ibu ulang tahun. Aku pengen beliin hadiah. Tapi nggak tau harus beli apa."
Sontak Nayla tersenyum tipis. "Oh, oke. Jam berapa?"
"Jam 11 gimana?"
"Bisa." Kali ini Nayla memakan habis sarapannya dengan semangat 45.
"Ya udah, jam 11 aku jemput. Jangan terlalu lama. Aku nggak suka nunggu. Apalagi nunggu cewek dandan," cetusnya sambil melirik sinis Nayla.
Nayla mengerucutkan bibirnya lalu meneguk habis teh hangat miliknya. "Bawel!" sahutnya.
Waktu sudah hampir siang, sinar matahari mulai muncul dari balik awan. Hawa dingin dari kabut pagi mulai menghilang. Berganti suasana hangat yang menyehatkan.
Mereka berdua kembali meneruskan perjalanan pulang dan tentu bersiap untuk kencan mereka. Kencan? Ah, bagi Nayla seperti itu. Entah bagi Arya.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata hitam mengawasi mereka sejak tadi. Ia hanya bersembunyi tanpa menunjukkan wujudnya dan sangat berhati-hati dalam bertindak.