pancasona

pancasona
Part 39 Rumah Kak Rayi


__ADS_3

"Istirahat ya. Atau kalau mau mandi dulu, juga nggak apa - apa. Siapa tau capeknya bisa hilang," pamit Kak Rayi. Kami berada di depan pintu kamar tamu, yang memang bersebelahan dengan kamarnya. Akhirnya kami sampai juga di rumah, yah walau masih berada di rumah Kak Rayi. Mungkin besok aku akan pulang ke rumah ku sendiri untuk mengambil beberapa potong pakaian. Hari sudah beranjak malam, kami sudah sangat lelah karena perjalanan panjang. Saat nya mengistirahatkan tubuh, dan pikiran.


"Kamu juga istirahat, ya."


Kak Rayi mengecup keningku lalu menyuruhku masuk ke kamar itu. Ini bukan pertama kalinya aku berada di kamar ini, tapi rasanya tetap saja sungkan. Apalagi Mama Kak Rayi tidak ada di rumah sekarang. Setelah menutup pintu kamar, segera saja aku menuju kamar mandi, karena aku ingin merasakan berendam di bathtub yang memang ada di kamar mandi tiap kamar.


Air hangat ini terasa menenangkan, aku masih bermain dengan busa - busa yang aku buat sendiri. Membuatnya seolah permainan mengasyikkan di tengah rasa lelah yang melanda. Rasanya hal sepele seperti ini mampu mengalihkan pikiran dari masalah yang tengah kualami. Dagon, makhluk misterius yang sampai saat ini ingin kutemui. Aku ingin tau, apa maksudnya melakukan hal - hal buruk seperti itu. Bahkan dia sampai mencelakai orang demi ingin bertemu denganku. Aku semakin yakin, kalau makhluk misterius yang terbang selama ini di sekitarku, adalah sosok dirinya.


"Angelina Demitri? Siapa dia? Kenapa ada yang bilang mirip denganku?" gumamku dengan pertanyaan yang memang kutunjukkan untuk diri sendiri.

__ADS_1


Rambut yang basah masih kukeringkan dengan hair dryer. Pintu diketuk pelan, tak lama suara dari luar membuatku mempersilakan tamu di balik pintu itu untuk segera masuk ke dalam. Dia atau aku yang statusnya tamu di rumah ini? Kak Rayi.


"Udah mandi, sayang?" tanyanya dengan segelas susu hangat di tangan kanan. "Karena kamu nggak mau makan lagi, jadi setidaknya kamu harus minum susu, biar nggak masuk angin." Gelas itu ia sodorkan padaku. Aku tersenyum lalu menerima pemberiannya itu.


'Bagaimana keadaan kamu?" tanya Kak Rayi yang kini berdiri di balkon bersamaku.


"Better. Cuma masih kepikiran Papa di sana. Aku takut terjadi sesuatu." Aku memainkan jari telunjuk di bibir gelas tersebut, dengan gerakan memutar mengikuti arah pergerakan jarum jam.


______

__ADS_1


Selimut mulai naik dan menutupi setengah tubuhku. Kak Rayi akan menemani sampai aku tertidur, begitu pesan Papa katanya, yang entah kapan Papa katakan padanya. Aku saja tidak pernah mendengarnya, atau mungkin sengaja agar aku tidak mendengar. Tidak biasanya Papa secemas itu padaku. Biasanya Papa tidak bersikap over protective seperti ini. Seolah - olah, aku sedang dalam keadaan genting saja.


"Kak ...."


"Apa sayang?" tanya Kak Rayi yang duduk bersandar pada kepala ranjang dengan buku di pangkuannya.


"Seandainya aku mati, kamu jangan pernah merasa bersalah, ya."


"Heh! Ngomong apa kamu! Sembarangan!" Kak Rayi meletakkan novel tersebut asal, melupakan halaman terakhir yang dia baca, dan langsung membuatku sebagai terdakwa atas kalimat yang baru saja aku ucapkan. Seakan - akan kalimat itu adalah hal terlarang dan membuatku akan mendekam di balik penjara.

__ADS_1


Kami duduk berhadapan satu sama lain. Tatapan teduh Kak Rayi berubah menjadi tatapan mengintimidasi. Aku juga tidak habis pikir, kenapa kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku. Seakan - akan aku merasa hidupku tidak akan lama lagi. Mungkin aku hanya terlalu over thinking saja.


"Jangan pernah ngomong seperti itu lagi, Sayang. Apa pun yang akan terjadi nanti, kita harus terus berusaha bertahan. Sekarang lebih baik kamu tidur, ya. Besok kita sekolah, kan? Kebanyakan bolos bahaya nanti ini," bujuk Kak Rayi lembut. Aku mengangguk lalu merebahkan tubuh ke kasur, dia mengikuti gerakanku. Tubuhku dipeluk erat, dia juga mengelus pucuk kepalaku lembut, beberapa kali mengecupnya pelan. Aku memejamkan mata, berharap pagi akan cepat datang. Karena ada satu hal yang ingin aku lakukan besok.


__ADS_2